"Sa.. Uapan Geo terhenti saat mendengar pekikan dan jeritan Renata, tanpa berpikir panjang Geo langsung berlari terburu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaniH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bibirmu seperti kuda nil
Selepas dari ruang Dokter, Geo berjalan kecil menyusiri tiap lorong kamar pasien, kenangan pahit yang dialami Geo kembali menghidup saat tanpa sengaja melewati ruang UGD tempat Renata menghembuskan nafas terakhirnya.
Dalam ruangan itu semua terlihat jelas di otak Geo, kepanikan, kerisauan, ketakutan, tangis kesedihan, tangis kehilangan dan tidak rela Renata menutup usianya.
Saat menaratapi pintu yang kembali tergambar kejadian didalam sana, lagi lagi terngiang permintaan Renata. "Menikahlah ! Jaga dia dengan baik dia akan menggantikanku." Akan suara itu tanpa terasa air mata meleleh menyusuri pipi, Geo segera mengusap air matanya saat ada seorang Dokter keluar dari dalam ruangan itu, beberapa saat kemudian geo melangkah pergi keluar dari rumah sakit, dengan perasaan hancur.
Saat ini Geo tengah duduk menyendiri disisi pantai, bercerita langsung dengan ombak laut, menceritakan semua cerita hidupnya bersama Renata yang berakhir dengan kejadian yang menyakitkan, air mata geo kembali tertumpah saat terkenang kembali wajah perempuan berparas cantik yang selalu tersenyum manja padanya.
Renaaaaaa.. Teriak Geo yangdiiringi tangis.
Geo menangis sesenggukan, telah banyak cerita yang ia rangkai besama Renata, dia yang cantik, manja dan kadang susah di tebak maunya, tetapi hal itu tak pernah membuat Geo marah, sikap manja yang di tunjukkan Renata kerap membuat Geo ingin terus bersamanya setiap waktu, semua cerita indah tidak bisa pergi dengan mudah dari otak Geo.
.....
Malam harinya Sheny bersana Ashraf pergi untuk mengantar Anara kerumah Geo.
Saat itu keadaan didalam rumah masih sangat sepi, lampu lampu dibiarkan padam, tak lama setelah Sheny memencet bel seorang asisten rumah tangga datang tergopoh gopoh mengmbukakan pintu dengan penuh hormat.
Mereka pun masuk begitu juga dengan Anara.
Saat Anara menginjakakn kaki dirumah mewah itu Anara tak henti dibuat kagum oleh rumah megah yang ruang tamunya saja lebih luas dari rumah yang biasa Anara tempati, Anara benar benar tampak terkagum dibuatnya, lampu lampu kristal tergantung, kursi empuk, barang barang antik tersusun rapih didalam rak yang terlihat begitu mahal, saking mahalnya walau Anara berusaha mengumpulkan seumur hidup gajih jerih payahnya, Anara tidak akan sanggup untuk membelinya.
"Mbok, mana Geo apa dia sudah pulang.?" Tanya Sheny, menaruh barang bawaan kemudian menuntun Anara untuk duduk.
"Den Geo belum datang nyonya," Jawab asisten yang sudah lumayan tua itu, dia bernama Mbok Monah.
"Kemana dia ?" Selidik Ashraf, menatap Monah dan Sheny bergantian, Ashraf juga menatap Anara dengan tidak enak.
"Saya tidak tau Tuan." Jawab Mbok Monah.
Dengan masih bertanya tanya kemana perginya Geo mereka berempat sama sama dikejutkan dengan suara botol yang pecah dari luar rumah, mereka bertiga terpengarah menatap kearah pintu, disana ditempat Geo berjalan terhuyung setengah tidak sadar karena mabuk berat.
"Rena. Renaaaa." Desis Geo berulang ulang.
"Renata jangan pergi sayang ! Jangan pergi ! Aku disini, aku disini selalu menunggumu pulang, rena jangan pergi lagi, jangan pergi lagi, Rena besok kita akan menikah, menikah, menikah, setelah itu kita hidup bersama memiliki anak dan membesarkan anaka anak kita dengan segenap jiwa raga kita. Rena sayang rena sayang rena, rena Renataaaa.Haha Rena dimana kamu.?" Teriak Geo yang diselangi tawa kecil.
"Geo !" Bentak Ashraf, Ashraf tampak geram dengan kelakukan tak pantas anak semata wayangnya.
"Ada yang memanggil.?" Ucap Geo sambil menoleh kesana kemari, dengan kondisi teler matanya terbuka dan mengatup tak beraturan, Geo juga tak bisa melihat jelas pada Ashraf yang tengah berdiri dihadapannya, saat Ashraf memanggil Geo malah berbalik kebelakang saking tidak sadarnya.
"Tidak ada siapa siapa," Ucapnya datar yang sedetik kemudian ia tertawa terbahak bahak seolah ada yang lucu tengah dialaminya
"Geo !" Teriak Ashraf, lagi.
Geo pun berulang-ualng mengucek ucek matanya yang kabur menyelidik menatapi wajah Ashraf solah Ashraf orang baru yang tidak pernah ia temukan sebelumnya, Geo berulang ulang menepuk nepuk wajah Ashraf sambil tertawa ngakak.
"Tunggu ! Didunia ini masih ada orang berwajah seperti ini.? Sangat aneh." Ucapan memelan sambil terus tertawa geli, mencubit cubit wajah Ashraf dengan geli.
"Hidung." Geo memencet hidung mancung Ashraf. "Mata." Geo hampir menusuk mata Ashraf dengan telunjuknya tapi dengan cepat Ashraf menepisnya. "Bibir? Kenapa bibirnya lebih lebar dari yang aku punya.?" Ucap Geo setelah menyentuh bibir Ashraf Geo menyentuh bibirnya dan lagi lagi ia tertawa ngakak. "Bibir mu kayak bibir kuda nil" Geo menarik kedua surut bibir dengan jarinya sehingga melebar kesamping, mmmblleeeee...
"Siapa kau.?" Tanya Geo dengan nada tak sopan.
"Aku ayah mu Geo." Erang Ashraf.
"Haha masa? Ayah ku seperti ini? Eh pak tua mau dengar cerita aku nggak?" Ucap Geo ia yang mabuk parah pun teduduk lemah diatas lantai
. Geo melambai lambaikan tangannya kepada Ashrap, "Sini sini," geo menepuk nepuk lantai tak jauh dari tempatnya duduk, meski dibuat geram anehnya Ashraf tetap nurut, dia berjongkok disamping geo "Pak tua dengar ! Didekatku ada pembunuh, pembunuh yang mengerikan," Ucap Geo membisikkan kata katanya ditelinga Ashraf, lagi dan lagi ucapan itu diakhiri dengan tawa kecil yang membuat orang orang disekeliling Geo menggeleng jengkel.
"Pak tua, kamu tau ? Aku baru saja menikahi pembunuh, mereka itu bodoh mereka gelap mata, aku heran sama mereka. Mereka sekolah tapi bisa bisanya mereka memasukan pembunuh dikehidupanku, bodoh bukan?"
Mendengar sebutan itu terucap dari bibir Geo Anara hanya bisa menunduk lemah, Anara tak bisa memungkiri kalimat itu memang tertuju pada dirinya. "BIsa bisanya mereka membiarkan aku hidup berdampingan dengan pembunuh, dasar bodoh, bodoh, bodoh orang orang bodoh." Di akhir Geo berteriak kencang membuat Ashraf geram.
PLAKKKK.. Ashraf melayangkan satu pukulannya dipipi Geo, Ashraf sudah sangat geram kepada Geo dan tak bisa mengendalikan tangannya.
Anara Mbok Monah dan Sheny, menganga terkejut dengan tindakan Ashraf, tetapi tidak ada yang berani menahan Ashraf.
"Uuuhhhh." Geo mengusap bekas tamparan Ashraf. "Apa nyamuknya besar,? Kenapa kau memukul pipiku dengan sangat keras, pak tua." Ucap Geo sambil menggaruk garuk pipinya yang dipukul Ashraf.
"Pak tua ? Boleh ambilkan minum !? Aku haus." titahnya.
"Pergi ambil sendiri !" Bentak Ashraf.
"Tidak usah berteriak aku tidak tuli." Balas Geo sama berteriak yang sontak membuat amarah Ashraf kembali meradang, Ashraf hampir melayangkan kembali tangan kanannya dipipi Geo tapi Anara mencegahnya.
"Ayah jangan !" teriak Anara, Anara berlari melindungi Geo dari pukulan penuh amarah Ashraf.
"Awas Anara, anak ini sangat kurang ajar. Geo! sejak kapan kau menjadi pemabuk ?" berang Ashraf.
"Isshhh, apaan sih." Geo mendorong tubuh Anara yang tengah mendekap kepala Geo melindunginya dari pukulan Ashraf.
Setelah Anara terdorong kebelakang, Geo menatapi wajah Anara penuh selidik, dari ujung rambut sampai ujung kepala semuanya tak lepas dari perhatian Geo.