Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aku lebih suka milik Zen
Aku memikirkan Putri Cassia..
Entah mengapa di saat kritis seperti ini, pikirannya malah memutar kembali ucapan Zen beberapa saat yang lalu ketika berada di bawah bukit. Pengakuan jujur pria itu memang teramat menyesakkan dada. Namun kenapa bayang-bayang menyakitkan itu harus menghantamnya sekarang? Di dalam keadaan segenting ini. Alih-alih memikirkan keselamatan dirinyanya, kenapa justru ucapan pria itu yang bergema di kepalanya?
Setetes air mata tiba-tiba saja mengalir dari sudut kelopak mata Amanda yang terpejam, membasahi pipinya yang kotor oleh debu hutan. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya. Tidak—tidak, ia tidak boleh memikirkan ucapan pria itu lagi. Amanda segera menghela napas panjang dalam-dalam, membiarkan rongga dadanya yang perih itu melepas semua lukanya ke udara. Ia membuka matanya lagi, memandang para bandit yang tersisa dengan tatapan getir.
"Apa kau menyerah, Nona?" ejek si pemimpin bandit dengan nada penuh kepuasan setelah melihat air mata Amanda menetes. Pria itu melangkah maju dengan angkuh, menatap intens lekuk tubuh polos yang tergeletak tak berdaya di atas tanah.
Amanda mengangguk pelan.
"Ya... aku menyerah. Lagi pula... sudah tidak ada satu pun orang yang menganggapku berharga di dunia ini," lirihnya. Suaranya bergetar pelan.
Ia merebahkan kedua tangannya ke atas tanah, kemudian membiarkan kedua pahanya terbuka lebar, menampilkan seluruh bagian intinya yang polos tanpa selembar benang pun yang menutupinya. "Lakukan apa pun yang kau mau..."
Si pemimpin langsung tersenyum lebar. Air liurnya nyaris menetes menatap pemandangan indah di depannya.
"Gaya yang sangat menantang, pirang!"
Pria bertubuh besar itu langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dengan terburu-buru, melemparkannya ke sembarang arah hingga tubuh kekarnya terekspos bebas. Setelah terlepas semua, ia segera merangkak maju menghampiri Amanda. Berjongkok, lalu mulai memerangkap tubuh polos Amanda yang tergeletak tak berdaya yang berada tepat di bawahnya.
Mata Amanda memperhatikan benda yang sudah berdiri tegak di antara kedua paha pria itu dengan tatapan kosong.
"Ukuran yang bagus..." pujinya datar, suaranya nyaris berbisik.
Bandit itu terkekeh keras mendengar pujian tersebut.
"Benda ini akan menghangatkanmu!"
Pria itu melayangkan tangannya ke arah puncak dada Amanda.
"Tapi sayangnya!" Amanda tersenyum miring. Sorot mata yang tadi layu mendadak menajam. "Aku lebih menyukai milik Zen!"
SERESET!
Kedua kaki jenjangnya yang semula terhampar lemas mendadak naik secara cepat, melingkar kokoh mengunci pinggang dan kedua lengan si pemimpin bandit itu dengan keras.
"APA YANG KAU—huaks..."
Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Amanda langsung mencekik leher si bandit menggunakan kedua tangannya dengan kuat. Ia memfokuskan seluruh sisa tenaganya pada titik jepitan kaki dan lengannya secara bersamaan. Itu adalah teknik kuncian pemutus aliran darah ke otak. Sebuah teknik bertahan hidup ala militer yang ia pelajari langsung dari Raja Arthur.
Dengan satu hentakan panggul yang kuat, Amanda memanfaatkan bobot tubuh si bandit yang limbung untuk memutar balik posisi mereka.
BUM!
Situasi telah berbalik total. Amanda kini sudah berada di punggung si pemimpin, mengangkanginya dari belakang dengan kedua kaki yang mengunci rapat pinggang dan kedua tangan lawan agar tidak bisa bergerak. Sementara itu, kedua lengan Amanda sendiri semakin menguatkan cekikannya di leher sang bos bandit.
"Ugh—khh?!" dua bola mata sang pemimpin melotot lebar. Urat-urat tebal mendadak menonjol keluar, menjalar dari leher hingga memenuhi seluruh wajahnya yang memerah padam. Hanya dalam hitungan detik, rona merah itu seketika membiru seiring menyempitnya pasokan darah dan oksigen menuju otaknya.
"Bos Morris!!" pekik dua anak buahnya yang berdiri kaku dengan raut panik. Mereka tampak kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa dalam kondisi serba salah seperti itu.
Amanda mengeraskan rahangnya hingga gigi-giginya merapat kuat. Ia mempererat jepitan lengan serta tekanan pada sendi leher yang mematikan
"Mundur! atau leher bos kalian aku patahkan!" ancam wanita itu. Suaranya mendadak berubah sangat dingin dan mengintimidasi.
Dua bandit yang tersisa langsung membeku di tempat, sementara rekan mereka yang lumpuh hanya bisa mengerang kesakitan di atas tanah. Mereka benar-benar kehilangan arah.
Di bawah kegelapan hutan pinus yang mencekam, pemimpin mereka kini sepenuhnya telah menjadi sandera, tak berkutik di bawah kendali tubuh telanjang sang ksatria Castlewooe.
...***************************************...
Zen melangkah terlebih dahulu menuju pohon pinus besar di dekat kuda yang tertambat di sana. Amanda mengikuti dari belakang, berjalan gontai dengan sisa tenaga yang dipaksakan. Seluruh tubuhnya masih tampak tegang, wanita berambut pirang itu masih terbawa sepenuhnya oleh suasana mencekam dari peristiwa beberapa saat lalu.
"Sudah lebih hangat?" tanya Zen bergumam, namun cukup jelas di telinga Amanda.
Amanda tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat punggung pria di depannya itu sedikit lebih lama, sebelum akhirnya menyahut lirih, "Ya, aku tidak apa-apa."
Zen tidak berkata apa-apa lagi. Pria itu menoleh sejenak, memperhatikan Amanda yang kini jauh lebih pendiam dari biasanya. Wajah wanita itu tampak begitu bersih dari ekspresi, tidak ada sisa amarah beringas seperti beberapa menit lalu ketika ia melancarkan kuncian maut. Matanya lurus menatap tanah basah dengan tatapan kosong.
Zen akhirnya berbalik sepenuhnya. Ia melangkahkan kakinya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Pria itu kemudian menjulurkan tangan, menyentuh dagu Amanda dengan ujung jarinya, lalu sedikit memaksa wanita itu agar mendongak untuk menatap sepasang mata birunya.
"Baguslah kalau kau tidak apa-apa," gumam Zen rendah. Pria itu menurunkan tangannya dari dagu Amanda, memindahkannya ke atas pundak wanita itu, lalu menepuknya pelan sekali. "Perjalanan kita masih panjang. Sebaiknya kau hangatkan tubuhmu di perapian, biarkan aku yang mengurus orang-orang itu."
Selengkung senyum tipis yang getir sempat terbit di sudut bibir Amanda, begitu samar hingga nyaris tak terlihat di bawah remang malam. Ia tidak menyahut lagi. Wanita itu hanya mengangguk pelan, lalu membalikkan badannya untuk melangkah pelan menuju kehangatan perapian, membiarkan jubah hitamnya menyapu rerumputan kering.
Setelah Amanda duduk dekat perapian yang mulai padam, Zen langsung membalikkan tubuh. Kehangatan tipis yang sempat menghiasi wajahnya surut dalam sekejap, dan kini menampilkan sorot mata yang mendadak tajam saat pandangannya terkunci pada sosok tiga bandit yang terikat di sebuah pohon pinus.
Zen melihat kondisi Morris tampak jauh lebih mengenaskan daripada beberapa menit sebelumnya. Sepasang matanya memerah pekat akibat pembuluh darah yang pecah karena cekikan brutal Amanda tadi. Wajah pria itu sembap kebiruan, sementara napasnya terdengar serak dan berat, diselingi bunyi ngorok pendek yang tersendat menyakitkan di dalam tenggorokannya setiap kali ia mencoba menghirup udara.
"Uhuk! Khh-uhuk!"
Morris terbatuk, menyemburkan bercak darah tipis dari sela bibirnya yang bergetar, mengotori dada telanjangnya sendiri. Saraf-saraf di lehernya yang bengkak kebiruan membuat pria besar itu bahkan kesulitan untuk sekadar menegakkan kepala.
Akhirnya Zen melangkah maju mendekati pohon pinus tersebut, memangkas jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya mengubur figur Morris yang terikat pasrah di bawah pohon.
Zen menunduk, menatap wajah mengenaskan sang ketua bandit, sebelum akhirnya mengambil posisi berjongkok tepat di depannya. Pandangan pria itu perlahan turun, tertuju pada selangkangan Morris.
"Benda busuk ini," Zen tiba-tiba menjulurkan tangan, kemudian mencengkeram bagian inti di antara paha Morris menggunakan satu tangannya. "Akan kau gunakan untuk menyakiti wanita itu?"
"Arrghhh!"
Tubuh Morris melengkung hebat, merasakan sakit yang luar biasa menyiksa. Jeritannya tidak mampu keluar dengan sempurna karena suara itu pecah dan tercekat di tenggorokannya yang hancur, menghasilkan bunyi pekikan parau yang teramat menyedihkan. Tubuh besarnya terhuyung ke depan sekuat tenaga, namun tali kekang kuda yang mengikatnya ke pohon pinus justru menahan gerakannya, membuat cengkeraman tangan Zen di selangkangannya terasa kian berlipat ganda menyiksa organ dalamnya.
"A-Arghhh! A-Ampun... k-khh-mohon..." Morris mengerang tercekat. Air mata bercampur darah merembes dari sudut matanya yang merah padam. Air liurnya menetes bersimbah darah tipis, menatap Zen dengan pandangan memohon yang teramat menyedihkan.
Zen tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru memutar sedikit pergelangan tangannya, membuat Morris kembali memekik tertahan hingga seluruh urat di leher kebiruannya menegang kaku.
"Aku mendengar langsung dari wanita yang mengalahkanmu. Konglomerat mana yang kau maksud?" tanya Zen, wajahnya tetap datar seperti biasa, namun tidak merasa iba oleh penderitaan makhluk di depannya. "Sebut satu nama, atau kuhancurkan benda busuk ini sekarang juga."
"A-Aku tidak tahu namanya..." erang Morris tercekat. "Kami cuma menerima perintah dari orang-orang itu..."
Zen menyipitkan mata. "Siapa mereka?"
"A-Aku tidak tahu!"
Zen mempererat cengkeramannya tanpa ampun. Morris melengking lebih keras, tubuhnya kejang di tempat.
"Mereka memakai jubah hitam panjang..." Morris menelan ludah bercampur darah yang terasa menyumbat kerongkongannya. "Dan di dadanya ada lambang burung elang berwarna perak." Napasnya memburu panik, berpacu dengan rasa sakit yang nyaris membuatnya pingsan. "Mereka datang dari Thorton."
Tangan Zen yang sedang meremas selangkangan Morris mendadak berhenti bergerak. Mendengar elang perak disebut, membuat pikirannya teringat dengan nama sebuah organisasi kriminal berbahaya.
"Thorton?" ulang Zen datar.
Morris yang menangkap perubahan kecil itu langsung buru-buru melanjutkan dengan suara gemetar.
"K-Kami hanya disuruh membuat jalur yang biasa dilewati penduduk atau pun prajurit kerajaan menjadi kacau! Menjarah pedagang, membunuh kurir kerajaan, dan menculik wanita muda yang lewat untuk diserahkan pada mereka!" napasnya terengah-engah. "Dia bilang, dia bilang semakin kacau Ergarth, semakin besar bayaran yang kami dapat!"
"Kami bukan siapa-siapa!" pria kurus itu akhirnya ikut berteriak panik. "Kami cuma menjalankan perintah! Orang-orang itu yang mengatur semuanya!"
Zen terdiam sejenak untuk menyimpan informasi tersebut di dalam kepalanya.
"Aku ucapkan terima kasih atas informasinya," bisik pria itu datar. Zen kemudian berdiri tegak, menatap Morris dengan pandangan menghina. "Tapi perbuatanmu sangatlah tidak layak untuk mendapatkan kata maaf. Terlebih lagi, kau hampir mencelakai wanita yang sangat berharga dalam hidupku."
KRAK!
Bunyi patahan dari leher Morris bergema kelam menghiasi keheningan malam. Zen baru saja melenyapkan pemimpin bandit tersebut hanya dalam satu kali putaran tangan. Tanpa sempat mengeluarkan jeritan, Morris tewas seketika. Dua anak buahnya yang menyaksikan hal itu langsung melotot horor dengan keringat dingin yang bercucuran.
CETASS!
Belum sempat mereka mengeluarkan suara memohon ampun, bilah pedang yang sejak tadi tersampir di pinggang Zen sudah lebih dulu menebas leher dua bandit tersebut dalam sekali gerakan yang cepat.
Zen memandangi tiga mayat bandit yang kini terkulai tak bernyawa itu sejenak. Ia kemudian mengembuskan napas panjang untuk meredakan sisa ketegangannya. Sang ksatria membalikkan badan, lalu melangkahkan kaki menghampiri Amanda yang masih termenung sendirian di dekat perapian.