Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan dan Kemarahan sang Ceo
Sementara taksi yang membawa Naura semakin jauh membelah kegelapan malam Jakarta Timur, suasana di dalam butik pengantin milik Naura mendadak berubah menjadi neraka yang dingin.
Arka masih berdiri terpaku di dekat lobi depan, menatap pintu kaca yang baru saja tertutup. Sepasang mata elangnya yang biasanya memancarkan kalkulasi bisnis yang dingin dan tajam, kini tampak kosong, layu, dan dipenuhi oleh kabut keputusasaan yang luar biasa masif.
Di luar, hujan semakin menderu kencang, menghantam atap butik dengan suara gemuruh yang seolah menertawakan ketidakberdayaan sang CEO muda.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya di dunia, Arka merasakan sebuah ketakutan yang teramat sangat ketakutan kehilangan wanita yang telah menjadi pusat dari seluruh alam semestanya.
"Pak Arka ..." panggil Ratih dengan suara yang sangat pelan dan bergetar. Ia berdiri beberapa meter di belakang Arka bersama dua karyawan lainnya, tidak berani melangkah terlalu dekat karena aura berbahaya dan mencekam yang menguar kuat dari tubuh tegap pria itu.
Mendengar suara Ratih, Arka tersentak dari lamunannya. Ia membalikkan badannya perlahan. Wajah tampannya kini tampak mengeras dengan rahang yang mengatup begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. Kemarahan yang sejak tadi ia tahan di depan Naura agar tidak menyakiti istrinya, kini meledak menjadi sebuah gelombang amarah yang tak lagi bisa ia bendung.
"Siapa yang mengantarkan amplop itu kemari?" tanya Arka. Suara baritonnya terdengar begitu rendah, dingin, dan parau, seperti bisikan iblis yang siap mencabut nyawa.
"T-tadi siang ada kurir ojek daring, Pak. Tidak ada nama pengirimnya, hanya tertulis nama Ibu Naura secara pribadi," jawab Ratih dengan terbata-bata, tubuhnya gemetar ketakutan melihat kilatan membunuh di sepasang mata elang bos besar Arka Group tersebut.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Arka berbalik dan melangkah lebar menuju ruang kerja pribadi Naura.
Langkah kakinya yang berat berdentum di atas lantai marmer. Begitu ia melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada meja kerja kayu jati putih milik istrinya.
Di sana, lembaran-lembaran foto yang menampilkan dirinya dan Valerie masih berserakan, beserta catatan ketikan komputer yang sarat akan racun kelicikan.
"BRAKK!"
Arka menghantamkan kepalan tangan kanannya ke atas meja dengan sangat keras hingga vas bunga kecil yang berada di tepi meja bergetar dan jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping.
Rasa frustrasi, penyesalan, dan kemarahan yang luar biasa masif bercampur aduk menjadi satu, membakar habis sisa-sisa kesabarannya. Ia meraih tumpukan foto tersebut dengan kasar, menatap setiap sudut gambar yang direkayasa sedemikian rupa untuk menghancurkan hidupnya.
"Sialan kamu, Valen!" raung Arka, suaranya menggelegar keras di dalam ruangan yang sunyi itu. Ia meremas lembaran foto tersebut hingga tak berbentuk, lalu melemparkannya ke dinding dengan penuh amarah.
Bagaimana bisa ia sebodoh ini? Bagaimana bisa ia membiarkan Valerie masuk ke dalam ruang kerjanya kemarin siang dan menciptakan celah bagi kesalahpahaman yang kini meremukkan hati istrinya? Penyesalan yang teramat dalam merayap menggerogoti ulu hati Arka.
Setiap kali ia membayangkan air mata yang menetes di pipi pucat Naura, dan bagaimana istrinya yang sedang hamil muda itu memegangi perutnya sambil menangis histeris karena mengira dirinya telah berkhianat, dada Arka terasa seperti dihantam oleh gada besi yang panas.
Ia mengeluarkan ponsel pribadinya dari saku celana dengan tangan yang bergetar hebat karena luapan emosi. Dengan cepat, ia mencari sebuah kontak nama dan langsung menekan tombol panggil.
"Halo, Pak Arka?" terdengar suara di seberang telepon. Itu adalah suara Dimas, kepala keamanan internal sekaligus orang kepercayaan Arka yang menangani urusan-urusan krusial di luar bisnis.
"Dimas, gerakkan seluruh timmu sekarang juga!" perintah Arka tanpa basa-basi, nada suaranya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding. "Amankan seluruh rekaman CCTV di lantai eksekutif kantor pusat kemarin siang, mulai dari jam dua hingga jam empat sore. Pastikan tidak ada satu detik pun rekam jejak yang hilang atau rusak. Jika ada staf IT yang mencoba mengutak-atik berkas itu, pecat mereka hari ini juga!"
"Baik, Pak. Segera saya laksanakan," jawab Dimas sigap, menyadari bahwa sang atasan sedang berada dalam tingkat kemarahan tertinggi.
"Satu lagi," potong Arka, sepasang matanya menyipit tajam menatap kegelapan di balik jendela ruang kerja Naura. "Cari tahu siapa fotografer yang mengambil foto dari seberang gedung kantorku kemarin. Lacak nomor kurir ojek daring yang mengantarkan paket ke butik Naura hari ini, temukan siapa yang menyewanya. Dan cari tahu di mana keberadaan Valen sekarang juga. Jangan biarkan wanita itu melangkah keluar dari Jakarta sebelum aku menemuinya!"
"Dimengerti, Pak. Saya akan memberikan laporannya dalam beberapa jam ke depan."
Setelah memutuskan sambungan telepon, Arka melonggarkan dasinya dengan kasar, lalu melemparkannya ke atas kursi.
Ia berjalan mendekati jendela, menyandarkan dahi jalangnya pada kaca yang dingin, mencoba mendinginkan kepalanya yang terasa seperti mau pecah.
Di dalam benaknya, kalimat ancaman Naura sebelum pergi tadi kembali bergema dengan sangat jelas: (“Jangan berani-berani menampakkan wajah Kakak di depan rumahku ... Jika Kakak nekat datang, aku bersumpah aku akan pergi lebih jauh lagi ke tempat yang tidak akan pernah bisa Kakak temukan!”)
Arka mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan mengeluarkan suara gemertak. Ego dan otoritasnya sebagai seorang pria yang terbiasa mengontrol segala hal di dunia bisnis kini sama sekali tidak berguna di hadapan kekerasan hati Naura.
Ia sangat ingin melompat ke dalam mobilnya sekarang juga, membelah jalanan menuju rumah peninggalan orang tua Naura di Jakarta Timur, dan memeluk tubuh mungil istrinya hingga wanita itu berhenti menangis.
Namun, Arka dipaksa untuk menahan diri. Sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya, ia harus menekan egonya sendiri demi keselamatan janin di dalam rahim Naura.
Usia kehamilan enam minggu adalah masa-masa yang paling rentan. Stres yang berlebihan akibat konfrontasi paksa malam ini bisa memicu flek atau bahkan keguguran.
Arka tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk pada calon buah hatinya hanya karena ia tidak sabar untuk membela diri.
"Tunggu aku, Naura," lirih Arka, suaranya berubah menjadi sangat rapuh dalam keheningan malam.
Setetes air mata penyesalan lolos dari sudut mata elangnya, mengalir membasahi wajah tampannya yang tampak begitu lelah. "Aku akan membongkar seluruh kelicikan ini. Aku akan membuktikan kepadamu bahwa suamimu ini tidak pernah sekali pun mengkhianati cinta suci kita."
Dua jam kemudian, Arka melangkah keluar dari butik Naura dengan langkah kaki yang berat. Kemeja kerjanya sudah tampak sedikit kusut, dan wajahnya dipenuhi oleh gurat keletihan yang teramat sangat.
Pria itu menolak untuk pulang ke rumah megah mereka; rumah itu akan terasa seperti kuburan yang dingin dan hampa tanpa adanya senyuman manis dan sambutan hangat dari Naura. Ia memilih untuk kembali ke kantor pusat Arka Group, tempat di mana badai ini pertama kali dirancang oleh Valen
Begitu mobil Rolls-Royce hitamnya memasuki pelataran parkir gedung pencakar langit itu, jam dinding digital di dasbor mobil sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Gedung kantor pusat tampak sepi, hanya diterangi oleh lampu-lampu koridor luar dan beberapa ruangan staf keamanan yang masih berjaga.
Arka berjalan melintasi lobi utama dengan langkah yang cepat, langsung menuju lift khusus eksekutif.
Di lantai paling atas, Dimas sudah berdiri menunggu di depan pintu ruang kerja pribadi sang CEO dengan sebuah laptop di tangannya dan sebuah map dokumen tebal
"Bagaimana hasilnya, Dimas?" tanya Arka dingin saat mereka melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang kemarin sore menjadi saksi bisu insiden tumpahan kopi tersebut.
Dimas meletakkan laptopnya di atas meja kerja kayu jati besar milik Arka, lalu membukanya. "Kami sudah mengamankan seluruh rekaman CCTV kemarin, Pak Arka. Dan tebakan Anda benar. Ini adalah rekaman dari sudut koridor depan ruangan Anda."
Dimas menekan tombol putar pada video di layar laptop. Arka menatap layar tersebut dengan pandangan yang tajam. Di dalam video, terlihat jelas bagaimana Valen datang dengan memanfaatkan kelalaian Siska, melangkah masuk ke dalam ruangannya, dan beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka sedikit karena dorongan dari dalam. Rekaman dari kamera sudut luar gedung juga memperlihatkan kilatan lensa kamera dari atas jendela bangunan kosong yang berada di seberang jalan, tepat di waktu yang sama saat Valen menumpahkan kopi dan merapatkan tubuhnya pada dada bidang Arka.
"Kami juga sudah melacak nomor kurir ojek daring yang mengirimkan paket ke butik Ibu Naura," lanjut Dimas sambil menyerahkan selembar kertas dokumen.
"Kurir tersebut menerima orderan tunai dari seorang pria bernama Doni. Setelah kami telusuri rekam jejak digitalnya, Doni adalah seorang fotografer lepas yang sering disewa untuk mencari skandal media.
Dan tiga hari yang lalu, ada aliran dana dalam jumlah besar masuk ke rekening Doni dari sebuah rekening atas nama agensi model yang terafiliasi langsung dengan Valen."
Mendengar penjelasan dari Dimas dan melihat semua bukti otentik yang terpampang nyata di hadapannya, sebuah senyuman dingin yang teramat kejam terukir di bibir Arka. Seluruh potongan teka-teki kelicikan Valen kini telah terjawab dengan sempurna.
"Bagus sekali, Dimas," ucap Arka, nada suaranya berubah menjadi sangat rendah, memancarkan aura dominan seorang singa bisnis yang siap mencabik-cabik mangsanya. "Simpan semua berkas ini dengan baik. Siapkan tim hukum terbaik dari firma hukum kita. Aku tidak hanya ingin membersihkan namaku di hadapan istriku, tapi aku juga akan memastikan bahwa wanita yang bernama Valen itu akan membayar setiap tetes air mata yang telah ia jatuhkan dari mata Naura dengan kehancuran seluruh hidup dan kariernya."
Kemarahan sang CEO kini telah menemukan arahnya yang tepat. Penyesalan malam ini telah berubah menjadi sebuah tekad yang membara untuk menghancurkan akal licik sang mantan kekasih, demi membawa kembali kehangatan rumah tangganya yang kini sedang membeku di bawah atap rumah sederhana di Jakarta Timur.
Badai kesalahpahaman mungkin telah berhasil memisahkan mereka untuk sementara waktu, namun Arka bersumpah bahwa fajar kebenaran akan segera tiba untuk menjemput pulang sang istri tercinta.