Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Hasil rapot kenaikan semester dua sudah selesai dibagikan dengan Angga dan Rafael yang mendapat predikat peringkat pertama. Angga duduk dikelas 11 IPA 2 dan Rafael di kelas 11 IPA 1. Meskipun terpisah kelas, mereka tetap berteman akrab. Juga Rio dan Arkala yang turut bergabung melengkapi persahabatan 4 sekawan itu.
"Rencana liburan mau kemana bro? Gue sih ngikut kalian aja, iya kan, Ri." Arka mengerling Rio, dan diangguki temannya.
"Terserah kalian, gue sih terima beres yang penting Arra harus ikut dibawa kemanapun gue pergi," seru Rafael.
Rafael seperti terikat kuat dengan Arra, gadis kecil yang ia rawat sedari kecil sampai sekarang berumur delapan tahun. Terkesan seperti pedofil namun perasan seseorang tidak bisa dicegah bukan, begitulah Rafael yang tidak sanggup terpisah jauh bahkan sehari tak melihat wajah Arra, Rafael bisa dibuat kesal olehnya.
"Bucin lo Raf, masih bocah juga si Arra, tau apa dia tentang cinta, si abang-abangan nya," timpal Rio. Heran dengan temannya yang satu ini. Masih banyak cewek lain yang seumuran dan bisa diajak untuk menjalin hubungan, Rafael malah memilih untuk menunggu sang pujaan hati yang SD saja belum lulus.
Angga sang kakak mengulas senyum simpul. Ia sudah mengetahui ketertarikan Rafael pada Arra semenjak kecil. Semenjak mereka masih sama-sama berumur 10 tahun. "Gua ada saran, gimana kalau liburan kepuncak aja. Arra suka tuh kalau diajak melihat pemandangan gunung, apalagi kalau diajak ke taman wisata binatang, pasti gak mau pulang dia," saran Angga yang langsung disetujui ketiga remaja yang beranjak dewasa itu.
***
Perlengkapan tas piknik dan ransel Angga sudah tersimpan rapi ditaruh diruang tamu. Rencananya mereka akan liburan selama 3 sampai 5 hari. Arra yang diajak sang Abang tentu sangat bergembira. Bahkan barang bawaan mereka sudah penuh dengan perlengkapan Arra semua.
"Bang, jaga Arra, jangan ditinggal, kalau ke Wc tungguin lho, jangan sampai pisah," pesan Annisa.
Annisa sebenarnya mau ikut dengan sang anak, namun sang suami Dimas melarangnya. Lelaki beranak dua itu tidak ingin istrinya menggangu dan mencampuri liburan anak-anak mereka. "Iya, Ma. Abang gak akan biarin Arra lepas dari pengawasan, kan ada pawangnya juga?"
"Mama, tau! Tapi tetap kamu sebagai Abangnya, harus jaga Arra baik-baik. Rafael memang bisa diandalkan tapi nggak mungkin kan diajak bobok bareng Arra. Tau sendiri adik kamu itu nggak bisa tidur sendirian," pesan Annisa lagi. Arra memang belum terbiasa tidur sendirian. Gadis berumur delapan tahun itu selalu ditemani Mama, Papah, atau Abangnya, baru gadis itu bisa tidur lelap dan tenang.
***
Vira dan teman-temannya juga akan berlibur ke puncak. Mereka akan pergi menyusul Gerald. Ralat bukan menyusul tapi menguntit. Dari sehari sebelum rapot dibagikan dan Vira yang tergabung dalam anggota OSIS menggali informasi kemana Gerald akan liburan.
Jangan lupa sogokan uang yang diberikan Vira untuk memancing mulut ember Guntur. Dan hasilnya ia bisa tahu kemana Gerald akan menghabiskan masa liburannya.
***
Dikediaman Dani, Rafael menunggu Tita berkemas. Anak pembantunya itu akan ikut dengannya liburan. Rafael dan Tita lumayan dekat. Apalagi saat tahu Ibunya Silvana sangat menyukai Tita bahkan menganggap gadis itu sebagai anaknya.
Rafael sebenarnya jarang tinggal dirumah sang Ibu. Jarak rumah dengan sekolahnya lumayan jauh. Dan Rafael mengakalinya dengan tinggal dirumah sang nenek yang kebetulan masih satu daerah dengan rumah kediaman Dimas sekeluarga, juga sekolahnya Rafael sekarang.
"Udah beres Ta. Kalau udah minta Pak Iwan bawain, taruh ke bagasi mobil. Aku mau pamitan sama Bunda dulu," ucap Rafael berjalan menaiki tangga menghampiri sang Ibu.
"Iya, Raf nanti aku panggil Pak Iwannya," sahut Tita cepat.
Tita pun segera meminta Pak Iwan membawa tas ranselnya yang lumayan berat karena isinya bukan hanya perlengkapan Tita, tapi juga ada bingkisan dan makanan siap santap yang disiapkan Silvana sebagai bekal juga titipan untuk Arra.