NovelToon NovelToon
BERBEDA

BERBEDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Komedi / Indigo / Teen School/College / Tamat
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: DES_Putri:)

"Lo itu kurang kerjaan atau gimana sih, hah?!."

"Lah ini lagi kerja..."

"....Ngerjain Senior maksudnya."

"Berani banget yah lo sama Senior!."

"Ya, lebih baik berani didepan dari pada dibelakang ngomongin...Sorry, Varo nggak serendah itu orangnya."

♡♡♡

"Kita berada di iman yang berbeda. Di amin yang berbeda pula. Sungguh ironis my love story."
-Alvaro Genandra

"Antara tasbih yang kugenggam dan salib yang ada dilehermu. Antara adzan yang berkumandang dan lonceng yang berdentang. Dan, dari sanalah perbedaan antara kita yang tak akan pernah bisa bersatu."
-Zoya Prameswari

"Yang seagama aja berat, apalagi yang beda. Gobloknya temen gue itu masih aja diharapin."
-Reihan Aditama

♡♡♡

#familyship
#brothership
#friendship
#kisahremaja
#bedaagama
#cintaterlarang

Semoga suka🤗 Jangan lupa Like & Komen sebagai pembaca yang budiman😊


Dan untuk my Bestie, tolong kalau tahu cerita ini jangan dibaca. Sekali lagi jangan dibaca, terima kasih🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DES_Putri:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chap 6 (Yatim Piatu)

...Kalau boleh jujur...Selama ini hanya kamu yang berani menunjukkan rasa suka itu secara terang terangan. Dan memperlakukan ku selayaknya mahkota yang harus dijaga. Meski....Kau tahu, kita berbeda....

Denting sendok yang beradu dengan piring mengisi keheningan diruang makan itu. Tempat yang terlihat tenang seakan memberi suasana yang cukup kelam. Tidak ada yang yang membuka suara sampai suara deritan kursi terdorong mengalihkan atensi semua orang yang ada disana.

"Varo udah selesai," ujarnya diakhiri seulas senyum ketika sepasang netranya  bertemu dengan wanita paruh baya.

"Jangan ke kamar dulu. Tunggu Mama di ruang tengah."

"Tapi tugas Varo ba-."

"Kerjakan nanti! Mama mau bicara sebentar."

Varo berdehem, lalu beranjak menuju ruang tengah dengan ogah ogahan. Ya, wanita berambut sebahu itu Mama Varo. Hah, Mama?...Ahh, bisa disebut seperti itu. Mama.

Miranti Herlina, wanita karir yang sukses dibidang designer. Tidak perlu dijelaskan lagi wataknya seperti apa. Lambat laun, kalian akan tahu bagaimana sikap Miranti.

"Dia tidak buat masalah lagi, kan Vero?."

"Nggak kok mah," balas Vero tersenyum manis.

"Jangan percaya sama Vero. Kapan sih Varo nggak buat masalah?," sahut Genandra. Vero menunduk, mengaduk makanannya yang tinggal sedikit. Iya, percuma menutupi kenakalan Varo jika ada sang Papa disana.

"Bolos sekolah lagi? Atau yang lain?."

"Biasa, susah diatur. Sering tiduran dikelas, sering bolos bimble."

"Ya papa itu gimana sih selama mama nggak ada?! Seharusnya lebih tegas lagi dong, biar Varo nurut."

"Anak kamu yang susah diatur! Jangan salahin aku, seharusnya ini itu tugas kamu sebagai seorang ibu. Bukannya aku terus yang urus mereka. Kamu pikir aku nggak stres ngurus Varo?!."

"Kamu malah enak enakkan liburan sana sini!."

"Liburan sana sini kamu bilang?!."

Miranti tertawa sinis.

"Aku itu kerja, bukan liburan yang kayak kamu pikirin!."

"Buat apa sih kamu masih kerja, hah?!."

"Apa uang yang aku kasih selama ini kurang?!."

Vero yang menjadi pendengar baik itu akhirnya tersenyum miring. Beranjak dari duduknya sembari menatap kedua orang paruh baya itu bergantian. "Vero ke kamar dulu mah, pah."

"Oh, ya...jangan lama-lama, Varo lagi nunggu diruang tengah. Kasihan dia juga harus kerjain tugas," lanjutnya lalu pergi berlalu dengan tatapan kosong.

Miranti melirik sinis Genandra sebelum akhirnya meninggalkan ruang makan yang hanya menyisakan Genandra disana.

"Udah daftar kelas unggulan?," tanya Miranti sesaat tubuhnya mendarat disofa.

Varo mengangguk. Menyenderkan punggungnya disofa dengan kedua tangan ia lipat dibelakang kepala. "Mama udah siapin tempat les yang lebih baik lagi dari ketiga tempat bimble kamu sekarang."

"Tapi tempatnya agak jauh dari rumah, jadi mama ambil kelas privat. Biar kamu nggak jauh-jauh kesana."

"Besok gurunya udah mulai ke sini."

Hening. Tidak ada suara setelah Miranti mengakhiri ucapannya. Cowok itu masih nyaman dengan mata tertutup, tapi..tidak dengan pikirannya yang sudah bercabang kemana mana.

"Jadi, cuma satu aja kan?," tanya Varo setelah tak ada suara dari Miranti.

"Ya, tempat bimblenya cuma satu."

Varo menegakkan tubuhnya dengan senyum lebar menghiasi wajah. Menatap Miranti penuh harap. Satu tempat bimble? Ah leganya, dia jadi bisa leluasa dengan waktunya yang tak terbuang habis hanya karena berkutat bersama segala macam pelajaran.

"Serius cuma satu tempat bimble?...Privat?!...Yes bisa santai..."

Wajah berseri seri itu seketika redup tak kala Miranti mengucapkan beberapa patah kata.

"Tapi, disetiap pelajaran punya gurunya masing-masing. Jadi satu hari lima jam untuk dua pelajaran."

Bahu Varo merosot dengan wajah meredup. Sama aja bohong. "Itu sih sama aja kayak tiga tempat bimble."

"Kenapa cuma Varo Ma? Si Vero cuma di satu tempat itupun dua jam aja. Varo doang yang lima jam," lanjutnya.

"Kalau kamu bisa rebut posisi Vero di juara satu...Mama bakal kurangin jam lesnya."

"Haahhh mana bisa?!," frustasi Varo mengacak rambutnya sebal. Juara satu? Mimpi!

"Tapi Ma, kalau bimble jam empat sepulang sekolah gimana Varo bisa ikut ekstra?."

"Nggak ada ekstra! Biar mama nanti yang bilang sama kepala sekolah kalian."

"Nggak bisa gitu dong Ma. Dulu waktu SMP kita boleh ikut ekstrakurikuler, kenapa sekarang nggak boleh?!."

"Dulu, kan?!...Kamu itu sekarang udah harus mikirin masa depan. Udah nggak bisa main-main lagi. Fokus ke akademik aja, jangan nyanyi nyanyi nggak jelas!."

"Tapi Ma-."

"Mama nggak terima bantahan ya Varo!," seloroh Miranti menaikkan volumenya, dan bukan Varo jika tak membantah.

"Varo juga punya hak buat tentuin hidup Varo sendiri! Nggak harus semua Mama atur. Varo juga pengen nikmati masa muda Varo kayak yang lain. Apa salahnya sih Varo sama Vero kembangin bakat kita?."

"Hah, bakat kamu bilang?! Emang dari bakat kamu itu kamu bisa apa?!...Jadi penyanyi...atau jadi artis, hm?!."

Varo mengepalkan tangannya. Rahangnya kini mengeras, selalu saja seperti ini. Tidak pernah ada yang mengerti, tidak pernah ada yang bisa mendengar suaranya.

"Mah, Varo bakal tetap fokus sama pelajaran. So, please ijinin Varo ikut kegiatan sekolah ya?," ujarnya serendah mungkin meski tubuhnya sekarang terasa terbakar.

"Nggak ada, kamu harus jadi yang pertama baru bisa Mama percaya."

"Gimana caranya Varo jadi yang pertama kalau Vero aja sekelas sama aku, Ma?."

Merlina terdiam menatap lurus kearah Varo. Cukup lama sampai suara Varo kembali memecah. "Kalau Varo bisa masuk kelas unggulan....Mama harus ijinin Varo sama Vero ikut ekstrakurikuler vokal."

Semoga, ya semoga Varo bisa lolos ke kelas orang-orang ambis itu demi hobi dan bakatnya.

"Oke," final Miranti mendapat tinjuan ke udara dari Varo.

"Ada dua kelas unggulan, nanti kalau kamu lolos Mama bakal suruh pisahin kalian berdua."

"Tapi-."

"Kamu juga harus jadi yang pertama, bukan?!."

Iya, bukankah Varo sendiri yang mengatakan dia tidak akan bisa menjadi yang pertama jika satu kelas dengan Vero bukan?.

Kali ini aja Ver... kita beda tujuan, batin Varo

...)(...

Varo menghempaskan tubuhnya kasar keatas ranjang. Menatap langit langit kamarnya yang terasa membosankan. Sejenak ia berpikir, apa akan selalu seperti inikah hidupnya? Dia rindu masa-masa kecilnya yang bahagia. Dia ingin kembali dimana semua masih terasa nyaman....Dan menjadikan rumah sebuah tempat lelahnya.

"Kalau galau gini jadi pengen Tik Tok an deh....Pasti netizen gue banyak yang kangen."

Varo mengembuskan napas berat. Sial, akhir-akhir ini sejak Reihan mengajaknya bermain Tik Tok dia jadi terkena virus TikTokers. Ya, meski otak Varo sebelumnya juga sudah miring, apalagi ditambah joged joged tak jelas seperti itu menambah nilai plus diwajahnya. Plus plus gila.

Tapi jangan ragukan followers Varo yang mendadak mencapai belasan ribu, karena saat SMP dulu dia memaksa saudara kembarnya yang tak lain Vero untuk bermain Tik Tok dengan segala rayuan dan paksaan. Alhasil karena ketampanan keduanyalah vidio mereka mencapai berpuluh juta like.

"Mau ngajak Vero tapi lagi males debat sama tuh anak."

Hening beberapa menit sampai spontan tubuh Varo terduduk sempurna. Matanya mendelik, menepuk jidatnya sendiri. Dia baru ingat kemarin pernah meminta nomor Zoya dari seniornya- Laila.

Dengan gesit Varo menghampiri tasnya yang ada dimeja belajar. Mengobrak abrik seluruh isi tas. "Syukur masih ada disini lo," gumam Varo dengan secarcik kertas ditangannya.

Tak butuh waktu lama untuknya memasukkan nomor Zoya kedalam kontaknya dengam nama- Senior Galak. "Gue chat atau langsung telpon ya?!."

Setelah lama menimang, Varo memutuskan langsung menelpon Zoya. Gawai itu sudah menempel ditelinganya, tinggal menunggu nada tersambung. Setelah sekian lama nada berdering, suara familiarpun terdengar.

Ceklek

Varo mendelik kearah pintu melihat kepala yang menyundul kedalam. Saking gugupnya dia ingin mematikan telepon, naas Varo menekan tombol speaker.

"Halo, ini siapa ya?."

Sepasang mata itu lagi-lagi membola. Tanpa pikir panjang dia ambil HP yang sudah terlempar ketepi ranjang dan mendial tombol warna merah.

"Heheheee....Orang salah sambung," ujar Varo cengingisan.

Pintu terbuka lebar, menampakkan tubuh Vero dengan jelas. Baru dua langkah Vero berjalan masuk, suara ngegas Varo terpaksa membuatnya berhenti.

"LO TUH BISA KETUK PINTU DULU NGGAK SEBELUM MASUK?! NGGAK SOPAN BANGET!."

Vero dengan wajah santainya kembali berjalan dan duduk dimeja belajar Varo, menghadap sang kakak yang masih memasang wajah kesal. Rencananya gagalkan, hanya gara-gara saudara kembarnya yang dingin itu.

"Ngapain kesini?!," lanjut Varo masih tak bisa santai.

"Mama bilang apa aja tadi?."

"Banyak!."

"Gue-."

"Gue juga serius!," potong Varo mengerti apa yang akan diucapkan Vero.

"Lo nggak pernah serius, Var."

"Yaudah jangan ngomong sama gue! Gampang kan?!."

Vero memutar bola matanya malas. Meladeni abangnya yang kurang normal itu sangat menguras segalanya.

Suara pesan masuk berkali kali mengalihkan atensi keduanya. Dahi Varo mengernyit, nomor tak dikenal terpampang paling atas dilayar gawainya.

085*******

||Gimana, katanya perlu bantuan

||Gue nggak punya banyak waktu, besok pagi datang aja kelapangan basket

||Gue tunggu!

Varo mengetikkan beberapa huruf, tak tahu diseberang sana ada netra yang menatapnya penuh selidik.

"Sekarang lo nggak bisa bebas-."

"Gue tahu!."

Lagi-lagi Varo memotong ucapan Vero. "Jangan suka memotong pembicaraan orang, Var!."

"Disini yang abang itu siapa sih?...Kok lo dari tadi ceramahin gue. Gue juga tahu kali apa yang harus gue lakuin, nggak perlu semua lo yang atur apalagi kepo sama urusan gue."

"Kok jadi kemana mana-."

"Udalah balik ke kamar lo gih!."

Tangan Vero sudah memegang handle pintu namun terhenti karena suara menyebalkan itu kembali membuatnya jengah.

"Tik Tok an bareng dulu. Baru gue kasih tahu apa yang Mama bilang sama semua rahasia gue, gimana?!."

...)(...

"Lo duluan ke kelas aja, gue mau kasih HP nya Bang Arex."

"Nggak mau gue temenin?," tanya Lia dibalas gelengen Zoya.

"Tumben tuh orang HP sampai ketinggalan," guman Lia.

"Yaudah sana, nanti gue nyusul."

"Oke hati-hati kalau ada geng nya."

"Hmmm."

Lia berjalan lurus menuju kelasnya, sedangkan Zoya berbelok ke arah lapangan menuju kelas Arex. Sebelum memasuki Sekolah tadi mereka bertemu ibu Arex yang notabenya tante Zoya.

Dengan malas langkah kaki Zoya berjalan dengan sebelah tangan menggenggam HP. Tak jauh dari tempatnya sekarang, Zoya melihat sosok Arex duduk ditepi lapangan basket bersama cowok dan- dia mengenalinya.

Kening Zoya mengerut, mengedarkan pandangannya kesekitar yang cukup ramai. Dengan berani dia beranjak kembali ke fokus utamanya.

Samar-samar dia bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Dua orang yang memunggunginya itu tak menyadari adanya dirinya dibelakang.

"Kalau tujuan lo cari duit sih, its okey."

"Tapi, gue mau lo sendiri yang latih. Katanya lo ketua organisasi, ya?."

"Hm, kalau itu gue bisa aja sih latih lo secara pribadi...Tapi, dengan satu syarat."

"Apa?."

"Lo harus menang di kompetisi pertama!."

"Okey, deal!."

Zoya merekam semua itu, dan entah kenapa ada rasa gelisah yang membuat dirinya tak bisa berpikir jernih. Mematung ditempatnya sampai Arex membuka suaranya kembali. "Kenapa lo butuh uang?."

Ada jeda setelahnya.

"Pengen mandiri. Gue nggak mau jadi pengecut!."

Arex tersenyum miring, menatap kelawan bicaranya dan setelah itu dia menoleh saat ekor matanya menangkap seseorang.

"Lo, ngapain?!."

Zoya terperanjat, menatap kedua sosok itu. Mengerjap beberapa kali. "Eh anu...ini HP itu tadi....tante Siska-."

"Sini!," potong Arex merebut HPnya.

Zoya menelan ludah nya susah payah. "Kak Zoya, sejak kapan disini?."

"Barusan," balas Zoya cepat, lalu berbalik dengan langkah tergesa gesa.

"Lo kenal dia?."

"Sepupu gue."

"Hahh? Serius?!."

"Ngapain gue bohong?!."

"Kembali ke topik aja deh...Kapan, mulainya?."

"Varo!."

Varo mendecak kesal saat sosok itu mulai mendekati mereka. "Lo, urus! Gue cabut," ujar Arex beranjak meninggalkan dua orang itu.

"Mau apasih lo?! Ganggu aja tahu nggak!."

"Gue udah bilang jangan ikut kayak gitu! Fokus aja sama-."

"Gue juga udah bilang nggak usah ikut campur urusan gue lagi!," potong Varo penuh penekanan.

Dua orang itu saling menusukkan tatapan tajam.

"Gue peduli sama lo, Bang."

"Kalau lo peduli, seharusnya dukung gue! Cuma itu yang bisa bikin gue bahagia, Ver."

...)(...

Rintik hujan diluar masih bisa ia lihat. Beberapa menit lalu sudah banyak rekan organisasinya yang pulang, tinggal mereka berdua didalam ruangan itu. Jarum jam menunjukkan pukul lima sore, tiap dentingnya seakan menenangkan suasana yang cukup sepi.

"Kapan redanya ini? Udah mau maghrib loh," gerutu Zoya menatap ke luar jendela.

"Makin deras aja nih hujan..."

"....Apa nekat pulang aja kali ya?,"lanjut Lia yang berdiri di ambang pintu.

"Nggak mau, bisa kena omel gue sama Oma."

"Terus, lo mau tidur disini?."

"Ya nggak lah Lia!."

"Ya udah terobos aja lah Zoy, gue takut juga lama-lama disini cuma berdua."

Keduanya mengamati keadaan sekeliling yang tamaram. Angin berhembus dingin disertai suara petir membuat keduanya terperanjat. Mendung menyelimuti keadaan sekitar. "Jangan ngomong aneh-aneh," sahut Zoya sembari mengelus kedua lengannya.

Hening sesaat hingga keduanya saling tatap. Menajamkan telinganya. Detak jantung mereka ikut berpacu cepat ketika suara orang berjalan beradu dengan suara air semakin mendekat. "Siapa?," tanya Zoya yang hampir seperti bisikan.

Keduanya menelan salivanya susah payah. Memeluk dirinya erat erat sembari beradu pandang. "Coba lo lihat," balas Lia.

"Lo aja gih!."

Suara itu kini beralih beradu dengan lantai. Perlahan dan pasti langkah kaki itu berhenti tepat didepan pintu. Zoya dan Lia masih diam ditempatnya yang sudah beralih duduk dibelakang lemari yang memisahkan ruang antara pintu utama.

"Ada orang," bisik Zoya diangguki Lia.

"Coba lo lihat!."

"Ogah, ntar kalau nggak ada orang gimana?."

"Lo kira hantu?."

Tok Tok Tok

Bulu kuduk keduanya berdiri. Jantungnya terasa berhenti sedetik. Suara ketukan membuat bahu keduanya menegang. Tidak ada suara seseorang, tapi suara ketukan saja sudah membuat nyali mereka ciut. "Siapa?," bisik Zoya dengan bibir begetar.

Beberapa detik mereka hanya saling diam, sampai sebuah kepala muncul dari samping lemari membuat keduanya terlonjak.

"AAAAAAAAAAAA......."

"Ada apa kak?."

"LO?!."

Mata Zoya memerah, menahan amarah yang akan meledak sewaktu waktu. Lihatlah sosok didepannya saat ini, tersenyum lebar tanpa merasa berdosa. Jantung Zoya dan Lia saja belum normal sekarang. Sial, mereka kira tadi hantu. Ternyata, hantu berkedok manusia.

"Belum pulang kak?," tanyanya polos.

"Lo sendiri ngapain masih disini?!," ngegas Zoya dengan napas naik turun, menatap nyalang cowok ber name tag Alvaro Genandra itu.

"Lah kakak ngapain masih disini?."

"Kalau ditanya itu jawab, bukannya balik tanya!."

"Udah Zoy, jangan marah-marah mulu," ujar Lia.

"Gimana nggak kesel, dia suka banget bikin jantung gue mau copot!."

"Sorry kak, habisnya tadi Varo lihat pintunya kebuka...padahal udah jam segini."

Zoya mendengus sebal. Menatap Varo dari atas sampai bawah. Badannya basah kuyup. "Udah agak terang, balik yuk Zoy."

"Hemm."

Zoya melengos, mengambil tasnya yang berada diatas meja tanpa lepas dari pengawasan Varo. "Kak!."

"Hm?," balas Lia.

"Boleh nebeng nggak?."

"Lo nggak bawa motor?," tanya Lia dibalas gelengan Varo.

"Terus tadi berangkat naik apa?."

"Bareng Vero."

Zoya menghela napas kasar. Kenapa moodnya selalu buruk jika berhadapan dengan adik kelasnya yang bernama Varo itu?. "Nyusahin banget sih lo?!."

"Zoy," ujar Lia menggeleng pelan. Rasanya dia terlalu kasar dengan sikapnya itu.

"Lo bareng Zoya aja ya, soalnya rumah gue jauh. Arah rumah lo juga nggak jauh kan sama Zoya?."

"Apaan sih Lia!."

"Zoy!," tekan Lia menatap Zoya penuh permohonan.

Varo yang melihat keduanya diam diam tersenyum tipis. "Boleh ya kak Zoya, nebeng lagi," ucap Varo menaik turunkan kedua alisnya.

"Sshhh lo, tau lah!."

"Yeesss!!!."

Tepat adzan berkumandang Zoya membelokkan motornya diarea masjid. Tidak peduli dengan orang yang dibelakangnya itu. Dia harus melaksanakan kewajibannya dulu, pasalnya waktu shalat maghrib tidaklah banyak.

"Gue mau shalat maghrib, lo tunggu disini dulu."

"Oh..Iya," balas Varo diselingi anggukan.

Netra Varo mengamati sekitarnya yang dipenuhi orang-orang dengan pakaian muslimnya. Hingga suara getar dari sakunya mengalihkan perhatian.

Reihan calling

"Lo dimana?," suara dari seberang telepon langsung terdengar saat tombol hijau ia geser.

"Di masjid."

"Di masjid?! Ngapain?."

"Shalat," balas Varo enteng.

"Hahh?!."

"Hmm."

"Njing serius lo?!."

Tut

Varo mematikan sepihak teleponnya, sedangkan Reihan yang ada disana masih melotot melihat layar gawainya yang perlahan meredup.

Selang beberapa menit, Zoya keluar bersama beberapa orang yang juga selesai menunaikan ibadah. Senyum Varo merekah tak kala Zoya sudah berdiri didepannya.

"Udah selesai kak?."

"Hmm," balas Zoya sembari memakai helmnya.

"Itu kok masih ada yang didalam, ngapain?."

Zoya mengikuti arah pandang Varo, menangkap banyaknya ibu-ibu dan anak-anak yang masih menetap didalam masjid. "Itu santunan anak yatim piatu."

"Santunan, maksudnya?."

"Ya seperti berbagi atau sedekah kepada anak-anak yang sudah tidak punya kedua orang tua."

Hening sejenak.

"Kenapa?," tanya Zoya tak kala melihat Varo yang hanya diam menatap lurus kearah masjid.

"Ternyata, Varo nggak sendiri."

Alis Zoya berkerut. "Hmm, maksud lo?."

"Yatim piatu."

...♡♡♡...

...HOLAP HOLAAPPP👋...

...JANGAN LUPA VOTE DIHARI SENIN INI YAAA...

...LIKE ...

...KOMENN...

...SEE YOU NEXT CHAP...

...LOVE YOU ALL FRIENDS😚...

^^^Tertanda^^^

^^^Naoki Miki^^^

1
Fadiylah19
andai aja cerita ini d lanjut😟😟😟
Dheana Rabbani Alghozy
kapan update lg author?
leeshuho
woahh ak mmpir thor slm dari North pole couple ❤️,btw bucin nya ank SMA klau di fiksi rumit batt ya😆,
leeshuho
so sad klau bda nya kek gini🤧
Ganis Khanne
kok lama sih up nya
Aprilia Desi
next Thor, jangan lupa mampir diceritaku ya kk 🤗
Echa zaaaa
Hai, yg masih setia nunggu klnjutan cerita ini, maaf ya, ini akun ku kedua, lupa sandi jadi nggk bisa masuk akun ku yg desputri

sekali lagi maaf ya nggk bisa lanjut
cry:(
mociiii
next thor 🤗
Umaymay Sifa
lama nya update🙄
Umaymay Sifa: iya ditunggu2 gak muncul2
total 2 replies
Echa zaaaa
Ini nggk lanjut? Beneran nggk mau ditamatin thor?
Umaymay Sifa
ihhh kok gak update lagi kk
Naoki Miki: Tunggu sbentar lagi ya, Kak
ini masih updte cerita sebelah 'Awan sang Biru'
total 1 replies
Fadiylah19
bentar bentar aq msih loading inih pas d akhir gmna sih mksudnya 🙄🙄aaaaahhh dripda bingung mnding lanjut lagi lah thor,,yo semangat yo✊✊✊🥰🥰🥰
Ika Sartika
ada ada aja
oom komalasari
yuch double yuch .🤩🤩 jgn lama lama Kaya nunggu di Lamar Sama ayang nya orang🥲
sya-sha
sabar y varo
Umaymay Sifa
iihhhh..... pura pura lupa ingatan... tapi lucu juga sih gk ingat sama vero dan mama miranti, tapi ingat zoya eh malah tunangan.. dasar varo modus😂😂kasihan ya varo masih belum d akui sama keluarga ny.. klo dia pindah keyakinan. semangat varo💪
Dheana Rabbani Alghozy
diih...pura² lupa😂😂

modus ke zoya itu😝

tp...varo ngelakuin itu karena denger ucapan mama miranti itu
Intan Lpg
nah kannn betull,, feeling ku varo g'bner" amnesia Dy hnya pura" ehhh beneran..🤣🤣
lagiii Thor
haa
semangat thorrr
Echa zaaaa
Sakitnya smpe sini:(
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!