Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7: Isi Ruangan Pribadi Adli
"Apa yang kamu lakukan?"
Tekad Alma untuk mengakhiri segalanya langsung runtuh saat mendapati pertanyaan tersebut. Entah sejak kapan Yura sudah ada di muka pintu, membawakannya nampan berisi makanan. "Astaga, sesedih dan seiri itukah kamu sampai hendak mengakhiri hidupmu sendiri?" Yura melangkah mengentak, meletakkan nampan makanan tersebut ke meja. Adli yang menyuruhnya membawakan Alma makanan dan minuman. Sedikit membuat Yura heran, Adli jarang sekali menyuruhnya apalagi hanya untuk mengurus Alma.
"Jangan lakukan, apa yang kamu lakukan tidak akan membuat kami menyesal atau Mas Adli balik mencintaimu lagi." Pandangan Yura sinis dan meremehkan. "Malah sebaliknya, karena aku akan menjadi satu-satunya istri yang dia miliki, mungkin Mas Adli akan bersyukur dan semakin mencintaiku. Lengkap, deh kami bertiga—aku, Mas Adli dan anak kami. Kamu tidak mau itu sampai terjadi 'kan? Kami berbahagia di atas kematianmu. Kalau begitu, turun dari sana dan jangan pernah berniat membunuh dirimu lagi."
Alma mematung di tempat, tidak beranjak seperti yang Yura suruh. Yura mendekatinya, menarik telapak tangan Alma untuk turun dari sana. Mereka bersehadapan. Yura meneliti wajah dan rambut Alma, wanita itu mendesis. "Jangan lagi berbuat bodoh. Jika kamu pikir aku duri, kamu salah." Saat Alma turun, Yura mengembalikan kursi tersebut ke posisi semula. "Makanlah," wanita itu menyuruh. Alma diam tidak bergerak, Yura hanya mendengus kesal. Alma memang susah dititah, meskipun terlihat begitu rapuh. Andai wanita itu lebih bodoh, Yura ingin sekali mengatur kehidupannya bahkan mengendalikannya layaknya sebuah boneka.
"Alma, kenapa kamu senang sekali menangis? Jika tidak menangis, kamu diam. Kenapa tidak hajar saja aku, wanita yang mencuri kehidupan bahagiamu. Kenapa yang kamu lakukan semenjak setahun terakhir, hanya diam, menangis, menutupi luka, meratap dan tidak melakukan apa-apa? Seharusnya kamu bertindak lebih ganas dari yang kubayangkan?"
"Aku sangat ingin melakukannya ... tapi apakah aku pantas?"
Jawaban Alma membuat Yura mendesis geram, "tentu saja! Padahal momen kita jambak-jambakan yang dimulai olehmu adalah hal yang paling kunantikan selama ini! Tapi saat kutunggu, kamu hanya diam saja, seperti pasrah padahal kamu tidak ikhlas."
"Kamu punya rahim yang bagus, aku tidak ... kenapa aku harus menjambakmu hanya karena kamu bisa memiliki anak? Sedangkan aku tidak? Itu hanya akan membuktikan kalau aku hanya iri padamu."
Yura tersenyum sinis, "terserah. Kamu adalah tipe wanita memuakkan yang paling aneh yang pernah kutemukan. Pantas saja, Mas Adli selalu kesal menghadapimu."
>><<
Sepanjang hari, berhari-hari, Sean tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Layar laptop di hadapannya tidak pernah tersentuh, termasuk makanan-makanan. Sean sama sekali tidak ada selera untuk mengisi perut, sekalipun dia kelaparan. Sean bangkit berdiri, mendadak dia geram pada diri sendiri. Lelaki itu membongkar ruangan penyimpanan anggur merah dan minum keras koleksinya. Diambilnya setiap botol satu-persatu, dilemparnya ke dinding, lantai dan semuanya dihamburkan hingga cairan merah, kuning bening, berceceran di mana-mana. Banyak beling juga berhamburan indah di setiap lantai.
Sean tersenyum sinis. Dia benci semua ini, minuman-minuman yang selalu membuatnya bergantungan seumur hidupnya tapi menjadi hal yang juga menjebaknya ke dalam perasaan bersalah terbesar. Sean sangat merasa bersalah kepada Alma, tapi gilanya perempuan itu malah seperti pasrah begitu saja, menganggap apa yang terjadi adalah kecerobohan di kedua pihak padahal bagi Sean, ini kesalahan yang hanya bersalah di pihaknya!
Sean mengambil pentung besi dan menghancurkan bar mini yang ada di rumahnya. Semua botol minuman berakhir tragis, seperti sebelum-sebelumnya. Tidak puas, Sean menggunakan pentung besinya menghancurkan meja bar, kursi, lemari penampung minuman dan alat-alat lain. Setelah ini, Sean butuh jasa cleaning untuk membersihkan semua ini.
Sean membongkar kulkas yang ada di dapur. Semua isi kulkas jumbo itu dia buang. Berbeda dari kulkas rumah biasa, yang mendominasi isi kulkas di rumah Sean adalah bir kaleng dan minuman-minuman sejenisnya. Sean membanting, menginjak dan membuang semua kaleng bir itu.
Dan lihatlah kondisi rumahnya sekarang. Licin, basah, penuh bekas beling, kayu, kaleng penyok dan cairan-cairan beraneka warna. Aroma manis, anggur dan alcohol memanjakan hidung Sean, tapi seketika lelaki itu menjadi muak. Sean terkekeh, dia berjanji bahkan melakukan sumpah di atas banjiran minuman haram yang dia benci. Mulai hari ini sampai mati, Sean tidak akan meminum setetespun minuman memabukkan itu lagi. sudah ada korban dari kebiasaan laknatnya, maka Sean akan meninggalkannya.
Sean mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menelpon cleaning service. Semua lantai rumah Sean sudah tidak layak untuk dihuni. Harus dibersihkan terlebih dahulu. Setelah pekerja bayaran itu datang, Sean memasuki mobilnya. Sekarang sudah gelap, sesuai janji karena dia tidak bisa menemui Adli tadi pagi, Sean akan menemuinya malam ini. Sean sampai di rumah lelaki itu, saat masuk diantar oleh salah satu pelayan tatapan Sean tidak pernah terlepas dari arah lorong kamar Alma. Sean ingin bertemu dan kembali meminta maaf pada wanita itu. Sekalipun sebelumnya, Sean sudah bersujud, memeluk kakinya dan mencium telapak kakinya, bagi Sean semua itu belum cukup. Sean sangat ingin menjebloskan diri ke penjara, tapi sesuai permintaan Alma. Wanita itu belum mau berurusan dengan hukum, polisi dan jaksa apalagi menghadapi suaminya yang butuh penjelasan.
"Akhirnya kamu datang," Sean disambut oleh sapaan Adli saat Sean sampai di ruangan kerja khusus sepupunya itu. Adli menyeruput kopinya, tatapannya tengah fokus ke lembar di tangannya. Bunyi pintu yang terdorong dari luar membuat Adli langsung sadar siapa yang masuk.
Sean mengangguk, duduk di kursi depan meja kerja Adli. Adli meletakkan kembali lembar dan gelas kopinya ke atas meja. Sean tertarik untuk meneliti isi ruangannya. Banyak rak buku menghiasi beberapa sudut ruangan. Map-map penting yang tertata di atas meja dan foto-foto pernikahan yang menghiasi nyaris setiap dinding ruangan kerja Adli, yang tak boleh dimasuki siapapun, termasuk kedua istrinya kecuali rekan bisnis Adli yang butuh tempat privasi untuk membahas bisnis.
"Di sini hanya ada foto pernikahanmu dengan Alma? Mana foto pernikahanmu dengan Yura?"
Adli seperti tidak senang mendengar pertanyaan Sean. "Itu bukan urusanmu, aku hanya memajang apa yang kusuka. Jika aku tidak memajangnya di 'sangkar pribadi'-ku berarti aku tidak suka. Jadi jangan tanyakan kenapa aku tidak memajangnya."
Sean menatapnya bingung. Menurut Sean gelagat Adli begitu aneh.
Sean meraih bingkai foto kecil yang ada di atas meja Adli. Foto Alma yang tersenyum lebar. Sebuah senyum yang tak pernah Sean lihat semenjak satu tahun terakhir.
Adli langsung menepis tangan Sean. Lelaki itu menggeram kesal, "jangan sentuh istriku!"
"Itu hanya foto ...." Sean berdalih. Kerongkongannya bergerak, padahal lebih dari sekedar foto Sean sudah sembarangan menyentuh kepunyaan Adli tanpa lelaki itu ketahui.
Adli hanya berdecak, merampas bingkai tersebut lalu menyembunyikannya ke dalam laci meja kerjanya.
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊