Aku Yie Er. Wanita bersenja yang dikhianati kematian. Dihidupkan kembali sebagai Permaisuri dari sebuah kerajaan, Dinasti Han.
Permaisuri yang bahkan tidak dinginkan rakyat dan Kaisarnya. Permaisuri dengan takdir hidup menyedihkan. Permaisuri dengan cintanya yang besar kepada Kaisar, suaminya. Membuatku, sebagai Yie Er kerap kali bertingkah mencintai Kaisar karena cinta dalam tubuh yang sekarang menjadi tubuhku.
Cinta Permaisuri, membuatku menekan perasaan seorang Yie Er. Bahwa aku, Yie Er sama sekali tidak mencintai Kaisar.
"Yang menghianatiku harus mati. Kalian semua harus mati ditanganku." Yie Er menatap marah semua penghuni Istana di depannya. Menatap Yuan penuh kekecewaan dan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tac Sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cambukan
"Berani nya kau menatap serta berbicara kepada Zhen seperti itu!" Pupil Yuan membesar, marah akan ucapan Yie Er.
Yie Er terkekeh merasa lucu dengan perkataan Yuan. Heh, berani sekali pria bedebah di depannya ini.
"Apa ada yang salah dengan ucapan saya Yang Mulia? Saya hanya ingin Yang Mulia melepaskan tangan saya."
"Berani sekali kau memerintahkan Zhen. Apa karena jatuh nya kau ke dalam Danau itu menyebabkan otak kotor mu itu melakukan pemberontakkan kecil dan lupa akan siapa dirimu?"
"Otak kotor!"
Kekeh Yie Er congkak, persetanan dengan etika di jaman ini. "Bedebah sialan!"
Ucapan Yie Er membuat mereka tergugu tak mampu berkata-kata, kejutan yang menegangkan. Sampai ucapan Yuan sedikit menyadarkan keterkejutan mereka.
"Berani sekali kau. Penjaga, seret dia ke penjara bawah tanah!" Teriak Yuan berapi-api.
Dua orang penjaga menyeret Yie Er tanpa sopan santun, seperti menyeret sekarung beras.
"Aku bisa sendiri."
Yie Er menghempaskan kadua tangan penjaga, berlalu meninggalkan mereka semua. Tatapan matanya semakin menajam, mengintimidasi kedua penjaga di belakangnya.
Jaman yang sama sekali tidak menguntungkannya. Bahkan untuk mengupil saja dia rasa akan menerima hukuman.
"Yang Mulia. Permaisuri baru saja sembuh dari sakitnya. Tidak bisakah Yang Mulia memberi pengampunan."
"Tidak, aku tidak bisa."
Yuan menggeram marah, berlalu pergi meninggalkan mereka semua. Sepeninggal Yuan, mereka berangsur angsur kembali ke kediaman masing- masing dengan perasaan yang berbeda- beda.
"Cepat cambuk Permaisuri tidak tahu diri ini. Jangan biarkan cambuk itu berhenti sebelum dia tahu diri."
"Cuihh!" Yie Er meludah tanpa takut, menatap Yuan sama berangnya.
Tatapan mereka bertemu, Yuan mengetatkan rahangnya merebut cambuk di tangan prajurit. Cambuk itu Yuan ayunkan di atas punggung Yie Er. Keras, cepat, berkali-kali punggung kecil itu terbentur cambuk besar disertai teriakan keras kedua pelayannya.
"Ampun Yang Mulia. Punggu Permaisuri sudah berdarah- darah. Mohon belas kasihan anda Yang Mulia!"
Yie Er menatap datar kedua pelayannya. Meminta belas kasihan dari pria di hadapannya sama saja dengan merendahkan harga dirinya. Bodoh jika mereka meminta pengampunan dari pria yang tak punya hati seperti dia.
"Bawa pergi junjungan tak berguna kalian. Dan prajurit, pastikan tidak ada tabib Istana yang mengobatinya!"
"Terima kasih Yang Mulia!"
Yu Are dan Rei Rei menatap miris kepergian Yuan. Kaisar bijaksana itu bahkan tidak pernah bisa memberi kebijakan untuk istrinya.
"Biarkan aku sendiri!"
Yie Er menepis pelan kedua tangan pelayan yang hendak membantunya berdiri. Tangannya bertepukan membersihkan debu yang sekiranya menempel. Berlalu pergi dengan tatapan dinginnya, seolah- olah tidak pernah terjadi apa- apa.
Yu Are dan Rei Rei mengikuti Yie Er tanpa banyak bicara, meninggalkan penjara bawah tanah Istana dengan kegelapan abadi.
Penjara tempat dimana penghianatan, tawanan perang, pemberontak, habis ditangan kekejaman Kaisar mereka. Yuan, sang bijaksana bagi sebagian rakyatnya. Dan Yuan, sang iblis bagi sebagian rakyat yang tak tahu diri.
Penjara adalah sebagian kecil dari kekejaman Istana. Karena kekejaman yang sebenarnya ada di dalam istana itu sendiri. Perebutan harem dimana yang lemah akan tiada dalam kematian yang tragis. Dan dimana yang kuat akan tetap berdiri dengan tangan penuh darah. Hubungan darah sama sekali tidak memiliki arti, seperti lelucon yang sering dimainkan oleh orkas- orkas penghibur malam.
da 3 tahun pulak hiatus
seharusnya pas lomba aja😁
semangat ya kak
up-nya jangan lama lama donk
penggemar. penasaran
kapok kan istrimu jalan sama kaisar lain😆😜