Masih ingat dengan putra bungsuh Pak Zain dan Bu Jihan,
Yes... Labib Muhasibi Khoirul Musthofa yang biasa di panggil Bibi, adek dari Zula
Yang mana kini tumbuh dewasa menjadi laki laki tampan yang cukup dingin
sikapnya bar bar turunan dari kakak dan juga Uminya, yang sering pergi bermotor besar untuk mendatangi tongkrongan para remaja dan tkngkrongan gak jelas
dengan tujuan untuk berkumpul sekaligus berdakwah,
Ya namanya anak kyai se nakal nakalnya dia tetap sholat puasa dan juga mengaji
walaupun aneh dan sering di bilang gus kok tukang nongkrong
tapi itu hanya omongan manusia netizen saja, tapi saat di rumah dia juga punya pesona tersendiri bagi para santri putri
wajah tampannya mampu menghipnotis para santri putri saat mengaji,
walaupun sikapnya yang super duper dingin seperti di kutup utara, dan justru itu yang makin membuat mereka terpesona pada Gus Bibi
gimana kelanjutan ceritanya.. yuk simak.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak mau Coba
" Gak mau coba coba gue Bi, bahaya" ucap teman Bibi yang lain
Apa lagi sikap Syifa cukup membuat dia down mental jadi pusat perhatian restoran
Bahkan temannya yang maju tadi memilih kembali ke kursinya
" Repot repot ada bocil" ucap Teman Bibi yang maju tadi
Bibi tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat ucapan temannya yang menyerah sebelum berperang
" Apaan loe cemen, menyerah sebelum berperang" ucap salah satu temannya lagi dan Bibi hanya menanggapi dengan sikap dinginnya
" Om ayo pulang, teman om gak jelas semua" ucap Syifa setelah kenyang makan Udon
" Idih bocah..." Ucap Aira melirik adeknya yang sikapnya seperti bunglon berubah ubah sesuai kondisi
" Apa kak? Kakak mau di sini aja, mau di goda godain sama tuh cowok cowok gak jelas " ucap Syifa yang faham dengan lirikan kakaknya
" Ya udah kakak sini aja, sama mereka" tambahnya kesal sama Aira
Kemudian Bibi tanpa basa basi langsung berdiri dan menghampiri Syifa
" Udah pulang?" tanya Bibi pada keponakan cantiknya itu
Yang mana Kecantikan Syifa terlihat sejak dini, seperti Mama Zula X Papa Ryan, cantik ketemu ganteng dan labih dominan ke Ryan lagi makin terlihat sangat inut dan cantik
" Pulang?" tanya Bibi lembut
" Iya Syifa udah kenyang Om mau pulang pondok aja" jawab Syifa yang terlihat sayup sayup matanya karena ngantuk
" Mau pulang pondok apa tempat Uti?" tanya Bibi lagi pada Syifa
Syifa berfikir dan menggumam sejenak, dengan penawaran Bibi yang cukup membuatnya berubah pikiran
Jelas ini masih siang, dia pengen bobok siang dengan di keloni sama mbah Utinya
" Let's Goooo" ucap Syifa dan Bibi tersenyum
" Gassss" jawab Bibi sambil menggendong Syifa
Bibi sadar, dia adalah anak paling beruntung dari keluarganya dari kakak dan abang abangnya
Dia tau cerita pengalaman hidup kedua orang tuanya dan masa masa abang dan kakaknya yang menjadi korban perkara orang tuanya
Dia sama sekali tidak pernah merasakan penderitaan sebagai mana kedua abangnya dan kakak perempuan satu satunya rasakan
Hidup dia selalu terjamin dan penuh perhatian dari abahnya apa lagi
Walaupun dari kecil dia mondok diluar kota, tak jarang hampir beberapa minggu sekali Abah Zain selalu datang menjemput atau menjenguknya
Belum sampai sebulan kadang Abang Zain sudah datang karena kangen dengannya
Itu karena Abah Zain yang gak mau mengulang kesalahannya lagi pada anak anaknya
Sedangkan kakaknya sendiri jangankan sebulan dua bulan, dia 16 tahun baru mengenal siapa abahnya, baru tahu siapa abahnya yang sesungguhnya
Dari situ Bibi sadar, kakak perempuannya adalah kakak terhebat yang mana pengorbanannya gak ada setitikpun dari apa yang dia rasakan
Makanya dia sendiri sesibuk apapun akan melakukan apa yang kakaknya ucapkan
Seperti saat ini, dia tau keponakannya butuh perhatian, dia berusaha menjadi pengganti kakaknya dan memberi perhatian pada Aira maupun Syifa ya kadang masih ada rasa kesal juga manusiawi pesti ada rasa mengeluh dan bosan
Tapi itu hanya keluhan semata dalam hati Bibi tetap Ikhlas melakukan apapun untuk membantu abang abangnya maupun kakaknya
" Gue duluan ya bro" ucap Bibi pada teman temannya yang masih di kursi masing masing
Bibi menggendong Syifa sambil bersalaman pada mereka
" Apa lihat lihat" ucap Syifa pada salahs atu teman Bibi yang menggoda Aira tadi
" Santai dong, jangan ngegas gitu" jawab teman Bibi pada Syifa yang masih melerok
Teman teman Bibi sudah mwngerti gimana perhatiannya Bibi pada keluarganya
Ya bukan hanya keluarganya sih, tapi pada teman temannya Bibi sangat perhatian
Walaupun dingin dan cuek gitu, dia diam diam selalu ada di saat temannya membutuhkan dan menjadi orang yang selalu memprioriraskan temannya
Bibi Hanya tersenyum dan lanjut bersalaman sampai habis dan pamit pada mereka
Kemudian Bibi dan Aira berjalan beriringan untuk kemobil mereka dan lanjut perjalan ke rumah Abah Zain dan Umi Jihan
Tak lama perjalanan mereka sampai di rumah Abah Zain
Syifa sudah tertidur pulas di pangkuan Bibi, karena tadi gak mau sama Aira dan terpaksa Bibi nyetir sambil pangku Syifa
Tadinya mau di gantiin Aira cuman Aira belum lincah pake mobil oomnya yang sudah beberapa kali di modif
" Bisa Om?" tanya Aira pada Bibi yang masih memangku Syifa
" Udah aman, loe turun aja dulu" jawab Bibi lagi dan Aira mengangguk
Aira turun dari pintunya begitu juga dengan Bibi yang juga turun dari pintunya
Aira adalah salah satu mahasiswi di perguruan tinggi di fakultas digsainer
Dia memilih menjadi Digsainer di banding harus jadi pembisnis seperti kedua orang tuanya
Walaupun akhirnya dia akan menjadi penerus butik juga sih, ya karena tujuannya itu
Kini mereka kembali berjalan beriringan sambil Bibi yang masih menggendong Syifa
Mereka seperti sepasang kekasih yang berjalan bareng, dan sudah mempunyai anak satu
" Assalamualaikum..."Ucap Aira saat membukakan Pintu depan Ndalem Abah Zain
" Waalaikumsalam... " jawab Zain yang menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka
Zain kebetulan sedang membaca kitab yang akan di ngajikan malam nanti di masjid karena ada rutinan
" Lho lho Kok bentar jalannya" ucap Zain melihat kedatangan mereka
" Udah tepar lho Mbah" jawab Aira yang mendekat dan mencium tanya Kakungnya
" Masyaallah... Cucu Uti, " ucap Jihan yang membawakan kopi untuk abah Zain
" Bibi bawa naik ya Mi, apa gimana?" tanya Bibi yang masih berdiri dan menggendong Syifa
" Jangan, bawa kamar Umi aja" jawab Jihan lalu berjalan cepat ke arah Zain lalu menaruh kopinya di meja Zain
" Ayo ayo sini Uti gendong" ucap Jihan mendekat kembali ke arah Bibi
" Eh... Jangan Uti berat, ini bukan Aira yang mungil, dia Papa Ryan yang jangkung" cegah Aira sambil nyengir
" Biar di gendong Om Bibi aja, nanti Umi encok" tambahnya nyinyir sama Utinya
" Elo tumben bener" jawab Bibi cepat
" Umi gak encok Bi" saut Jihan kesal
" Sadar diri kali Mi" jawab Bibi sambil berjalan dan mengejek Uminy
" Ingat umur Mi, gak Bisa berdiri abah yang repot" saut Zain ikut bergurau menanggapi ucapan Bibi
" Abah..." Kesal Jihan dan Zain tertawa
" Kwkwkwkwkwkwk" tawa Zain terkadang meledak
" Tapi bener lho Mi, abah kan sadar diri gak bisa berdiri lagi nanti gimana mau gendong Umi" jawab Zain masih menggoda Istrinya yang masih awet Muda
" Ya Abah sadar Umur juga, udah tua gak usah nyinyir sama Umi" jawab Jihan gak jadi nyusul Bibi ke kamarnya
Yang mana Bibi sudah meletakkan Syifa di kasurnya, setrlah itu lalu mengelus kepala Syifa lembut dan kembali ke depan untuk menyusul abah Umi ya
" Udah Mi, tadi mau di keloni sama Umi" ucap Bibi saat di depan pintu kamar Uminya
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤