Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Bersaudara Dengan Tanda Yang Sama
“Halo, Bi..” Andin menjawab panggilan Bian di ponselnya.
“Sayang, kamu dimana? Kemarin aku ke kosan tapi kamu tidak ada.” Suara Bian terdengar khawatir dari seberang.
Bayu yang sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan kameja, langsung menoleh. Kata sayang itu seperti bom waktu yang siap meledak. Rahangnya mengeras, dan ekspresinya berubah murka dalam sekejap.
Andin menatap suaminya dengan tenang dengan ponsel masih menempel di telinga. Kepalanya menggeleng pelan, memberi peringatan tanpa suara kepada si pencemburu itu.
“Ekkhem..” Andin berdeham kecil, kemudian melanjutkan.
“Bi… Kita harus ketemu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Penting.” Andin bersuara lembut.
Si pencemburu itu makin kuat menggenggam ujung meja jati kamar, urat-uratnya menonjol.
“Penting?? Jangan-jangan kamu minta kita segera nikah ya?” Kelakar Bian.
BRAKK
Tangan Bayu menghantam ujung meja jati dengan keras. Kayu kokoh itu retak dan penyok parah. Andin tersentak, tapi ia tetap menjaga suaranya tetap tenang.
“Bi, aku serius.” Andin bersuara cepat, pandangannya tak lepas dari menatap punggung suaminya yang tegang.
“Oke oke. Di kafe favorit kamu kan?”
“Iya. Jam 16.00, sore ini.” Andin langsung memutus panggilan sepihak.
Gadis itu segera berdiri, menuju sang suami.
“Mas…” Ia memanggil lembut. Namun, Bayu tidak menjawab. Napasnya masih berat. Andin mengulurkan sebelah tangan, mengelus punggung lebar itu lembut. Berusaha menenangkan.
“Din.” Bayu bersuara. Berat dan dalam, seperti guntur yang tertahan.
Dalam satu gerakan cepat, Bayu berbalik dan menarik Andin ke dalam pelukannya. Tubuh mungil sang istri langsung tenggelam dalam dada bidang hangat itu. Andin bisa mendengar detak jantung Nayu yang bertalu cepat.
“Mas….” Suara Andin samar-samar memanggil suaminya, mencoba mengurai pelukan itu.
“Sebentar sayang. Saya masih marah.” Jawab Bayu lagi, suaranya bergetar menahan emosi. Ia menenggelamkan lagi wajahnya lebih dalam ke lekuk leher Andin, menghirup aroma istrinya seolah itu satu-satunya oksigen di dunia.
Akhirnya, Andin mengalah. Ia membiarkan Bayu memeluknya sepuasnya. Toh ia juga menikmatinya.
Semakin lama, semakin dalam pula kepala Bayu ke dalam lekuk lehernya yang putih. Mulai menciumi kulit lehernya yang putih. Andin menggeliat kegelian.
“Mas? M-mas Bayu…” Suara Andin hampir memohon.
“Iya sayang.”
“A-aku geli, mas…”
Bayu tertawa pelan, enggan mengubah posisi.
“Tapi, saya suka begini, Din.” Bayu menjawab lagi.
“Mas, please…..” Andin memohon.
Mendengar suara permohonan bernada manja itu, Bayu mengalah. Ia perlahan mulai mengangkat wajah dari leher istrinya yang memabukkan.
Namun, tiba-tiba gerakan Bayu terhenti. Andin merasakan tubuh lelaki itu menegang.
“Mas…?”
“Din, sejak kapan tanda ini disini?” Tunjuk Bayu pada tanda bulan sabit di belakang telinga kanan sang istri.
“Oh, tanda ini. Sudah lama sekali mas. Mungkin semacam tanda lahir.” Andin menjawab santai.
“Annisa juga punya tanda serupa.” Bayu bersuara. Nadanya mendadak kaku dan dingin.
“A-aku tahu mas. Tanda ini mirip milik kak Annisa. Bedanya, tanda kak Annisa diketahui semua orang, karena berada di pergelangan tangan kanannya dan mudah dilihat. Sedangkan milikku tidak ada yang tahu, sebab tempatnya tersembunyi.” Jelas Andin.
Bayu merasakan dadanya bergemuruh. Pertanyaan besar mengenai mengapa dua bersaudara ini memiliki tanda yang sama terus terulang dalam kepalanya.
“Din. Mau mendengar sebuah kisah?” Bayu bertanya, kali ini ia menatap mata istrinya langsung. Kedua tangannya masing-masing memegang tangan Andin yang mungil.
Dengan senyum manis, Andin menjawab mantap. “Tentu saja mas.”
Keduanya lalu duduk di atas kasur. Dengan tangan yang tidak pernah lepas, Bayu memulai kisah itu.
“Ini kisah tentang pertemuan pertama saya dan Annisa. Kami pertama kali bertemu di kantor polisi.” Bayu menjeda, tawa renyahnya muncul sebentar lalu berhenti.
“Itu pertemuan yang tidak biasa. Annisa melaporkan tentang kucing kesayangannya yang hilang. Sedangkan saya, melaporkan penemuan seekor kucing yang ternyata adalah kucing milik Annisa.”
“Saat memberikan kucing itu pada pemiliknya, tanpa sengaja mata saya menangkap tanda lahir di pergelangan tangan kanannya. Disitulah saya sadar…. Bahwa gadis di depan saya saat itu adalah seseorang yang disiapkan Moon Goddess untuk saya.”
“Mas langsung seyakin itu?” Andin bertanya.
“Tentu sayang. Sebab, saya telah bermimpi ratusan kali tentang mate dengan tanda lahir bulan sabit di tubuhnya.”
“Mimpi?”
“Iyaaaa.” Bayu menjawab selembut mungkin. Memberikan efek bagai sejuta kupu-kupu beterbangan dalam perut Andin.
“Kamu tersipu, sayang.” Goda Bayu.
“A-aku?! Tidak!!” Jawab Andin gelapan.
Bayu hanya tersenyum lebar, hatinya menghangat.
“Jangan berbohong pada belahan jiwamu, Din. Sebab, jiwa kita satu kesatuan. Aku bisa merasakan apapun yang kamu rasakan.” Bayu menjelaskan, matanya yang hitam menatap lekat pada mata istrinya. Tak berkedip sekalipun.
Andin yang memang terlahir pemalu, sudah memerah sejak tadi. Wajah hingga telinganya bak kepiting yang direbus lama.
Ia berusaha menunduk atau menatap ke arah lain, mencoba menutupi rona itu. Namun tetap tidak bisa menghindari tatapan penuh damba milik suaminya.
“Mas…. A-aku malu….” Rengeknya manja. Bayu membalasnya dengan kekehan ringan yang selembut sutera.
“Mas… Please…” Mohonnya lagi.
“Baiklah, sayangku. Kita lanjutkan kisahnya.” Putus Bayu, lalu kembali bercerita.
“Aku lupa sejak kapan awal mulanya dari mimpi itu, mungkin sejak usia 6 tahun. Tetapi, aku terbiasa memimpikan seorang gadis cantik yang berdiri membelakangiku. Lalu tanda bulan sabit itu muncul begitu saja.”
“Mas tidak lihat wajah gadis itu?”
“Tidak, Din. Hanya samar-samar.”
“J-jadi, bagaimana perasaan mas saat pertama kali melihat tanda itu di tangan kak Annisa?”
“Sejujurnya saya tidak mendapatkan perasaan bergejolak atau mencium wangi memabukkan. Saya hanya yakin kalau Annisa adalah belahan jiwa yang ditakdirkan untuk saya. Perasaan cinta padanya datang perlahan. Mungkin karena kami sering menghabiskan waktu bersama.”
Andin diam, merenung. Entah apa yang ada di dalam kepalanya.
“Mas…. Aku… ingin menanyakan satu hal lagi. Boleh??”
“Apapun, sayang. Tanyakan saja.”
“Tentang…. Orang yang menabrak mbak Annisa. Mas sudah dapat petunjuknya?”
DEG. Jantung Bayu menyentak keras. Wajahnya berubah sendu.
“Din…. Maafkan saya. Karena sampai sekarang, pelakunya masih belum tertangkap.” Jawab Bayu pilu.
Andin menggigit bibirnya gusar. Tangannya mulai bergetar pelan. Bayu dapat merasakan adanya ketakutan di mata gadis miliknya itu.
“Sayang…. Aku akan menangkapnya. Kami masih terus berusaha mencari si bajingan itu. Sebentar lagi kita pasti akan menemukannya. Yaaa….” Hibur Bayu.
“Iya mas.” Andin menjawab singkat, walau samar-samar matanya masih memancarkan binar gelisah.
Bayu menariknya kembali ke pelukan, kali ini lebih erat.
“Kita punya waktu sampai jam 16.00, kan?” gumam Bayu di puncak kepala Andin.
“Iya…”
“Kalau begitu, izinkan aku menikmati istriku dulu sebelum dia pergi menemui laki-laki lain.” Suaranya berubah rendah, penuh arti.
Andin tersipu.
“Mas… ini masih pagi.”
Bayu tersenyum licik, bibirnya sudah menyentuh daun telinga Andin.
“Pagi, siang, sore… untukmu, semua waktunya sama bagiku.”
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/