Ketika hubungan Raffael dan Yayank mulai goyah karena pengakuan Raffael akan cintanya pada Hanna, Hanna terjebak dalam kebingungan. Di saat yang bersamaan, Rey mulai merasakan dilema. Adik angkatnya, Ella, dengan berani mengungkapkan perasaannya, meski Rey sudah berulang kali menolak. Rey merasa hidupnya mulai semakin rumit dengan adanya perasaan-perasaan yang tidak seharusnya muncul, baik terhadap Ella maupun Hanna.
Di tengah kekacauan itu, mereka bertiga harus menghadapi kenyataan bahwa cinta sering kali hadir dengan cara yang tidak terduga. Hanna terjebak di antara dua pria yang sangat penting baginya. Raffael, sahabat setia yang selalu ada, dan Rey, yang meskipun keras kepala, mampu membuat jantungnya berdebar. Akankah persahabatan mereka mampu bertahan di tengah badai perasaan yang terus bergolak? Atau, salah satu dari mereka harus mengorbankan segalanya demi sebuah cinta yang tak terungkap?
Happy Reading guys 🧾🧾🧾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Apa Harus Mengobati Rindu?
Sesampainya di apartemen, kedatangan Lucy di sambut hangat oleh Mama Lalita, Raffael dan juga Yayank.
Mereka semua begitu terhibur dengan tingkah lucu dan polosnya Lucy. Lucy benar-benar dikerumuni oleh orang-orang dewasa itu, mereka terus saja mengajak gadis kecil itu mengobrol, karena tak kala jawaban yang keluar dari mulut mungil Lucy sering kali mengundang tawa.
Sedangkan disofa yang kosong, ada Deon yang sedang loncat - loncat disana. Ia terus memperhatikan orang - orang dewasa didepannya yang tampak sangat menyukai Lucy, setelahnya Deon duduk dengan senyuman yang getir. Tak ada yang melihatnya kecuali Lucy, tak ada yang memperhatikannya, tak ada yang mengajaknya bicara. Mata Deon silih berganti menatap orang - orang disana. Lagi - lagi, Deon hanya bisa tersenyum ketika melihat Lucy di dekap begitu hangat oleh Mama Lalita, Oma Deon. Yang dulu padahal ia sangat mendambakan kehadiran Deon di tengah - tengah keluarganya.
Oma yang bahkan sudah mempersiapkan semua perlengkapan Deon dan kamar khusus untuk Deon.
Sayangnya, Mama Lalita bahkan tak sempat melihat wajah Deon bahkan untuk pertama dan terakhir kalinya.
Deon turun dari sofa, kaki mungilnya melangkah berjalan ke arah Hanna. Lalu memeluk Hanna erat, berharap Hanna bisa merasakan pelukannya walau hanya sedikit saja. Karena ia tahu, saat ini Hanna sedang merindukan dirinya.
Tiba-tiba saja hati Hanna bergetar, dan air mata mengalir dari sudut matanya.
"Hanna, kau baik - baik saja?" Tanya Rey yang menyadari Hanna tiba-tiba menangis.
Sedangkan yang lainnya, sedang sibuk dengan Lucy.
Hanna mengangguk, "Aku merindukan Deon." Imbuh Hanna, diiringi dengan senyumannya yang pilu.
Rey ikut merangkul Hanna, mengusap punggung Hanna lembut. Tak ada yang dapat mereka lakukan ketika rindu itu melanda, pada sosok yang tak dapat mereka lihat. Seperti apa rindu itu harus di obati, adakah cara agar rasa itu tidak terlalu menyesakkan dada?
Grrttt ...
Dering di ponselnya membuat Hanna harus beranjak dari duduknya, ada panggilan telpon dari Lora, tumben sekali ia menelpon. Ini untuk pertama kalinya setelah hubungan mereka renggang karena kesalahpahaman saat itu.
Rey melepaskan rangkulannya, pun dengan Deon yang langsung menghilang ketika Hanna hendak beranjak dari duduknya.
"Hallo, Lora.." Hanna menerima panggilan itu sedikit canggung.
"Hallo Hanna, bagaimana kabarmu?" Hal serupa tampaknya juga dirasakan Lora. "Setelah kejadian yang menimpamu diperusahaan, aku tak pernah lagi melihatmu datang ke perusahaan, apa kau baik-baik saja?" Lanjut Lora.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Aku dengar, kau sedang di London sekarang?"
Obrolan keduanya tampak semakin mencair, perlahan kecanggungan mulai tergantikan dengan obrolan hangat seperti dulu.
"Emm, untuk sementara aku akan menetap di London. Ada apa kau menelponku, tumben sekali." Hanna duduk di balkon, dan menikmati obrolannya.
"Aku berencana mengundangmu, ke acara pernikahanku." Terdengar suara Lora agak malu-malu mengucapkan kalimat itu, Hanna bisa membayangkan, kini ia pasti sedang tersipu.
"Kau akan menikah?" Hanna excited mendengar kabar bahagia itu.
"Iya, sayang sekali kau tidak bisa menghadirinya." Lora sepertinya kecewa, padahal ia sudah sangat berharap Hanna bisa hadir di hari bahagianya, paling tidak, itu mungkin bisa membuat hubungan mereka kembali membaik.
"Hemm... Aku tidak berani menjanjikannya, tapi aku usahakan akan hadir."
"Benarkah... Sungguh?"
"Iyaa..." Diiringi dengan senyumannya, Hanna ikut bahagia dengan kabar baik itu.
*
Keesokan harinya, pagi - pagi sekali Shasya sudah datang ke apartemen Hanna, semalam ia tidak bisa tidur memikirkan Lucy, dan akhirnya ia memutuskan untuk menemui Hanna.
"Bisa kita bicara sebentar?" Ujar Shasya yang masih berdiri di ambang pintu, ia bahkan tak masuk kedalam apartemen.
"Tentu.." Hanna keluar dan mengikuti Shasya, mereka berdua memilih mengobrol di mobil Shasya.
Sedangkan yang lainnya masih tertidur pulas.
Sedangkan Hanna terbangun karena ulah Deon, tanpa ia sadar.
Deon yang tahu Shasya sedang menuju unit 303 dimana apartemen Hanna berada langsung berinisiatif membangunkan Hanna.
Dan itu berhasil, Hanna terbangun. Selang beberapa saat bel berbunyi.
Dan kini, Shasya sedang menyiapkan mentalnya, ia menghela napas berulang kali.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Hanna akhirnya.
"Aku... berniat membawa Lucy ke psikiater." Ucap Shasya kemudian.
Hanna langsung menegang. "Kau..." Kalimat Hanna menggantung, jantungnya berdegup.
"Ya, aku rasa Lucy harus di obati. Dia tidak boleh terus berhalusinasi melihat sosok kasat mata, apalagi sampai berbicara sendiri."
Hanna mematung, lidahnya terasa kelu.
"Aku rasa kau juga, harus benar - benar merelakan anakmu. Jangan begitu saja percaya dengan ocehan anak kecil. Bisa jadi yang di lihat Lucy bukan Deon." Shasya kembali melanjutkan, ia sudah memikirkan hal ini matang - matang.
"Tapi Sha..." Lagi dan lagi, kalimat Hanna terputus, ia tak tahu harus berkata apa, agar Shasya mengerti. Padahal ia baru saja merasa bahagia karena secara tidak langsung bisa merasakan keberadaan Deon melalui Lucy.
"Aku khawatir, kalau Lucy pada akhirnya tidak hanya melihat satu makhluk. Bagaimana jika nanti ia juga melihat makhluk yang menyeramkan." Shasya masih terus mencoba meyakinkan Hanna, bahwa membawa Lucy ke psikiater adalah hal yang paling tepat. "Kau pasti tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku, seperti apa khawatirnya aku saat tahu anakku bisa melihat sosok kasat mata, karena Lucy, bukan anakmu."
Kalimat itu membuat air mata yang sedari tadi di tahan Hanna berhasil menetes. Hanna tersenyum getir lalu menunduk.
Setelah berhasil mengontrol perasaannya, Hanna kembali mendongakkan wajah dan menatap Shasya. "Ya, kau benar." Hanna menghela napas dalam, "Jika kau sudah memutuskan seperti itu, maka lakukanlah. Lagi pula, kau berhak atas Lucy sepenuhnya."
Sedangkan Deon, ikut sedih karena Hanna sedih. Ia memeluk Hanna dari belakang, tangan mungilnya terus saja mengusap air mata Hanna yang tampak sia - sia.
"Mama, jangan menangis." Imbuh Deon, sayangnya Hanna tak dapat mendengar kalimat tulus dari putranya itu.
Kedua wanita itu, berjalan menuju apartemen. Shasya akan membawa Lucy untuk segera pergi ke psikiater.
Ceklek..
Pintu apartemen terbuka, Hanna mempersilahkan Shasya untuk masuk.
Sedangkan didalam sana, Rey baru saja hendak keluar untuk mencari keberadaan Hanna. Ia terkejut saat bangun Hanna sudah tak berada disampingnya, ditambah lagi, Hanna juga tak ada walaupun Rey sudah mencarinya di seisi apartemen. Hanna juga pergi tanpa membawa ponselnya.
Bukan hanya Rey, akhirnya kepanikannya menular keseluruh orang yang ada didalam apartemen itu.
"Kau dari mana saja!" Pekik Rey sambil mengusap dadanya lega.
"Apa Hanna sudah kembali.." Mama Lalita keluar dari kamarnya dengan terburu-buru.
Pun dengan Raffael dan juga Yayank, yang langsung keluar dari kamar mereka. Tadinya, mereka akan mencoba menghubungi security apartemen.
"Aku-" Belum lagi sempat Hanna melanjutkan kalimatnya, Shasya terlebih dulu memotongnya.
"Apa Lucy sudah bangun?" Sela Shasya.
"Dia masih tidur." Jawab Mama Lalita, karena semalam Lucy tidur di kamar Mama Lalita, ia minta dibacakan dongeng.
"Kalau begitu, aku akan membangunkannya. Permisi.." Shasya berjalan menuju kamar Mama Lalita, dan membangunkan Lucy dengan paksa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yayank bingung, ia melangkah mendekati Hanna.
Hanna hanya menggeleng sambil tersenyum ke arah Yayank.
Tak berapa lama, Shasya keluar dari kamar Mama Lalita sambil menggendong Lucy yang masih belum sepenuhnya terbangun dari tidurnya.
Langkah Shasya perlahan melambat, dan ia berhenti di depan Hanna. "Hanna, aku.." Kalimatnya terbata.
"Aku mengerti, Sha." Hanna mengusap lembut lengan Shasya. Lalu beralih mengusap punggung Lucy. "Aku juga berdoa dan berharap yang terbaik untuk Lucy. Aku dukung apapun keputusanmu." Hanna menunjukkan senyuman terbaiknya.
Sedangkan yang lainnya, hanya bisa kebingungan melihat apa yang sedang terjadi di hadapan mereka.
"Terimakasih, Hanna. Dan aku juga minta maaf."
Hanna menghela napas dalam, "Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa?"
"Tolong kabari aku tentang perkembangan Lucy selama pengobatan."
Kalimat itu semakin menimbulkan tanda tanya di benak Rey, Mama Lalita, Yayank dan juga Raffael.
Shasya mengangguk, "Pasti.."
Next 📝
semangat lg thoorr..... 💪💪🌹🌹
sampai lupa jalan critanya 🤭😁
sudahi hiatus nyaaaa
cepat lah up thorrrrr 🤧🤧🤧
tak kasatmata=tk dapat di lihat,tidak nyata.
tak kasatmata= tak dapat di lihat,tak nyata.
klo aku yg di tanya Ray kmu mau makan apa. jwananku, aku mau makan kamu Ray... km menggemaskan 🤣
Lanjut ka Thor and ttp semangat💪