Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Infiltrasi di Medan Tempur Bernama Dapur
Bagi Alistair Thorne, setiap ruangan di mansionnya memiliki fungsi taktis. Ruang kerja adalah pusat komando, kamar tidur adalah zona pemulihan, dan gudang bawah tanah adalah... tempat penyimpanan rahasia. Namun, dapur? Dapur adalah wilayah netral yang jarang ia injak—sampai Sloane Sterling datang dan mengubahnya menjadi medan perang penuh asap.
Sore itu, Alistair baru saja menyelesaikan panggilan telepon penting dengan informan di Paris ketika ia mencium aroma yang sangat mengganggu. Itu bukan bau asap cerutu atau bensin, melainkan bau sesuatu yang terbakar, dicampur dengan aroma menyengat dari saus tomat yang mendidih terlalu lama.
Alistair segera melangkah menuju dapur. Di sana, pemandangannya jauh lebih mengerikan daripada lokasi baku tembak mana pun yang pernah ia kunjungi.
Tepung putih berserakan di atas lantai marmer hitam seperti salju yang turun di tengah badai. Potongan sayuran—yang bentuknya lebih mirip korban mutilasi daripada bahan makanan—berserakan di meja. Dan di tengah kekacauan itu, Sloane sedang berdiri dengan wajah panik, memegang sebuah tutup panci seolah-olah itu adalah tameng pelindung dari serangan musuh.
"Nona Sterling," suara Alistair bergema, kaku dan penuh otoritas. "Bisa Anda jelaskan mengapa parameter keamanan udara di rumah saya menunjukkan deteksi karbon yang berlebihan?"
Sloane tersentak, hampir menjatuhkan tutup pancinya. Ia berbalik, wajahnya yang manis kini memiliki noda tepung di hidung dan bercak saus di pipi kirinya. "Tuan Kaku! Kau... kau pulang terlalu cepat! Aku sedang... sedang melakukan eksperimen nutrisi!"
Alistair menatap panci yang mengeluarkan asap hitam pekat. "Eksperimen Anda tampaknya menuju pada ledakan termal. Apa yang sebenarnya Anda coba buat?"
"Aku ingin membuat Beef Wellington! Aku melihatnya di majalah tadi siang dan kelihatannya mudah!" Sloane berteriak, suaranya naik satu oktav karena malu. "Tapi daging ini tidak mau bekerja sama! Dan kenapa ovenmu mengeluarkan suara seperti akan meledak?!"
Alistair mendekat, dengan tenang ia mematikan kompor dan membuka jendela dapur agar asapnya keluar. Ia menatap sisa-sisa makanan di dalam panci. "Ini bukan Beef Wellington. Ini adalah massa karbon yang sudah tidak memiliki identitas biologis."
"Heh! Jangan menghina usahaku!" Sloane berkacak pinggang, mencoba menutupi rasa malunya dengan galak. "Aku sudah bilang aku tidak pandai masak! Tapi aku punya harga diri! Aku tidak mau terus-menerus makan makanan yang kau beli dari restoran mahal itu. Rasanya seperti makan uang!"
Alistair terdiam sejenak. Ia melihat jari Sloane yang sedikit memerah karena terkena uap panas. Rasa tidak nyaman kembali muncul di dada Alistair—sebuah dorongan untuk memastikan gadis ceroboh ini tidak melukai dirinya sendiri lebih jauh.
"Menyingkir," perintah Alistair singkat.
"Apa?! Kau mau membuang masakanku?!"
"Saya akan melakukan... tindakan penyelamatan," Alistair mulai menggulung kemeja birunya yang sangat mahal hingga ke siku. Ia mengambil sebuah celemek hitam polos dari lemari bawah—sebuah barang yang ia beli hanya untuk pajangan estetika—dan memakainya.
Sloane tertegun. Ia melihat Alistair mengambil pisau dapur dengan gerakan yang sangat luwes. Cara Alistair memegang pisau itu mengingatkan Sloane pada cara pria itu memegang pistol di gudang tempoh hari—penuh presisi dan mematikan.
"Sini," kata Alistair, memberi isyarat agar Sloane mendekat. "Jika Anda ingin belajar, perhatikan variabelnya. Memasak adalah tentang urutan dan kontrol suhu. Bukan tentang melemparkan segalanya ke dalam panci dan berharap pada keajaiban."
Sloane cemberut, tapi ia mendekat juga. Ia berdiri di samping Alistair, memperhatikan bagaimana tangan besar pria itu dengan sangat rapi mengiris bawang bombay menjadi potongan-potongan simetris yang sempurna.
"Kau... kenapa kau bisa sangat rapi bahkan saat memotong bawang?" bisik Sloane, matanya tak lepas dari gerakan tangan Alistair.
"Kerapian adalah bentuk disiplin," jawab Alistair formal. "Tanpa disiplin, Anda hanya akan menciptakan kekacauan. Seperti yang baru saja Anda lakukan."
"Ugh, berhenti menceramahiku!" Sloane menyikut lengan Alistair. Namun, saat menyikut, ia tidak sengaja menyentuh nampan berisi bumbu yang diletakkan Alistair di tepi meja.
BRAK!
Lada hitam dan garam tumpah ke lantai yang baru saja dipel Sloane tadi pagi.
Sloane membeku. Wajahnya memucat. Bukan karena takut pada Alistair, tapi karena ia melihat noda di lantai "suci"-nya.
"Lantai... lantainya kotor..." bisik Sloane dengan nada ngeri. Ia segera berlutut dan mencoba membersihkannya dengan tangan kosong. "Aku baru saja mengepelnya! Kenapa aku begitu bodoh?!"
Alistair melihat Sloane yang mulai panik. Ia meletakkan pisaunya, lalu ikut berlutut di samping Sloane. Ia memegang pergelangan tangan Sloane agar gadis itu berhenti menggosok lantai dengan tangan kosong yang bisa terluka oleh butiran lada yang tajam.
"Nona Sterling, tenanglah. Ini hanya bumbu. Lantai bisa dibersihkan kembali," suara Alistair melembut, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Tidak! Aku gagal! Aku tidak bisa masak, dan sekarang aku malah mengotori rumahmu!" Sloane menatap Alistair dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Harga dirinya yang tinggi terasa terluka karena kecerobohannya sendiri.
Alistair menatap mata cokelat Sloane yang jernih. Untuk sesaat, suasana di dapur itu berubah. Alistair merasa jantungnya berdetak tidak beraturan. Jarak mereka sangat dekat—ia bisa mencium aroma sabun lemon dari kulit Sloane dan aroma saus tomat yang gosong.
"Anda tidak gagal," kata Alistair kaku, tangannya masih memegang pergelangan tangan Sloane. "Anda hanya... terlalu bersemangat. Berdiri. Saya akan membantu Anda menyelesaikan masakan ini, dan setelah itu, kita akan membersihkan lantai ini bersama. Secara bersama."
Sloane berkedip, air matanya tidak jadi jatuh. "Bersama? Kau... kau mau membantuku mengepel?"
Alistair berdeham, merasa sangat canggung dengan tawarannya sendiri. "Secara admin- eh logika, dua orang bekerja lebih cepat daripada satu orang."
Sloane tiba-tiba tertawa kecil, suara tawa yang jernih dan manis. "Kau benar-benar tidak bisa bicara normal tanpa kata-kata kantoran itu ya, Tuan Kaku?"
Alistair tidak menjawab, tapi ia membantu Sloane berdiri. Mereka kembali ke kompor. Kali ini, Alistair berdiri tepat di belakang Sloane, membimbing tangan gadis itu untuk memegang spatula dengan benar.
"Gunakan tekanan yang konsisten," bisik Alistair di dekat telinga Sloane.
Sloane merasa wajahnya memanas. Kedekatan ini membuatnya gugup, namun anehnya, ia merasa sangat aman. Di tengah instruksi memasak Alistair yang sangat formal dan kaku, Sloane justru merasa ada kehangatan yang tulus di sana.
Namun, momen romantis itu pecah saat Sloane melihat sesuatu di bahu jas Alistair yang digantung di kursi dapur.
"ALISTAIR THORNE! KAU MENARUH JASMU DI KURSI DAPUR?! ADA MINYAK YANG BISA TERPERCIK KE SANA!"
Alistair tersentak, refleks menjauh. "Saya hanya meletakkannya sebentar agar mudah diambil—"
"TIDAK ADA SEBENTAR-SEBENTAR! Gantung sekarang juga di luar dapur! Kau mau jasmu berbau bawang putih?!" Sloane memarahi Alistair sambil mendorong pria itu keluar dapur dengan spatula di tangannya.
Alistair hanya bisa pasrah. Ia mengambil jasnya dan berjalan keluar dapur dengan wajah bingung. Ia baru saja akan menjadi pahlawan dapur, tapi dalam sekejap ia kembali menjadi "tersangka pencemaran kebersihan" di mata Sloane.
Alistair menggelengkan kepalanya pelan. Gadis ini benar-benar tidak bisa diprediksi secara logis, pikirnya. Namun, ada senyum tipis yang tersembunyi di balik wajah kakunya saat ia mendengar Sloane berteriak dari dapur:
"CEPAT KEMBALI! AKU TIDAK TAHU KAPAN HARUS MEMASUKKAN GARAMNYA!"
To be continued.....