Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Akila mundur, ia benar-benar ingin lari saja. William makin gila. William sungguh menakutkan. Hubungan pernikahan bersama William adalah ujian paling besar buat Akila, rasanya akan lebih baik Akila jadi Ibu tunggal saja sampai kapanpun Akila akan rela, alih-alih jadi istri dari seorang iblis mengerikan itu.
Hanya hitungan detik saja pinggang Akila sudah diraih oleh William.
Tubuh mereka menyatu tanpa jarak.
"Aku suka melihat kau ketakutan Akila, aku kesal jika kau melawanku terus!" Ucap William.
"Karena kau gila William. Tak akan ada orang yang betah bersamamu. Jika kau membunuh orang, maka aku akan mencampakkanmu! Aku bersumpah akan pergi sejauh mungkin bahkan aku..."
"Lebih dulu kakimu akan kehilangan fungsinya Akila, percayalah bahwa aku tak pernah berbohong dalam mengancam. Ujilah emosiku jika kau benar-benar ingin melihat iblis menakutkan yang muncul dalam tubuhku ini keluar." Ucap William.
William mengakui bahwa dirinya adalah iblis yang menakutkan.
Tubuh Akila ditarik oleh William lalu William memeluk tubuh itu dengan erat.
"Aku akan membuatmu menderita jika kau lari dariku. Sungguh Akila, rasanya sama seperti kau berada di neraka yang ada di dunia ini." Ucap William lagi.
Akila meneteskan air mata yang harusnya tak jatuh.
Ia mulai lelah menghadapi tingkah William.
"Kau kenapa jadi begini denganku William? Apa salahku hingga kau memperlakukan aku seperti ini? Aku benar-benar..."
Tiba-tiba Reno sedikit mengganggu. Reno datang membawa kabar buruk.
"Tuan maafkan saya. Maaf karena saya mengganggu, tapi ini penting. Markas kecil di wilayah selatan tengah diserang oleh..."
William langsung melepaskan pelukan itu, ia menatap Reno.
"Apa yang terjadi disana?" Tanya William.
"Semuanya kacau Tuan, penyerangan itu semakin banyak." Ucap Reno.
William menatap Akila.
"Tetaplah disini Akila." Ucap William.
William pergi bersama Reno membiarkan Akila ada di Markas besar miliknya.
Perdebatan Akila dan William berakhir begitu saja.
---
Malam semakin larut.
Akila tak tidur, ia kepikiran tentang pria yang menyebut nama Atheos.
Tanpa ada keraguan, Akila keluar dari kamar yang pernah ia tempati cukup lama di masa lalu bersama William itu.
Tujuan Akila hanya satu, ia ingin pergi ke penjara bawah tanah milik William. Mau bagaimanapun Akila cukup tahu tentang Markas William, karena di masa lalu Akila pernah tinggal di tempat itu.
Langkah Akila terhenti.
Tampaklah dua pria berjaga di depan pintu ruang bawah tanah.
"Bisa buka pintunya untukku?" Tanya Akila.
Pria yang menjaga itu menggeleng dengan cepat.
"Maafkan kami Nyonya, kami tak bisa melakukan itu tanpa seizin Tuan William." Ucapnya.
"Hanya sebentar saja, aku hanya ingin melihat pria itu. Ada yang perlu aku tanyakan, kumohon." Ucap Akila.
"Nyonya, jika Tuan William tahu mengenai hal ini maka kami akan..."
"Jangan beritahu William, selama kalian tutup mulut maka William tak akan tahu. Kalaupun William marah, maka aku akan bertanggung jawab untuk membela kalian. Kumohon, aku janji hanya sebentar saja. Ini tak akan lama." Ucap Akila meyakinkan.
Dua orang itu bingung, sampai akhirnya Akila berucap lagi.
"Aku akan bersujud di hadapan kalian jika kalian..."
"Baiklah Nyonya, tapi saya mohon hanya sebentar saja." Pinta salah satu pria itu.
Akila menganggukkan kepalanya, ia cepat-cepat masuk saat pintu dibukakan.
Beberapa langkah berjalan, tatapan Akila jatuh pada pria bertubuh besar itu. Ia duduk dalam diam, keadaannya penuh luka.
Akila semakin mendekat.
Pria itu menatap Akila lalu menunduk dengan sopan pada Akila.
Akila cukup heran dengan cara pria itu yang sopan pada Akila.
"Siapa namamu?" Tanya Akila.
"Saya Diego, Nyonya." Ucapnya begitu ramah dan sopan pada Akila.
Akila sudah semakin mendekat.
"Bolehkah aku bertanya padamu Diego?" Tanya Akila.
Diego mengangguk kecil.
"Silahkan Nyonya, saya akan menjawab apapun yang Nyonya tanyakan." Ucap Diego lagi.
Akila ragu, tapi ia tetap bertanya.
"Atheos, siapa yang kau maksud? Tidak, maksudku seperti apa Atheos yang kau katakan itu? Tuan Atheos yang kau sebutkan itu, apakah dia seorang Anak kecil?" Tanya Akila membuat Diego bingung.
Jelas Diego tak tahu, ia bahkan belum pernah bertemu dengan Atheos. Namun mungkinkah Atheos itu seorang Anak kecil, tapi aneh rasanya jika Anak kecil bisa membantu Diego selama ini? Diego merasa tak yakin kalau Atheos Anak kecil.
"Saya tak tahu Nyonya, tapi," Diego menghentikan ucapannya, tak mungkin jika Diego mengatakan pada Akila kalau selama ini ia membantu Atheos mencari tahu banyak hal tentang masa lalu Akila.
"Tapi apa?" Tanya Akila.
"Saya tak pernah bertemu dengan Tuan Atheos, saya hanya diminta melakukan banyak hal namun bertemu dengan Tuan Atheos belum pernah terjadi." Ucap Diego jujur.
Akila mencari kebohongan atas jawaban itu tapi Akila tak menemukannya.
Akila lebih mendekat.
"Apa kau mengenalku? Kenapa kau sempat melihatku dengan tatapan terkejut?" Tanya Akila membuat Diego segera menggeleng.
"Ini adalah pertama kali saya melihat anda Nyonya, saya tak mengenal anda." Ucap Diego.
Akila tak menemukan jawabannya, ia bersiap pergi membuat Diego berucap.
"Nyonya, jika suatu saat anda bertemu kembali dengan keluarga yang membesarkan anda, saya mohon untuk tidak mudah percaya pada siapapun. Tak ada manusia yang bisa dipercaya, bahkan jangan pernah meminum obat yang dikatakannya sebuah vitamin." Ucap Diego membuat Akila terkejut bukan main.
Akila kembali menatap Diego.
"Apa kau mengenalku? Kau sedang membicarakan soal apa dan..."
"Nyonya, Tuan William pasti akan datang sebentar lagi. Keluarlah sebelum anda mendapatkan masalah yang jauh lebih rumit." Ucap Diego memotong ucapan Akila.
Akila memilih menurut walau ia masih penasaran dengan status Diego. Tampaknya Diego bukan orang biasa.
Entah mengapa Akila merasa ada yang aneh dengan sikap Diego.
---
Di sisi lain.
Kiara menatap banyak obat di atas meja.
Ada banyak, dan ia benci itu.
"Apa aku gila sampai harus mengkonsumsi obat itu terus menerus? Sialan! Aku memang punya gangguan mental, namun harusnya keadaan sudah pulih. Seandainya kau ada disini Akila, kau pasti akan membantuku menghabiskan vitamin itu kan?" Ucap Kiara, ia tiba-tiba malah mengukir senyum.
Namun hanya hitungan detik saja tangan Kiara terkepal kuat sekali. Emosinya malah membuncah.
"Kau curang Akila! Kau meninggalkanku, kau bilang kau cuma butuh aku! Sialan kau Akila!" Marah Kiara.
Kiara mengambil sebotol obat itu.
"Akila, kalau aku sakit kau juga harus sakit. Bukankah kita seperti itu sejak dulu? Apa kau tak mengerti? Kau itu Adikku dan kau harus merasakan apa yang aku rasakan. Sekarang kau dimana? Aku ingin kau mentransfusikan darahmu untukku. Aku ingin kau patuh Akila, kau Adik yang baik dan aku yakin kalau kau pasti akan kembali padaku." Ucap Kiara berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Merasa marah, Kiara lemparkan botol obat itu hingga pecah. Obatnya jadi berserakan kesana-kemari.
Kiara marah, emosinya tak bisa dibendung lagi.
"Kau membohongiku Akila! Kau bohong, selama ini kau pergi dan menghilang dari ku! Apa kau marah padaku hm? Kau marah karena menggantikanku atas kecelakaan itu ya? Akila, bukankah memang tugasmu menjadi kedua untukku? Jangan membuatku marah Akila! Kembalilah. KEMBALILAH PADAKU!" Teriak Kiara marah.
Ben yang berada diluar bersama Mathilda langsung masuk saat mendengar teriakan milik Kiara, keduanya cemas saat Kiara melemparkan semua obat yang ada di atas meja lagi.
"Kiara tenanglah." Pinta Mathilda seraya memeluk Putrinya itu.
Dengan penuh sayang Mathilda mengusap puncak kepala Kiara.
Tubuh Kiara gemetar. Ben meraih satu obat milik Kiara lalu membukanya.
"Minumlah sayang." Ucap Ben.
Kiara menurut, tubuhnya yang bergetar itu lama kelamaan melemah usai minum obat itu.
"Mom, Dad aku mohon bawa kembali Akila. Aku tak mau kehilangan seorang Adik, aku mau Akila kembali padaku. Dia harus terus bersamaku." Ucap Kiara.
Mathilda semakin memeluk Kiara dengan penuh sayang, ia merasa kasihan.
"Tenang sayang, Akila pasti akan kembali lagi. Dia akan selalu disisimu, percaya dengan Mommy." Ucap Mathilda begitu yakin.
Ya, itu yang salah. Sejak dulu Mathilda meyakinkan pada Kiara bahwa Akila adalah bagian kedua untuk Kiara, hingga akhirnya Kiara terus mempercayai hal itu. Bagi Kiara, ia dan Akila adalah orang yang saling membutuhkan.
Akila harus tak bisa hidup tanpa Kiara, begitu isi pikiran Kiara.
---
Malam semakin larut.
Akila duduk diam dengan mata terpejam, ia tidak menunggu kedatangan William. Hanya saja kini pikiran Akila mengingat soal ucapan Diego.
'Dia seperti tahu tentangku. Perasaanku jadi gugup dan takut. Bagaimana ini? Apa mungkin Atheos yang dia sebut adalah Putraku?' tanya Akila membatin.
Akila cemas.
Akila juga teringat tentang dua Anak yang sempat ia lihat. Entah kenapa Akila yakin bahwa ia tak salah lihat saat itu.
Mata Akila terbuka ketika ia mendengar suara langkah kaki yang mengusiknya.
"Nyonya." Ucap Reno yang datang tiba-tiba.
Akila menatap Reno yang datang tanpa William di sisinya.
"Hm, ada apa?" Tanya Akila.
Reno mendekat, ia berucap dengan pelan.
"Tuan William terluka Nyonya, saat ini Tuan William sedang berada di rumah sakit." Ucap Reno membuat Akila berdiri.
Akila bukan cemas, ya, ia tidak cemas.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Akila.
"Mari ikut dengan saya Nyonya. Nanti Nyonya bisa langsung melihat keadaan Tuan William." Ucap Reno.
Tampaknya Akila menurut.
---
Masih dengan cerita malam itu.
Rumah sakit.
Akila melangkahkan kakinya bersama Reno yang ada dibelakangnya.
Tujuan mereka adalah ruang rawat vip.
Terlihat Reno membukakan pintu ruang rawat itu, ada seorang Dokter di dalam sana tengah berbicara pada William.
Akila tanpa ragu masuk mendekati William yang terbaring di atas ranjang itu.
Ada darah di kemeja putih yang William kenakan.
"Luka tembak ini untungnya cepat ditangani, namun tetap saja pemulihan di bagian perut anda harus benar-benar memakan waktu yang cukup lama. Setidaknya beberapa hari anda harus dirawat di rumah sakit, Tuan." Ucap Dokter itu.
William mengibaskan tangannya mengusir Dokter itu. William tak peduli soal luka tembak itu, lagipula ia sudah sering mendapatkannya.
"Pergilah, aku tak akan mati dengan mudah." Ucap William.
Hanya helaan nafas saja yang terdengar dari Dokter itu, ia memang selalu lelah kalau menghadapi pasien vip.
Seperginya Dokter itu terlihat William menatap Akila yang berdiri dalam diam.
"Kemarilah." Ucap William memberi perintah.
Akila mengangguk mendekati William, selain luka di perut terlihat wajah William juga terluka di beberapa bagian.
"Apa yang terjadi?" Tanya Akila.
William mengangkat kemeja miliknya, ada luka yang tertutup disana. Ia tampak memperlihatkan luka yang sudah ditutup itu pada Akila.
"Hanya tembakan saja." Singkat William.
Hebat sekali bukan, pria itu bahkan meremehkan luka seolah ia hanya tak sengaja terkena pisau saat memasak.
Akila semakin mendekat lalu mengulurkan tangannya, kepala William disentuh oleh Akila.
Di sudut kepala itu juga ada luka.
"Ini juga luka, kenapa tak diobati sekalian? Kau mengatakan aku bodoh, padahal yang bodoh itu sebenarnya adalah kau." Ucap Akila menyingkirkan rambut memanjang milik William.
Akila melihat luka yang sepertinya bekas kena pukul benda tampak ada di bagian kepala William.
"Kau cemas?" Tanya William.
Akila jadi sadar dengan apa yang saat ini ia lakukan.
Akila mengangguk pelan, anggap saja Akila bohong.
"Walau aku membencimu, bukan berarti aku mau kau mati dengan cara seperti ini. Setidaknya jadilah orang baik terlebih dulu William." Ucap Akila.
William jadi terkekeh, ia tarik tangan Akila yang menyentuh kepalanya itu.
"Baru aku boleh mati, maksudmu begitu?" Tanya William.
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .