Lelah selalu dimanfaatkan sang ayah, hingga akhirnya Bella memutuskan rantai keuangan ayahnya dengan menyerahkan kesuciannya pada sang sahabat. Leo Respati, adalah pria beruntung itu yang mendapatkan keperawanan Bella.
Tapi Leo bukanlah pria biasa, Ia selalu bertanggung jawab atas Bella setelahnya. Bahkan Leo berjanji akan selalu melindungi Bella bahkan dengan nyawanya sendiri.
Bagaimana Bella, jika tahu Leo adalah anak seorang Mafia? Apalagi saat Leo bertanggung jawab meneruskan bisnis hitam orang tuanya selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar, ceroboh
Leo tak butuh waktu lama untuk membeli apa yang Ia inginkan. Kini Ia telah kembali kedalam kamar kostnya dan duduk menunggu Bella bangun dari tidur sembari memainkan game di hpnya. Ia duduk bersandar di tembok putih itu dengan sesekali menghisap rokok yang di apit diantara kedua jarinya. Leo memang termasuk perokok berat, namun setidaknya saat ini Ia lepas dari semua jenis alkohol yang dulunya hampir tiap malam Ia nikmati bersama para sahabatnya itu.
"Huaaaammhhh!" Bella menggeliat, dan berguling kesembarang tempat. Selimut yang Ia pakai menyibak beserta kemeja ketat yang Ia pakai. Leo hapal betul, jika kemeja itu adalah kemeja andalan milik Bella karena Ia amat jarang membeli pakaian untuk dirinya sendiri.
" Gila... Kenapa tidurnya seperti itu? Tak ada sisi feminimnya sama sekali," tukas Leo. Iapun menaruh puntung rokok dan Hpnya untuk mendekat dan merapikan selimut Bella saat itu.
Leo memang bukan orang baik, dan Ia sadar akan itu. Tapi Leo selalu menjaga Bella dengan baik, apalagi pada tubuhnya. Ia menutup kemeja yang naik dan memperlihatkan pusar gadis itu yang berada dibawah bagian perut ratanya yang putih dan mulus.
"Ceroboh..." cecarnya. Ia bahkan membenarkan posisi Bella yang tak karuan bentuknya, namun Ia terfokus pada wajah Bella yang kini ada tepat didepan matanya. Leo mengakui kecantikan Bella, dengan hidungnya yang mancung dan alis tebal alami. Dan bahkan Bella tak pernah berdandan ketika bekerja.
Bagaimana berdandan dan tampil cantik? Hanya untuk membeli perlengkapan paling murah saja Ia tak bisa. Sesekali hanya Rere yang iseng merapikan dan memberi polesan diwajah Bella agar sedikit fresh, tapi saat itu juga Leo langsung menghapusnya meski Bella langsung memasang wajah sengit padanya. Karena sebagai seorang wanita, pasti Bella meiliki hasrat untuk tampil cantik seperti wanita lain pada umumnya yang seusia dengan bella.
Hal itu sontak membuat mereka menjadi ribut, meski keributan dan pertengkaran itu juga tak akan terjadi dalam waktu yang lama. Mereka akan berdamai seiring berjalannya waktu, spontan dan tanpa adanya permintaan maaf antar satu sama lain.
Kini Leo bersimpuh didepan Bella, menatapnya lekat dengan jari besarnya bermain di alis mata indah itu. Seolah Ia tengah mengukirnya, dan turun menyentuh hidungnya yang bangir lalu memencetbya beberapa kali dengan gemas. Dan herannya lagi, saat itu Bella tak terbangun sama sekali karena ulahnya itu.
"Kebo," tukas Leo. Padahal Ia ingin Bella bangun dan kesal memarahinya dengan suara keras. Tapi memang Bella amat lelah, hingga istirahatnya begitu nyanyak saat ini.
Leo merebahkan diri setelahnya. Sedikit jauh dari Bella dengan menggelar sebuah kain lebar untuk alasnya tidur. Ia bahkan tak merebut bantal Bella, dan memilih untuk berbantal lengannya sendiri yang cukup berotot meski tubuhnya terkesan kurus karena tinggi badannya.
Dalam diamnya itu, Ia teringat sang ayah disana. Penasaran akan bagaimana kabarnya, dan sedang apa Ia sekarang. Tak terasa sudah hampir setengah tahun Ia diasingkan tanpa adanya embel-embel nama Respati dibelakang namanya.
Terkadang nyaman seperti ini, merasa hidupnya bebas tanpa tekanan dan tuntutan apapun, karena semua berjalan atas maunya sendiri. Tapi Ia tahu, suatu hari Ia harus siap kembali dan menjalankan semua bisnis sang ayah. Karena biar bagaimanapun, Ia adalah anak semata wayang dari Ayahnya itu. Dan yang pasti, kekuasaan akan beralih ketangannya cepat atau lambat.
"Hanya menunggu waktu. Ya... Aku masih nyaman disini bersamanya." gumam Leo, dan saat itu tatapan matanya kembali tertuju pada Bella yang masih terlelap disana.