Hiatus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alput2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Pengenalan Sekolah
Keesokan harinya ..
Pukul 07.15, Tiara sudah sampai di halaman depan sekolahnya. Ia lalu berjalan santai menuju kelasnya, mengabaikan tatapan sinis siswi siswi yang sepertinya ialah fans lebay Arsenio.
Tapi ketika masuk kelas, Tiara kembali dibuat pusing ketika melihat foto foto yang ditempelkan di Mading semalam, kini ditempelkan di papan tulis kelasnya.
"Selamat pagi, Tiaraa!!"
Ujar Teressa sambil terkekeh tidak jelas. Teressa menghampiri Tiara yang masih mematung sambil menatap ke arah papan tulis.
"Gimana? Papan tulis kita cakep kan?"
Ujar Teressa tanpa dosa. Kata kata Teressa itu membuat Tiara menyangka kalau ini ialah ulah Teressa.
"Kamu yang nempelin ini?"
Tiara memberanikan diri untuk bertanya pada Teressa yang masih tertawa geli di sampingnya.
"Iya. Cakep kan? Haha!"
Tiara memutar bola matanya malas. Lalu pandangan Tiara berubah sekilas ke arah Fina. Gadis itu terlihat memberi kode kepada Tiara, seakan akan tengah mengatakan ' Udah, duduk aja. Gausah ladeni Teressa'.
"Maaf, kalau memang kamu yang buat ini, tolong segera cabut ya"
Ujar Tiara santai sambil berjalan ke arah tempat duduknya, mengabaikan Teressa yang masih berdiri didepan papan tulis.
"Gak mau!"
Ucapan Teressa barusan membuat Tiara berbalik badan.
Tanpa mengatakan apapun, Tiara kembali berjalan ke arah papan tulis, lalu mencabut semua foto foto yang ditempelkan disitu.
"Ya udah deh, aku aja yang cabut"
Ujar Teressa tiba tiba, lalu mengambil foto foto yang sudah dicabut barusan dari tangan Tiara.
Cewek aneh, ujar Tiara dalam hati.
.
.
Pukul 08.30..
Bel tanda masuk kelas berbunyi, seluruh siswa memasuki kelasnya masing masing. Bu Sarah pun sudah memasuki kelas 12 IPA 1 .
Soal foto foto tadi, semuanya kembali ke tangan Teressa. Awal nya, Tiara berniat untuk mencabut semua foto foto itu lalu membakarnya ketika pulang sekolah. Tapi entah kenapa Teressa tiba tiba membantunya untuk mencabut foto foto itu, padahal yang menempel foto foto itu ialah dirinya sendiri.
"Baik lah anak anak, sekarang, kumpulkan pr kalian ya.."
"Baik buu.."
Sahut seluruh murid sekelas. Teressa bersama murid lainnya pun segera mengumpul tugas yang telah dikerjakan ke meja Bu Sarah.
"Ini masih 8 orang yang mengumpul. Satu lagi siapa yang belum ngumpul ?"
Tanya Bu Sarah setelah memeriksa satu persatu buku latihan yang dikumpulkan di mejanya.
Teressa mengangkat tangan sambil mengatakan , " Saya buk".
Bu Sarah pun memasang wajah kecewa pada Teressa.
"Kenapa tidak dikerjakan, Teressa? Tugas kemarin juga kamu gak selesai. Kalau tugas kemarin mungkin masih bisa ibu maafkan, tapi kali ini tidak. Saya kasih tugas dua kali, dan dua kali itu juga kamu ga ngerjain. Ya udah deh, kamu berdiri di depan kelas sini, selama 10 menit. Berdiri sambil fikirkan kesalahan kesalahan kamu"
Ujar Bu Sarah tegas. Teressa pun memasang wajah malas, dan dengan langkah malas juga ia berjalan menuju depan kelas.
"Soalnya dia ngurusin cowok terus buk, ga pernah siap deh tugasnya"
Sembur seorang cowok saat Teressa tengah berjalan ke depan kelas, dan cowok itu langsung di balas tatapan tajam oleh Teressa.
"Ardy, jaga bicara kamu"
Tegur Bu Sarah. Teressa mau tak mau pun harus mengikuti hukuman dari Bu Sarah. Ia berdiri didepan kelas dan kedua cowok di kelas ini sempat menertawakan dirinya beberapa kali.
"Oh iya, Tiara, semalam kamu gak ikut masa pengenalan sekolah ya?"
Tanya Bu Sarah, membuat Tiara kebingungan sejenak.
"Ng..nggak buk. Saya tidak tau kalau masa pengenalan sekolah juga dilaksanakan semalam. "
"Oo, tidak apa apa, nak. Masa pengenalan sekolah itu, harusnya kamu ikuti selama tujuh hari berturut turut setiap pulang sekolah. Sisa masa pengenalan sekolah kamu tinggal 5 hari lagi. Jadi, untuk 5 hari kedepannya, setiap pulang sekolah kamu langsung aja ke gedung kelas 10 ya. Masa pengenalan sekolah selanjutnya di lakukan disana"
Ujar Bu Sarah , dan Tiara mengangguk faham.
*
"Lu pasti seneng kan gua dihukum tadi?"
Tanya Teressa tidak senang saat Tiara baru saja keluar dari pintu kelasnya .
Lagi lagi cari masalah, fikir Teressa dalam hati .
"Plis, Teressa. Coba jangan nuduh orang sembarangan kayak gini. Hidup kamu dan hati kamu pasti aman damai"
Ujar Tiara santai.
"Heh, jadi maksud lu hidup gue gak aman damai?! Rumah gue kayak hotel bintang lima, mobil banyak, temen dimana mana, lu bilang gak damai? Hidup lu kali yang gak damai!"
Tiara membulatkan mata mendengar jawaban Teressa . Ahh, tapi Tiara terlalu malas untuk membuka mulut untuk membalas perkataan Teressa tadi.
"Aku mau ikutin masa pengenalan sekolah, aku pergi duluan ya"
Ujar tiara kesekian kalinya sambil memperbaiki ikatan tali sepatunya, lalu beranjak pergi dari hadapan Teressa.
Sudah pukul 13.04, Tiara pun segera mempercepat larinya untuk menuju gedung kelas 10.
Gedung kelas 10 Arison Senior High School, hanya terdiri dari dua lantai, tapi luas lapangan di halaman belakang gedung tersebut sama luasnya dengan lapangan di halaman belakang gedung kelas 11 dan 12.
Ketika Tiara memasuki area gerbang utama, Tiara melihat sudah ada barisan para siswa kelas 10 di halaman sekolah. Jumlahnya mungkin sekitar 80 orang lebih. Tiara bingung hendak memasuki barisan yang mana, karena dia jelas jelas bukan siswa kelas 10.
"Adik adik ku semua, ini hari ketiga kita MOS ya. Oke, udah faham gimana cara baris kan? Udah diajarin dari kemarin kan? Nah, coba barisannya di rapikan lagi yaa"
Ujar seorang cowok dengan almamater coklat di daerah paling depan barisan. Tiara berjinjit untuk melihat siapa sosok lelaki itu. Dan ternyata lelaki itu bukan lelaki yang Tiara kenal. Mungkin anak kelas 12 juga.
Para siswa pun segera memperbaiki barisan mereka , membuat Tiara semakin bingung untuk memasuki barisan yang mana.
"Dek dek, mau baris dimana? Disini kan tempat cowo"
Tiara kaget mendengar suara seorang lekaki yang berada di belakang nya. Tiara menoleh ke belakang, dan melihat seorang lelaki mengenakan almamater yang sama dengan lelaki yang berbicara didepan barisan.
"Ng, saya siswa baru kelas 12 kak. Saya baris dimana ya?"
Tanya Tiara
"Oo, gabung aja barisannya. Tapi di barisan cewek ya. "
"Oke kak"
Lalu Tiara pun segera mencari barisan perempuan.
"Oke Adek Adek. Barisannya udah rapi, sekarang, kalian silahkan duduk ya"
Ujar lelaki yang berdiri di depan barisan itu. Para siswa termasuk Tiara pun segera duduk di halaman ini, dengan tas yang masih dipunggung masing masing.
"Sekarang, kalian keluarkan satu buku tulis dari tas kalian, beserta pulpen ya. Buku nya yang tipis aja"
Lanjut lelaki itu, Tiara pun segera mengeluarkan buku paling tipis di dalam tasnya.
"Udah di keluarkan? Kalo udah di keluarkan, kalian bisa tulis nama kalian di halaman pertama buku. "
Tiara beserta siswa lainnya pun mengikuti instruksi dari lelaki itu.
"Nah, tugas kalian di hari ketiga MOS ini, kalian dapetin nama dan tanda tangan kakak kakak yang jadi petugas MOS disini. Minimal dapat 10 ya, dan waktunya 5 menit! Kalo udah dapet, tulis dibuku kalian itu dengan rapi"
Lanjut lelaki itu. Lalu, salah seorang siswa di barisan mengangkat tangannya untuk menanyakan sesuatu.
"Tanda tangannya ntar ditulisin orangnya langsung apa gimana kak?"
Tanya siswa itu.
"Minta tanda tangan nya langsung minta tulis aja ke orangnya, gapapa. Kan ga mungkin kalian yang ngarang tanda tangan kami kan. Jangan ngarang ngarangin tanda tangan ya, ntar kami sentil loh, hehe"
Jawab lelaki itu sambil tersenyum dengan manisnya .
"Kita mulai sekarang yaa, minimal dapet 10. Ntar kami periksa masing masing. Oke? Satu.. dua .. tiga!"
Para siswa pun segera bangkit dari duduk , lalu segera berpencar untuk mencari keberadaan kakak kakak almamater coklat. Tapi kebanyakan menghampiri kakak lelaki yang jadi pemimpin barisan tadi, ya .. mungkin karena laki laki itu lumayan ganteng.
Tiara pun mengikuti mereka untuk meminta tanda tangan kakak itu. Disini tidak ada orang yang Tiara kenal, jadi Tiara hanya mengikuti arus saja .
Setelah berhasil mendapatkan nama dan tanda tangan lelaki pemimpin barisan itu, Tiara pun segera bergegas mencari cari ke seluruh penjuru halaman utama sekolah untuk mencari kakak kakak yang lain.
Tapi tak menemukan kakak kakak almamater coklat. Mereka sudah pergi entah kemana.
Lalu Tiara melihat para siswa yang menuju ke arah halaman belakang sekolah. Para siswa lain pun pada ikutan ke sana. Mungkin mereka hendak mencari kakak kakak almamater coklat di daerah sana.
Tapi, baru saja Tiara hendak mengikuti mereka, tiba tiba Tiara merasakan mules di perutnya.
"Aduh, mana lagi diare.."
Gumam Tiara kesal sambil mengelus perutnya.
"Aduh, gimana ya? Kalo bab biasanya aku butuh waktu 5 menit lebih"
Gumam Tiara lagi.
"Adik adik, waktunya 4 menit lagi ya"
Tiara langsung gelagapan panik mendengar perkataan itu. Tiara semakin bingung, harus ke toilet dulu atau menunda bab sampai pulang.
Kalo di tahan tahan, ntar terkincit di celana bisa barabe , gumam Tiara sambil memikirkan kejadian jika ia tahan diarenya .
Tanpa membuang buang waktu, Tiara bergegas ke toilet.
Setelah bersemedi di dalam toilet selama kurang lebih 4 menit, Tiara segera keluar dari toilet dan bergegas kembali ke halaman sekolah. Tiara mengeluarkan buku nya tadi dari dalam tas nya, yang terisi dibuku itu baru satu.
Ia harus bagaimana?
"Adik adik, waktunya udah habis. Saya hitung dari 1 sampe 10 ya. Kalo udah dihitungan 10, kalian harus kembali ke barisan awal. Satu.."
Lelaki pemimpin barisan tadi kembali bersuara. Tiara mulai panik lagi. Tidak mungkin ia berhasil mendapatkan 9 tanda tangan dalam waktu 10 detik. Dan para siswa siswi peserta MOS keliatannya udah pada selesai, karena kebanyakan dari mereka berjalan santai saat kembali ke barisan awal.
Saat Tiara tengah berfikir keras, tiba tiba ada seseorang yang mengetuk bahunya dari belakang. Tiara berbalik badan dan agak kaget melihat Arsenio. Arsenio memakai almamater coklat yang sama dengan para petugas MOS. Ah, tentu saja ! Arsen kan Ketua OSIS.
"Ada apaan?"
Tanya Tiara agak galak. Itu karena Tiara masih kesal mengingat kejadian kejadian kecilnya bersama Arsenio kini menjadi bahan Bulian para siswi sekolahnya.
Sementara Arsenio, hanya tersenyum miring, lalu melirik ke arah buku tulis yang dipegang Tiara.
"Hayo.. masih satu. Hayo.."
Tiara semakin kesal mendengar ledekan dari Arsenio.
"Biarin"
"Hayo.. nanti yang gagal dapetin 10 tanda tangan bakal kena hukum loh. Hukumannya salto 10 kali. Kamu apa gak takut?"
"Ngarang"
"Lah? Aku kan termasuk pengawas MOS. Ngapain aku ngarangin hukumannya ke peserta MOS?"
"Ga percaya"
Setelah jawaban terakhir itu, Arsenio mengambil buku tulis yang masih dipegang Tiara, lalu menuliskan sesuatu di buku itu.
Ketika sudah selesai, Arsenio mengembalikan nya pada Tiara, dan Tiara melotot melihat dibukunya sudah ada 10 tanda tangan beserta nama pemilik tanda tangan kakak kakak pengawas MOS.
"Kok bisa?"
Tanya Tiara yang masih terbengong menatap ke arah buku tulisnya itu.
"Aku hafal tanda tangan mereka. Eh, udah kumpul sana, udah pada baris itu"
Jawab Arsenio. Tiara pun segera berlari menuju barisan awalnya .
aku nyicil aja takut kakak tipe yang ga boleh bom like
awal yang menyenangkan