Haikal, anak SMA yang tak sengaja mabuk dan tidur dengan Valeri. Sampai Valeri hamil. Dia ke rumah Haikal tapi Johnny, bapaknya tak mau masa depan anaknya itu hancur. jadi dia yang bertanggung jawab dan menikah dengan Valeri.
Bagaimana kisahnya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 7
Johnny kembali masuk ke dalam restoran. Dia menyuruh Valeri untuk istirahat di mobil saja. Dia akan segera kembali.
“Sorry om ganggu bentar,” Johhny tiba-tiba datang dan menepuk bahu sang anak yang sedang asik makan, haikal hanya menatap papanya, dalam hatinya apa lagi yang akan papanya lakukan kali ini.
“Om, selamat ya. Kata haikal om mau menikah?” Kata salah satu teman haikal, Johnny mengangguk.
“Iya, ini om kesini mau mengundang kalian ke hari pernikahan om, lusa mungkin. Nanti om kabari lagi ok. Harus datang.”
“siap om.”
“Satu hal lagi, jangan ajak haikal mabok. Kalau mau mabok, jangan terlalu banyak dan antar haikal pulang, bukan ke hotel atau ke tempat lain, ok? Bisa kan?”
“Iya om. Bisa.”
“halo om.”
Teman-teman wanita haikal datang, yang baru ke toilet. Johnny hanya mengangguk setelahnya dia pergi.
Johnny kembali ke parkiran. Dia membuka pintu mobilnya. Tapi Johnny kaget melihat Valeri yang sudah tidur di mobil.
“dia sangat lelah kah?”
Johnny menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik Valeri. Johnny tak menepis kalau Valeri itu memang wanita yang berparas cantik. Johnny menurunkan kursi Valeri dengan hati-hati. Dia juga memegangi tubuh valeri. Johnny mengambil boneka di jok belakang. Ada milik mendiang mamanya haikal yang masih dia simpan. Dia menaruhnya di pinggir Valeri, di dekat kepala Valeri. Takut nanti Valeri kepentok kaca mobil. Setelahnya Johnny menjalankan mobilnya menuju ke rumah.
“pasti dia sangat lelah.”
Johnny beberapa kali melirik dan mengecek keadaan Valeri sambil dia menyetir. Tak lama dia sampai di rumah. Valeri bahkan belum bangun.. hari juga sudah petang. 06.00 mereka sampai di rumah.
“bangunin gak ya? Gak tega juga mau bangunin.”
Johnny sudah mencoba untuk membangunkan Valeri, tapi benar-benar dengan suara yang lirih. Tapi Valerinya tidak juga bangun, jadi dia terpaksa menggendong Valeri ke dalam rumah. Dia juga tak terlalu tega membangunkan Valeri dengan keras.
“tuan, mau di kamar tuan lagi atau dibawah? Yang bawah belum dibereskan. Tuan gak bilang soalnya.” Bibi datang melihat mereka.
“Iya gak apa-apa bi. Gak usah, di kamar aku aja. Lagian kalau di kamar bawah nanti haikal curiga.”
“oh iya tuan.. hati-hati.”
Johnny hanya mengangguk, dia membopong Valeri menaiki tangga dengan hati-hati. Membuka pintu kamarnya perlahan. Valeri bangun, dia masih ada digendongan Johnny. Valeri menatap Johnny dengan gugup.
“Tuan, ini. Saya bisa jalan sendiri, tuan kenapa harus menggendong saya ke kamar. Kan bisa membangunkan saya tadi di mobil.”
“sut, diam. Nanti jatuh, bayi kamu gimana? Nanti saya yang disalahkan dan kamu menyebar foto anak saya.”
Johnny memarahi Valeri yang masih ada digendongan dia. Valeri pun diam. Dia memilih untuk mengedarkan pandangannya ke arah lain. Malu kalau harus menatap mata Johnny. Jantung Valeri berdebar kencang.
Johnny menurunkan valeri perlahan ke ranjang. Bukannya tidur lagi dia malah duduk.
“Kamu gak mau tidur lagi?”
“Gak tuan, saya mau mandi dulu.”
Johnny melihat jam di kamar itu. Dia juga melihat keadaan luar. Johnny melarang Valeri untuk mandi.
“gak baik wanita hamil mandi mau pergantian malam. Gak apa-apa, gak usah mandi. Di rumah kan juga ada AC. Ganti baju saja, kalau mau kosok kaki boleh. Jangan mandi pokoknya. Nanti sakit, saya gak mau bayi kamu kenapa-napa dan menyalahkan anak saya lagi.”
Johnny pergi ke kamar mandi. Dia memastikan air hangat untuk Valeri. Valeri tak henti tersenyum melihat sikap Johnny kepada dia.
“sudah, pakai air hangat saja. Saya tunggu diluar kamar mandi, jangan mandi pokoknya, gosok kaki dan seperlunya saja. Kamu bisa pakai parfum kalau merasa bau.”
Valeri mengangguk. Dia masuk ke kamar mandi. Dia pun mengikuti ucapan sang calon suaminya itu. Benar kata putri, dia termasuk yang beruntung.
Valeri selesai mandi. Johnny belum sempat belanja baju untuk Valeri, tadinya mau langsung hari ini, tapi Valeri ketiduran, jadi tak ke mall dulu.
“Ini, pakai pakaian mendiang istri saya dulu saja. Saya belum sempat beliin kamu baju. Tunggu saya kirim kontak teman saya, pilih baju yang mana yang kamu suka. Nanti bilang saja ke dia ukuran kamu. Ponsel kamu mana?”
Valeri masih terkejut dengan semua perhatian Johnny. Dia hanya bisa menunjuk dimana ponselnya ditaruh. Johnny juga belum punya nomer Valeri. Dia melihat sendiri nomer Valeri.
“Kamu gak pakai pin?”
Johnny kaget melihat ponsel Valeri yang bisa dibuka tanpa pin. Valeri mengangguk.
“Tuan mau ambil dan hapus foto anak tuan ya? Sudah banyak saya copy dan pindah.” Valeri mendekati Johnny dan mengambil ponselnya dari Johnny begitu saja.
“ini nomer aku.”
Valeri yang masih memakai handuk saya menyebutkan nomernya kepada Johnny. Johnny mencatatnya dan mengirimkannya kepada sang teman yang tak lain adalah seorang pemilik butik dan cloting line terkenal.
“sudah saya kirim nomer kamu. Saya simpan juga nomer kamu ya. Itu nomer saya. Nanti teman saya akan wa kamu.”
Valeri mengangguk begitu saja. Haikal pulang. Dia mencari papanya. Dia ke kamar sang papa. Johnny tak mengunci pintunya lagi. Haikal membuka pintunya begitu saja.
“sorry.”
Haikal kaget melihat Valeri yang hanya memakai handuk. Dia langsung memalingkan muka. Johnny langsung memeluk Valeri yang badannya lebih kecil dari dia untuk menutupinya.
“Kenapa kal?” tanya Johnny melirik menoleh menatap anaknya itu.
“Katanya disuruh pulang. Besok kan nikahannya?”
“Iya.”
Semua sudah dipilih oleh Valeri, Johnny tadi juga bisa dengan orang w.o. Bisa diselesaikan semalam, suratnya bisa menyusul. Jadi mereka akan menggelar pestanya besok.
“iya, ada tamu nanti malam. Cobain jas kamu. Malam ini kamu jangan kemana-mana.”
“iya pa. Maaf ganggu, aku Cuma mau kasih tahu papa aja aku pulang. Aku gak bikin ulah lagi kan.”
Haikal menutup pintunya begitu saja. Johnny langsung melepaskan pelukannya kepada Valeri. Dia minta maaf kepada Valeri.
“Iya tidak apa-apa tuan. Saya mau ganti baju dulu.”
Valeri pergi dari hadapan Johnny, dia mengambil baju yang dia suka di lemari dan ke kamar mandi. Valeri mengganti bajunya di sana. Ketika dia membuka pintu, Johnny masih disana. Duduk di ranjang.
“tuan kenapa masih disini?” tanya Valeri dengan bingung.
“Iya kan ini kamar saya. Saya mau mandi juga.”
“oh iya, maaf tuan saya lupa.”
“Gak apa-apa. Saya mandi dulu, kalau kamu mau turun duluan, turun duluan aja, mungkin kamu lapar.”
Valeri mengangguk. Dia memilih untuk turun duluan. Johnny ke masuk ke kamar mandi dengan membawa handuknya.
***
“Bi, ada makanan? Saya lapar?”
Valeri ke dapur. Dia menemui bibi yang sedang membereskan dapur. Bibi membuka kulkas.
“Adanya Cuma kue bolu coklat lumer non, non Valeri mau?”
Itu makanan kesukaan mamanya haikal dulu. Haikal yang membelinya dan memakannya kalau sedang rindu dengan mamanya. Haikal bilang kemarin sudah bosan dengan bolunya. Jadi bibi menawarkannya kepada Valeri.