Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Dua Pria Dingin?
Amira terus berlari dengan kencangnya di koridor sekolah, rok yang ia kenakan terombang ambing tertiup angin. Saat mendapat kabar bahwa Cinta pingsan dan di bawah ke ruang UKS, membuat Amira langsung bertindak. Bahkan gadis itu sampai meninggalkan jam pelajaran siang ini.
Ceklek
Pintu yang semula tertutup, terbuka lebar akibat dorongan Amira. Gadis itu segera menghampiri Cinta yang terbaring lemah di atas brankar. Mata gadis berhijab itu belum terbuka, masih tertutup rapat.
“Cinta, bangun!” Amira mengguncang pelan lengan Cinta, berharap gadis itu akan bangun.
“Syutt! Jangan berisik!” desis pria di sebelah Amira. Gadis itu baru sadar, bahwa tak hanya dia sendiri yang ada di ruangan ini.
“Hehehe, maaf,” ucap Amira sembari cengengesan. Alfa hanya menatap jengah, lalu berniat mengambil tangan Cinta untuk di genggam.
“Jangan sembarangan, belum mahram,” ingat Amira, kali ini Alfa yang salah tingkah. Pria itu berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.
“Kamu anak kelas berapa?” tanya Amira, memandang intens wajah Alfa.
“XII IPA 2,” jawab Alfa datar.
“O.”
Keadaan kembali hening, Amira sibuk mengusap-usap punggung tangan Cinta. Sedangkan Alfa, hanya berdiam sembari memerhatikan dua gadis di hadapannya.
“Cinta! Astagfirullah, Dek!” Teriakan melengking dari ambang pintu sontak membuat Amira dan Alfa menoleh bersamaan.
Terlihat pria dengan kemeja Dongker berlari mendekati mereka. Amira hanya memutar bola mata malas, dia sangat tidak suka bila bertemu dengan abang si Cinta ini. Sifat Bara terkesan bodoh di mata Amira.
“Bisa gak sih Bang, gak usah teriak-teriak!” ketus Amira seraya bergeser.
“Enggak bisa. Ini darurat, lihat adikku, sedang pingsan begitu. Ini yang salah siapa?” tanya Bara—abang Cinta sembari menatap dua manusia di depannya dengan tatapan mengintimidasi.
“Meneketehe!” acuh Amira. Dia memilih duduk di kursi plastik sudut ruangan.
Bara mendengus kesal, lalu menatap tajam Alfa yang sejak tadi diam.
“Atau jangan-jangan kamu ya!” tuding Bara menunjuk Alfa. Sedangkan yang ditunjuk hanya bisa menatap malas.
“Dia pingsan sewaktu ngejalani hukuman tadi,” ucap Alfa dengan wajah dan suara yang datar.
“Hukuman? Hukuman apa?” tanya Bara bingung. Dia kembali menatap wajah Cinta yang kelihatan pucat. “Dia gak pernah melanggar aturan sekolah sekali pun. Aku tahu itu.”
“Gara-gara Abang! Pulang telat!” Cinta berusaha duduk, meski masih kelihatan lemah. Mata gadis itu tak lepas menatap wajah Bara dengan tajam.
“Uda bangun Dek?” Bara sok polos. Pria itu mengelus kepala cinta pelan.
“Lihat, uda atau belum?”
“Hehehe, sudah. Gimana perasaan Adek, uda enakkan?”
“Belumlah. Dikira enggak pegal apa ini kaki!”
“Ya maaf, Abang ‘kan enggak sengaja,” ucap Bara sambil cengengesan.
“Bodo amat! Pokoknya aku merajuk!” Cinta membuang wajahnya ke samping. Mulutnya sudah mengerucut dengan wajah cemberut.
Tentu itu mengundang senyum Alfa yang sejak tadi tertahan. Dia gemas sendiri.
“Makanya, jadi Abang jangan belagu!” ketus Amira, mendorong tubuh Bara agar menjauh. “Untung saja ada ini cowok, kalau gak, mungkin kamu bakalan jadi ikan asin di lapangan,” celetuk Amira sukses membuat Cinta melotot.
Dia mengikuti arah telunjuk Amira, Alfa hanya tersenyum menyambut wajah terkejut Cinta. Dia menaikturunkan alisnya.
“Kayaknya dia bawa kamu ke sini, di gendong deh,” bisik Amira. Cinta menutup wajahnya dengan tangan, dia malu.
“Amira, stop deh!” ucap Cinta.
“Gak bilang makasih?” Keduanya saling pandang. Alfa tersenyum simpul, berjalan maju mendekati brankar Cinta. Pria itu memberikan seplastik makanan dan minuman.
“Untukmu. Maaf, aku permisi duluan,” pamit Alfa. Cinta mengangguk seraya mengucap makasih. Setelah itu, dia hanya memandang punggung Alfa yang sudah hampir hilang di balik pintu.
“Uda kali liatinnya!” Serentak Bara dan Amira berucap, keduanya saling pandang sambil bergidik ngeri satu sama lain. Cinta yang melihat itu hanya tertawa.
**
Laska tengah disibukkan dengan tumpukan berkas, bahkan dia belum sempat untuk istirahat. Sejak tadi matanya tak lepas dari layar monitor, bahkan beberapa pesan masuk di ponselnya diabaikan oleh pria itu.
“Permisi, Pak. Ini kopinya.” Seorang wanita masuk dan meletakkan segelas kopi di meja Laska. Dia hanya memandang sekilas sembari mengangguk.
Wanita bernama Andini hanya bisa tersenyum memperhatikan bosnya yang begitu fokus. Dia segera beranjak pergi sebelum diusir oleh pria yang belakang ini selalu menggetarkan hatinya.
Laska memilih menikmati kopinya, sambil memainkan ponsel yang sudah hampir lima jam dia anggurin.
Dia tertarik dengan satu pesan paling atas, di aplikasi yang baru saja dia buka.
[Ini aku Alfa. Aku berniat datang ke rumahmu nanti.]
Seperti itulah isi pesan yang baru saja Laska baca. Dia menatap malas layar ponselnya, lalu segera menonaktifkan.
“Kapan Alfa kembali?” monolognya sembari terus menatap pintu.
**
Amira pulang dengan menaiki ojek. Dia sudah berusaha mencari taksi namun tak dapat juga. Sebenarnya tadi dia ingin mengajak Cinta untuk berbelanja, tetapi karena gadis itu sedang sakit, tak jadi.
Sampai di rumah, Amira langsung menuju kamar untuk membersihkan diri karena merasa tubuhnya begitu lengket. Setelah selesai berganti, dia beranjak turun untuk mencari makanan. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
Namun sayang, tak ada makanan sama sekali di meja, begitu pun kulkas. Amira beranjak lagi, memilih menonton TV sembari menunggu Laska pulang.
Tok tok
Mendengar suara pintu diketuk, Amira segera berdiri untuk membukakan pintu. Betapa kagetnya setelah pintu terbuka, Amira melongo tak percaya melihat sosok pria yang berdiri di depan pintu dengan wajah datar.
“Lo?” teriak Amira sambil menunjuk Alfa. Ya pria itu yang berkunjung ke rumah Laska. “Ngapain ke sini?” tanya Amira lagi.
“Seharusnya gue yang nanya. Lo siapa?” Alfa nyelonong masuk, pria itu menjatuhkan bokongnya di sofa tunggal ruang keluarga Laska.
“Gue pemilik rumah ini!” ucap Amira dengan lantang. Dia bersedekap dada di hadapan Alfa.
“Cih, ngaku-ngaku. Jelas-jelas ini milik Abang gue!” ujar Alfa tak kalah sengit.
Keduanya terlibat tatapan sengit, Amira tak sungkan-sungkan melotot ke arah Alfa. Bahkan dia bersiap untuk mengusir pria itu agar keluar dari rumah milik suaminya.
“Sana pergi!” usir Amira sembari mendorong Alfa.
“Gak! Apaan sih Lo?”
“Is! Pergi!”
“Amira! Alfa!” Bentakan dari seseorang menghentikan aksi adu mulut dua manusia yang masih sama-sama mendorong.
“Om, lihat. Dia tiba-tiba masuk padahal aku gak bolehin,” adu Amira sembari bergelayut manja di lengan Laska. Melihat tingkah istrinya, Laska hanya bisa menghembuskan napas kasar.
“Kalian sudah kenal?” Justru Laska melayangkan pertanyaan. Pria itu memilih duduk sembari menyuruh kedua orang di hadapannya untuk duduk juga.
“Tidak!” jawab Amira dan Alfa bersamaan.
“Jadi sekarang kamu lebih suka bocah ya?” ejek Alfa memandang malas Laska.
“Katakan saja, kedatangan kamu ingin apa.” Laska tipe orang malas ngomong terlalu panjang lebar, apalagi harus terlibat waktu yang lama dengan orang yang menurutnya tidak penting.
“Santai dong,”
“Om, sebenarnya dia ini siapa?” Amira menatap Laska yang hanya diam saja.
“Diam. Jangan ikut campur gadis cerewet!” ketus Alfa.
“Aku tanya Om Laska, bukan kamu pria kaku!”
Laska memijat keningnya. Dia pusing mendengar ocehan dua orang ini. Ingin sekali dia membuang keduanya, tetapi malah tak tega.
“Alfa. Kamu bisa tidur di kamar Amira,” ucap Laska akhirnya, membuat mulut keduanya bungkam.
“What!” teriak Amira yang sontak membuat dua pria dingin di dekatnya menutup telinga.
“Dia adalah tamu, harus dijamu dengan baik,” jelas Laska.
“Tapi—“
“Amira! Stop! Saya capek!”
“Dengerin itu!”
“Dasar kalian, manusia batu! Kulkas berjalan!” umpat Amira sambil menendang sofa.
Bersambung
Karyawan mas Laska aja tertarik mbak Amira. Lah lu, nyia-nyiain suami tampan begitu😂😂
Othor tidak ingin memberikan visual, takutnya tidak sesuai dengan apa yang kalian haluin. Jadi berhalu ria lah, dengan visual dalam pikiran masing-masing.
Salam sayang dari othor imut.
Jangan lupa like, komen, dan vote. Kalau ada bunga atau kopi, bisalah kalian kasih untuk mas Laska dan mbak Amira ini😂😂
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃