Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUNTUHNYA SEBUAH KEHORMATAN
Bimo menatap amplop itu dengan ragu selama beberapa detik. Perlahan, jemarinya yang terbiasa memegang dokumen pengadilan membuka segel amplop tersebut. Ketika lembaran-lembaran di dalamnya ditarik keluar, rahang Bimo seketika mengeras.
Di barisan paling atas adalah cetak foto digital dengan kualitas tinggi yang diambil Kirana di restoran malam itu. Foto Aris yang sedang tertawa sambil menggenggam tangan Sarah. Foto Aris yang sedang mengecup bibir Sarah dengan intim. Di lembar berikutnya, ada salinan mutasi rekening koran bersama yang telah ditandai dengan stabilo merah oleh Kirana—menunjukkan aliran dana konisten ke rekening Sarah dan pembayaran hotel butik Amethis.
"Bajingan," desis Bimo. Suaranya rendah, namun bergetar oleh amarah yang tertahan. Buku-buku jarinya yang memegang kertas-kertas itu memutih karena tekanan yang kuat. "Aris... bagaimana bisa dia melakukan ini?"
Bimo mendongak, menatap Kirana dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah yang aneh dan empati yang mendalam. Sebagai sahabat Aris, dia merasa ikut terlempar ke dalam kubangan lumpur dosa ini. "Dengan Sarah? Wanita yang dulu... sialan, Aris benar-benar sudah gila."
"Dia tidak gila, Bimo. Dia hanya merasa terlalu berkuasa," Kirana memajukan badannya sedikit, membiarkan matanya yang kini tampak berkaca-kaca menatap tepat ke dalam manik mata Bimo. "Dia tahu aku telah melepas karierku. Dia tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta selain dirinya dan keluarga besarnya yang selalu menuntutku untuk segera memberi mereka cucu. Dia berpikir aku adalah istri bodoh yang bisa dia suap dengan cincin berlian setiap kali dia pulang dari ranjang wanita lain."
"Kirana, aku..." Bimo kehilangan kata-kata. Pria yang biasanya sangat artikulatif di depan hakim itu kini mendadak gagap. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kalau... kalau hubungan mereka sudah sejauh ini. Aris mengenalkannya padaku sebagai investor baru untuk proyek cluster eksklusif di Bogor. Aku bersumpah, aku tidak tahu ada motif busuk di baliknya."
"Aku tahu kamu tidak tahu, Bim. Kamu adalah pria paling jujur yang pernah kukenal. Karena itulah aku datang kepadamu, bukan kepada pengacara lain," kata Kirana, menyelipkan pujian halus yang terencana. "Aku tidak butuh kata maaf darimu, karena bukan kamu yang mengkhianatiku. Aku butuh keadilan."
Bimo mengangguk cepat, emosinya sebagai seorang sarjana hukum langsung mengambil alih. "Tentu. Aku akan membantumu, Kirana. Sebagai kepala tim hukum, aku bisa merekomendasikan firma hukum keluarga terbaik untuk mengurus perceraian ini. Kita bisa mengajukan gugatan dengan dalil perzinaan. Dengan bukti-bukti ini, hakim pasti akan memenangkanmu. Kita akan tuntut harta gono-gini maksimal—"
"Tidak," potong Kirana cepat. Suaranya tidak lagi bergetar; ada nada dingin yang mendadak menusuk udara di antara mereka.
Bimo mengernyitkan kening. "Tidak? Apa maksudmu?"
"Jika aku menggugat cerai sekarang, apa yang terjadi pada Aris? Dia hanya akan kehilangan setengah hartanya, bukan? Dan perusahaan itu? Dia masih memegang 70% saham mayoritas. Dia hanya perlu membayar ganti rugi padaku, lalu dia bisa membawa Sarah masuk ke rumah kami, membiarkan wanita itu tidur di ranjangku, dan mereka akan tetap hidup mewah dari sisa kejayaan yang kubantu bangun dari nol!"
Kirana menggelengkan kepalanya dengan perlahan, senyum tipis yang getir terukir di sudut bibirnya. "Itu bukan keadilan, Bimo. Itu adalah dispensasi hukum yang murah untuk seorang penjahat emosional."
Bimo terpaku melihat intensitas di mata Kirana. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari wanita yang selama ini ia anggap sebagai sosok yang lembut dan rapuh. Di balik kelembutan itu, ada singa betina yang terluka dan sedang mengasah cakarnya.
"Lalu... apa yang ingin kamu lakukan, Kirana?" tanya Bimo, suaranya kini melunak, hampir berupa bisikan yang penuh rasa ingin tahu.
Kirana memajukan tubuhnya lebih dekat lagi ke arah meja, hingga Bimo bisa mencium aroma parfum melati lembut yang menguar dari tubuh Kirana—aroma yang berbeda dengan wangi ceri Sarah yang sensual, namun jauh lebih memabukkan dan menenangkan.
"Aku ingin dia merasakan apa rasanya kehilangan segalanya secara mutlak. Aku ingin dia miskin. Aku ingin dia kehilangan perusahaan yang menjadi lambang kesombongannya. Dan yang paling penting... aku ingin dia merasakan perihnya dikhianati oleh dua orang yang paling dia percaya di dunia ini."
Napas Bimo tercekat. "Dua orang? Siapa..." Kalimat Bimo menggantung di udara saat ia menyadari arah pembicaraan Kirana.
Kirana mengulurkan tangannya di atas meja, telapak tangannya terbuka menghadap ke atas, seolah mengundang Bimo untuk melangkah ke dalam jurang bersama dirinya.
"Aris sangat mempercayaimu, Bimo. Kamu adalah otaknya, sementara dia hanya wajahnya. Kamu yang memegang semua rahasia legalitas, struktur kepemilikan saham, hingga celah keuangan perusahaannya. Dan aku..." Kirana menurunkan nada suaranya hingga ke tingkat yang paling intim, "Aku tahu bagaimana caramu menatapku selama enam tahun ini, Bimo. Jangan sangkal itu. Aku bukan wanita buta."
Jantung Bimo berdentum begitu keras di dalam rongga dadanya hingga ia takut suaranya akan terdengar keluar. Rahasia paling gelap yang ia simpan rapat-rapat sejak hari pertama Aris mengenalkan Kirana sebagai kekasihnya di zaman kuliah—sebuah rasa kagum yang bertransformasi menjadi cinta rahasia yang ia kubur demi menghormati ikatan persahabatan—kini dibongkar dengan begitu mudah oleh wanita itu sendiri.
"Kirana... aku tidak bisa... Aris adalah sahabatku sejak..." Bimo mencoba menyusun benteng pertahanannya yang rapuh, namun matanya yang bergetar mengkhianati kata-katanya.
"Sahabat?" Kirana tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat sinis. "Sahabat macam apa yang membohongimu, memanfaatkan posisimu untuk melegalisasi perselingkuhannya, dan membawa wanita simpanannya masuk ke dalam lingkaran bisnismu tanpa memedulikan risiko reputasi profesionalmu jika skandal ini meledak? Aris tidak menganggapmu sebagai sahabat, Bimo. Dia menganggapmu sebagai pelayan setianya yang cerdas."
Kirana membalikkan tangannya, kini jemari lentiknya menyentuh punggung tangan Bimo yang kaku di atas meja. Sentuhan itu terasa hangat, namun mengirimkan sengatan listrik yang meruntuhkan sisa-sisa logika di kepala Bimo.
"Bantu aku menghancurkannya dari dalam, Bimo. Mari kita beri Aris sebuah pelajaran berharga tentang arti kesetiaan. Setelah semuanya selesai, perusahaan itu... dan diriku... tidak akan ada lagi yang menghalangi kita."
Bimo menatap jemari Kirana yang menindih tangannya, lalu beralih menatap wajah Kirana yang dipenuhi tekad yang membara. Di dalam kepalanya, moralitas bertahun-tahun sedang bertempur hebat dengan hasrat terpendam yang kini diberi jalan untuk keluar. Ego sebagai seorang pria yang selalu berada di bawah bayang-bayang Aris tiba-tiba bangkit. Mengapa Aris selalu mendapatkan segalanya—wanita terbaik, perusahaan terbesar—sementara dia hanya mendapatkan sisa-sisa dan tugas merapikan kekacauan? Dan sekarang, Aris menyia-nyiakan permata yang paling berharga ini.
Bimo menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan seolah sedang melepas seluruh beban moral yang mengikat hidupnya selama ini. Ia membalikkan telapak tangannya, balik menggenggam jemari Kirana dengan erat.
"Apa rencana pertamamu, Kirana?" tanya Bimo, matanya kini memancarkan kepatuhan penuh. Bidak pertama telah resmi digerakkan di atas papan catur pembalasan dendam.