Winda adalah seorang wanita berumur 32 tahun yg sudah menikah dengan Ardi yg berumur 38 tahun.
Pernikahan mereka sudah memasuki umur 7 tahun, akan tetapi belum juga dikaruniai seorang anak.
Winda merasa bahwa hidupnya tidak lengkap bila belum menjadi seorang Ibu.
Keinginannya untuk mempunyai anak sampai membuatnya putus asa.
Sampai suatu saat dimana dia diperkenalkan suaminya denga orang yang bernama Mina....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon green veil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 ORANG KETIGA
Suatu hari, Ardi dan Mina pergi untuk beli barang belanjaan utnuk dijual kembali di tokonya. Sesampainya mereka di toko,
“Selamat siang Pak”
sapa penjaga toko.
“Siang
mbak” jawab Ardi.
“Ada yang kurang ya
Pak? Tadi kayaknya istri Bapak sudah belanja banyak sekali”.
Ardi berpikir itu pasti
Winda, berarti Winda sekarang juga berjualan seperti dirinya. Bingung mau jawab
apa, dia melirik Mina. Mina dengan sambil menggendong Bimo dan memilih-milih
barang dagangan emndengarkan percakapan itu ekspresinya berubah. Ekspresi marah
yang langsung dilihat oleh Ardi. Kemudian Ardi buru-buru menjawab pertanyaan
pegawai toko,
“Iya Mbak”
“O y, selamat ya Pak. Sekarang
sudah mempunyai anak. Anaknya cakep mirip Bapak dan Ibunya”, katanya lagi.
Ardi jadi bingung, apa
maksud pegawai tokonya. Jangan-jangan dia tidak hafal dengan dirinya sehingga
salah mengenali.
“Iya Mbak,
alkhamdulillah. Ini istri saya Mina”
Pegawai toko melihat
minat dan dengan wajah bingung lalu menjawab
“Iya Pak”
Ardi dan Mina kemudian
memilih-milih barang dagangan yang akan dibeli. Sedangakn pegawai toko ada yang
berbisik-bisik dengan memberi kode mereka bingung. Kok istrinya beda, batin
mereka.
Di saat para pegawai
toko bingung, datanglah pemilik toko yang sudah mengenal Ardi dan Winda, karena
mereka sering datang ke toko untuk beli barang yang akan mereka jual. Mereka
juga sering ngobrol, baik ketika mereka datang ke toko, maupun lewat chat
bisnis.
“Selamat siang Pak”
sape pemilik toko. “ Ada barang belanjaan yang kurang ya?”
“Siang Pak” jawab Ardi,
kemudian menjabat tangan pemilik toko.
“Tadi kayaknya Bu Winda
sudah beli belanjaan banyak banget Pak. Alkhamdulillah ya Pak laku keras” kata
pemilik Toko.
“Iya Pak,
alkhamdulillah” jawab Ardi dengan bingung.
“Anaknya cakep Pak.
Alkhamdulillah udah dikasih keturunan ya Pak. Akhirnya penantian yang panjang
terjawab juga”
“Iya Pak,
Alkhamdulillah”
“Yang sudah selesai,
tinggal bayar”, Mina tiba-tiba muncul dan menggandeng tangan Ardi.
Pemilik toko kaget dan
dengan tatapan bingung dia menoleh kepada karyawannya yang dijawab dengan
mengedikkan bahu.
“Ini Mina Pak, istri
saya”.
Dengan canggung,
pemilik toko membungkukkan badan sedikit untuk menyapa dengan sopan.
“Oo ya” jawabnya dengan
canggung.
Ardi yang melihat itu,
juga bingung mau menjelaskan bagaimana. Setelah pamit dan membayar, dia
langsung mengajak Mina pergi.
Kemudian bos dan para
karyawan mulai menggunjingkan mereka. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi
dan bertekad bila suatu saat Winda berbelanja ke sana, mereka akan langsung
bertanya kepada Winda.
Ardi yang bingung
dengan pertanyaan Ardi sudah punya anak, dan tanpa tahu Mina adalah Ibunya
menimbulkan pertanyaan yang besar. Apakah Winda mengangkat anak? Atau mengajak
ponakan atau bagaimana. Dia bingung berfikir tanpa tahu jawabannya. Kemudian
dia berusaha masa bodoh akan hal itu.
Sesampainya di rumah,
Ardi pergi ke rumah kakaknya dan ketemu dengan Mitha. Mitha dengan tatapan
ingin bicara tapi tidak bicara dan bisanya Cuma mengekor Ardi, kemanapun Ardi
pergi.
“Mas..... Mas...mmmmm”
Mitha mau ngomong tapi bingung.
“Iya, ada apa?”
“Anuuuu, nggak apa-apa”
jawabnya.
“Bohong, mau minta
sesuatu ya. Ngomong aja”
“Nggak kok yeee”
“Lha ada apa”
“ Mas Ardi nggak kangen
Mbak Winda” tanyanya memberanikan diri.
Ardi kaget mendengar
pertanyaan dari Mitha. Kemudian menoleh dan dengan tatapan tajam bertanya
kepada Mitha,
“Ada apa memangnya?”
Mitha yang melihat
ekspresi Ardi, kemudian takut dan mengurungkan niatnya untuk membicarakan
Arjuna.
“Nggak kenapa-kenapa”
Mitha menjawab kemudian langsung pergi.
Ardi seketika menjadi
agak jengkel dikala ponakan kesayangannya bertanya tentang Winda. Yah apa mau
dikata, memang ponakannya itu dulu dekat dengan Winda. Curhat, minta dibeliin
sesuatu, sakit, apa-apa dengan Winda. Ardi menjadi maklum.
Kemudian Ardi mendekati
keponakannya itu.
“Ada pa Mit? Kangen
sama Mbak Winda ya?” tanyanya.
Mitha menoleh, akan
tetapi untuk menjawab dengan jujur dia takut akan menyakiti perasaan Ardi.
“Hmmm... sebenarnya iya
Mas. Mas Ardi nggak marah kan?”
“Ya nggak lah Mit. Masa
marah” jawabnya sambil tersenyum.
Ardi berusaha untuk
tetap tenang di depan Mitha walaupun hatinya menyangkalnya.
“Mas Ardi nggak kangen
Mbak Winda?” tanya Mitha takut-takut.
Ekspresi Ardi berubah
lagi
Mitha yang tahu itu
langsun bilang,
“Makan Mas, tadi Bunda
masak banyak lho” katanya.
“Udah Mit. Tadi Mas
Ardi udah makan di luar. Kamu nggak ke rumah Mas Ardi, ada Bimo lho. Kamu bisa
gendong dan ngajak mainan Bimo”.
“Mas.... aku kemarin ke
tempat Winda. Jangan marah ya” tiba-tiba Mitha berkata jujur pada Ardi.
Ardi yang mendengar
itu, seketika ingin tahu bagaimana keadaan Winda sekarang. Tetapi untuk
bertanya kepada Mitha dia enggan, karena takut menimbulkan masalah.
“Nggak kok. Lha kenapa
marah” jawab Ardi.
“Mbak Winda sekarang
jualan online shop juga lho Mas, kaya waktu pas di sini”
“O ya?” jawab Ardi
datar.
Karena Ardi menjawabnya
dengan datar, Mitha jadi berani membahas lebih jauh.
“ Jualan Mbak Winda
laku keras lho Mas. Udah punya pegawai juga” lanjutnya.
“Alkhamdulillah” jawab
Ardi masih dengan suara dan ekspresi yang datar.
“Mbak Winda juga udah
beli mobil untuk dia belanja kebutuhan tokonya”
“Hm” jawab Ardi.
“Dia nyetir sendiri lho
Mas” lanjut Mitha lagi.
Aduh nanti Mitha
bisa-bisa bicara terlalu jauh nih. Kalau dia bicara tentang Winda terus, aku
nanti malah mikirin Winda terus, harus disudahi pembicaraan tentang Winda pikir
Ardi.
“Mit, Mas Ardi pulang
dulu ya, dicariin Mbak Mina” kilahnya.
Mitha merasa kehilangan
kesempatan untuk membicarakan Arjuna. Ada perasaan jengkel kepada Mina yang
merusak hubungan antara Ardi dan Winda, sehingga Ardi tidak tahu keberadaan Arjuna.
................................................................
Sedangkan Winda melaui
hari-harinya bersama Arjuna dan juga mencari nafkah dengan berjualan online
shop. Seminggu sekali dia beli barang yang akan dijual bersama Arjuna. Winda seperti
tidak bisa berpisah dengan Arjuna walaupun hanya semenit.
Walaupun dia bahagia
dengan keberadaan Arjuna dan ada keluargayang sayang kepada dia, mendampinginya
selalu di saat suka dan duka, di saat-saat yang paling sulit sekalipun, Winda
terkadang masih memikirkan Ardi. Bagaimana keadaan Ardi, bagaimana dia
memperlakukan wanita yang bersama dia sekarang, sayangkah dia dengan anaknya,
dan bagaimana bila suatu saat dia tahu tentang keberadaan Arjuna. Akan
sayangkah dia dengan Arjuna atau lebih menyayangi Bimo. Pikiran-pikiran itu
berkecamuk dalam pikirannya, dan terkadang membuatnya tidak bisa tidur yang
berakibat Arjuna rewel dibuatnya. Menambah pikiran dan khayalan tentang Ardi
apabila berada di sampingnya.
Ingin rasanya chat atau
telepon Ardi untuk sekedar say hello, menanyakan kabarnya, anaknya dan Mina.
Akan tetapi dia tidak punya kekuatan untuk melakukannya, karena sebenarnya di
dalam lubuk hatinya yang masih dalam, dia ingin bersama Ardi.
Bersama Ardi, akan
tetapi tidak ada wanita lain yang menjadi pihak ketiga di kehidupannya.
mending bobo...
bikin kesel/eneg dehhh..