Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Cahaya biru dari layar digital stopwatch berkedip-kedip di atas papan catur, memantulkan sinar pucat yang menyapu bidak-bidak kayu berukir. Angka 10:10;00 tertera jelas di sana, tidak berubah, tidak bergerak. Keheningan di dalam ruang klub OSIS Akademi Kuoh seketika menebal, seolah udara di dalam ruangan itu baru saja disedot habis oleh ruang hampa.
Suara detak jarum jam dinding terdengar jauh lebih keras dari biasanya, memukul-mukul gendang telinga setiap orang yang berdiri mematung di sekeliling meja bundar tersebut. Semua orang membeku. Mulut Momo Hanakai sedikit terbuka, pandangannya bolak- balik antara layar digital dan wajah tenang pemuda di seberang meja.
Reya Kusaka menurunkan lipatan lengannya secara perlahan, membiarkan kedua tangannya jatuh ke sisi tubuh dengan kaku. Yura mengerjapkan matanya berulang kali, seolah berusaha menjernihkan pandangannya dari sebuah ilusi optik. Yudi, sang pemuda kelas dua yang baru saja bergabung semalam, telah dengan berani memprovokasi sang Ketua OSIS.
Ia tidak berteriak, tidak membentak, melainkan menggunakan kalimat yang terlampau sopan dan terstruktur dengan nada yang sangat tenang, sebuah metode provokasi yang jauh lebih mematikan daripada luapan amarah.
Suara gesekan sepatu yang kasar memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Saji Genshirou melangkah maju dengan cepat. Napasnya terdengar memburu dari lubang hidungnya. Tangan kanannya terulur ke depan dan mendarat dengan keras di atas bahu kiri Yudi. Suara benturan telapak tangan dan kain blazer menggema pelan.
"Oi," geram Saji, suaranya ditekan rendah hingga terdengar bergetar di pangkal tenggorokan. Jari-jarinya mencengkeram kain seragam Yudi, memberikan tekanan fisik yang cukup kuat untuk membuat bahu orang normal merosot. "Kalau kalah, ya terima saja kenyataan kalau kau itu kalah. Kenapa kau harus bersikap sekeras kepala ini dan mencari-cari alasan bodoh dengan alat murahan itu?"
Yudi sama sekali tidak bergeming. Bahunya tidak merosot, dan tubuhnya tidak condong ke depan akibat tekanan dari tangan Saji. Pemuda itu memutar lehernya dengan gerakan yang sangat lambat, menolehkan wajahnya ke arah kiri hingga matanya bertemu langsung dengan manik mata Saji. Sudut bibir Yudi perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman.
Itu bukanlah senyuman ramah, bukan pula senyuman gugup. Senyuman itu terlukis dengan garis bibir yang simetris, dipadukan dengan sorot mata yang teramat tenang dan jernih, memancarkan sebuah pesan visual yang sangat kuat: 'Tolong jangan samakan levelku dengan levelmu.'
Melihat senyuman dan tatapan yang tidak memancarkan rasa takut sedikit pun itu, rahang Saji ternganga kecil. Cengkeraman jari-jarinya di bahu Yudi perlahan mengendur dengan sendirinya. Ia menarik tangannya mundur, membiarkanlengannya jatuh ke sisi tubuh sementara langkahnya secara refleks mundur sejauh setengah langkah, terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas.
Setelah memastikan gangguan di bahunya telah hilang, Yudi kembali memutar kepalanya menghadap ke depan. Pandangannya lurus mengunci mata ungu Sona Sitri yang masih duduk terpaku di seberang meja.
"Bukan berarti aku tidak mengakui kekalahan mutlakku di atas papan catur ini, Kaichou," ucap Yudi dengan artikulasi yang sangat jelas dan lambat. Ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah bidak Rajanya yang tergeletak pasrah di atas kotak hitam.
"Aku kalah telak dalam hal strategi. Tapi... hal yang membuatku mengambil tindakan ini bukanlah rasa frustrasi karena kekalahanku, melainkan karena arogansi yang Anda tunjukkan."
Yudi menarik tangannya kembali dan menumpukannya di atas lutut. Ia mencondongkan punggungnya sedikit ke depan.
"Kalau saja sebelum pertandingan tadi Anda tidak melontarkan pernyataan dengan nada sarkastis dan kelewat percaya diri, mungkin saat ini aku akan menerima kekalahanku dengan lapang dada tanpa perlu mengeluarkan benda ini. Tapi Anda justru memilih untuk memprovokasi, dan tanpa Anda sadari, provokasi itulah yang menciptakan celah fatal bagi Anda sendiri."
Yudi mengangkat tangan kirinya, jari telunjuknya mengetuk pelan permukaan layar stopwatch di atas meja. Bunyi tak, tak terdengar jernih.
"Yah... meskipun angka kelebihan 10 detik ini mungkin tidak berharga sama sekali di mata orang awam, tapi cobalah Anda ingat kembali kata-kata Anda sendiri. Bisakah Anda mendeklarasikannya bahwa Anda telah menaklukkanku tepat dalam waktu sepuluh menit tanpa lebih?" Yudi memiringkan kepalanya sedikit.
"Ini memang terdengar seperti mempermasalahkan hal yang sangat sepele. Tapi aku sangat yakin, bagi seseorang dengan standar kesempurnaan seperti Anda, hal sekecil ini adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap akurasi Anda sendiri, bukan? Apalagi, semua orang di ruangan ini tahu kalau Anda adalah Ratu Catur yang tak terkalahkan di sekolah ini."
Yudi menarik punggungnya kembali ke sandaran kursi, merilekskan postur tubuhnya.
"Anda mungkin bisa merasa puas karena berhasil mempertahankan gelar tak terkalahkan Anda di atas papan. Sementara aku... aku juga merasa sangat puas dengan hasil eksperimen ini. Aku berhasil menahan ritme permainan Anda melewati batas toleransi waktu yang Anda tetapkan sendiri. Itu adalah sebuah pencapaian terbesar untukku, mengingat aku sama sekali tidak pandai bermain catur." Setelah menyelesaikan kalimat panjangnya, Yudi melepaskan sebuah tawa.
"Hahaha." Suara tawanya terdengar renyah, ringan, dan mengalun bebas di udara. Secara fisik, postur tubuh dan intonasi Yudi sama sekali tidak menunjukkan tendensi agresif untuk menyerang atau menyinggung siapa pun yang berdiri di sana.
Namun, getaran suara tawa itu memberikan dampak yang berbeda bagi sosok yang duduk di seberang meja. Mata Sona sedikit menyipit.
Jari-jari tangannya yang bersila di atas pangkuan secara perlahan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, mencengkeram kain rok seragamnya dengan kuat.
Di telinganya, tawa renyah itu adalah representasi darisebuah penghinaan terselubung yang dipancarkan dengan sangat kuat oleh Pawn barunya tersebut.
Tawa itu menggemakan fakta bahwa kalkulasi absolutnya telah meleset. Tatapan Sona turun dari wajah Yudi, mengarah tajam ke atas susunan papan catur. Matanya bergerak cepat, melacak jejak-jejak pergerakan bidak hitam dan putih.
Ia mulai merekonstruksi ulang jalannya pertandingan di dalam kepalanya, menganalisis secara visual pada titik pergerakan mana tepatnya ia kehilangan waktu berharga sebanyak sepuluh detik itu.
Tanpa mengangkat wajahnya, Sona memiringkan kepalanya sedikit ke arah kiri, mengarahkan fokusnya pada sosok gadis jangkung yang berdiri tepat di samping ujung meja.
"Tsubaki," panggil Sona, nada suaranya ditekan hingga terdengar sangat datar dan dingin. "Apa perhitungan waktu dari alat miliknya itu akurat?"
Tsubaki Shinra, yang sedari tadi berdiri mematung sebagai pihak wasit yang netral, mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya dengan cekatan merogoh saku dalam blazernya dan mengeluarkan sebuah jam saku mekanik berwarna perak.
Ia menekan tombol kecil di bagian atas jam saku tersebut. Bunyi klik logam beradu dengan sunyinya ruangan. Tsubaki menatap jarum kronometer di dalam jam sakunya dengan saksama selama dua detik.
Tsubaki mengangkat wajahnya. Ia menganggukkan kepalanya satu kali dengan gerakan yang sangat kaku dan presisi.
"Sayangnya, perhitungan waktu dari alat tersebut sangat akurat, Kaichou," balas Tsubaki dengan intonasi tanpa emosi.
Tangan kirinya bergerak mendorong bingkai kacamatanya ke atas pangkal hidung. "Tepat pada detik ketika anda mengangkat bidak Queen dari bidang yang ada di wilayah anda lalu saat anda meletakkan di petak tujuan, waktu telah bergulir melewati batas sepuluh menit dengan kelebihan persis 10 detik."
Udara di sekitar Sona terasa semakin membeku. Salah satu alasan utama mengapa Sona memilih Tsubaki untuk menjadi wakil sekaligus Queen-nya adalah karena gadis itu memiliki tingkat ketelitian dan objektivitas yang jauh melebihi siapa pun di keluarga Sitri.
Ketelitian Tsubaki adalah hukum mutlak yang tidak bisa dibantah. Dan saat ini, validasi dari sang wakil telah meresmikan fakta bahwa istana idealisme yang selama ini dipegang teguh oleh Sona—sebuah prinsip di mana segala sesuatunya harus berjalan sempurna tanpa cela—baru saja ternoda oleh remaja amatir yang baru saja direkrut semalam.
Istana idealisme itu tidak hancur berkeping-keping seperti bangunan yang terkena gempa bumi bermagnitudo besar. Tidak. Pondasinya masih sangat kokoh. Namun, di tengah-tengah dinding putih bersih istana tersebut, kini terdapat satu titik noda hitam kecil yang seharusnya tidak pernah ada di sana.
Bagi individu yang mendedikasikan seluruh hidup mereka pada presisi, perhitungan matematis, dan ketelitian absolut, keberadaan satu titik noda kecil itu jauh lebih mengganggu dan merusak pikiran daripada sebuah kehancuran total.
Kelopak mata Sona sedikit melebar.
Pandangannya kembali terpaku pada susunan bidak catur di hadapannya. Memorinya secara visual memutar ulang pergerakan tangan Yudi selama sepuluh menit terakhir.
Ia melihat kembali bagaimana tangan pemuda itu melayang-layang ragu di atas papan, bagaimana jarinya menyentuh bidak dengan gerakan yang cenderung kaku, lamban, dan seolah tidak tahu harus melakukan apa.
Namun, di balik keragu-raguan itu, setiap pergerakan sentimeternya, setiap peletakan bidaknya, semuanya dilakukan dengan sangat halus dan presisi, seolah-olah ia telah memperhitungkan jeda detik yang dibutuhkan untuk melakukan gerakan-gerakan membingungkan tersebut.