Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi tidak bilang
"Yang, memang masih ada uang buat berobat Flora ke dokter?" tanya Ikbal.
"Sudah jalan aja dulu. Anakmu butuh pengobatan. Jangan pikirkan uangnya," perintah Arin pada suaminya.
Padahal kemaren dia sudah berjanji pad dirinya sendiri kalau akan menghukum suaminya dengan tidak membantu keuangannya meski mengalami kesulitan tapi dia langgar sendiri. Arin hanya malas jika harus mengemis pada ibu mertuanya yang tidak ikhlas meminjami uang anaknya sendiri.
Arin tidak akan bilang kalau dia menjual kalung agar ada uang untuk biaya pengobatan Flora. Tak masalah dia tidak memakai perhiasan karena Arin bukan wanita yang suka pamer pada orang lain.
Sesampainya di dokter spesialis, Flora diambil darahnya untuk tes laboratorium. Mereka menunggu satu jam baru hasilnya keluar. "Hasil tesnya bagus Bu. Tapi hampir mendekati gejala typus. Jadi anaknya bisa rawat jalan," kata dokter menyampaikan.
"Alhamdulillah, terima kasih, Dok." Arin merasa lega karena anaknya tak harus mondok di rumah sakit.
Dokter itu memberikan resep obat pada Arin dan suaminya. Mereka kemudian menebus obat sebelum pulang. "Flora sayang semoga setelah ini kamu bisa sembuh ya, Nak," kata Arin pada anaknya yang tertidur di pelukan.
"Tadi habis berapa, Yang?" tanya Ikbal.
"Udah nggak usah dipikirkan," jawab Arin. Dia hanya tidak ingin suaminya merasa bersalah karena belum memberi uang belanja sebab gajinya baru keluar esok hari.
"Sebelum pulang kita mampir makan dulu. Ibu hari ini tidak masak. Maaf ya kemaren-kemaren aku tidak melayanimu, Mas." Ikbal tersenyum. Dia tahu Arin sedang sibuk merawat anaknya yang rewel karena sakit.
Sekesal-kesalnya wanita tetap memperhatikan pasangan meskipun dia baru ingat keesokan harinya. Kalau bisa mengulang hari maka perempuan akan memilih untuk melayani suaminya. Sayangnya Arin kemaren terlalu panik ketika melihat Flora sakit.
"Ayo!" ajak Ikbal. Dia memberikan helm pada sang istri. Tapi Arin merasa kesulitan memakainya sebab kedua tangannya sedang memegang flora. Ikbal dengan senang hati memakaikan helm tesebut ke kepala sang istri. "Terima kasih," kata Arin dengan wajah bersemu merah.
Ikbal menyukai istrinya yang tersipu malu seperti itu. Dia terlihat manis. Sedangkan Arin sangat menyukai sikap suaminya jika sedang perhatian. Dia tak harus memerintah lebih dulu agar suaminya bertindak.
Ikbal menghentikan motornya di warung bakso. Tapi mereka tidak makan di sana. Arin meminta penjual itu membungkus bakso itu sejumlah anggota keluarga di rumah yang ia tinggali. Ikbal menoleh heran. "Buat ortuku juga, masa kita makan mereka hanya lihat?" kata Arin.
"Tapi uangku tidak cukup." Ikbal memperlihatkan uang yang tersisa di dompetnya.
"Tidak apa, biar aku saja yang bayar. Tadi masih ada sisa uang setelah digunakan untuk membayar biaya pengobatan Flora," ungkap Arin.
Meski penasaran berapa uang yang dipegang istrinya tapi Ikbal memilih diam dari pada mereka bertengkar di tempat umum. Setelah membayar bakso tersebut mereka pulang ke rumah.
"Kok malam banget?" tanya Ayah Arin. Dia memang jarang di rumah karena dia sering dapat kerjaan di luar kota. Malam ini dia pulang setelah mendengar cucunya sakit.
"Mampir dulu ke warung bakso, Pak," jawab Arin. Ikbal memberikan bakso yang dia beli pada mertuanya.
"Bapak sudah makan. Kalian saja yang makan bakso itu."
"Tapi kami sudah beli sendiri, Pak," protes Arin.
"Ya sudah taruh saja di belakang. Nanti bapak makan." Pak Hari terpaksa menerima bakso pemberian menantunya.
"Yang, setelah makan aku ingin tidur. Badanku capek semua," ujar Ikbal.
"Iya. Aku akan tidur setelah Flora minum obat." Kenyataannya Arin harus menunggui anaknya semalaman karena harus mengompres keningnya supaya demamnya turun.
Mata Arin sangat mengantuk. Dia pun pergi ke belakang untuk membuat kopi susu kesukaannya. "Aku tanpamu jadi lemes karena ngantuk," gumam Arin yang bermonolog sambil mengaduk kopi susu buatannya. Ya, hanya kopi yang dia andalkan untuk menjaga agar matanya tetap terbuka.
Keesokan harinya Arin bangun kesiangan. Ikbal sudah berangkat lebih dulu ke pabrik. Ketika membuka mata Arin mengecek suhu tubuh anaknya. "Alhamdulillah sudah menurun. Semoga besok kamu sudah bisa berlari ya, nak."
Melihat anaknya yang masih tertidur Arin pun meninggalkan Flora di kamar untuk mandi. Namun, belum selesai dia membilas rambutnya yang penuh busa, Flora bangun dan menangis.
Bu Nia mencoba menenangkan tapi dia tidak bisa. Akhirnya Arin mempercepat durasi mandinya. "Ya udah deh yang penting mandi walau bilasnya kaya bebek," gumam Arin.
Menjadi ibu tidaklah mudah. Dia harus pandai mengatur waktu. Apalagi kalau anak masih nempel sama ibunya. Meski aktivitas terbatasi tapi waktu tidak akan berulang.
"Sayang, maafin ibu ya tadi ibu tinggal mandi," ucapnya sambil menggendong Flora.
"Ibu tinggal saja. Aku sudah selesai mandi," kata Arin pada ibunya.
"Ya sudah ibu mau mencuci pakaian dulu setelah itu masak," jawab Bu Nia.
Arin mengambil air di baskom kemudian menyeka tubuh anaknya agar tidak lengket. Dia tidak berniat memandikan Flora yang baru sembuh.
"Ya ampun, anak ibu cantik sekali," pujinya pada gadis kecil yang memakai baju warna merah itu.
Tring
Sebuah pesan masuk ke handphone Arin. "Alhamdulillah ada pesanan customer," gumamnya saat membaca pesan.
Karena kelamaan membalas chat customer, Arin jadi lupa menyuapi Flora. Gadis kecil itu malah mengambil bedak dan memainkannya. Arin terkejut ketika melihat anaknya yang belepotan. "Ya ampun, Flo. Kamu kan baru saja ganti baju kok main bedak?"
"Rin, bedaknya bersihin jangan sampai tercecer ke lantai nanti licin lantainya," tegur sang ibu.
"Iya, Bu." Arin pun mengambil lap basah untuk membereskan lantai yang terkena tumpahan bedak.
Sore menjelang petang, Arin mengajak anaknya bermain di teras rumah sambil menunggu kepulangan suaminya. "Ayah kok belum pulang ya Flo jam segini?" Arin jadi merasa khawatir dengan suaminya.
Berkali-kali Arin melihat handphonenya tapi dia tidak mendapatkan pesan dari sang suami. "Apa Mas Ikbal lembur ya hari ini?" tanya Arin pada dirinya sendiri. Dia hanya cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.
Ketika langit terlihat gelap Arin membawa anaknya masuk ke dalam rumah. Dia mendudukkan Flora di kursi depan televisi. Arin kembali memeriksa hpnya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat status temannya. Di situ sang suami ikut berfoto bersama.
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...