Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertandingan Penting
Rumor tentang Alya dan Kevin perlahan menghilang. Kini perhatian seluruh sekolah beralih ke satu hal yang lebih besar: pertandingan basket antarsekolah yang akan digelar akhir pekan ini.
Tim basket sekolah mereka berhasil lolos ke babak semifinal setelah menang telak di pertandingan sebelumnya. Bagi Raka dan teman-temannya, ini adalah kesempatan langka untuk membawa pulang piala yang sudah lama diincar.
Sejak awal minggu, jadwal latihan mereka semakin padat.
Bahkan sepulang sekolah, suara pantulan bola dan teriakan pelatih masih terdengar sampai matahari mulai tenggelam.
---
Suatu sore, Alya sedang mengambil foto untuk majalah sekolah ketika melihat Raka masih berlari mengelilingi lapangan.
Kaos latihannya sudah basah oleh keringat, napasnya terdengar berat, tapi ia tidak berhenti.
Pelatih meniup peluit.
“Sekali lagi!”
Raka langsung kembali berlari tanpa protes.
Alya memotret beberapa momen latihan itu.
Saat melihat hasilnya di layar kamera, ia tanpa sadar tersenyum.
Raka memang terlihat berbeda ketika bermain basket. Wajahnya serius, gerakannya cepat, dan matanya penuh fokus.
“Bagus fotonya.”
Suara Kevin membuat Alya menoleh.
“Eh, kaget.”
Kevin melihat layar kamera.
“Dia jago ya.”
“Iya. Latihannya juga rajin.”
“Pantas sering jadi andalan tim.”
Tak jauh dari sana, Dion yang sedang minum melihat mereka.
Ia menghampiri Raka dan berbisik pelan,
“Foto lo lagi diabadikan tuh.”
Raka spontan menoleh ke arah Alya.
Begitu melihat Alya sedang memegang kamera, senyumnya langsung muncul.
Namun hanya sebentar.
Pelatih kembali memanggil semua pemain untuk melanjutkan latihan.
---
Hari pertandingan akhirnya tiba.
Sejak pagi, aula olahraga sudah dipenuhi siswa dari berbagai sekolah.
Sorak-sorai penonton terdengar bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Nadya datang membawa poster kecil bertuliskan:
“Semangat Tim Basket!”
Alya ikut membantu membawa kamera dan perlengkapan dokumentasi.
Ia memang ditugaskan sekolah untuk mengambil foto selama pertandingan.
Sebelum masuk lapangan, Raka menghampirinya.
“Lya.”
“Hm?”
“Doain menang.”
Alya tersenyum.
“Nggak cuma menang.”
“Terus?”
“Semoga mainnya juga bagus dan pulang tanpa cedera.”
Raka mengangguk.
“Amin.”
Lalu ia berlari bergabung dengan timnya.
---
Peluit pertama dibunyikan.
Pertandingan berjalan sengit sejak awal.
Tim lawan bermain cepat dan beberapa kali berhasil mencetak angka.
Namun Raka dan teman-temannya tidak tinggal diam.
Operan demi operan berjalan rapi.
Dion yang duduk di bangku cadangan terus berteriak memberi semangat.
Alya sibuk memotret dari pinggir lapangan.
Sesekali ia lupa menekan tombol kamera karena terlalu fokus mengikuti jalannya pertandingan.
Di kuarter ketiga, skor masih imbang.
Suasana tribun semakin riuh.
“Raka! Ayo!”
“Semangat!”
Sorakan memenuhi gedung olahraga.
---
Memasuki menit-menit terakhir, tim sekolah mereka tertinggal dua poin.
Pelatih meminta waktu istirahat.
Semua pemain berkumpul.
Raka mengusap keringat di wajahnya sambil mendengarkan instruksi.
“Main tenang. Jangan buru-buru.”
Pertandingan dilanjutkan.
Bola berpindah dengan cepat.
Tiga puluh detik terakhir.
Dion berhasil merebut bola lalu mengoper kepada Raka.
Tanpa ragu, Raka melompat dan melepaskan tembakan dari luar garis.
Seluruh penonton menahan napas.
Bola melayang…
Menyentuh papan…
Lalu masuk ke dalam ring.
Masuk!
Sorakan langsung menggema di seluruh gedung.
Peluit panjang berbunyi.
Pertandingan selesai.
Tim sekolah mereka menang tipis.
---
Lapangan dipenuhi pemain yang saling berpelukan.
Dion langsung memeluk Raka sambil berteriak,
“Gila! Masuk!”
Raka sendiri masih tampak tidak percaya.
Ia hanya tertawa sambil menutup wajahnya.
Dari tribun, Alya ikut bertepuk tangan paling keras.
Tanpa sadar, ia berdiri bersama penonton lain.
Perasaannya campur aduk antara lega dan bangga.
Beberapa menit kemudian, saat suasana mulai tenang, Raka berjalan ke arah pinggir lapangan.
“Lya!”
Alya menghampiri.
“Selamat! Tembakan terakhir lo keren banget.”
Raka menggaruk kepalanya yang masih basah oleh keringat.
“Untung masuk.”
“Kalau nggak masuk?”
“Kayaknya gue pura-pura cedera.”
Alya langsung tertawa.
“Dasar.”
“Eh, hasil fotonya nanti kasih lihat ya.”
“Pasti.”
Saat Alya menunjukkan salah satu hasil jepretannya, Raka terdiam.
Foto itu menangkap momen tepat ketika bola baru saja lepas dari tangannya, dengan ekspresi penuh keyakinan.
“Keren banget.”
“Soalnya modelnya pas.”
“Modelnya mahal.”
“Bayarnya pakai es teh aja.”
“Deal.”
---
Di perjalanan pulang, Nadya dan Dion berjalan lebih dulu meninggalkan mereka.
Alya dan Raka tertinggal beberapa langkah di belakang.
“Rak.”
“Iya?”
“Gue baru sadar.”
“Apa?”
“Kalau lagi main basket, lo beda banget.”
“Bedanya gimana?”
“Lebih percaya diri.”
Raka tersenyum kecil.
“Mungkin karena gue tahu apa yang harus gue lakuin di lapangan.”
“Kalau di luar lapangan?”
Ia terdiam sejenak.
“Masih banyak yang bikin gue ragu.”
Alya tidak melanjutkan pertanyaan itu.
Namun ia bisa menebak bahwa keraguan Raka bukan soal pertandingan atau sekolah.
Ada sesuatu yang ingin diungkapkan, tetapi masih ia simpan rapat-rapat.
Sore itu, saat matahari mulai tenggelam, Alya memeriksa kembali hasil foto di kameranya.
Di antara ratusan gambar pertandingan, ada satu foto favoritnya.
Bukan saat Raka mencetak poin kemenangan.
Melainkan sesaat setelah peluit akhir berbunyi, ketika Raka menoleh ke arah tribun dan tanpa sadar mencari seseorang di antara keramaian.
Dan orang pertama yang ia temukan adalah Alya.
Entah itu kebetulan atau bukan, tapi momen kecil itu membuat Alya tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
Karena semakin hari, semakin sulit baginya untuk menganggap semua yang terjadi di antara mereka sebagai sekadar persahabatan.