NovelToon NovelToon
My Beloved Bastard

My Beloved Bastard

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Tamat
Popularitas:216k
Nilai: 4.8
Nama Author: Freya Kara Alaika

Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.

Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.

Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.

Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.

Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Benar dugaanku semalam, perutku terasa perih pagi ini. Satu jam lebih aku di dalam kamar mandi, padahal acara mandiku sudah selesai sejak sepuluh menit pertama. Dan sialnya, Pak Glenn sudah menungguku di ruang belajar. Sedangkan Tita, dia sudah berangkat ke Starlight dan akan kembali ke rumahnya.

Oke, tarik napas ... buang ....

Aku harus keluar sekarang dan minum obat. Langkahku tertatih menuju nakas. Sial! Obatku habis. Sejak kapan?! Aku kembali meringis menahan sakit. Sekarang harus bagaimana?

"Melati ... kamu masih lama?"

Mampus! Itu suara Pak Glenn! Bisa tidak, ya, aku menahan sakit hingga usai belajar? Bisa, tidak? Bisa! Pasti bisa! Setelah mengatur napas, aku menegakkan badan dan melangkah ke arah pintu. Manik mataku lantas menangkap sosok Pak Glenn yang tengah memandangiku dengan sarat menilai, dari atas hingga bawah.

"Kenapa lama sekali?" tanyanya.

Aku hanya mengulas senyum tipis, lalu menggeleng singkat. "Nggak apa-apa."

"Bisa belajar sekarang?" Aku memberinya anggukan sebagai jawaban. Tepat saat itu, perutku semakin terasa perih. Tahan, Mel! Tahan! You can do it!

***

Tidak! Aku tidak sanggup lagi menahannya. Perutku benar-benar terasa perih. Aku terus menunduk sembari menetralisir rasa sakit yang hasilnya selalu nihil. Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang hangat merayap di punggung tanganku. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Pak Glenn!

"Kamu sakit?" tanyanya. Aku hanya menggeleng singkat dengan posisi kepala tetap menunduk. Sekali saja mendongak, maka tawatlah riwayatku. Sebab pelipisku pasti sudah sangat berkeringat saat ini.

Dan sial! Pak Glenn menarik daguku, seperti yang biasa dia lakukan. Manik mata kami bertemu. Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak merintih kesakitan, namun aku gagal.

"Hey! Melati!" seru Pak Glenn. Telapak tangan kanannya menepuk-nepuk pipiku, sedangkan tangan lainnya menopang wajahku. "Kamu kenapa?! Mel!"

"Arghhh!"

Aku merasakan tubuhku melayang sesaat kemudian.

"Tahan, Mel! Jangan tidur!"

Sekuat tenaga aku mencoba untuk melakukan yang Pak Glenn katakan, namun semuanya menggelap secara tiba-tiba.

***

Silau. Itu yang pertama kali kudapati saat membuka mata. Lantas saja kedua mataku mengerjap. Saat semuanya terasa normal, barulah aku menyadari di mana diriku terbaring saat ini: rumah sakit. Kembali kuedarkan pandangan, hingga aku mendapati Pak Glenn dalam posisi berdiri dan menyilangkan tangan di depan dada seraya menatapku dengan tatapan yang tidak kumengerti artinya. Dia di sini sejak tadi?

"Ada apa sebenarnya, Melati?" tanyanya dengan nada yang membuatku lantas merasa gugup: nada memaksa.

Aku hanya sanggup menggigit bibir bawahku karena gugup. Bagaimana sekarang? Apa Pak Glenn akan benar-benar marah sebab pembelajaran hari ini terganggu? Apa dia ....

Sentuhan hangat di bibir membuat pikiranku berantakan. Pak Glenn menyapu permukaan bibirku dengan lembut. Kini, dia duduk di kursi sebelah kiri ranjangku. "Sudah berapa kali saya bilang? Stop bikin bibirmu terluka. Biar saya saja."

Biar saya saja? Maksudnya?

Dengan berani, kuhujam bola matanya dengan tatapan setajam yang kubisa. Pak Glenn tertawa renyah. "Bercanda, Mel," katanya. "Kamu sakit apa?"

"Bukannya Bapak udah tahu?" Kurasa memang begitu. Dokter pasti sudah memberitahunya, 'kan? Lagipula, Pak Glenn pasti bertanya pada dokter tentang penyebab diriku yang berakhir di sini.

"Tidak," jawabnya, membuat keningku berkernyit heran. "Kamu pikir apa? Saya peduli sama kamu?"

Iya juga! Oh, come on, Melati! Mengapa diriku jadi super pede begini? Memalukan!

"Tapi bohong," lanjut Pak Glenn, lalu terbahak-bahak. Cuih! Garing, Om! "Nggak lucu, ya?" Secepat kilat, ekspresinya kembali datar.

Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. Kali ini, aku yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyemburkan tawa sebab Pak Glenn terlihat salah tingkah.

"Apa? Mau ketawa? Ketawa aja!" sungutnya. Detik itu pula, aku tidak sanggup untuk menahan tawaku yang meledak.

"Stop!" seru Pak Glenn, membuat tawaku kian membara.

"Stop, Melati!" Oh, percayalah! Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi ekspresi kebakaran jenggot ala Pak Glenn benar-benar membuat perutku terasa geli.

Aku masih terbahak-bahak, bahkan saat Pak Glenn menbungkam bibirku dengan telapak tangannya. Namun, yang Pak Glenn lalukan selanjutnya benar-benar ampuh. Dia ... menciumku!

Sial! Sekarang malah dia yang tertawa setelah ciuman kilat itu. Malas berdebat, aku memilih untuk memalingkan muka dan memberenggut kesal. Menyebalkan!

"Kamu marah?" tanyanya. Jantungku berdebar kencang. Napasku tercekat. Pasalnya, Pak Glenn sengaja membuat jarak antara wajahku dan wajahnya hanya terpaut beberapa senti. "Mau saya cium lagi?"

Saat itu pula, tanganku yang terbalut selang infus refleks menampik wajahnya untuk menjauh. Rupanya, gerakan spontanitasku terlalu cepat, Pak Glenn tampak sedikit kesakitan di bagian hidungnya.

"Kuat juga kamu, ya!" serunya.

Aku diam. Enggan menggubris Pak Glenn yang merepotkan.

"Jadi, apa alasan kamu bisa bikin maag kambuh begini?" tanyanya, kembali dengan ekspresi datar. "Maag itu bukan penyakit yang kambuh tanpa alasan. Jadi, coba kasih tahu saya."

Harus? Harus aku memberitahu alasan yang sebenarnya? Apa yang akan kukatakan? Makan samyang level high ditambah bubuk bon cabe? Gila! Papa saja tidak akan kubiarkan mengetahuinya, apalagi om-om bastard ini!

"Kamu nggak mau jawab? Oke!"

Aku menatapnya lekat-lekat. Sedangkan Pak Glenn menatapku dengan tatapan jahil. Oh, God! Jangan biarkan om-om bastard ini melancarkan aksinya! Kumohon! Aku memejamkan mata rapat-rapat, pasrah akan yang terjadi berikutnya. Perlahan, aku dapat merasakan embusan napas Pak Glenn menerpa wajahku. Aku menunggu. Terus menunggu. Namun, aku tidak merasakan apa-apa. Kucoba untuk membuka mata dan melihat yang tengah terjadi. Gila! Wajahnya benar-benar nyaris tak berjarak dengan wajahku. Bahkan, hidung kami nyaris bersentuhan. Aku ingin memalingkan muka, namun otot-otot tubuhku seolah membeku tiba-tiba.

"Jadi, mau kasih tahu saya, atau tidak?" ucapnya, membuat salivaku susah payah untuk masuk ke kerongkongan.

"Fine!" putusku sambil memalingkan wajah. Tepat setelah itu, Pak Glenn kembali menciptakan jarak normal di antara kami. Akhirnya, aku bisa bernapas lega!

"Jadi?"

"Sampang level high, plus bon cabe ekstra pedas."

"Kamu gila?" Jangan dikira Pak Glenn sedang berteriak saat ini, karena nada bicaranya begitu rendah. Justru itu yang membuatku merinding! "Atau kamu mau bunuh diri? Hm?"

Entah perasaanku saja atau memang Pak Glenn menatapku semakin tajam? Untung saja Tuhan yang menciptakan raga ini, jika tidak, sudah kupastikan ragaku telah menjadi berkeping-keping. Terima kasih pada keberuntungan yang berpihak padaku, sebab bunyi dering ponsel menginstrupsi. Aku melirik nakas di sebelah kanan, ponselku. Panggilan dari Tita. Baru saja aku akan meraihnya, Pak Glenn merampas ponselku terlebih dahulu.

"Boleh saya angkat?" tanya Pak Glenn.

"Saya bilang nggak juga Bapak tetap akan melakukannya, 'kan?" tanyaku sinis.

Pak Glenn terkekeh. "Benar sekali!" ucapnya seraya mengacak rambut di puncak kepalaku.

Pak Glenn mengangkat telepon dengan pandangan yang tak lepas dari manik mataku. Aku pun memperhatikannya dengan seksama. Takut jika Pak Glenn mengatakan sesuatu yang tidak-tidak, mengingat Tita adalah sahabatku.

"Hallo?" Pak Glenn mulai bersuara. Sungguh rasa penasaran ini teramat menyiksa. Pasalnya, aku tidak dapat mendengar apa-apa selain suara Pak Glenn.

" ... "

"Saya? Calon suaminya." What the hell?! Mataku terbelalak begitu mendengar pengakuan gila dari om-om bastard ini. Sementara itu, Pak Glenn malah mengerlingkan matanya ke arahku, bermaksud menggoda. Dasar gila!

" ... "

"Boleh, silakan saja."

" ... "

"Oke."

Sambungan terputus. Pak Glenn meletakkan ponselku di tempat semula.

"Apa katanya?" tanyaku, penasaran.

"Dia mau ke sini."

"What?!" Aku tersentak kaget. "Ke sini? Ke rumah sakit ini? Ketemu saya?"

Pak Glenn mengangguk. Ekspresi wajahnya tenang sekali, berbanding terbalik denganku yang panik bukan main. Tita ke sini, lalu, bagaimana jika dia bertemu Pak Glenn? Haish! Aku belum siap seseorang tahu tentang hubunganku dengan om-om bastard ini!

"Kenapa?" tanya Pak Glenn yang melihatku gelisah.

Aku memasang mimik puppy eyes andalanku. Siapa tahu saja, dengan begini Pak Glenn bersedia memenuhi permintaanku, seperti papa. "Pak ... saya boleh minta sesuatu?"

Pak Glenn mengangkat satu alisnya, menatapku heran. "Tumben."

"Please ...," lirihku, penuh sarat permohonan.

"Katakan."

***

Seorang Glennio Pangestu memang pantas mendapat julukan om-om bastard! Buktinya, sekeras apapun aku mencoba, dia tidak juga beranjak. Ini orang tidak memiliki pekerjaan lain atau bagaimana?

'Ceklek!'

Bunyi pintu yang terbuka membuat kami sama-sama menoleh. Pak Glenn dengan ekspresi datarnya, sedangkan aku dengan mata melotot ke arah pintu. Helaan napas lantas menguar begitu saja saat melihat papa yang datang.

"Siang, Om," sapa Pak Glenn sopan. Cih! Dasar muka dua!

"Siang, Glenn," balas papa seraya tersenyum ramah. Lalu, papa mengalihkan pandangan ke arahku. Perasaan, tadi papa menatap Pak Glenn dengan tatapan hangat, mengapa suhu tatapannya lantas menurun drastis begitu menatapku? Hey! Aku ini putri kesayangannya!

Aku berusaha duduk, dengan cekatan Pak Glenn membantuku, menjadikan bantal sebagai sandaran. Aku hanya meliriknya sekilas, tidak berniat mengucap apapun, termasuk 'terima kasih'.

"Jadi, kamu habis makan apa?" tanya papa, dengan sarat intimidasi yang membuatku mendengkus sebal. Tidak bisakah aku menikmati hidup dengan makan makanan ekstra pedas seperti sebelum penyakit sialan ini muncul? Menyebalkan!

"Cuma mie goreng," jawabku asal.

"Jawab jujur atau papa nikahin kamu besok!" tukas papa. Aku dapat melihat Pak Glenn menahan tawa di belakang papa. Saat manik mata kami bertemu, dia menunjukkan cengiran khas yang menunjukkan deretan gigi putihnya. Dia pikir, aku akan jatuh cinta saat mengulas senyum begitu? You wish, om-om bastard!

"Melati ...." Suara papa kembali menginstrupsi.

Aku menghela napas berat. Baru saja bibirku terbuka untuk meluncurkan kata-kata, "Mau saya bantu jawab, Om?"

"Boleh," sahut papa. Baguslah, aku tidak perlu repot-repot membuang suara emasku.

"Dengan syarat saya ingin bertunangan dengan Melati besok."

"NO!" tukasku cepat, terlalu cepat. Glenn benar-benar gila! "Biar Melati yang jawab." Aku menatap papa yang sudah menatapku dengan sarat menagih. "Samyang level high, plus bon cabe."

Papa melotot, membuatku bergidik ngeri. Padahal, aku sudah memprediksi reaksi papa akan seperti ini, mengingat kejadian serupa tidak hanya terjadi satu kali.

"Sepertinya, pertunangan kalian memang harus dipercepat."

Kali ini, aku yang melotot. "Pa!"

"No, Melati! Kamu memang harus ada yang mengawasi."

"Tapi, Pa ...."

"Pertunangan kalian akan dilaksanakan minggu depan."

"Pa ...."

"Keputusan Papa sudah bulat."

"Pak Glenn?!" Suara dari ambang pintu sukses membuat kami kompak menoleh. Oh, Tuhannn!!! Dosa apa yang telah hamba-Mu lakukan?

*

*

*

*

*

Follow Instagram: @fi.reya_act @freya_karalaika

1
Jaenah Susanti
mdh²n Mawar yg jadi pendonor nya..
Syamsimar Burhan
Assalamualaikum,...
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
💋🅲🅷🆈💋
jadi senyum2 sendiri😊😊😊
💋🅲🅷🆈💋: semangat othor💪
total 2 replies
💋🅲🅷🆈💋
visualnya uwwu banget😍😍😍
💋🅲🅷🆈💋
sempat degdegan🙄🙄🙄
Yanti Yulianti
cigogoy
Yanti Yulianti
bubigo
Akifah Naila
lanjuttttt
Susi Lanita
lanjut..
Susi Lanita
antara O'on dan berhati tulus sepertinya beda tipis, kan ada keamanan bandara, atau dilaporkan ke informasi, gmn klu dituduh penculikan anak adeh.. melati melati..
Shanum Azkadina
lanjut donk seru loe
Susi Lanita
pipi melati yg disayat, tdk berbekas kah?
ngilu bayang kan nya..
Woro Aji W
pas bgt visualnya tor
Rahmi Miraie
bolehlah
Way-naviza
lanjut... 👍
pecinta time travel
boleh s2 nya
Alifia C.T: Ditunggu ya. :b
total 1 replies
Rahmi Miraie
happy ending dong ?
pecinta time travel
isssh author masa sad ending
Hissiz
Thor jngan dibikin sad ending😭 Up thor semangat💪
Alickha Senja
nex thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!