NovelToon NovelToon
Jogja Pada Suatu Masa

Jogja Pada Suatu Masa

Status: tamat
Genre:Petualangan / Cinta Seiring Waktu / Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Jogja jadi pilihan Seti setelah kelulusan SMAnya bersama Joe, dan Asri. Hening memilih Jakarta. Lalu Bening dan Joko menikah. Sementara Seto masih dengan pelayarannya. Terlintas persinggungan cerita-cerita hidup yang melintas dan membekas di benak Seti. Seperti roda pedati. Waktu terus berputar, dan Seti masih dengan kedekatan Joe, Asri, dan Hening. Bersama mereka cerita itu terus mengalir...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Perempuan Mantrijeron

Asri sama sekali tak menyangka Sigit menemuinya lagi di kampus, setelah kedatangannya di kost Mantrijeron beberapa waktu yang lalu.

Duduk di balkon depan kampus menunggu jam kuliah berikutnya, Asri tak bisa menghindar saat Sigit menghampirinya bersama beberapa teman lelakinya.

Dari dandanan dan model kalung emas mereka, menunjukkan semuanya dari keluarga berpunya.

Sigit memisahkan dari rombongannya, berjalan mendekati duduk Asri.

"Selamat pagi sayang," suara Sigit seperti biasa genit menggoda Asri.

"Pagi mas." Basa basi Asri menjawab sebisanya.

Perasaan hatinya tak menentu. Meninggalkan Sigit begitu saja tak enak, karena banyak yang sedang memperhatikan keduanya.

Jabatan ketua senat, menjadikan Sigit dikenal setiap orang di kampus itu.

Bapak Sigit pengusaha kerajinan perak terbesar di Kotagede.

Tentu saja dengan segala fasilitas yang ada, mudah saja bagi Sigit mendapatkan apa saja yang dimaui-nya terutama perempuan di kampusnya.

Sejak melihat Asri yang sangat menggoda kelelakiannya saat Ospek, membuat Sigit sangat berhasrat untuk menarik Asri ke dalam pelukannya.

Kemarahan Sigit saat Asri menolak ajakannya di kost Mantrijeron malah membuat Sigit semakin bertekad mendapatkan Asri .... Tak peduli bagaimanapun caranya.

"Kuliah jam berapa ?" tanya Sigit merasa ditanggapi Asri.

Matanya mulai jelalatan saat memandang Asri.

"Sebentar lagi."

Semakin risih, Asri berusaha menghindari tatapan Sigit.

"Ke kantin dulu yuk, sambil menunggu kuliah."

"Terimakasih mas. Aku mau ke Perpus," jawab Asri.

"Kebetulan aku juga mau ke sana. Yuk sama-sama ke sana."

Beranjak berdiri, Asri gagal berusaha mencari alasan untuk meninggalkan Sigit yang terus menguntitnya, dan membiarkan mengikutinya ke arah Perpustakaan.

Bau parfum Sigit yang menyengat membuat setiap jengkal langkah Asri ke arah perpustakaan terasa berat dan memualkan di sela siulan teman Sigit yang terdengar riuh di belakang keduanya.        

***

Basa basi di Perpustakaan tadi sangat menyiksa Asri.

Alih-alih membaca buku .... Sigit malah terus-terusan merayunya. Menawarkan mengantar pulang ke kost setelah kuliah nanti.

Untungnya jam kuliah Asri tiba. Meninggalkan Sigit yang terus mengikutinya dari perpustakaan sampai depan kelas.

Tawaran Sigit lagi-lagi ditolak secara halus oleh Asri.

Ada raut kemarahan di muka Sigit .... Baru kali ini ada perempuan yang berkali-kali menolak mentah-mentah ajakannya.

Asri tak mempedulikan tatapan kemarahan mata Sigit. Memasuki ruang kelas sangat melegakan hatinya.       

***

Selesai kuliah dan bergegas pulang ke kost Mantrijeron, Asri bergegas menemui mbak Yem yang sedang memasak di dapur.

"Masak apa mbak ?"

"Weh cah ayu rupanya .... Masak sop ayam buat makan siang kalian."

Mbak Yem menengok ke arah suara sapaan itu.

Asri sering membantu memasak perempuan gemuk itu jika kebetulan selesai kuliah dilihatnya mbak Yem masih berkutat di meja dapur.

Sering membantu ibu di dapur membuat Asri senang menghabiskan waktu luangnya untuk memasak.

Berkenalan dengan mbak Yem yang lucu dan periang membuat Asri cepat akrab dan tak segan membantunya memasak.

Mbak Yem janda beranak satu. Suaminya kabur dengan wanita lain ke Surabaya.

Lalu dia bekerja di kost Mantrijeron setelah suaminya tak jelas lagi keberadaannya.

Bersama Sri, anak perempuannya yang berumur enam tahun, dia menempati kamar dekat pintu utama.

Selain memasak untuk anak kost yang makan di dalam, mbak Yem ditugaskan mengawasi kost putri Mantrijeron yang masih milik kerabatnya di Solo.

Dari sepuluh kamar kost yang sekarang terisi penuh, enam penghuninya memilih makan di dalam termasuk Asri.

Semuanya kuliah di kampus yang sama dengan Asri, sehingga hampir semuanya tahu tentang Sigit di kampus.

"Kalau malam-malam ada laki-laki yang cari aku selain Seti atau Joe jawab saja aku sedang keluar mbak," kata Asri yang sudah ikut sibuk di dapur. Jari lentiknya lincah mengiris daun kol.

"Memang siapa saja yang cari kamu dek ?" tanya mbak Yem.

"Ada yang lagi maksa aku mbak. Bikin malas saja."

"Laki-laki memang begitu dek. Maksa ... Kalau dah dapat cari lagi ... Kudu dipotong burung-nya." Geram perempuan gemuk itu.

Asri terbahak mendengar kata-kata mbak Yem.

"Emang mbak berani potong burung, ... hihihi ...." Asri menanggapi gerutuan perempuan itu.

Keduanya lalu terbahak bersama, dan berlanjut saling bercerita tentang laki-laki.

Tentu saja dengan versi kedewasaan perempuan masing-masing.                

***

Lega melepaskan uneg-unegnya  ke  mbak  Yem, Asri masuk ke kamarnya setelah urusan memasak di dapur kelar.

Mengeluarkan diary .... Seperti kebiasaannya sejak SD, ujung penanya mulai menuliskan ceritanya hari ini.

Cerita tentang kekesalan-nya kepada Sigit dan kelucuan mbak Yem tentang persoalan laki-laki.

Cerita minggu lalu saat bersama Seti juga dibacanya lagi.

Tentang keinginan untuk selalu bersama Seti yang diucapkan dalam hatinya saat melewati Kyai dan Nyai Daru .... Berharap seperti kata Seti, akan dikabulkan Sang Waktu.

Jika saja Sabtu besok Seti datang lagi, hati kecil Asri berharap Seti-lah yang akan mengajaknya ke luar menikmati lorong-lorong Jogja. 

Sayangnya Seti mengatakan akan ke rumah teman kost-nya di Gunung Kidul.

Setelah dari sana, barulah di Sabtu lain laki-laki pemanah hatinya itu berjanji singgah lagi ke kost Mantrijeron.

***

Senyum Sri bocah perempuan lucu anak mbak Yem mengembang saat Asri membuka pintu kamarnya.

"Makan dulu mbak."

Seperti biasa bocah itu keliling kamar kost jika makan siang atau malam sudah siap.

Rambut Sri dikucir ke atas. Giginya gupis kebanyakan makan permen. Pipinya bulat dengan kulit putih. Menggemaskan siapa saja yang kost di situ.

Kadang Sri jadi rebutan anak kost Mantrijeron menjelang malam. Berebut mengajaknya tidur di kamar kost masing-masing. Kebanyakan Sri akan memilih tidur dengan Asri jika suasana hatinya sedang riang. 

Asri senang jika Sri menemaninya tidur.

Anteng dengan mata bulatnya yang selalu ingin tahu arti kosa kata yang sedang belajar dibaca dari majalah Bobo. Majalah yang sama di masa kecil Asri.

Mendengarkan Asri membacakan cerita Bobo, Coreng, dan Upik membuat Sri betah berlama-lama di kamar Asri.

Bagusnya mbak Yem tegas kepada Sri.

Jika dilihatnya anak kost sedang sibuk dengan tugas kampusnya, Sri dilarangnya mengganggu mereka.

"Kamu sudah makan Sri ?" tanya Asri yang mengikuti langkah kecil Sri di depannya.

"Sudah mbak ... pake sop ceker."

***

Gemelenting suara sendok dan garpu terdengar di ruang makan saat Asri masuk.

Dilihatnya Tyas dan Linda seniornya di kampus yang sama-sama kost di situ sudah mendahuluinya makan.

Kamar Tyas ada di depan kamar Asri.

Anaknya cantik, tomboy dan periang. Aslinya dari Klaten. Hobinya naik gunung.

Linda dari Cirebon. Putih cantik, cerewet dan hobi membaca. Tak heran banyak teman laki-lakinya yang datang berganti-ganti ke kost Mantrijeron. 

Asri belum tahu apakah kedua seniornya itu sudah punya kekasih atau belum.

Masih ada rasa sungkan menanyakan hal yang lebih pribadi kepada mereka.

"Makan As, ... " Linda menyapa Asri yang sedang mengambil piring.

"Nih lagi ambil piring," jawab Asri yang lalu mengambil nasi dan duduk menyebelahi Linda.

"Enak sopmu As. Kata mbak Yem kamu yang memasaknya." Tyas menyela.

"Ah cuma bantu potong kentang sama daun kol saja," jawab Asri sambil menuangkan sop panas ke piringnya. 

"Gabung ke Mapala ya As. Biar di gunung ada yang masak,... hihihi ...." celetuk Tyas.

"Ngapain As,... masak kok harus repot-repot ke gunung. Kurang kerjaan saja .... Hahaha ...." Sahut Linda, "Eh tapi bener kata Tyas. Sop bikinanmu enak." Linda ikutan memuji masakan Asri.

Meja makan itu lalu ramai dengan perbincangan perempuan tentang makanan. 

***

*Ceker : kaki ayam dalam bahasa Jawa.

1
Dhatu Lukita
🌹🌹🫰🫰
Dhatu Lukita
🌹
Dhatu Lukita
gara2 kulino dilarani aku wis ra percoyo karo sing jenenge 'tresno'🤭
Wawan: Ahahaha .... what is the name
total 1 replies
Nawadipta
baru tau🙃
Nawadipta
mitos efektif melindungi pohon 🤣 manusia generasi baru memang gak ada takut-takutnya... 😂
Dhatu Lukita
🌹🫰🫰🫰🫣
Dhatu Lukita
di pikiranku malah tergambar "mengonsumsi kecubung" bukan jamur😄,
koyoe podo halusinasi ne 😄
Wawan: Yups ... bedanya kecubung gak dijual... tinggal petik karena gak perlu diolah 🤭✍️
total 1 replies
Nawadipta
makin kecil porsi makin mewah loh 😂 ta kira karena banyak kucing liar buat di elus. pecinta kucing kecewa 😽
Wawan: Lets go angkringan... miyong rice 🤣🤭
total 1 replies
Nawadipta
mitos populer nih, cukup di bantu tongkat (buta kan) bisa tuh. kalau gak indra arah hilang sama gampang jatoh, bukan di ganggu makhluk halus ya 🤣🤣
Wawan: Setan kok... bener loh 🤭🤣
total 1 replies
Nawadipta
rindu nilai rupiah dulu 🤣
Wawan: Pokoknya wesel sebulan empatpuluh ribu tuh dah kayak sultan 🤭
total 1 replies
Dhatu Lukita
🌹buatmu
Dhatu Lukita
nihh 🌹🫰
SANG
Lanjut ya dek💪👍
Dhatu Lukita
mawar untukmu biar semangat💪💪💪
Dhatu Lukita
juga mengingatkanku 2010 lalu🤭. haiisshhhh
Wawan: Apa tuh ... 🤭🤭🤭
total 1 replies
SANG
Lanjut dek👍💪
SANG
Keren deh💪👍
SANG
Semangat👍💪
SANG
Di rumah👍💪
SANG: Oke bro💪👍
total 2 replies
SANG
Kanjut👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!