Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
"Udah sampai, Mas. Mas bisa pulang sekarang!" ujarku pada Huda dan santri yang dibawa Huda untuk mengantarku.
Tapi kayaknya Huda nggak akan langsung pergi. Cowok itu malah turun dari motor dan mau nganter aku sampai pintu!
"Bapak sama Ibu ada di rumah, kan?" tanya Huda.
"Kenapa sama Bapak Ibu? Mas pulang aja sekarang, keburu malam," cetusku pada Huda.
Huda melempar senyum tipis padaku. Seperti biasa, pria itu menampakkan wajah ramahnya yang cuma bisa bikin aku kesel.
"Saya boleh nyapa Bapak sama Ibu dulu, kan?" sahut Huda kemudian.
Astaga! Buat apa dia mau nemuin Bapak sama Ibu segala? Dia ini mau caper atau apa, sih?
"Nggak usah, deh! Kayaknya Bapak sama Ibu nggak ada di rumah! Mas langsung balik aja!" seruku pada pria itu.
Namun, tepat setelah mengatakan hal itu pada Huda, Bapak sama Ibuku justru muncul dari balik pintu. "Eh, Arin! Kamu baru pulang?" sapa ibuku padaku.
"Ada Nak Huda juga?" timpal bapakku.
Huda langsung memperlihatkan senyum cerah. "Assalamualaikum, Pak, Bu!" sapa Huda pada kedua orang tuaku sembari mencium punggung tangan mereka.
Aku udah nggak bisa ngusir Huda lagi kalau begini. Bapak sama ibuku juga kayaknya seneng banget dapat kunjungan dari calon mantu.
"Saya nganterin Arin pulang, Pak, Bu. Tadi Arin sempat mampir ke pondok pesantren," ungkap Huda padaku.
"Terima kasih banyak ya, Nak Huda!" ucap ibuku.
"Kenapa Arin sampai harus diantar begini? Rumahnya Nak Huda kan di pinggir kota. Cukup jauh dari sini, hlo! Kenapa Nak Huda malah nganterin tamu pulang?" selidik bapakku.
Huda pun mencoba menjelaskan dengan singkat apa yang terjadi sebelumnya, hingga pria itu harus mengantarku pulang. Pria itu sempat membahas mengenai ban bocor, dan sepertinya dia juga ingin membahas hal lain.
Sebelum Huda berbicara semakin banyak dan mengadukan pada orang tuaku kalau aku ke Tuban Sari untuk memintanya membatalkan lamaran, aku pun segera menyela dan membuat-buat alasan mengenai tujuanku berkunjung. "Tadi itu aku cuma pengen jalan-jalan aja. Ibu sama Bapak sendiri juga sempet nyuruh aku buat lihat-lihat pondok pesantren kalau ada waktu, bukan? Jadi tadi aku nyoba ke sana sekalian cari udara. Di sana rindang banget dan ada banyak pohon," ocehku pada Bapak dan Ibuku.
Aku mulai melantur dan berbicara ngawur. Yang jelas, aku tidak akan memberikan panggung bagi Huda untuk berbicara banyak pada kedua orang tuaku. Pokoknya kedua orang tuaku nggak boleh tahu kalau aku pergi ke Tuban Sari untuk melayangkan protes pada Huda mengenai lamaran yang ditujukan padaku.
"Kamu kenapa sih jadi salah tingkah begini?" ledek bapakku kemudian.
Siapa yang salah tingkah? Aku cuma gugup aja dan nggak pengen orang tuaku tahu apa yang aku lakuin di pondok pesantren. Kenapa malah bapakku nuduh yang aneh-aneh begini sih?
"Kayaknya kamu udah penasaran banget ya pengen cepet-cepat kenalan sama Nak Huda?" sahut ibuku ikut menggodaku.
Kayaknya aku udah bikin kedua orang tuaku salah paham. Aku jadi kayak cewek kecentilan gini, sampai pergi jauh-jauh ke daerah pelosok cuma buat ketemu sama cowok.
"Bapak nggak nyangka ternyata kamu antusias banget ya pengen bisa cepet-cepet kenal lebih dekat sama Huda," celetuk bapakku melayangkan ledekan yang menyebalkan.
Maksudnya apa, sih? Bapak sama Ibu ngira aku nyamperin Huda karena aku tertarik sama dia?
"Bapak sama Ibu apaan, sih? Jangan ngomong ngawur, deh!" gerutuku dengan wajah masam.
"Nggak usah malu gitu, deh! Bapak juga pernah muda kok. Bapak juga kayak gitu dulu waktu kesemsem sama ibu kamu," sahut bapakku mulai berpikir liar mengenai aku.
Kesemsem? Bapak pikir aku kesemsem sama Huda? Ngapain juga aku kesemsem sama orang itu?
Aku terus menggerutu dan mengomel pada bapakku yang terus menggoda dan meledekku. Lama-lama kesabaranku mulai habis.
"Kamu udah sekangen itu ya sampai pengen cepet-cepet ketemu sama Nak Huda lagi?" ucap bapakku.
"Kayaknya kamu udah kebelet banget buat nikah, ya?" goda bapakku lagi.
"Kamu udah kepincut banget ya sama Nak Huda?"
Bapak terus meledekku sambil tertawa. Aku sudah mencoba memberikan penjelasan, tapi Bapak nggak berhenti juga godain aku dan ngata-ngatain aku udah kebelet nikah. Aku beneran nggak terima. Aku bermaksud menyelamatkan harga diriku di depan Bapak, tapi Bapak justru melontarkan ledekan yang membuatku makin naik pitam.
"Terserah Bapak, deh! Aku capek!" gerutuku segera meninggalkan bapakku, karena aku sudah tidak tahan lagi mendengar ledekan dari beliau.
Dengan dada yang bergemuruh menahan amarah, aku masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kencang untuk meluapkan kekesalan. Aku beneran nggak habis pikir sama Bapak. Meskipun ledekan ini nampak sepele, tapi aku beneran nggak terima. Harusnya Bapak bisa ngertiin apa kemauan aku yang sebenarnya. Bapak harusnya peka dan tahu apa yang dirasakan amaknya sekarang.
Tak lama kemudian, ibuku pun masuk ke dalam kamarku dan mengajakku berbincang. Kayaknya sih Huda udah pulang.
"Arin? Kamu masih marah?" tanya ibuku sembari melempar senyum padaku. Tidak seperti bapakku, ibuku benar-benar tahu kalau aku tidak suka dan tidak mau menerima pinangan dari Huda, karena sebelumnya aku sudah mengatakan hal itu pada ibuku.
"Ibu mau ledekin aku lagi?" sahutku dengan wajah cemberut.
Ibuku menggeleng sembari mengusap rambutku dengan lembut. "Ibu ke sini bukan buat ngeledek kamu. Maaf kalau Bapak sama Ibu udah bikin kamu kesel," ucap ibuku.
"Tapi kita beneran nggak nyangka aja, kamu udah mencoba membuat kemajuan tanpa harus dipaksa sama bapak dan juga ibu, "sambung ibuku. "Kamu akan menerima pinangan dari Nak Huda, kan? Nak Huda itu calon suami yang bibit, bebet sama bobotnya jelas. Nak Huda berasal dari keluarga baik-baik, dan Nak Huda juga terlihat seperti pria yang bertanggung jawab. Ibu yakin kamu nggak akan nyesel kalau kamu menerima pinangan Nak Huda."
"Aku udah pernah bilang sama Ibu sebelumnya. Aku nggak mau nerima lamaran dari dia, Bu. Aku nemuin dia hari ini pun bukan buat bikin kemajuan apa pun. Tapi aku justru pengen bikin dia untuk membatalkan lamaran. Aku nggak mau nikah sekarang, Bu. Aku masih pengen nikmati masa muda aku," ujarku menyampaikan keluh kesahku pada ibuku.
"Aku pengen kerja dulu. Aku pengen membahagiakan Bapak sama Ibu. Aku juga pengen jatuh cinta, Bu. Aku pengen ngerasain menjalin hubungan, Bu. Aku nggak mau langsung nikah kayak gini. Aku pengen nemuin orang yang aku cinta pakai cara aku sendiri," sambungku. "Aku pengen pacaran dulu. Aku pengen habisin waktu buat kencan. Aku pengen mengenal banyak orang di luar sana. Masih banyak hal yang pengen aku lakuin, Bu."
Ibuku manggut-manggut dan mendengarkan keluhanku dengan seksama. Tapi meski begitu, ibuku masih tetap membujukku untuk menerima pinangan dari Huda dan segera menikah.
"Kamu masih bisa melakukan banyak hal setelah menikah. Kalau kamu pengen kerja, kamu juga bisa kerja setelah nikah. Kamu pengen bahagiain Bapak sama Ibu? Dengan menikahi orang yang tepat, kamu udah bikin Bapak sama Ibu bahagia. Dan kamu pengen pacaran? Kamu masih bisa ngelakuin itu setelah menikah. Kamu bisa pacaran setelah menikah dengan suami kamu. Dan yang paling penting, pacaran setelah menikah itu halal dan jauh dari dosa!"
****
semangat up nya thor 💪💪💪