Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Apakah Tuhan itu benar-benar ada?"
Proses audit forensik siber yang berlangsung sepanjang pagi di lantai atas Al-Maktoum Group berakhir dengan ketegangan yang menggantung. Devan Sastro berdiri di tengah ruang kerja CEO dengan raut wajah memerah, mempertahankan argumentasinya di hadapan Shanum dan tim pemeriksa internal.
"Saya tegaskan sekali lagi, Shanum, saya tidak pernah menjual dokumen itu ke pihak Surya Wijaya!" tegah Devan dengan nada terluka yang amat meyakinkan. "Laptop kerja saya disusupi malware saat saya tersambung dengan Wi-Fi publik bandara kemarin lusa. Saya memang lalai karena tidak menyalakan VPN tambahan, tapi menuduh saya berkomplot dengan musuh adalah fitnah yang membunuh karakter saya!"
Hasil penelusuran tim teknis memang tidak menemukan jejak transaksi keuangan atau komunikasi langsung antara Devan dan pihak lawan. Secara hukum korporat, Devan lolos dari tuduhan pengkhianatan utama dan hanya dikenai sanksi administratif berupa penundaan wewenang akses server.
Shanum menghela napas panjang, memijat pelipisnya seraya menandatangani berkas sanksi tersebut. "Baik. Kamu bisa kembali ke ruanganmu, Devan. Tapi seluruh akses server cadanganmu dibekukan sampai persidangan tender Senayan selesai."
Devan mengangguk kaku, melempar tatapan dingin nan tajam ke arah Aran yang berdiri bisu di sudut ruangan, lalu melangkah keluar.
Di jarak dua meter di belakang meja kerja Shanum, Aran berdiri tegap dengan kedua tangan terlipat rapi di belakang pinggang. Pandangan matanya yang kelam menatap pintu yang baru saja tertutup rapat. Bagi seorang mantan operator Viper, ketiadaan bukti digital bukanlah bukti ketidak bersalahan. Kedipan mata yang terdistorsi dan jejak tremor di jemari Devan kemarin sore adalah indikator biologis yang tidak bisa dibohongi oleh alibi teknis mana pun. Devan hanya sangat rapi menyembunyikan jejaknya.
Setelah tim auditor meninggalkan ruangan, suasana di ruang CEO mendadak hening. Shanum bersandar di kursi kebesarannya, mencuri pandang ke arah Aran. Rasa canggung yang luar biasa kembali menyergap dadanya. Bagaimanapun juga, jika bukan karena intervensi dingin Aran pagi tadi, data tender Senayan sudah musnah.
Guna menutupi rasa malu dan gengsinya yang setinggi langit, Shanum berdehem keras seraya mengetuk-ngetuk meja.
"Aran," panggil Shanum kaku, berusaha meniru intonasi atasan yang berwibawa.
"Saya, Mbak Shanum?" sahut Aran pelan, suaranya teratur dan amat santun.
Shanum menggeser sebuah map kulit berwarna hitam ke tepi meja. "Sebagai bentuk... kompensasi dan apresiasi atas tindakanmu menyelamatkan data perusahaan pagi tadi, saya sudah menyetujui penyesuaian fasilitas untukmu. Gajimu dinaikkan dua kali lipat mulai bulan ini. Selain itu, kamu dipindahkan dari mess karyawan biasa ke unit apartemen eksekutif di seberang gedung, lengkap dengan kunci mobil operasional sedan hitam ini."
Shanum menatap Aran dengan dagu terangkat, menunggu reaksi kagum atau ucapan terima kasih dari asisten barunya.
Namun, Aran hanya melirik map hitam itu sekilas, lalu kembali menatap Shanum dengan wajah netral tanpa riak emosi sedikit pun.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Mbak Shanum," tutur Aran dengan bahasa yang sangat rapi dan sopan. "Saya harus menolak seluruh penyesuaian fasilitas tersebut."
Alis Shanum bertaut seketika. "Menolak? Kamu sadar apa yang baru saja kamu tolak, Aran? Itu apartemen kelas atas dan fasilitas yang bahkan manajer senior di sini harus bekerja lima tahun untuk mendapatkannya!"
"Sangat sadar, Mbak Shanum," jawab Aran santai. "Secara taktis, tinggal di apartemen eksekutif di seberang jalan justru menciptakan jeda respons selama empat menit jika ada ancaman malam hari di area kediaman Anda. Sedangkan kendaraan sedan mewah itu memiliki sudut pilar belakang yang terlalu tebal, mengurangi jarak pandang saya saat memindai potensi penyergapan lalu lintas."
Shanum membelalakkan mata. Kekeras kepalaannya yang legendaris di dunia bisnis mulai tersulut. Ia paling tidak suka jika niat baiknya dibantah, terlebih oleh pria yang statusnya adalah bawahannya sendiri.
"Aran! Ini bukan soal taktis atau pilar mobil!" sembur Shanum kaku, suaranya agak melengking karena jengkel. "Saya sedang berusaha membayar kebaikanmu! Saya tidak mau punya utang budi pada siapa pun, apalagi pada asisten pribadi saya sendiri!"
Aran menatap Shanum. Di balik wajah dingin dan kesantunannya yang terjaga, ada sedikit rasa jengkel yang menyelinap halus di benak Aran melihat betapa keras kepalanya wanita di hadapannya ini. Shanum selalu berusaha menyelesaikan segala hal dengan uang dan kekuasaan, tanpa mau memahami logika keselamatan yang sedang Aran bangun.
"Mbak Shanum," panggil Aran dengan intonasi rendah yang begitu sejuk namun tegas. "Tugas saya di sini dibayar oleh Pak Rasyid untuk memastikan Anda tetap hidup dan perusahaan ini tidak hancur. Penyelamatan data tadi pagi adalah bagian dari standar kerja saya, bukan transaksi utang piutang."
"Tapi saya pimpinan di sini!" potong Shanum kaku, mukanya memerah padam. "Kalau saya bilang kamu harus menerima fasilitas ini, kamu wajib menurut!"
"Poin Ketiga dalam perjanjian kita menyatakan bahwa saya berhak memberi masukan taktis jika keputusan Anda membahayakan keselamatan," balas Aran santai tanpa mengubah posisi berdirinya. "Dan pindah ke apartemen seberang jalan adalah keputusan yang kurang cerdas secara keamanan."
"Kamu... kamu baru saja menyebut keputusan CEO-mu kurang cerdas?!" Shanum melotot, memegang pulpennya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Pertengkaran sepele itu membuat napas Shanum memburu, antara kesal setengah mati dan gengsi yang terpukul.
Aran menyunggingkan senyum tipis yang teramat bersahaja. "Saya menyebut parameternya, Mbak Shanum, bukan pimpinannya."
Shanum menarik napas panjang, menahan diri agar tidak melempar penghapus papan tulis ke arah pria kekar yang berdiri dua meter di depannya itu. Karena tahu ia tidak akan menang melawan logika dingin Aran, Shanum segera menarik selembar kertas Perjanjian Khusus PA yang dibuat mereka kemarin.
Dengan gerakan tangan yang kasar dan berapi-api, Shanum menuliskan sebaris kalimat baru di bagian bawah.
"Poin Keempat!" seru Shanum seraya membanting pulpennya ke meja. "Aran wajib menerima makan siang dari dapur eksekutif kantor setiap hari dan dilarang menolak bentuk makanan, minuman, atau kebaikan kecil apa pun dari atasannya! Ini perintah mutlak!"
Aran melihat kertas itu, lalu menatap Shanum yang sedang bersedekap dada dengan napas memburu dan bibir cemberut kaku. Aran menggelengkan kepalanya pelan, merasa sedikit terhibur oleh tingkah kekanak-kanakan atasannya yang selalu membungkus rasa peduli dengan kemarahan.
"Baik, Mbak Shanum. Poin Keempat dicatat dan disetujui," sahut Aran seraya mengangguk tegap dan santun.
Malam harinya, pendar cahaya kota Jakarta memantul di kaca jendela kantor yang mulai sepi. Shanum masih sibuk meneliti dokumen fisik tender di mejanya, sementara Aran berdiri tenang mengawasi koridor luar yang gelap.
Shanum mengusap lehernya yang pegal. Ia melirik Aran yang tampak tidak pernah lelah sedikit pun. Keanehan sosok Aran—seorang pria bertubuh penuh luka yang menguasai analisis perang siber, bertindak seperti tentara terlatih, namun selalu bersikap sangat sopan—kembali memicu rasa penasaran di kepala Shanum.
"Aran," panggil Shanum pelan, memecah keheningan malam.
"Ya, Mbak Shanum?" Aran membalikkan badan, berdiri tegap di jarak dua meter.
Shanum menopang dagunya dengan kedua tangan. "Waktu kamu terdampar di sungai pesantren... kamu sebenarnya sedang lari dari siapa? Kenapa hidupmu penuh dengan kekerasan dan senjata?"
Aran diam sejenak. Matanya yang kelam menatap ke luar jendela, memandangi kerlip lampu jalanan yang jauh di bawah sana.
"Saya hidup di dunia di mana peluru lebih cepat bicara daripada kata-kata, Mbak Shanum," jawab Aran pelan, suara beratnya terdengar begitu tenang namun menyimpan kedalaman yang kelam. "Di tempat asal saya, tidak ada ruang untuk rasa percaya."
Shanum menatap wajah tirus Aran yang diterpa cahaya remang. Tiba-tiba, Aran memutar pandangannya kembali ke arah Shanum. Wajahnya tetap netral, namun ada binar rasa ingin tahu yang jarang sekali terlihat di mata pria dingin itu.
"Mbak Shanum..." ujar Aran santai, intonasinya begitu sopan. "Boleh saya bertanya satu hal pribadi?"
Shanum mengernyitkan alisnya heran. "Bertanya apa?"
"Saat di pesantren kemarin..." Aran jeda sejenak, merangkai kata-katanya dengan sangat teratur. "Saya memperhatikan orang-orang di sana bersujud dan berbicara pada sesuatu yang tidak terlihat. Kyai Syahuri dan Ning Layla... mereka menyebutnya Tuhan."
Shanum terpaku. Ia tidak menyangka pertanyaan itu yang akan keluar dari mulut seorang mantan pengawal berdarah dingin.
"Iya," jawab Shanum perlahan. "Kami mempercayai Allah. Kenapa?"
"Apakah Tuhan itu benar-benar ada?" tanya Aran polos tanpa nada menyindir, murni seperti anak kecil yang baru mengenal dunia. "Maksud saya... Ning Layla mengobati luka tembak di dada saya tanpa rasa takut sedikit pun, lalu tersenyum dan berdoa. Bagaimana seseorang bisa memiliki ketenangan seluar biasa itu hanya karena mempercayai sesuatu yang tidak bisa disentuh oleh tangan atau dilihat oleh mata?"
Shanum mematung di kursinya. Pandangan Aran yang begitu jujur dan rasa penasarannya yang tersirat terhadap ketenangan Ning Layla membuat Shanum kehilangan kata-kata untuk sejenak.
Aran yang menyadari keheningan itu segera membungkukkan badannya dengan tegap dan santun.
"Mohon maaf jika pertanyaan saya melampaui batas kewenangan asisten, Mbak Shanum," kata Aran tenang. "Hari sudah malam. Mobil sudah siap di dasar gedung. Mari saya antar Anda pulang."
Shanum hanya bisa mengangguk kaku, memperhatikan punggung tegap Aran yang melangkah mendahuluinya sejauh dua meter—meninggalkan pertanyaan filosofis yang menggantung hangat di dalam ruangan ber-AC dingin itu.
saling support sabi kali thor🤭