Jadi anak dari seorang duda ganteng nan kaya raya merupakan hal yang sangat merepotkan bagi Artika, gadis manis berusia 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas dua SMA.
Alih-alih sibuk dengan dunia percintaannya sendiri, Tika malah disibukkan dengan kisah cinta sang ayah.
Pasalnya, hampir setiap hari selalu ada wanita-wanita yang datang menitipkan salam untuk sang ayah melalui dirinya. Hal itu tentu saja membuat Artika kesal dan memutuskan untuk membantu mencarikan beliau pendamping hidup.
Pilihannya tiba-tiba tertuju pada Anissa, guru bahasa indonesia berusia muda yang langsung menarik perhatian gadis itu.
Berhasilkah Artika menyatukan mereka berdua demi kelangsungan dan ketenangan hidupnya sendirii?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Traktiran Pertama Anissa.
Demi meluruskan kesalahpahaman yang ada, Ari dan Anissa akhirnya memiliki kesepakatan kecil.
Entah apa yang ada dipikiran pria berusia 45 tahun itu, tiba-tiba dia mengusulkan sesuatu pada Anissa sebagai syarat pelunasan hutang. Yaitu dengan meneraktirnya makan malam setiap minggu selama satu bulan atau empat kali.
Anissa mau tidak mau menyetujui usul Ari, padahal kalau dipikir-pikir akan tidak merepotkan bila dia langsung mengganti uang itu sekarang juga.
"Lalu, sekarang Anda mau ke mana Bu?" tanya Ari kemudian.
"Saya baru saja mau cari makan di luar Pak," jawab Anissa.
"Kalau begitu, ayo!" kata Ari cepat.
Anissa sontak mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Ayo?"
"Traktiran pertama Anda." Sebaris senyum terpatri di wajah tampan Ari. Hal tersebut sontak membuat pipi Anissa bersemu samar.
Karena Ari tidak membawa kendaraan, mereka berdua pun pergi menggunakan motor Anissa. Namun, pemandangan selanjutnya membuat siapa pun yang melihat tak bisa menahan senyum.
Pasalnya, bukan Ari yang membonceng Anissa, melainkan Anissa yang bersikeras ingin membonceng Ari sebagai ucapan terima kasih. Lagi pula, pria itu pasti kelelahan karena baru saja berkendara jauh.
Ari hanya bisa pasrah sembari sesekali menyembunyikan wajahnya, ketika mereka tiba di jalan raya.
Bagaimana tidak, mengendarai sendiri saja tubuh Ari sudah terlihat tidak seimbang dengan motor mungil Anissa, apa lagi dibonceng seperti ini ... dengan seorang wanita muda pula.
Maklum saja, Ari memiliki tinggi 181cm, sementara Anissa tak sampai sepundak Ari.
Setelah tersiksa hampir lima belas menit, akhirnya mereka pun tiba di sebuah rumah makan lesehan yang cukup ramai.
"Saya harap, Bapak suka makan di tempat-tempat seperti ini," ucap Anissa saat keduanya turun dari motor.
"Saya bukan orang aneh. Selera kita kurang lebih sama, Bu," jawab Ari jenaka.
Anissa tersenyum malu, lalu mempersilakan pria itu untuk masuk terlebih dahulu.
Suasana di rumah makan lesehan tersebut terlihat cukup ramai dengan para pengunjung. Anissa dan Ari mengambil bagian paling belakang, dekat dengan kolam renang. Anissa memang beberapa dalam sebulan makan di tempat ini, meski tak pernah makan langsung di sana. Sebab, harga makanan di tempat ini tak jauh berbeda dengan warteg langganannya.
Berbagai menu makanan yang menggugah selera langsung memanjakan mata Ari dan Anissa. Wanita itu mempersilakan Ari untuk memesan makanan duluan, tetapi Ari meminta disamakan saja. Alhasil, dua porsi ikan bakar lengkap dengan lauk, lalapan, sambal, dan teh manis, tersaji di hadapan mereka.
"Pak Ari!" Suara seorang pria tiba-tiba terdengar di telinga Ari.
"Pak Andre!" Ari terkesiap, tatkala mendapati salah seorang kolega kantor menyapanya. Mereka berbincang ringan mengenai hal-hal tidak penting, sebelum kemudian sang kolega menanyakan sosok Anissa yang sedari tadi hanya terdiam tanpa suara.
"Ah, ini ... teman saya, Anissa," jawab Ari canggung. Pria itu kemudian menoleh ke arah Anissa seolah memberi kode. "B— Annisa, kenalkan ini pak Andre, kolegaku di kantor."
Mendengar cara bicara dan panggilan Ari yang berbeda dari biasanya, membuat gemuruh-gemuruh kecil hadir di hati wanita berusia tiga puluh tahun itu.
Pria bernama Andre itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Begitu rupanya." Seberkas senyum menggoda lalu keluar dari pria itu. "Teman beneran apa teman bohongan, Pak?"
Mendengar itu, Ari tertawa kecil. "Kami hanya teman biasa."
Andre turut menanggapi tawa Ari.
"Yah!"
Sebuah suara anak kecil tiba-tiba terdengar dari meja di belakang mereka.
"Iya, sebentar!" seru Andre. "Baiklah kalau begitu, silakan dinikmati makanannya, Pak, Mbak. Istri dan anak saya sudah menunggu," kata pria itu kemudian.
Ari dan Anissa serempak menganggukkan kepala dan mengembuskan napas lega, begitu Andre telah pergi meninggalkan meja mereka.
"Maaf atas gangguan yang terjadi, Bu. Saya harap, Anda tidak merasa risih." Ari berbisik kecil pada Anissa. Meski ramai, dia tetap takut sang kolega mendengar pembicaraan mereka.
Anissa menggeleng kecil. "Tidak apa-apa, Pak."
Mereka berdua pun melanjutkan makan yang sempat tertunda. Selepas makan, sesuai perjanjian, Ari tidak diperkenankan membuka dompetnya.
"Em, kali ini biar saya saja yang membawa motornya ya, Bu," pinta Ari.
Sambil menahan tawanya karena mengingat hal tadi, Anissa pun menyetujui.
"Terima kasih atas makan sorenya," ucap Ari ketika mereka tiba kembali di rumah Anissa.
"Saya yang sangat berterima kasih, Pak. Apa yang saya lakukan tidak sebesar apa yang saya lakukan. Seharusnya Anda juga langsung pulang ke rumah saja setelah makan, tak perlu repot-repot mengantar saya pulang," ujar Anissa. Saat di motor tadi, Anissa memang sempat menawari Ari untuk mengantarnya ke pool taksi, agar dia bisa langsung pulang ke rumah tanpa perlu bolak-balik. Namun, Ari menolak tegas.
"Tidak apa-apa, saya jarang menghirup udara segar," sahur Ari ramah.
Setelah berbincang singkat, pria itu pun pergi meninggalkan rumah Anissa dengan berjalan kaki.
...**********...
"Pa, lama sekali, sih! Aku khawatir tahu!" pekik Tika begitu melihat kepulangan ayahnya. Tanpa mempersilakan Ari masuk, gadis itu langsung mengomelinya karena lupa membawa ponsel.
"Marah-marahnya bisa nanti saja tidak, Nak? Papa capek nih!" keluh Ari yang langsung menerobos masuk ke dalam rumah.
Penampilan pria itu memang cukup kusut dengan kemeja yang sudah mencuat ke mana-mana.
Melihat keadaan sang ayah, Tika mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Papa ke rumah Bu Anisaa buat nganterin motor, kan?" tanyanya.
"Ya." Jawab Ari singkat seraya merebahkan diri di atas sofa.
"Terus, kok, penampilan Papa begitu?" Tika yang penasaran menelisik sejenak kondisi ayahnya, sampai tiba-tiba gadis itu menjerit kecil. "Papa! Jangan bilang Papa dan Bu Anissa ...."
"Jangan sembarangan berspekulasi!" Ari lantas menyentil dahi Tika, hingga gadis itu mengaduh kesakitan. " Gara-gara lupa membawa ponsel, Papa harus berjalan jauh mencari angkot menuju pool taksi, tahu!" sambungnya ketus.
Mendengar itu, Tika langsung tertawa. Sayang sekali dia tidak bisa menyaksikan momen sang ayah mengendari kendaraan umum seperti angkot.
"Terus apa lagi? Papa nggak mungkin lama hanya karena naik angkot, kan?"
Embusan napas keluar dari mulut Ari. Bukannya membiarkannya beristirahat terlebih dahulu, sang putri malah terus membeo ingin tahu.
Tanpa menjawab, Ari pun beranjak dari sofa untuk pergi menuju kamarnya. Tika turut mengekori pria itu.
"Papa mau mandi, Tika!" Ari melotot ketika Tika dengan brutal membuka pintu kamar yang baru saja ditutupnya.
"Tapi cerita ya Pa?" desak Tika dengan raut wajah menyebalkan.
"Cerita apa? Orang nggak ada cerita apa-apa!" kilah Ari.
"Bohong! Aku tahu, Papa nggak cuma nganterin motor. Pokoknya cerita atau aku akan membuka paksa pintu kamar Papa menggunakan linggis!" ancam gadis itu.
Ari mendengkus. Tika baru saja mengopi ancamannya. Pria itu lupa, sebagai orang tua seharusnya dia tidak boleh melakukan hal-hal yang buruk agar tidak menjadi contoh bagi sang anak, seperti sekarang ini.
"Baik, baik!"
❤❤❤❤
Ari Annisa❤❤
mbak Author
👍❤🙏
favorit
👍❤
PaMud mampir
Selanjutnya
Ry Benci Pakpol Mampir