NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Nama 'Blackwood' adalah gertakan. Elara tahu hubungan Kaelen dengan keluarga mendiang Lyra rumit, tapi Gremio tidak tahu itu. Yang Gremio tahu adalah Blackwood adalah saingan dagang yang kaya.

Wajah Gremio memerah. Keringat mulai menetes di pelipisnya. Dia tahu dia kalah. Dia mencoba menipu seorang gadis kecil, dan gadis kecil itu baru saja menodongkan pisau ke leher dompetnya.

"2000 terlalu tinggi," Gremio mencoba menawar, suaranya tidak lagi merdu. "1500. Tunai. Sekarang."

"1800," balas Elara. "Dan Anda mengangkutnya sendiri hari ini. Saya butuh gudang itu kosong besok pagi."

Gremio menatap mata Elara. Dia mencari keraguan, mencari tanda kelemahan. Dia tidak menemukannya. Dia hanya menemukan tatapan kalkulatif yang dingin, tatapan seorang putri yang dibesarkan oleh ayah penjudi yang selalu kalah, sehingga dia belajar cara untuk menang.

"Sepakat," gerutu Gremio akhirnya. "1800 emas."

Elara tersenyum. Kali ini senyum tulus yang kecil. "Senang berbisnis dengan Anda, Master Gremio. Silas, antar beliau ke gudang dan pastikan koinnya dihitung dua kali."

Saat Gremio keluar dengan langkah kesal, Elara menyandarkan punggungnya ke kursi. Bahunya turun. Tangannya gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang mulai surut.

Tiba-tiba, ia merasakan tatapan seseorang.

Elara menoleh ke arah balkon lantai dua yang menghadap ke ruang tamu itu.

Di sana, berdiri dalam bayang-bayang pilar batu, adalah Kaelen.

Dia bersandar pada pagar batu, tangan terlipat di dada. Dia tidak mengenakan baju zirah, hanya kemeja hitam sederhana. Rambutnya terurai, menutupi sebagian wajahnya.

Elara tidak tahu sudah berapa lama dia di sana. Apakah dia melihat semuanya?

Kaelen tidak turun. Dia tidak bertepuk tangan. Dia hanya menatap Elara dengan intensitas yang tenang. Tatapannya berbeda dari tatapan di gudang senjata kemarin. Kemarin adalah keraguan. Hari ini... hari ini adalah penilaian ulang. Dia melihat istrinya merobek leher seorang pedagang licik tanpa menumpahkan setetes darah pun.

Perlahan, Kaelen mengangguk. Hanya satu kali. Sebuah gerakan mikro yang hampir tak terlihat.

Lalu dia berbalik dan menghilang kembali ke dalam kegelapan koridor lantai atas.

Jantung Elara berdegup kencang. Itu adalah pengakuan. Di dunia Kaelen yang bisu, anggukan itu setara dengan pidato pujian sepanjang satu jam.

Malam itu, Kastil Blackiron berubah.

Menjelang tengah malam, pekerjaan perbaikan pipa selesai. Brom dan timnya, yang bekerja lembur demi koin emas Elara, berhasil menyambungkan kembali sirkuit uap utama.

Elara sedang berada di perpustakaan, membaca buku di sofa (kebiasaan barunya), ketika suara itu terdengar.

Gung... gung... hisss...

Suara gemuruh rendah datang dari dalam dinding. Seperti suara naga yang baru bangun dari tidur panjang, meregangkan otot-ototnya. Pipa-pipa tua mulai dialiri uap panas dari tungku besar di ruang bawah tanah.

Awalnya, hanya getaran halus di lantai. Lalu, perlahan tapi pasti, udara di ruangan itu berubah.

Rasa dingin yang biasanya menggigit ujung hidung dan menembus sepatu mulai surut. Dinding batu yang biasanya memancarkan hawa es kini terasa hangat saat disentuh.

Elara meletakkan bukunya. Ia berdiri dan berjalan ke tengah ruangan, merentangkan tangannya.

Hangat.

Bukan hangat dari perapian yang hanya menjangkau satu meter, tapi kehangatan yang merata, memenuhi seluruh ruangan. Sistem hypocaust kuno ini bekerja.

Pintu perpustakaan terbuka. Kaelen masuk.

Langkahnya terhenti. Dia tampak bingung. Dia melihat ke sekeliling, lalu menatap dinding, lalu menatap lantai. Dia melepaskan jubah bulunya, menyadari bahwa dia berkeringat.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kaelen. Suaranya tidak tajam, hanya heran.

"Menghidupkan jantung kastilmu," jawab Elara lembut.

Kaelen berjalan perlahan ke tengah ruangan. Dia tampak tidak nyaman, seolah kehangatan ini adalah sesuatu yang asing dan mencurigakan. Selama lima tahun, dia hidup dalam dingin. Dia telah mengkondisikan tubuhnya untuk menderita.

"Ini... aneh," gumam Kaelen.

"Ini nyaman, Kaelen," koreksi Elara. "Bukan aneh."

Kaelen menatap Elara. Cahaya lampu gantung kini tampak lebih terang, tidak lagi suram. Wajah Elara tampak merona karena udara hangat, membuatnya terlihat lebih hidup, lebih cantik.

"1800 koin emas," kata Kaelen tiba-tiba. Rupanya Silas sudah melapor. "Kau memeras pedagang itu."

"Aku hanya mengambil harga yang pantas," Elara tersenyum tipis. "Dan dengan sisa uang itu, aku sudah memesan wol untuk selimut baru prajuritmu. Mereka tidak akan kedinginan lagi di barak."

Kaelen terdiam. Dia melangkah mendekat. Jarak mereka menyusut.

Elara bisa mencium aroma sabun dan angin malam dari tubuh suaminya. Untuk pertama kalinya, Kaelen tidak memancarkan aura 'jangan mendekat'. Kehangatan fisik ruangan ini sepertinya melelehkan sedikit ketegangan di antara mereka.

"Kau berbahaya, Elara," ucap Kaelen pelan. Matanya menelusuri wajah istrinya, mencari sesuatu. "Kau membuat tempat ini terasa seperti..."

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Kata 'rumah' tersangkut di tenggorokannya. Kata itu terlalu menyakitkan, terlalu penuh dengan kenangan akan apa yang hilang.

"Seperti tempat untuk hidup," sambung Elara. "Bukan hanya tempat untuk menunggu mati."

Kaelen memalingkan wajahnya, melihat ke arah perapian. Rahangnya berkedut. Dia sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Keinginan untuk menolak kenyamanan ini bertabrakan dengan kelelahan jiwanya yang mendalam.

"Jangan berpikir ini mengubah segalanya," kata Kaelen akhirnya, suaranya kembali dingin, tapi tidak sedingin dulu. Itu adalah pertahanan terakhir yang rapuh. "Pipa panas tidak akan memenangkan perang."

"Tidak," Elara setuju. "Tapi pipa panas membuat prajurit tidur nyenyak. Dan prajurit yang tidur nyenyak memenangkan perang."

Kaelen menoleh kembali padanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit—sangat sedikit—membentuk seringai yang nyaris menyerupai senyuman. Senyuman yang sama dengan di lukisan, meski jauh lebih redup dan penuh luka.

"Kau keras kepala," katanya.

"Aku belajar dari yang terbaik," balas Elara.

Kaelen mendengus pelan. Dia tidak pergi. Dia berjalan menuju kursi kerjanya, duduk, dan mengambil sebuah buku. Dia tidak menyuruh Elara pergi.

Malam itu, di dalam perpustakaan yang hangat, di tengah kastil yang mulai berdetak kembali, Kaelen dan Elara duduk bersama. Tidak ada kata-kata cinta, tidak ada sentuhan fisik. Namun, di antara mereka, di udara yang tidak lagi membeku, benih kepercayaan yang sangat kecil mulai tumbuh di atas tanah yang tandus.

Elara kembali membuka bukunya, menyembunyikan senyum kemenangannya. Dia telah menyalakan api di bawah lantai. Langkah selanjutnya adalah menyalakan api di dalam dada pria itu. Dan dia tahu, itu akan membutuhkan lebih dari sekadar pipa uap.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!