Kanaya Allea Yuna,harus menerima kenyataan bahwa ia kehilangan karier yang selama ini ia peroleh dengan susah payah hanya karena sifat pendendamnya.
Kejadian itu bermula saat Allea tak sengaja bertemu dengan seorang pria galak yang memarahinya karena sebuah kesalahan yang sama sekali tidak dibuat olehnya.
Akibat kejadian itu,Allea menyimpan dendam kesumat pada pria itu dan berjanji akan membalas jika kelak mereka bertemu.
Dan seperti sebuah takdir,Allea benar-benar di pertemukan lagi dengan pria itu dan pembalasan dendam pun tak terelakkan.
Namun sayangnya,dendam yang akhirnya terbalas itu membuahkan karma yang tak main-main.
Allea terjebak dalam bencana,ternyata pria yang ia benci tadi adalah anak dari majikan tempatnya bekerja saat ini. Dan sialnya lagi akibat kejadian itu,Allea kehilangan pekerjaannya dan terpaksa harus menjadi pembantu di rumah pria arogan tersebut.
Bagaimanakah nasib Allea setelahnya,akankah ia mampu bertahan dengan nasib buruknya? Ikuti kisah ini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azellea Rensima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alamakkk!!
Beberapa pasang langkah kaki terlihat berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke klinik yang berada tepat di samping perusahaan William.Corp. Tersebut.
Di urutan pertama,ada Zee dan Sandra yang saat ini sama-sama memasang raut wajah takut. Di belakangnya ada Beni sang manager keuangan yang tampak memasang wajah takut dan gugup.
Dan di belakangnya lagi ada Jessie dan Bella yang tampak tak kalah gugup,karena kalau sampai tuan muda ketiga mereka itu kenapa-napa. Bisa habis mereka di tangan nona muda kedua dan tuan muda pertama mereka itu.
"Brak..."
Zee membanting pintu tanpa aba-aba begitu tiba di depan pintu klinik.
Di dalam sana,terlihat Allea menyambut kedatangan bos besarnya itu dengan wajah sukacita,tanpa tau bahwa ada bahaya besar yang mengincarnya di depan sana.
"Nona muda,ah maksudku nona presdir. Lihat aku berhasil menangkap malingnya,dia sudah aku ikat di atas brankar dan mulutnya sudah aku isolasi. Silahkan nona introgasi,kebetulan malingnya sudah sadar."
Allea berkata dengan penuh semangat,seakan dia sudah menyelamatkan dunia dan layak mendapatkan penghargaan. Padahal pada nyatanya...
"Allea diamlah!!" Bentak Beni dengan wajah memerah menahan marah.
Di depannya,Zee terlihat memijat kepalanya dengan pelan.
"Sudahlah Beni,biar aku buka tirainya untuk memastikan dan jika dugaan ku benar maka kau tau apa yang harus kau lakukan pada anak bimbinganmu itu." Ujar Zee dengan nada dingin.
Allea yang tadinya memasang wajah sumringah,seketika bingung dan gugup. Ia meneguk ludahnya dengan kasar.
"Ada apa ini sebenarnya?" Batin Allea. "Aku salah ya?"
"Bukannya aku udah berbuat baik?"
"Salahnya di mana memang??"
Dengan lugunya Allea membatin bingung tanpa bisa mencurigai sedikit pun celah kesalahannya.
"Srekk.."
Tirai terbuka...
Sepasang mata milik pria yang tengah terbaring itu melotot,begitupun dengan kedua bola mata biru milik Zee itu.
"Astaga Arrel!!" Pekik Zee dengan raut kaget.
Buru-buru gadis itu membuka tirai dengan lebar dan langsung bertindak membuka tali-tali yang mengikat tubuh adik kesayangannya itu tak lupa ia juga membukakan lakban hitam yang sedari tadi menempel menutupi mulut adiknya itu.
"Hah..." Arrel menghembuskan napasnya dengan kasar setelah berhasil lepas dari bekapan isolasi yang sempat membuat wajahnya kebas itu.
"Lo baik-baik aja kan? Mana yang luka? Perlu di bawa ke rumah sakit gak??" Zee benar-benar bertanya panik,tak bisa lagi menyembunyikan kekhawatiran yang sedari tadi di tahannya.
Sementara di belakang sana,Sandra,Bella,dan Jessie sama-sama menghembuskan napasnya dengan lega saat melihat kondisi Arrel yang tidak terlalu buruk. Setidaknya mereka aman dari amukan Davian dan Zee hari ini.
Namun lain halnya dengan Allea dan Beni,dua manusia berbeda genre itu kini tengah saling tatap dengan ekspresi tegang. Terutama Allea,rasanya gadis itu ingin sekali memutar waktu untuk bisa memperbaiki keadaan yang ada namun sayangnya.
Sudah terlambat....
"Mana cewek tadi?? Arrel gak mau tau kak! Blacklist dia dari daftar seluruh perusahaan yang ada di negara ini!! Intinya jangan sampai ada satupun perusahaan yang mau menerima dia bekerja,dan kalaupun ada,dia harus di tempatkan di posisi terendah yang ada di tempar kerja itu. Titik!!"
Kedua bola mata Allea seketika melotot tak santai.
"Gue gak salah dengarkan barusan? Gue bakalan di blacklist dari seluruh perusahaan yang ada di ibukota ini? Really? Kalau itu beneran terjadi,gue kudu gimana??"
Batin Allea menjerit takut.
"Mati gue mati!! Mak kolot!!" Teriak gadis itu di dalam hatinya. Kedua bola matanya kini bergerak gelisah melihat kemana saja asal jangan ke wajah manager Beni,apalagi Zee dan Arrel.
"Tamat riwayat ku mak!!" Batin Allea lagi sambil menggigit bibir bagian bawahnya dengan kuat.
"Allea...!!" Suara Zee terdengar menggema di dalam ruangan berukuran 4x4 tersebut.
"Alamakkkkk..." Batin Allea lagi-lagi menjerit panjang tanpa bisa di toleran.
"I..iya nona muda.." Walaupun takut,tapi Allea tak punya pilihan lain selain menjawab panggilan Zee. Setidaknya itu lebih baik daripada ia diam dan justru malah menambah amarah Zee kan??
"Kamu tahu kan apa kesalahan kamu hari ini??"
"E..ee,a..anu bu eh nona muda,awalnya sih saya enggak tau.."
"Aw..,aw..." Allea menjerit sakit saat kupingnya di tarik keras oleh manager Beni.
"Pak sakit!!" Protes Allea dengan wajah cemberut.
Kelakuan Allea diam-diam membuat beberapa orang yang ada di ruangan itu menahan tawanya termasuk Arrel.
"Makanya yang serius jawabnya!! bentak manager Beni membuat suasana kembali tegang.
Manager Beni melepaskan tangannya dari kuping Allea setelah memberi peringatan pada gadis itu agar tidak main-main lagi.
"Begini bu,eh nona muda. Sebenarnya beberapa hari yang lalu saya sudah bertemu dengan tuan muda kedua. Tapi..."
"Elahh..,gak usah dramaqueen lo ya!! Udah kak,sekarang mending gini aja kak. Nih cewek biar gue yang urus. Kakak sama yang lain kembali aja dulu ke ruang rapat biar nanti Arrel nyusul setelah urusan Arrel selesai."
Zee seketika menatap curiga ke arah adiknya itu. Bagaimana pun,ia tak mungkin membiarkan Arrel berbuat macam-macam,apalagi terhadap cewek..
"Rel,jangan macam-macam ya. Selesain sekarang aja,emang gak bisa?"
"Gak bisa kak. Kalian,kak Sandra,Jessie,Bella dan terakhir anda pak manager,kembilah ke ruangan rapat. Dan terakhir,kak Zee. Arrel mohon,Arrel janji gak bakalan melakukan hal-hal yang melanggar UUD. Percaya sama Arrel,okey!!"
Zee awalnya terlihat keberatan,namun saat melihat waktu sudah banyak terbuang dengan drama yang barusan terjadi Zee akhirnya mengalah.
Sebelum keluar,sekali lagi Zee memberikan peringatan pada Arrel agar jangan bertindak macam-macam apalagi melewati batas. Bagaimanapun juga,Allea bukanlah seorang lawan yang sepadan bagi Arrel.
Dua menit setelah kepergian Zee....
"Mau kemana kau??" Tanya Arrel dengan nada membentak saat melihat gerak-gerik Allea yang sepertinya sedang mencari cara untuk kabur.
"A..anu tuan,saya kebelet! Iya,bener kebelet! Saya izin keluar ya.."
"Silahkan. Sekalian kau kemasi barang-barangmu dan jangan berani munculkan lagi wajahmu di ibukota ini. Bisa??"
"Apa? Tapi tuan,saya..."
Arrel mengangkat tangannya kemudian menunjukkan ke arah pintu dan dengan tatapan datar ia berkata.
"Keluar dan kemasi barang-barangmu sekarang atau keluar dengan cara ku panggil satpam agar mereka yang menyeretmu. Silahkan pilih sendiri."
Allea meneguk ludahnya dengan kasar.
"B..baik tuan,saya keluar sendiri saja. Sampaikan terimakasih saya pada nona muda karena sudah memperkenankan saya bekerja selama dua tahun di sini dan..."
"Tidak perlu banyak basa-basi!! KELUAR SEKARANG SEBELUM AKU LEMPARI KAU DENGAN MEJA YANG ADA DI SAMPING KU INI!!"
"Tidak mau! Ampun tuan,ampun!! Baik,baiklah. Aku pergi sekarang. Maafkan aku dan..."
"Semoga aku tidak pernah bertemu lagi dengan laki-laki gila sepertimu tuan."
Allea melanjutkan kalimatnya di dalam hati sambil berbalik keluar meninggalkan Arrel yang entah bagaimana reaksinya setelah kepergiannya. Yang pastinya sih senang,apalagi memang.
"Dasar kutunya kutu!!"
♡♡♡