NovelToon NovelToon
Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Benci Di Tepian Hari, Lindung Di Balik Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.

Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.

Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.

"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.

Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan yang Sepi, Tirai yang Tertutup, dan Cemburu yang Membakar

Tiga minggu di daerah pegunungan Bandung utara yang dingin akhirnya selesai juga.

Pagi itu, langit Sukaasih tampak sangat cerah tanpa awan. Panas aspal yang biasanya sangat Arkan benci, kali ini justru terasa hangat di kulitnya. Pikap hitam miliknya perlahan berbelok memasuki halaman ruko Sukaasih yang sudah sangat ia rindukan.

Begitu mesin mobil dimatikan, Arkan tidak langsung turun. Dia memegang kemudi mobilnya erat-erat, sementara dadanya bergemuruh kencang oleh debaran jantung yang melompat-lompat liar.

Ada senyuman tipis yang tidak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Sepanjang jalur perjalanan pulang tadi, pikiran Arkan hanya dipenuhi oleh satu hal: Ghea. Dia sudah tidak sabar untuk melihat wajah judes itu lagi, mendengar teriakan galaknya yang menyuruhnya memindahkan parkir, dan membalas semua omelan cewek itu dengan ejekan lempeng andalannya.

Arkan meraba saku jaketnya, memastikan ponselnya aman. Di kepalanya, dia bahkan sudah merancang kalimat sapaan sombong yang sangat matang untuk menyambut kedatangan Ghea.

“Heh, manja. Baru sebulan ditinggal udah makin bulet aja lo karena keseringan makan selai stroberi premium di Kirana.”

Arkan terkekeh pelan membayangkan bagaimana bibir tipis Ghea akan mengerucut kesal dan matanya akan melotot galak mendengar kalimat itu. Dia merindukan setiap detik dari kebisingan itu.

Arkan turun dari pikap dengan langkah lebar. Dia berjalan menyeberangi pagar pembatas kayu yang rendah, lalu mengulurkan tangannya untuk mendorong pintu kaca kedai Kopi Karsa.

KRING!

Suara bel gemerincing di atas pintu berbunyi nyaring. Aroma harum biji kopi arabika langsung menyergap indra penciumannya, membawa kehangatan yang instan di dadanya. Arkan langsung mengarahkan pandangannya ke arah meja bar, bersiap menemukan sosok cantik yang sangat ia rindukan berdiri di sana.

Namun, senyum tipis di bibir Arkan seketika membeku.

Sosok yang berdiri di balik meja bar dengan celemek katun cokelatnya bukanlah Ghea. Melainkan Rini, barista paruh waktu yang sedang sibuk merapikan cangkir kertas di rak atas.

Rini yang mendengar pintu terbuka mendongak, lalu membelalakkan matanya gembira saat menyadari siapa yang datang.

"Eh, Mas Arkan! Alhamdulillah, Mas Arkan sudah pulang dari Bandung utara ya?" sapa Rini riang dengan senyum lebarnya.

Arkan mendeham pelan, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang mendadak berubah kaku dalam sekejap. Dia melirik ke sekeliling kedai yang tampak agak lengang di jam-jam nanggung pagi itu.

"Iya, Rin. Baru aja sampai," jawab Arkan dengan suara seraknya, mencoba terdengar sesantai mungkin. Matanya kembali menyapu area belakang meja bar yang sunyi. "Bos lo... mana? Masih di belakang ruko?"

Rini mengernyit heran, lalu menepuk jidatnya pelan. "Oalah, Mas Arkan belum tahu ya? Neng Ghea kan belum pulang dari kota Kirana, Mas."

Langkah kaki Arkan seketika terasa lemas. "Belum... pulang?"

"Iya, Mas. Kemarin sore Neng Ghea telepon saya. Katanya peluncuran cabang outlet kopi di hotel utamanya Pak Rendra di sana diperpanjang acaranya. Jadi kontrak kerja sama pengawasan baristanya ditambah seminggu lagi sama Pak Rendra. Neng Ghea baru bisa balik ke Sukaasih senin depan, Mas," jelas Rini dengan lancar.

Dada Arkan mendadak terasa bagai dihantam oleh batu besar yang teramat dingin. Rasa kecewa yang luar biasa besar langsung runtuh menghimpit seluruh paru-parunya hingga ia merasa sulit untuk bernapas.

Senyuman konyol yang sepanjang jalan tadi ia pertahankan kini lenyap sepenuhnya tanpa bekas, digantikan oleh rahang yang mengeras kencang dan tatapan mata yang mendadak redup bergetar.

"Ditambah... seminggu lagi?" gumam Arkan pelan, suaranya terdengar serak di telinga Rini.

"Iya, Mas. Duh, tapi Pak Rendra itu bener-bener luar biasa ya, Mas," lanjut Rini dengan nada kagum yang justru semakin menyiksa dada Arkan. "Kemarin pas telepon, Neng Ghea sempat cerita kalau Pak Rendra sering banget nemenin Neng Ghea keliling Kirana biar Neng Ghea gak bosen di apartemen. Malah kemarin pas ada acara besar, Pak Rendra ngasih hadiah perhiasan mahal juga buat Neng Ghea. Pokoknya Neng Ghea diperlakukan kayak putri beneran di sana, Mas!"

Mendengar penuturan Rini, tangan Arkan yang berada di dalam saku celananya tanpa sadar mengepal sangat kuat hingga buku jarinya memutih dan gemetar hebat.

Rasa cemburu yang teramat liar, panas, dan luar biasa hebat seketika berkobar membakar seluruh dadanya. Rasa cemburu itu bercampur dengan rasa kecewa yang teramat menyedihkan karena menyadari bahwa di saat dia merindukan kepulangan ini setengah mati, Ghea justru sedang menikmati kenyamanan sempurna di Kirana bersama pria lain yang jauh lebih segalanya dibanding dirinya yang kaku ini.

Seminggu lagi... batin Arkan perih.

Seminggu lagi bagi Ghea untuk menghabiskan waktu bersama Rendra. Seminggu lagi bagi Rendra untuk mengusap rambut halus Ghea, memberikan kemewahan yang tidak akan pernah bisa Arkan berikan, dan perlahan-lahan mengunci ruang di hati gadis itu agar tidak ada lagi celah untuk dirinya yang miskin ini.

"Oh... begitu ya, Rin," kata Arkan dengan suara yang dingin dan datar, menutupi gemuruh badai di dalam dadanya sekuat tenaga. "Ya sudah. Gue balik ke kantor dulu."

"Siap, Mas Arkan! Nanti kalau Neng Ghea telepon, saya sampaikan salamnya ya!" teriak Rini ramah.

Arkan tidak membalas lagi. Dia berbalik dan melangkah lebar keluar dari kedai kopi dengan perasaan yang luar biasa kacau, hampa, dan dongkol setengah mati. Bunyi bel gemerincing di pintu kaca yang tadi terdengar sangat hangat, kini justru terasa sangat menyebalkan di telinganya.

Arkan berjalan melewati pagar pembatas, mengabaikan sapaan ramah dari beberapa pengemudi truknya di depan garasi, lalu langsung masuk ke dalam kantor logistiknya dan membanting pintu kaca kantornya dengan cukup keras.

Dia melemekkan tas duffel-nya ke atas sofa tamu secara asal, lalu berjalan mendekati meja kerjanya. Arkan mendudukkan tubuh tingginya di kursi kayu yang keras, lalu menumpu kedua tangannya di atas meja, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya yang gemetar karena emosi yang menumpuk.

Kantor Arka-Logistics hari itu terasa sangat dingin, pekat, dan sunyi.

Arkan menatap ke arah luar jendela kaca kantornya, menembus teras ruko sebelah yang tampak sangat sepi tanpa kehadiran sosok judes yang biasanya selalu berdiri di sana.

Rasa cemburu, kecewa, dan tidak berdaya yang luar biasa kini resmi menguasai seluruh sudut batin Arkan. Dia menyadari satu kenyataan pahit: sejauh apa pun raga mereka berdua mencoba menjauh dari Sukaasih, waktu seminggu di Kirana bersama Rendra terasa seperti waktu selamanya yang bisa membawa jiwa Ghea pergi sepenuhnya dari genggaman bayangan pelindungnya yang teramat sunyi ditiup angin kegagalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!