Berangkat dari cinta manis di SMA, Daris dan Felicia duduk bersanding di pelaminan.
Perkawinan mereka hanya seumur jagung. Felicia merasa tertipu dengan status sosial Daris. Padahal Daris tidak pernah menipunya.
Dapatkah cinta mengalahkan kasta, sementara berbagai peristiwa menggiring mereka untuk menghapus jejak masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grandpa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banyak Drama
"Aku ada perlu sama kamu."
Semua mata mengikuti lenggang lenggok Lisda. Dua pasang mata bahkan melotot saat perempuan seksi itu masuk ke kedai yang dipisahkan partisi setengah badan.
Hilda dan Elsa berusaha menguping sedekat mungkin dari kedai masing-masing. Daris yang lagi memotong daging memukulkan pisau ke talenan cukup keras. Mereka terlonjak kaget.
Tapi gadis ting ting dan istri kesepian itu kembali menyorongkan kuping saat Daris lengah.
"Aku diminta mengembalikan dompet," kata Lisda seraya meletakkan amplop coklat di meja etalase. "Ibu tidak tahu alamatmu. Ibu juga minta kamu jangan high key punya mantan CEO."
"Bilang sama bosmu," sahut Daris gemas. "Kalau jatuh cinta, begonya jangan keterusan. Dengan mengirim kamu ke basement, dia hendak membongkar apa yang ingin dirahasiakan."
Melihat mereka kongkow berdekatan, Hilda menyindir, "Hati-hati, sudah punya istri di kampung."
"Lagian cewek high class gak jijik datang ke mari," timpal Elsa. "Kalau cinta, basement serasa Belle Vue kali ya."
Sekali lagi Daris memukulkan pisau daging ke talenan. Mereka terlonjak dan buru-buru meneruskan pekerjaan.
Lisda pamit, "Aku pergi dulu. Temanmu pecicilan banget. Apa begini cewek PKL?"
Lisda berjalan ke anak tangga. Ijang datang sambil mengusap-usap rambut klimisnya.
"Siapa tuh?" tanya Ijang. "Kayaknya cewek kantoran."
"Lihat yang bening langsung lupa sama nasi kuning!" gerutu Hilda dongkol. Ijang adalah penjual nasi kuning. "Dasar lalat ijo!"
"Tentu saja aku tidak lupa sama my darling," senyum Ijang manis mengalahkan kembang gula. "My darling adalah Kim So Hyun di mataku. Aku mau memastikan tidak boleh ada dua bidadari di basement."
"Preet!"
"Ia sekretaris bestie ku semasa kuliah."
"Pak Rendy ya?" sambar Yudi yang baru muncul. "Enak banget jadi bos, dikerubuti cewek macan."
"Kecoa item datang," gerutu Daris. "Kapan selesainya kerjaanku?"
Rendy adalah sahabatnya sewaktu kuliah. Ia lanjut ke Boston mengambil program master, sementara Daris totalitas jualan soto mie.
Semasa kuliah Rendy sering mampir jajan soto mie. Sekarang juga setiap makan siang Daris mengantarkan soto mie ke kantor berlantai tujuh itu.
"Oh, cowok flexing itu?" dengus Ijang sinis. "Yang tiap mampir bilang; kok ada bidadari nyasar ke basement? Kamu tidak pantas di basement! Pantasnya di hatiku! Dasar play boy gedongan!"
"Ngomong aja ngiri!" sambar Hilda ketus. "Pak Rendy itu cowok tajir! Good looking! John Mayer Dago City! Ada cowok baru punya mobil murah meriah, kunci diputer-puter kayak gasing!"
Ijang yang lagi mempermainkan kunci mobil langsung berhenti.
"Aku bukan flexing, my darling," dalih Ijang. "Aku siap mengantarmu shopping. Kau mau belanja kelapa kopyor kan?"
"Modus!"
"Amplopnya tebel banget," kicau Elsa sambil melotot ke meja etalase dengan sinar mata hijau kayak cabe kriting. "Bayaran bulan kemarin ya?"
"Sama tunggakan," sahut Daris seraya memasukkan amplop ke laci.
"Masa CEO perusahaan bonafid nunggak?"
"Lupa bayar."
Seumur-umur Daris belum pernah berbohong. Kejujuran adalah modal hidupnya. Tapi sejak drama pernikahan itu, sepertinya ia harus terbiasa.
Daris sempat berpikir untuk pindah lokasi. Ia tidak nyaman hidup dalam drama. Hari pertama saja sudah pusing.
Tapi sayang kalau ditinggalkan, pelanggan sudah banyak. Ia jarang sekali buka sampai malam, soto mie habis saat jam pulang karyawan kantor.
Daris berencana membuka cabang di pinggiran kota, ia bisa fokus di sana. Alternatif terbaik ketimbang meninggalkan pelanggan.
"Aku sih setuju saja," kata ibunya saat Daris minta pendapat. "Bukan untuk menghindari Felicia kan?"
Daris tidak perlu menghindari Felicia. Mereka menjalani kehidupan di lingkungan berbeda. Jadi tidak ada kepentingan untuk mempertemukan mereka, kecuali CEO itu pelanggan soto mie.
Felicia tidak suka mie, gara-gara takut sama cacing.
"Aku justru berencana membuka warung sembako," kata ibunya. "Aku ingin memanfaatkan ruang tamu. Kita toh tidak pernah kedatangan tamu."
"Aku masih sanggup ngasih makan ibu dan adikku," sahut Daris. "Manfaatkan saja hari tua Ibu untuk kesenangan."
"Aku bosan tiap hari nonton teve, ngobrol sama tetangga gak jelas banget."
"Cari kegiatan yang jelas, misalnya ikut pengajian, bakti sosial ..."
"Maksudnya bersih-bersih got?"
"Bakti sosial bukan cuma membersihkan got, membantu Bu RT Posyandu misalnya. Pendidikan Ibu paling tinggi di antara mereka. Sayang kalau tidak dimanfaatkan."
Ibunya sudah capek dengan kehidupan. Pengkhianatan suami dan kehidupan yang terjun bebas, sebuah kenyataan yang sedikit orang bisa menerima.
Tetangga sangat menyukai ibunya karena mempunyai nama dan wajah persis dengan bintang film tahun sembilan puluhan.
Padahal bintang film itu adalah ibunya. Ia berhenti jadi aktris setelah berumah tangga.
"Kau sangat tangguh, anakku," puji ibunya terharu. "Kau memikirkan kehidupan adik dan ibumu padahal kehidupanmu sedang hancur."
"Aku belajar dari Ibu bagaimana menerima kenyataan."
Kehidupan harus berjalan, begitu prinsipnya. Ia tidak boleh membelenggu diri dengan kekecewaan. Ia harus bangkit dan berdiri tegar.
"Mandi dengan air kembang pun terasa perih kalau di tubuh terdapat luka," kata Rendy saat merayakan jadi CEO dulu. "Sebaliknya, mandi air garam tidak terasa perih kalau di tubuh tidak ada luka. Jadi sembuhkan dulu luka di hati baru kita bermimpi. Jangan kira aku gampang mendapatkan posisi CEO, aku terpaksa jualan door to door di Boston untuk membiayai kuliah. Mamiku ingin melihat kegigihanku cari duit."
Tapi tidak semua anak pengusaha menjalani ujian yang sama. Felicia jalan hidupnya mulus-mulus saja. Jangankan mendapati batu, kerikil saja tidak ada.
Seandainya pernikahan dengan Daris adalah ujian, Felicia tidak mau melewatinya. Ia lebih memilih untuk menggulung jalan itu dan menggelar jalan baru!
"Kapan datang dari kampung?" tanya Firman saat Daris keluar rumah, tetangga depan yang hobinya main gitar, tidur saja dengan gitar. "Mana bininya?"
"Tinggal di kampung," sahut Daris seraya duduk di kursi teras. "Menemani ibunya."
"Kok menemani ibunya? Sekarang kan sudah punya laki?"
"Kamu saja sudah punya istri tidak ikut ke mana istri pergi."
"Istriku TKW."
"Artinya tidak harus bersama."
Hidup Firman paling enak di antara tetangga. Tidak perlu pergi pagi pulang malam untuk cari makan. Tinggal tunggu transferan tiap bulan.
Banyak omongan miring berseliweran. Ibu-ibu menyebutnya SGM, Suami Gak Mikir. Tapi Firman cuek bebek. Hidup lurus saja banyak omongan bengkok!
Hidup kadang perlu seperti Firman. Digenjreng saja!
"Adikku mana?" tanya Daris. "Biasanya ia bikin sakit kuping dengan suara falsnya."
Setiap malam Minggu Alvian belajar gitar pada Firman. Tetangga kompak membesarkan volume televisi.
"Lagi cari sesajen," sahut Firman. "Secangkir kopi dan sebungkus rokok."
Serendah-rendahnya status orang pasti bermanfaat bagi orang lain. Dan itu yang dijalani Daris sekarang.
Ia tidak perlu jadi pengusaha besar untuk membuka mata orang, cukup bermanfaat bagi keluarga, sukur-sukur bagi orang lain.
Tapi Felicia melindas prinsipnya itu, memaksa Daris mengumpulkan serpihan cintanya dengan satu tekad.
"Aku harus mengembalikan kehidupan keluargaku seperti dulu."