bermula dari seorang lelaki yang datang dari keluarga biasa saja, yang ingin mengutarakan niat baiknya untuk meminang kekasih hatinya, Elsa Pitaloka.
tapi, naasnya, keluarga sang pujaan sama sekali tak menyukainya. karena ia adalah lelaki miskin yang tak berpangkat.
saat itu juga, sang pria yang dikenal dengan nama Bastian mereka patah hati. karena keluarga sang kekasih. tak hanya menolak dirinya, namun juga, mereka menghinanya habis-habisan. yang paling membuat dirinya kesal ialah sang kekasih yang sama sekali tak memperjuangkan nya.
ia merasa tak berdaya, dan menganggap dirinya tak berguna sama sekali. karena setelah ini, ia tidak tau kemana tujuan hidup selanjutnya. sampai akhirnya, ia bertemu dengan seorang perempuan yang membuatnya bangkit kembali.
lalu bagaimana kisahnya. ikuti terus ya guys.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisa saumatgerat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. rencana ke depan
maaf ya teman-teman Jika masih ada typo dan salah-salah ketik lainnya.
author juga mengucapkan selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir batin ya. 🙏🙏🥰🥰
***
dua hari kemudian setelah pernyataan bahwa Bastian adalah putra Tuan Danuarta dan nyonya marsita yang telah hilang 25 tahun yang lalu. kini Bastian sudah mulai menjalankan rutinitasnya sehari-hari, namun untuk sementara waktu, identitasnya sebagai seorang putra dari seorang Sultan itu masih disembunyikan. walaupun tidak ada kontroversi dari berbagai pihak atau rival dari bisnis Tuan Danuarta. satuan Danuarta hanya ingin menyiapkan putranya, dia berencana untuk membuat putranya yang telah hilang selama 25 tahun yang lalu itu mendapatkan jati dirinya.
beberapa kisah pun Tuan Danuarta ceritakan kepada Bastian, mulai dari bagaimana ia memulai bisnisnya hingga mengalami untung rugi atau bangkrut sekalipun. Bahkan ia juga menceritakan Bagaimana insiden hilangnya Bastian 25 tahun yang lalu dan bagaimana juga usaha mereka untuk menemukan dirinya.
tapi sekarang tuan Danu mengenyampingkan mengenai hal itu. sekarang fokus Tuan Danu adalah membekali putranya yang telah hilang selama 25 tahun yang lalu dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk keberlangsungan hidupnya. Iya juga menyampaikan kepada Bastian untuk menjemput surat-surat pentingnya di rumah bobrok mereka. ya walaupun Bastian hidupnya berkecukupan bersama dengan seorang kakek-kakek tua itu, tapi Bastian selalu berusaha untuk menyelesaikan studinya walaupun hanya lulusan SMA.
sedikit yang membantu Bastian untuk menyelesaikan studinya itu karena kepintarannya dan berhasil mendapatkan beasiswa. namun Ia memutuskan tak melanjutkan studinya lagi setelah melihat kondisi kakek tua yang telah merawatnya itu sedari ia kecil, dari lubuk hatinya yang paling dalam, Ia tak kuasa meninggalkan kakek tua itu sendirian tanpa pengawasan darinya. Karena itulah, jadilah Bastian seorang tulang punggung yang benar-benar diharapkan oleh sang kakek tua sampai akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir. dan akhirnya di sinilah Bastian sekarang.
"nak. papa mempunyai rencana untukmu ke depan. tapi papa juga membutuhkan persetujuan darimu." ujar Tuan Danu dengan bijaksana. walaupun rencana yang dibuat oleh Tuan Danu itu adalah untuk masa depan Bastian, namun tentu saja yang menjalani adalah Bastian. sehingga penting bagi tuan dan untuk menanyakan persetujuan dari putranya ini.
"Apa itu Pah. apapun akan Bastian lakukan asalkan itu berguna bagi Bastian." ujar Bastian dengan suara lembut dan meyakinkan.
Tuan Danu yang mendengarkan penuturan putranya itu pun langsung tersenyum senang. mungkin selama 25 tahun yang lalu itu, Bastian telah digembleng oleh keadaan yang pahit sehingga apa yang Bastian tuturkan selalu dalam keyakinan dan ketegasan.
"Baiklah kalau begitu. papa ingin kamu melanjutkan perusahaan yang papa pimpin saat ini. Jangan khawatir, nanti sepupu-sepupumu akan membantumu untuk memegang kendali perusahaan papa." ujar Tuan Danu.
mendengar niat Dari Tuan Danu itu yang ingin menjadikannya seorang pemimpin dalam perusahaan yang tentu saja bukan perusahaan yang kecil, membuat Bastian menggantikan aktivitasnya sejenak. kemudian ia langsung mengarahkan pandangannya ke arah Tuan Danu.
"Apa papa yakin dengan yang telah papa rencanakan.?" tanya Bastian kepada tuan Danu dengan wajah yang sudah mulai serius. mendengar penuturan sang anak, Tuan Danu langsung mengerutkan keningnya.
"Kenapa nak ? Apakah kamu keberatan untuk menggantikan papah memimpin perusahaan." tanya Tuan Danu kepada Bastian. sejenak Bastian menghela nafasnya dan membuangnya dengan perlahan.
"bukan begitu Pah. Bastian hanya khawatir tidak bisa memenuhi keinginan papa. papa kan tahu sendiri kalau Bastian sama sekali tidak berpengalaman mengenai hal itu. aku takut nanti akan mengecewakan papa." ujarnya lagi kepada tuan Danu. tuan Danu pun tersenyum mendengarkan kegelisahan yang dialami oleh sang anak.
"tidak perlu khawatir nak, papa tahu apa yang harus papa lakukan. kamu hanya perlu setuju atau tidak mendengarkan dan menerima saran dari papa. papa sudah menyiapkan semuanya. papa menanyakan hal ini kepadamu karena kamulah yang akan menjalani. papa tidak ingin kamu menjalankan perusahaan karena keterpaksaan. tapi jika ada sesuatu keinginan yang mungkin saja bakat terpendam yang ingin kamu kembangkan, kamu boleh menyampaikannya kepada papa." ucap Tuan danu lagi dengan penuh pengertian. saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Nyonya marsita menghampiri mereka dengan membawa dua gelas minuman untuk Bastian dan suaminya.
"minum teh dulu pah, nak " ujar Nyonya marsita sambil meletakkan secangkir teh di hadapan masing-masing.
"makasih ma." ujar keduanya. Nyonya marsita pun tersenyum dan duduk di samping Tuan Danu.
"papa sama Bastian sedang membicarakan apa ? tadi Mama memperhatikan sepertinya obrolan papa dan Bastian sangat serius..??" tanya Nyonya marsita kepada suaminya.
dengan pelan tapi pasti, Tuan Danu langsung menyeruput tehnya sebelum menjawab pertanyaan dari sang istri.
"enggak ma, bukan apa-apa. papa hanya bertanya kepada Bastian Apakah Ia setuju menjalankan perusahaan papa dan mengikuti semua apa yang papa siapkan untuknya nanti." ujar Tuan Danu dengan suara lembut dan dibalas anggukan kepala oleh Bastian.
"Oh begitu.. lalu bagaimana tanggapanmu nak. kamu mau kan menuruti keinginan papa. tenang saja kalau seandainya papa hanya menjadikan mu alat atau budak dalam bekerja, Mama Yang akan memberi pelajaran kepada papa.." ujar Nyonya marsita dengan mimik wajah bercanda kepada keduanya. suasana ruang tamu pun terdengar kekehan hangat dari keluarga kecil itu.
"Iya mah, aku setuju dengan apa yang papa sampaikan. lagi pula aku memang harus memperbaiki kehidupanku. Aku tidak ingin orang memandangku rendah lagi. aku memang orang yang tak memiliki pangkat, tapi aku juga ingin memperbaiki diriku." ujar Bastian dengan suara sendu. ingatannya kembali meraungi masa lalu di mana ia dihina oleh keluarga Hartono saat ia datang menyampaikan niat baik ingin mempersunting Elsa kekasih hatinya.
nyonya marsita dan Tuan Danu yang menyadari perubahan raut wajah yang ditampakkan oleh Bastian langsung merasa ada yang aneh.
"Kenapa nak ? Mama tahu, hidupmu selama 25 tahun ini begitu berat. maka Mama dan papa pasti akan menebusnya dengan memenuhi kebutuhanmu. katakan kepada Mama apa yang kamu butuhkan..??" tanya Nyonya marsita dengan penuh perhatian.
mendengar penuturan nyonya marsita. Bastian langsung mendongak dan menatap ke arah sang mama, kemudian seulas senyum terbit dari bibirnya itu.
"Mama tidak perlu khawatir, aku tidak apa-apa. yang pasti Bastian akan berusaha untuk memperbaiki kehidupan Bastian. apapun yang telah Mama papa siapkan untuk Bastian akan Bastian terima." ujar Bastian kepada kedua orang tuanya. mendengar penuturan seperti itu, timbullah sikap jahil nyonya marsita.
"benarkah seperti itu nak ? lalu Bagaimana menurutmu kalau mama menjodohkan mu dengan anak teman mama,, Apakah kamu akan setuju..??" tanya Nyonya Pak marsita dengan penuh sikap jahilnya itu.
Bastian yang mendengarkan penuturan sang Mama langsung terkejut. tentu saja bukan itu yang dia inginkan. Ia hanya ingin menuruti apa saja yang menurutnya dapat merubah nasibnya dan tidak menjadikan ia sebagai laki-laki pecundang.
"eh.. bukan itu maksud Bastian mah.." ujar Bastian dengan sedikit terkejut dari nada suaranya itu. sontak saja suara tawa langsung pecah dari mulut nyonya marsita. sementara Tuan Danu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istrinya menjahili anak mereka.
"Jangan hiraukan nak, mamamu memang seperti itu orangnya. jadi kembali kepada topik pembahasan kita. bagaimana..??" tanya Tuan Danu lagi untuk memastikan sekali lagi.
"baik Pah, Bastian setuju.." ujarnya lagi.
***bersambung***