NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Menjaga Jarak

Air mataku jatuh sebelum sempat kuusap.

Om Bram mengulurkan tangan. “Sekar, masuk mobil dulu.”

Aku menghindar.

“Jangan sentuh aku.”

Rasa sakit melintas di wajahnya, tetapi saat itu aku terlalu malu untuk peduli. Orang-orang masih melihat. Dinda mencoba menahan lenganku.

“Kar, ikut saya masuk kampus.”

“Aku mau pulang sendiri.”

Aku berjalan cepat ke tepi jalan dan memesan ojol dengan tangan gemetar. Om Bram memanggil namaku sekali. Aku tidak menoleh.

Pengemudi datang dua menit kemudian. Aku mengenakan helm dan naik sebelum dia sempat menanyakan tujuan ulang. Begitu motor bergerak, angin memukul wajahku. Air mata terus mengalir di balik kaca helm.

Ponselku bergetar.

`Om Bram: Kirim lokasi. Om hanya mau memastikan kamu sampai.`

Aku mematikan layar.

Pesan kedua masuk.

`Kita perlu bicara setelah kamu tenang.`

Aku tidak ingin tenang. Kalau tenang, aku harus mengingat caranya membeku saat kucium dan suara tegasnya ketika menyebut dirinya ayah angkatku.

Sesampainya di Puri Cendana, aku langsung naik ke kamar. Mbok Nah memanggil dari dapur, tetapi aku hanya berkata kepalaku sakit. Aku mengunci pintu, melempar tas, lalu duduk di lantai.

Malam itu Om Bram mengetuk dua kali.

“Sekar, buka pintunya.”

Aku menutup mulut dengan bantal.

“Saya tidak akan masuk. Saya cuma ingin tahu kamu aman.”

“Aku aman.”

“Boleh kita bicara?”

“Nggak ada yang perlu dibicarakan. Om sudah jawab.”

Keheningan berlangsung lama.

“Baik,” katanya akhirnya. “Istirahat.”

Langkahnya menjauh.

Selama tiga hari berikutnya, kami hampir tidak bertemu. Om Bram berangkat sebelum aku sarapan dan pulang setelah pintu kamarku tertutup. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar sibuk atau sengaja menghindar.

Pada hari keempat, Mbok Nah masuk sambil membawa beberapa kardus.

“Den Bram bilang Non Sekar sebaiknya tinggal dekat kampus dulu.”

Aku berhenti melipat pakaian yang baru kuambil dari jemuran. “Dia menyuruh aku pergi?”

“Bukan begitu, Non. Katanya biar lebih fokus kuliah dan belajar mandiri.”

“Kenapa dia nggak bilang sendiri?”

Mbok Nah tidak bisa menjawab.

Deni datang sore hari membawa alamat sebuah kos perempuan di Salemba. “Keamanannya bagus, dekat halte, dan pemiliknya tinggal di lantai bawah.”

“Om Bram yang pilih?”

“Pak Bram meminta saya mencari tempat yang nyaman.”

“Dia ikut mengantar?”

Deni menunduk pada map di tangannya. “Pak Bram ada rapat.”

Aku mengangguk seolah tidak terluka. “Kapan aku pindah?”

“Besok, kalau Non setuju.”

Apa bedanya setuju atau tidak jika dia tidak lagi menginginkanku di rumah?

Aku mengemasi pakaian malam itu. Piano tetap di ruang keluarga. Buku-buku masa SMA, kartu ucapan Om Gun, dan ponsel putih pertamaku masuk ke kardus. Ketika menemukan saputangan lama yang pernah dipakai untuk menahan darah di kakiku, aku menangis lagi.

Pagi berikutnya, pintu ruang kerja Om Bram tertutup. Aku menunggu lima menit di lorong, berharap dia keluar. Tidak ada suara.

“Aku pergi,” kataku cukup keras.

Tidak ada jawaban.

Deni membawa kardus ke mobil. Mbok Nah memelukku lama dan menyelipkan tiga kotak makanan.

“Pulang akhir pekan, Non.”

Aku tidak sanggup menjanjikan.

Kos baruku jauh lebih nyaman daripada bayanganku. Kamarnya memiliki kamar mandi dalam, meja belajar, lemari, kulkas kecil, pemurni air, dan kunci tambahan. Seprai baru berwarna kesukaanku. Kotak obat berisi merek yang biasa kupakai, bahkan ada kompres hangat di laci.

“Pak Bram memberi daftar kebutuhan,” kata Deni ketika melihatku memeriksa kamar.

“Dia perhatian sekali untuk orang yang ingin menjauh.”

Deni tampak hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan. “Kalau ada masalah dengan tempat ini, telepon saya.”

Setelah dia pergi, kamar tersebut terasa terlalu rapi dan terlalu sunyi.

Dinda datang membawa dua gelas teh dan sebungkus gorengan. Begitu melihat kardus, dia langsung memelukku.

“Jadi dia benar-benar menyuruh kamu pindah?”

Aku menceritakan semuanya. Senyumnya di gerbang. Pengakuanku. Ciuman yang tidak dia balas. Tegurannya tentang batas. Penolakan yang didengar semua orang. Saat sampai pada kalimat `Om ayah angkatmu`, suaraku patah.

“Aku tahu aku salah mencium tanpa menunggu,” kataku di antara tangis. “Tapi apa perasaanku juga salah?”

“Perasaan nggak salah. Tindakan bisa salah.” Dinda mengusap punggungku. “Dan jawaban dia juga boleh tidak seperti yang kamu mau.”

“Berarti aku harus berhenti?”

Dinda menghela napas. “Mungkin dia juga punya rasa tapi takut. Mungkin dia benar-benar hanya melihatmu sebagai anak. Kita nggak bisa tahu kalau dia tidak bicara jujur.”

“Dia sudah bicara.”

“Dia memberi alasan. Belum tentu mengaku semua perasaannya.”

Harapan kecil yang seharusnya mati justru bergerak lagi.

“Tapi kalau kamu terus mengejar orang yang terus menolak,” lanjut Dinda, “kamu juga akan hancur. Mungkin kamu perlu mencoba move on.”

Aku menatap kardus yang belum dibuka.

“Aku bahkan nggak tahu caranya.”

Dinda membantu membuka satu kardus. Di dalamnya ada buku kuliah yang sudah disusun berdasarkan mata pelajaran, dua bungkus camilan kesukaanku, dan amplop berisi salinan kontrak kos atas namaku. Semua biaya dibayar enam bulan di muka, tetapi ada catatan bahwa aku boleh pindah jika tidak nyaman.

“Orang yang mau membuang kamu biasanya nggak memikirkan jenis kunci kamar,” kata Dinda.

“Mungkin dia cuma merasa bertanggung jawab.”

“Mungkin. Tapi tanggung jawab juga bentuk kepedulian.”

Aku menutup kardus. “Itu yang paling sakit. Dia tetap peduli, tapi tidak mau aku dekat.”

Ponselku menyala oleh pesan dari Mbok Nah yang menanyakan apakah aku sudah makan. Tidak ada pesan baru dari Om Bram setelah malam pertama. Ketidakhadirannya terasa lebih keras daripada penolakan di gerbang.

“Kalau dia butuh jarak, kasih jarak,” kata Dinda. “Bukan sebagai hukuman. Supaya kalian berhenti saling melukai.”

“Kalau selama jarak itu dia lega karena aku pergi?”

“Kalau begitu kamu akan tahu hidupmu tidak boleh menunggu dia.”

Aku tahu nasihat itu sehat. Tetap saja, membayangkan Puri Cendana berjalan seperti biasa tanpa aku membuat isi dada terasa kosong.

Ponselku tiba-tiba bergetar di atas meja. Dinda mengambilnya lebih dulu, lalu wajahnya berubah.

“Kar...”

Notifikasi baru muncul bertumpuk. Nama akun yang tidak kukenal menandai profilku, disusul pesan dari teman sekelas dan nomor asing. Dinda mencoba mematikan data seluler, tetapi satu video sudah terbuka otomatis.

Suara pengakuanku memenuhi kamar kos yang baru. Mendengarnya dari luar tubuhku sendiri terasa lebih memalukan daripada saat mengucapkannya. Tanganku meraih ponsel, tetapi Dinda menahannya sebentar.

“Jangan baca komentar.”

Aku mengambilnya juga. “Mereka sudah melihat hidupku. Aku perlu tahu apa yang mereka lihat.”

Sebuah akun gosip kampus mengunggah video dari gerbang. Potongannya dimulai tepat ketika aku berkata, `Aku suka Om sebagai laki-laki`, lalu berakhir pada ciuman singkat kami.

Judulnya memenuhi layar.

`Mahasiswi nembak ayah angkat sendiri di depan kampus.`

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!