NovelToon NovelToon
Hantu Magang

Hantu Magang

Status: tamat
Genre:Hantu / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:842
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".

Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?

Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Akar Kekuatan

Setelah tiga bulan bekerja di markas Divisi Perlindungan Energi Primordial di Jakarta Barat, suasana yang sibuk dan penuh dengan teknologi modern mulai membuat Dinda merasa kurang nyaman. Meskipun pekerjaannya sebagai konsultan utama berjalan dengan baik dan ia telah berhasil melatih puluhan agen baru tentang cara merasakan dan menghormati energi alamiah, ada sesuatu yang hilang dalam dirinya – rasa hubungan yang erat dengan akar kekuatannya yang berasal dari Gunung Lawu dan desa yang telah menjadi rumahnya.

“Saya merasa seperti ada bagian dari diri saya yang mulai pudar, Bara,” ujar Dinda satu malam ketika mereka sedang duduk di balkon apartemen yang disewakan untuk mereka dekat markas kantor. Ia melihat ke arah langit yang sedikit kusam karena polusi kota, tidak seperti langit desa yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang. “Saya masih bisa merasakan keberadaan Barong dan Rangda di dalam diri saya, tetapi mereka tampaknya tidak seaktif dulu. Seperti kehilangan sumber energi yang membuat mereka hidup.”

Bara menatapnya dengan wajah yang penuh pengertian. Ia sendiri juga mulai merasakan bahwa sistem teknologi yang mereka kembangkan di kota tidak berjalan seoptimal ketika mereka berada di desa. Beberapa alat yang dirancang untuk mendeteksi gangguan energi alamiah sering menunjukkan hasil yang tidak stabil, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu frekuensi energi di lingkungan kota.

“Aku merasakan hal yang sama juga, Dinda,” ucapnya dengan suara lembut. “Sistem yang kita buat sepertinya membutuhkan ‘bahan bakar’ khusus dari alam yang hanya bisa kita dapatkan di desa. Selain itu, aku sudah menerima laporan dari Ki Ageng bahwa beberapa anak muda desa mulai menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam merasakan energi alamiah. Mereka membutuhkan bimbingan yang lebih intensif.”

“Kita harus kembali ke desa, Bara,” kata Dinda dengan tekad yang kuat. “Bukan hanya untuk menyegarkan diri kita, tetapi juga untuk membantu anak-anak itu mengembangkan bakat mereka. Selain itu, aku merasa ada sesuatu yang terjadi di sekitar Gunung Lawu yang perlu kita periksa. Dalam beberapa hari terakhir, aku sering bermimpi tentang sumber air suci yang kita kunjungi dulu – airnya tampak keruh dan ada energi aneh yang mengelilinginya.”

Esok paginya, mereka langsung menghubungi Kapten Sari untuk memberitahukan rencana mereka. Kapten Sari sendiri baru saja menerima laporan dari stasiun pemantauan energi yang terletak di kaki Gunung Lawu tentang adanya fluktuasi energi yang tidak biasa di wilayah tersebut.

“Saya sebenarnya sudah berencana untuk mengirim kalian kembali ke desa, Bu Dinda, Pak Bara,” ujar Kapten Sari ketika mereka bertemu di ruang kerjanya. “Kita telah mendeteksi adanya aktivitas energi yang tidak dikenal di sekitar lereng Gunung Lawu. Beberapa sensor menunjukkan bahwa ada upaya untuk mengakses kekuatan primordial yang sama dengan yang ada di dalam diri Bu Dinda, tetapi dengan cara yang sangat salah dan berbahaya.”

“Apakah ini terkait dengan Kepala Operasi Z atau kelompoknya yang tersisa?” tanya Bara dengan wajah yang serius.

“Kita belum bisa memastikan itu, Pak Bara,” jawab Kapten Sari sambil menunjukkan data pada layar besar di depannya. “Namun pola energi yang terdeteksi memiliki kemiripan dengan teknologi yang digunakan oleh mereka sebelumnya, hanya saja kali ini tampaknya telah dimodifikasi dengan elemen energi alamiah yang dicuri atau disalahgunakan. Ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan gangguan besar pada keseimbangan alam semesta di seluruh wilayah Jawa Tengah.”

“Kita harus segera berangkat,” kata Dinda dengan suara yang tegas. “Semakin lama kita menunda, semakin besar risiko yang akan terjadi tidak hanya bagi desa, tetapi juga bagi seluruh dunia.”

Setelah melakukan persiapan yang cepat namun cermat, Dinda dan Bara berangkat ke desa menggunakan kendaraan khusus yang telah dimodifikasi untuk dapat menjangkau wilayah terpencil dengan aman dan cepat. Perjalanan kali ini terasa jauh lebih singkat karena mereka tidak lagi membawa beban rasa takut atau kebingungan seperti perjalanan pertama mereka. Sebaliknya, hati mereka dipenuhi dengan rasa rindu akan desa dan tekad untuk melindungi kekuatan alamiah yang telah memberikan mereka banyak hal.

Ketika mobil mereka memasuki wilayah desa, mereka langsung merasakan perubahan yang mencolok pada energi alam sekitarnya. Udara yang biasanya segar dan penuh dengan kehidupan terasa sedikit berat, dan pepohonan yang biasanya hijau segar tampak sedikit menguning di bagian ujung daunnya.

“Kamu merasakannya juga kan, Dinda?” tanya Bara sambil memperlambat kecepatan mobil.

“Iya, Bara,” jawab Dinda dengan wajah yang khawatir. “Energinya sangat tidak stabil. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mencoba menarik kekuatan alamiah keluar dari tempatnya yang sebenarnya.”

Mereka segera menuju rumah Ki Ageng dan menemukan bahwa seluruh masyarakat desa telah berkumpul di sana, wajah mereka penuh dengan kekhawatiran. Ki Ageng sendiri sedang duduk di tengah kelompok, matanya tertutup sementara tangannya bergerak dengan lambat seolah-olah sedang berkomunikasi dengan kekuatan alamiah.

“Pak Ki!” panggil Dinda dengan cepat saat mereka memasuki halaman rumah. “Kita sudah kembali. Apa yang terjadi di desa ini?”

Ki Ageng membuka matanya perlahan dan melihat ke arah Dinda serta Bara dengan ekspresi yang penuh dengan rasa lega. “Akhirnya kalian kembali, cucu-cucu saya,” ujarnya dengan suara yang lemah namun tetap tegas. “Kekuatan alamiah di sekitar desa sedang dalam bahaya. Ada seseorang yang mencoba membuka pintu akses kekuatan primordial yang sama dengan yang ada di dalam diri Dinda, tetapi dengan cara yang salah dan sangat berbahaya.”

“Siapakah yang melakukan itu, Pak Ki?” tanya Bara dengan suara yang serius.

“Kita belum bisa mengidentifikasi siapa mereka secara pasti,” jawab Ki Ageng sambil menghela napas dalam-dalam. “Namun dari energi yang mereka keluarkan, aku merasa bahwa mereka adalah orang yang pernah belajar tentang kekuatan alamiah dari komunitas kita, tetapi kemudian tersesat dan menginginkan kekuatan itu hanya untuk diri mereka sendiri. Mereka telah menemukan lokasi salah satu pintu masuk tersembunyi kekuatan primordial di bawah sumber air suci yang kamu kunjungi dulu, Dinda.”

“Saya sudah merasa ada sesuatu yang salah dengan sumber air itu dalam mimpi-mimpi saya,” ujar Dinda dengan wajah yang penuh tekad. “Kita harus pergi ke sana sekarang juga, Pak Ki. Kita tidak bisa membiarkan mereka terus melakukan hal yang berbahaya itu.”

“Sebelum kita pergi, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui, Dinda,” ujar Ki Ageng sambil menarik tangan Dinda dengan lembut. “Kekuatan primordial yang ada di dalam dirimu tidak hanya berasal dari satu sumber saja. Kamu adalah penerus dari gabungan kekuatan Barong dan Rangda yang telah ada sejak zaman dahulu kala, dan karena itu, kamu memiliki kemampuan khusus untuk menutup kembali pintu akses yang salah dibuka. Namun ini akan membutuhkan pengorbanan besar darimu.”

“Apa saja yang perlu saya lakukan, Pak Ki?” tanya Dinda tanpa ragu. “Saya siap melakukan apa saja untuk melindungi desa dan kekuatan alamiah yang telah memberi kehidupan bagi kita semua.”

Ki Ageng tersenyum dengan bangga dan mengangguk. “Kamu memang layak menjadi penerus kekuatan tersebut, cucu. Namun kamu tidak akan sendirian dalam perjuangan ini. Seluruh masyarakat desa akan mendukungmu dengan doa dan energi alamiah mereka, dan Bara akan membantu mengatur dan mengarahkan energi tersebut agar bisa bekerja secara maksimal.”

Setelah melakukan persiapan yang cepat namun penuh dengan doa dan harapan, seluruh masyarakat desa bergerak bersama-sama menuju sumber air suci yang terletak di lereng Gunung Lawu. Anak-anak desa yang telah menunjukkan bakat khusus dalam merasakan energi alamiah berjalan di depan barisan, diikuti oleh para pria desa yang membawa senjata tradisional yang telah diberi doa, dan wanita desa yang menyanyikan lagu-lagu rakyat yang penuh dengan kekuatan dan harapan.

“Saya merasa sangat takut, tetapi juga sangat kuat dengan dukungan semua orang,” ujar Siti kepada Dinda saat mereka berjalan melalui jalur yang sempit menuju sumber air suci. Anak perempuan yang sekarang berusia sepuluh tahun itu telah tumbuh menjadi seseorang yang sangat peka terhadap energi alamiah.

“Ketakutan adalah hal yang wajar, sayang,” jawab Dinda dengan lembut sambil meremas tangan Siti. “Namun ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Kita semua ada di sini untuk saling membantu dan melindungi satu sama lain. Itulah yang membuat kekuatan kita benar-benar kuat.”

Ketika mereka akhirnya mencapai sumber air suci, mereka terkejut melihat bahwa air yang biasanya jernih dan tenang sekarang telah menjadi keruh dan bergolak dengan liar. Di sekitar sumber air, terdapat beberapa sosok yang mengenakan pakaian gelap dengan simbol yang sama dengan yang digunakan oleh Kepala Operasi Z. Di tengah kelompok mereka, terdapat sebuah alat yang sangat kompleks yang sedang memancarkan energi berwarna ungu tua yang menarik kekuatan dari dalam tanah.

“Berhentilah sekarang juga!” teriak Bara dengan suara yang kuat saat mereka mendekati kelompok tersebut. “Kalian sedang melakukan hal yang sangat berbahaya. Kalian tidak hanya akan merusak kekuatan alamiah, tetapi juga akan membahayakan keselamatan seluruh dunia!”

1
Ita Xiaomi
Selamat ya Bara lulus dgn Cum Laude
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Mbak Yuli bakalan viral🤣
Ita Xiaomi
Benar-benar memanfaatkan 🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Berbenah demi ndak dengar Pak Broto ngereog🤣
Ita Xiaomi
Dunia gaib seheboh dunia nyata😁
Ita Xiaomi
Salut ama Bara👍👍👍
Ita Xiaomi
Bara, aku tinggal di Kalimantan loh😁
Ita Xiaomi
Sama-sama ngejar Deadline. Dinda yg lebih mendesak Deadlinenya😁
Ita Xiaomi
Ekspresi Dinda lebih menyeramkan🤣
Putri Ayu/PqxxyZ
mari mampir dicerita ku juga ya kak 😊..
Denns: terimakasih support nya Kaka ;)
Baik Kaka Cantik ssiap.
total 2 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
wah keren nih ceritanya kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!