Hai guys ini karya baruku, jika ingin tahu awal mula kisahnya silahkan baca dulu judul sebelumnya...
👉 Harga diri yang terjual
👉 Liontin (petaka cinta Cantika)
Nggak baca juga ngga apa-apa , senyamannya Readers ku saja.
Next...
Aku seorang dokter, wajahku tampan ala Oppa Oppa Korea. Aku memang seperti anak mami. Kulitku putih bersih rajin perawatan.
Tapi jangan sepelekan aku. Selain ahli mengobati aku juga pandai mematahkan tulang jika kalian mengusikku.
Mau coba...
Hargai karyaku dengan ⭐5, like, vote, and gift. Jangan lupa komen.
Salam damai dari Author 👊✌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn malini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak berdaya
Julian menangkap bayangan beberapa orang yang mendekati tempat persembunyian Sahara. Jumlah mereka cukup banyak dan tidak akan mampu Julian hadapi sendirian dengan terang-terangan. Julian kembali meraba satu-satunya senjata yang dia miliki. Senjata api kecil milik Edward yang hanya memiliki delapan peluru.
Julian menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Dia harus bertindak sebelum para penjahat itu menemukan Sahara. Julian membidik dalam remangnya malam. Beruntung bulan masih bersinar meskipun hanya setengah. Julian membidik bagian kepala yang lebih terlihat jelas untuk dia lihat dari pada jantung.
"TAK"
Sebuah peluru melesat menembus kegelapan diiringi oleh pekikan kesakitan salah seorang preman itu.
"Aaakh!!!" Satu musuhnya telah tumbang.
"Berhati-hatilah, dia ada di sebelah sana! " Teriak seseorang yang lain.
"Berpencar...!" Para Preman itu terlihat siaga dengan merunduk dan fokus mereka mengarah pada posisi Julian berada.
Sementara Julian masih mengamati mereka dari tempat persembunyiannya, mencari titik sasaran berikutnya. Julian memaksa matanya untuk bekerja lebih ekstra.Julian menemukan satu titik yang Julian anggap sasaran tembak yang bergerak ketika berlatih menembak. Semua itu lakukan untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"TAP"
"Aakkh...!!!" Tepat sasaran.
Dua orang telah Julian tumbangkan. Beberapa orang mulai menyusup dalam gelap mendekati Julian. Julian kembali membidik salah satu yang terdekat dengannya. Tapi sialnya orang itu bersembunyi dalam semak-semak. Julian tidak bisa melihat dengan jelas sasarannya.
Tanpa berpikir panjang lagi Julian melepaskan tembakan untuk menghalangi orang itu mendekat ke arahnya.
"Aakh... kurang ajar. Dia di sebelah sini. Serang serentak." Terdengar perintah dari orang yang baru saja Julian tembak. Tapi kelihatannya tidak mengenai sasaran yang melumpuhkan. Nyatanya dia masih bisa bicara lantang.
Julian memutuskan untuk bergerak menjauh mencari tempat sembunyi yang lain. Sambil menunggu sasaran berikutnya untuk dia lumpuhkan. Pergerakan Julian mau tidak mau menarik fokus para preman itu.
"Itu dia di sebelah sana...!" Teriak salah seorang di antara mereka.
"Sial... mereka melihatku." Julien tersandar di sebuah pohon besar. Matanya liar mencari sasaran pelurunya. Dia harus melumpuhkan para penjahat itu sebanyak mungkin. Agar nanti saat pelurunya habis, Julian hanya menghadapi sedikit orang.
"TAk"
Tembakan Julian meleset. Kini tersisa empat peluru saja. Julian semakin gugup karena merasa terdesak. Julian menarik napas dalam dan menghempasnya dengan kasar. Kemudian Julian memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan diri.
Kembali Julian menajamkan matanya ke arah para preman itu. Sunyi, tidak ada pergerakan maupun bayangan yang bisa Julian tangkap dengan matanya. Julian menundukkan tubuhnya untuk berlindung di antara semak-semak di sekitarnya sambil mencari apapun yang bergerak di sekitarnya. Julian yakin mereka semua bergerak dalam diam dan kini sudah berada tidak jauh darinya.
Dan benar saja, tidak begitu jauh dari tempat persembunyiannya, Julian melihat seseorang mengendap-endap dengan sangat pelan mendekat ke arahnya. Julian membidik sambil merunduk. Saat ini tidak memungkinkan baginya untuk membidik kepala lawannya. Mereka semakin dekat, Julian harus bergerak cepat.
"TAK"
Pekikan dalam kesunyian itu menandakan lawannya telah terkena peluru miliknya. Tidak tahu peluru itu mengenai bagian mana tubuhnya, Julian hanya perlu membuat lawannya lumpuh seketika.
Mata Julian melihat pergerakan lain, dengan sigap dia menarik pelatuk senjatanya. Tapi Julian hanya mengenai ruang kosong. Kini pelurunya tinggal satu butir saja untuk pertahanan terakhirnya. Julian menyimpan senjata kecilnya ke kantong jaketnya kembali. Sambil menunggu mereka menyerang Julian mencoba meraba tanah tempatnya berpijak.
"Hiiiaaat...!" Seseorang menyerang Julian tiba-tiba. Dengan sigap Julian melemparkan tanah dalam genggamannya ke arah preman itu.
"Akh... kurang ajar, dasar b*nc* ! Kau membuat mataku sakit. Tidak bisakah kau melawan dengan ototmu. B*nc" sialan...!!" Teriak preman itu sambil mengusap matanya yang perih.
Beberapa orang muncul mengepung Julian dari berbagai arah. Julian memasang kuda-kuda dan waspada pada setiap gerakan mereka. Suasana mulai temaram menandakan hari sudah beranjak pagi. Terlihat bias cahaya yang terang dari balik bebukitan kecil yang ada di sana.
Julian mulai bisa melihat mereka samar-samar. Mereka masih menggunakan senjata yang sama dengan orang-orang yang mengeroyok Julian dua bulan lalu. Beberapa orang menggunakan samurai dan pisau.
"Kau mulai gentar, haa. Apa pelurumu sudah habis? Sekarang waktunya kami mencincangmu untuk makanan burung bangkai." Salah seorang yang memegang samurai tersenyum mengejek.
"Kau benar sekali, peluruku habis. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian melukaiku." Ucap Julian dengan mata yang tetap awas.
"Jangan banyak omong, habisi dia...!" Mereka bergerak mengayunkan senjata mereka ke arah Julian bergantian. Julian bergerak lincah menghindari serangan para preman itu.
Perkelahian tidak mungkin dielakkan lagi. Kini Julian berhadapan dengan delapan orang yang tersisa. Masih cukup banyak untuk ukuran tenaganya yang terkuras habis setelah berjalan cukup jauh. Belum lagi pergulatannya dengan Sahara yang cukup menguras energinya.
Julian terkena beberapa sabetan senjata tajam lawannya. Tapi Julian juga berhasil melumpuhkan tiga orang dengan senjata mereka sendiri. Julian sudah sangat lelah. Konsentrasinya semakin berkurang. Tiba-tiba punggungnya terkena hantaman kaki salah satu musuhnya.
Julian yang terjatuh mereka manfaatkan untuk terus menekan dan menghantam tubuh Julian yang sudah lemah. Julian hanya bisa meringkuk melindungi kepalanya dari hantaman mereka. Hingga terdengar teriakan salah seorang preman itu yang tiba-tiba tumbang di sebelah Julian dengan memegangi kepalanya.
Mata Julian terbelalak melihat Sahara berada di sana dengan sebuah balok kayu. Barulah Julian menyadari jika Saharalah yang memukul kepala pria itu. Julian yang penuh luka menatap Sahara dengan kecewa. Dia menyesalkan tindakan Sahara yang keluar dari persembunyiannya.
" Gadis kurang ajar, berani sekali kau menampakkan diri. Cari mati, haaa...! " seorang preman mendekati Sahara yang terlihat gemetar.
" Jangan , Bro. Gadis itu milik Bos. Kita harus membawanya kembali." Seorang di antara mereka mengingatkan temannya.
"Bos menyuruh kita membawa wanita itu dalam keadaan utuh, bukan? Sekarang kau lihat tubuh gadis itu penuh bukti percintaan. Aku rasa pria itu sudah mencicipinya. Bukan begitu, J*****?" Pria itu menatap lapar tubuh Sahara yang terbungkus pakaian ketat pendek yang hanya berlapis kemeja Julian yang tipis. Ada beberapa bekas ciuman Julian di bagian leher Sahara yang terekspos.
"Kau benar, Bro. Gadis ini cukup menyusahkan kita hingga sampai ke sini. Ayo kita nikmati, setelah itu kita bunuh saja bersama pria b*nc* itu. Tinggal bilang jika mereka hilang di hutan ini. Bagaimana...?" Usul dari salah satunya.
Julian menggeram, tapi tubuhnya terasa remuk untuk bisa bangkit menyelamatkan Sahara. Julian tidak rela pengorbanan yang dia lakukan sia-sia, tapi dia tidak berdaya. Dia hanya bisa meringkuk menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Kempat pria itu mendekat dan mengepung Sahara. Gadis itu sudah pucat pasi dengan air mata yang membasahi pipinya. Tangannya yang memegangi balok kayu itu gemetar, begitupun dengan tubuhnya.
Keempat preman itu terus mendesak Sahara hingga Sahara terus mundur dan akhirnya terjatuh karena tersandung rumput liar. Kayu yang Sahara pegang akhirnya terlepas membuat keempat pria itu tertawa melihat kondisi Sahara yang dalam keadaan memalukan.
"Hahaha... kau menggoda kami, gadis cantik? Lihat...!! Kau memamerkan paha mulusmu. Aku jadi tidak sabar merasakan gadis incaran bos kami ini." Para preman itu menarik Sahara yang masih meronta ke tempat yang sedikit terbuka dan rata. Dua orang memegang tangan Sahara hingga tidak bisa melepaskan diri.
"Jangan... aku mohon, jangan lakukan. Tolong... maafkan aku... aakkh...!" Seorang pria telah menarik kemeja yang Sahara pakai hingga robek. Menyisakan dress ketat yang bahkan telah terangkat tinggi menampakkan intinya yang tidak lagi tertutup apapun.
" Wow, lihat. Wanita ini sungguh menggoda kita. Dia bahkan sudah mempersiapkan dirinya dengan baik. Mari, Sayang. Aku sudah tidak tahan." Satu pria telah menahan kaki Sahara yang telentang di atas rerumputan.
Seorang pria yang tersisa berhasil menyibakkan pakaian Sahara hingga pinggangnya. Sahara teriak meronta dalam ratapan yang memilukan. Tapi keempat pria itu menulikan telinganya. Mereka telah diselimuti hasrat yang membumbung tinggi.
Usapan jari kasar telah menekan bagian tubuh bawah Sahara. Gadis itu menggeliat untuk menghindari tapi sia-sia. Sahara hanya bisa memejamkan matanya saat bibirnya telah dirampas paksa oleh pria yang kini sudah berada di atas tubuhnya.
" Aaaakkh...
...----------------...
...----------------...
"Karya ini merupakan karya jalur kreatif"