Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: ANCAMAN DARI UTARA JAUH
Gema tawa melengking dari ilusi magis Tuan Besar Sekte Bayangan Darah perlahan-lahan memudar, menyisakan kesunyian baru yang jauh lebih berat dan menekan di dalam lorong bawah tanah yang tersekap. Udara dingin yang berhembus dari kedalaman terowongan kini terasa semakin pekat, membawa serta aroma karat besi dan anyir darah dari puluhan simbol mata satu yang masih terus meneteskan cairan merah segar di dinding batu.
Dion masih bergeming di tempatnya berdiri, memosisikan tubuh besarnya sebagai perisai baja di depan Mayang. Sepasang matanya yang masih menyisakan pendar sihir ungu menatap tajam ke arah tumpukan debu hitam—sisa-sisa tubuh Golem pengikat jiwa yang baru saja ia hancurkan menggunakan belati peraknya. Rahang tegas sang pemburu klan mengeras sempurna, memicu urat-urat di leher kokohnya untuk menegang hebat menahan amarah yang membumbung tinggi.
Ancaman tentang armada perang yang bergerak menuju perbatasan utara Lembah Shrouded seketika mengoyak ketenangannya. Pikiran Dion langsung tertuju pada Rhea, adik kecilnya yang saat ini berada di tenda pemukiman klan di bawah pengawasan para tetua. Sekte terlarang itu tidak sedang menggertak; mereka benar-benar berniat meratakan seluruh klan demi memburu esensi naga ungu yang bersemayam di dalam darahnya.
Mayang melangkah maju dari balik batu perlindungan, menyentuh lengan kekar Dion yang masih bergetar halus menahan gejolak emosi. Sepasang mata indahnya menatap Dion dengan pandangan yang sarat akan kecemasan namun dipenuhi keteguhan batin yang murni. "Dion... kita harus kembali ke desa sekarang juga. Jika apa yang dikatakan ilusi itu benar, para tetua dan Rhea tidak akan sanggup menahan serangan kejutan dari armada sekte hitam itu sendirian."
Dion membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Mayang. Tangan besarnya bergerak cepat meraih jemari wanita itu, menggenggamnya dengan remasan yang erat dan hangat, menyalurkan seluruh sisa proteksi posesif yang ia miliki. "Aku tahu, Mayang. Tapi jalan keluar utama kita di atas telah runtuh total. Satu-satunya cara untuk keluar dari perut bumi ini adalah terus melangkah maju menyusuri lorong bawah tanah ini, mengikuti arah hembusan angin luar."
Pria itu mengangkat belati perak pusakanya tinggi-tinggi. Pendar sihir kabut perak kembali menyelimuti bilah senjatanya, memotong kepekatan kegelapan di depan mereka. "Genggam tanganku erat-erat. Kita harus bergerak dengan kecepatan penuh. Siapa pun atau apa pun yang mencoba menghalangi jalan kita di bawah sini... akan kuhancurkan tanpa sisa."
Mereka berdua mulai berlari menyusuri lorong batu kuno yang semakin menurun curam ke dalam perut bumi. Langkah kaki Dion yang terlatih sebagai pemburu tingkat atas bergerak sangat senyap namun gesit, membimbing Mayang melompati sela-sela batuan stalagmit yang tajam dan licin.
Suasana di dalam terowongan kuno itu terasa semakin mistis. Ukiran relief di dinding tidak lagi menampilkan simbol sekte, melainkan sejarah kuno tentang peperangan antara naga purba melawan bayangan kegelapan ribuan tahun lalu. Setiap kali mereka melewati relief tersebut, tato naga di sepanjang punggung tegap Dion berdenyut panas, memancarkan hawa hangat yang anehnya mampu menjaga tubuh ramping Mayang dari serangan hawa dingin yang menusuk tulang.
Jerat gairah dan ikatan batin di antara mereka berdua terasa semakin mengikat kuat di tengah situasi maut ini. Mayang bisa merasakan setiap debaran jantung Dion yang kuat dan stabil melalui genggaman tangan mereka yang saling mengunci seolah takut kehilangan satu sama lain. Bagi Mayang, selama pria dominan ini berada di depannya, kegelapan terdalam sekalipun tidak akan mampu merenggut warasnya.
"Dion, lihat di depan! Ada kilatan cahaya!" seru Mayang setelah mereka berlari selama hampir lima belas menit menembus labirin bawah tanah.
Di ujung terowongan yang menyempit, seberkas cahaya putih alami tampak memancar terang dari sebuah celah vertikal yang cukup besar. Hembusan angin segar khas hutan Lembah Shrouded berhembus kuat masuk ke dalam, membawa serta aroma tanah basah dan dedaunan yang melegakan paru-paru mereka yang sempat tersiksa debu reruntuhan.
Dion melompat keluar terlebih dahulu melalui celah batu tersebut, mendarat dengan mulus di atas hamparan rumput liar yang tebal, lalu dengan sigap menjulurkan kedua lengan kekarnya untuk menangkap tubuh ramping Mayang dan menurunkannya dengan lembut ke sampingnya.
Begitu berhasil keluar, mereka mendapati diri mereka berada di bagian lereng bukit batu tersembunyi yang menghadap langsung ke arah lanskap luas perbatasan utara Lembah Shrouded. Namun, pemandangan yang menyambut sepasang mata mereka seketika membuat darah di dalam nadi mereka mendadak bergejolak dingin.
Di batas cakrawala utara, di bawah langit malam yang pekat tanpa bintang, ribuan obor berwarna merah darah tampak berbaris rapat, bergerak merayap menembus hutan mati seperti ular raksasa yang siap menelan apa pun di hadapannya. Suara tabuhan genderang perang yang berat dan lambat samar-samar terdengar bergema menembus keheningan malam, diiringi oleh kibaran panji-panji hitam berlambang mata satu yang menangis darah.
Armada perang Sekte Bayangan Darah telah tiba. Jumlah mereka ratusan kali lebih banyak daripada sisa-sisa pengikut Gorgan yang mereka lawan semalam. Mereka bergerak dengan formasi tempur magis yang teratur, membawa serta beberapa makhluk Golem raksasa berzirah besi di barisan depan sebagai pendobrak utama.
"Mereka... mereka sudah melewati gerbang pembatas luar," bisik Mayang dengan wajah yang memucat sempurna, kedua tangannya meremas ujung pakaian biru lautnya dengan cemas. "Dengan kecepatan seperti itu, mereka akan mencapai pemukiman klan utama dalam waktu kurang dari satu jam."
Dion menatap lurus ke arah barisan pasukan hitam tersebut dengan tatapan mata elangnya yang teramat pekat dan sarat akan kematian mutlak. Amarahnya tidak lagi meledak secara liar, melainkan mengkristal menjadi sebuah ketenangan yang sangat mengerikan—ciri khas seorang predator puncak klan yang siap melakukan pembantaian demi melindungi wilayah dan miliknya.
"Mayang, ambil jalan pintas melalui jalur tebing barat menuju tenda medis utama," perintah Dion, suaranya terdengar begitu berat, bariton, dan penuh dengan penekanan otoritas yang tidak boleh didebat. "Kumpulkan seluruh tabib, amankan Rhea dan para wanita klan ke dalam gua perlindungan suci di balik air terjun perak sekarang juga."
Mayang menatap Dion dengan binar mata penuh penolakan yang keras. "Lalu bagaimana denganmu, Dion?! Kamu tidak mungkin menghadapi ribuan pasukan itu sendirian di garis depan!"
Dion memajukan tubuh besarnya, mengikis jarak di antara mereka hingga deru napas maskulinnya yang hangat menerpa permukaan kulit wajah Mayang. Tangan kirinya bergerak naik, mencengkeram tengkuk Mayang dengan lembut namun posesif, memaksa wanita itu untuk menatap lurus ke dalam sepasang matanya yang kini kembali berpendar ungu menyala seutuhnya.
"Aku adalah pemburu nomor satu Klan Kabut, Mayang. Dan di dalam darahku, mengalir esensi naga purba yang diinginkan oleh bajingan-bajingan itu," ucap Dion tegas dengan nada suara yang sarat akan keangkuhan dewa perang. "Tugasmu adalah menjaga bagian belakang dan memastikan adikku selamat. Biarkan aku yang menjadi dinding pembatas pertama di gerbang utara. Aku bersumpah... tidak akan kubiarkan satu senjatapun menyentuh area desa selama aku masih memiliki setetes darah untuk ditumpahkan."
Dion memajukan wajahnya lebih dalam, mengecup bibir Mayang dengan satu lumatan yang singkat namun teramat intens, sarat akan gairah perjuangan dan janji suci untuk kembali hidup-hidup dari medan bantai. Sentuhan intim yang mendadak itu seketika mengunci seluruh bantahan di tenggorokan Mayang, menyisakan debaran jantung yang menggila di dalam dadanya.
"Pergilah sekarang, Mayang. Sebelum fajar menyingsing... aku akan membawakan kepala Tuan Besar mereka ke hadapanmu," bisik Dion di depan bibir ranum wanitanya, sebelum akhirnya ia melepaskan cengkeramannya dan berbalik cepat melesat menembus kegelapan hutan utara seperti bayangan perak yang mematikan.
Mayang menatap kepergian punggung tegap pria yang teramat dicintainya itu dengan dada yang bergemuruh hebat, sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya dan berlari kencang menuju jalur tebing barat demi melaksanakan tugasnya.
Sementara itu, di gerbang batu perbatasan utara desa, Dion berdiri tegak seorang diri di atas sebuah batu besar yang tinggi. Angin malam yang kencang mengibarkan jubah hitamnya yang robek di sana-sini. Di tangan kanannya, belati perak memancarkan pendar ungu yang luar biasa masif, memicu partikel kabut perak di sekelilingnya untuk berputar liar membentuk badai tornado kecil.
Pasukan terdepan Sekte Bayangan Darah akhirnya tiba di depan gerbang, menghentikan langkah kaki mereka saat melihat sesosok pria tegap yang berdiri menantang mereka sendirian dengan aura menindas yang begitu pekat.
Namun, tepat ketika Dion bersiap untuk melompat turun melakukan serangan pembuka, tanah di bawah batu tempatnya berdiri mendadak terbelah menjadi sebuah rekahan besar. Bukan karena sihir sekte musuh, melainkan karena sepasang tangan raksasa berwarna hitam legam dengan kuku-kuku tajam berlapis api neraka mendadak muncul dari dalam rekahan tanah, langsung mencengkeram erat kedua pergelangan kaki Dion dan menarik tubuh sang pemburu klan masuk ke dalam perut bumi yang membara.