Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENJAGA HUTAN
Beberapa burung gagak jatuh ke tanah, tapi anehnya, tubuh mereka tidak berdarah. Burung-burung itu justru meledak menjadi kepulan bulu hitam yang sangat banyak, menutupi pandangan Elena.
"El! Awas! Mereka bukan mau mematuk mu, mereka mau mengurung mu!" teriak Arlon dari bawah pohon.
Elena mengibaskan tangannya untuk menghalau bulu-bulu yang menghalangi matanya.
"Berisik! Aku tahu!" jawab Elena, sedikit meninggikan suaranya.
Elena melompat turun, mendarat tepat di depan Arlon.
Benar saja, burung-burung itu kini terbang melingkar dengan kecepatan tinggi, menciptakan pusaran angin hitam yang mengelilingi mereka berdua.
"Kenapa burung-burung ini aneh sekali?" tanya Arlon sambil merapat ke punggung Elena, tangannya sudah siap mengeluarkan panas jika keadaan mendesak.
"Ini penjaga hutan, Arlon, mereka merasa kita mencuri sesuatu yang berharga," jawab Elena sambil menatap tajam ke arah langit-langit hutan yang tertutup burung.
"Maksudmu si Anggrek Api ini? Pelit sekali hutan ini, cuma ambil satu saja sampai segitunya," keluh Arlon, meski wajahnya tetap waspada.
"Ini bukan soal pelit, ini soal keseimbangan! Kamu pikir kenapa hutan ini disebut terlarang? Karena alam punya cara sendiri buat membuang penyusup," jawab Elena ketus.
Tiba-tiba, dari kegelapan semak-semak, muncul sosok bayangan tinggi besar.
Pria itu membawa kapak besar dan wajahnya tertutup topeng.
"Ternyata ada manusia yang berani mencuri milik hutan terlarang," ucap pria itu dengan suara yang berat dan bergema, seolah-olah suaranya keluar dari tanah.
"Mencuri ? Kami cuma ambil bunga buat hadiah Raja, Tuan," jawab Arlon dengan nada santai yang dibuat-buat, meski Elena bisa merasakan tangan Arlon yang menggenggam pundaknya sedikit gemetar.
"Bunga itu adalah sumber kehidupan bagi makhluk di bagian hutan ini, Anak Muda. Tanpanya, musim dingin tidak akan pernah pergi dari sini," jawab pria bertopeng itu sambil mengangkat kapaknya.
"Kita tidak punya waktu buat debat, Arlon," bisik Elena rendah.
"Aku akan tahan dia, kamu cari celah buat lari ke arah sungai tadi," lanjut Elena, bersiap mengeluarkan belati nya.
"Lari? El, aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian lawan pria itu!" tolak Arlon tegas.
"Jangan keras kepala! Kondisi fisikmu belum stabil. Kalau kamu pingsan di sini, kita berdua tamat!" bentak Elena tanpa melepaskan pandangannya dari si penjaga hutan.
"Aku punya ide lebih bagus, kita pakai energi kita secara bersamaan," usul Arlon, matanya berkilat penuh tekad.
"Risikonya besar, Arlon, kamu bisa sekarat lagi kalau nggak kuat nampung energinya," jawab Elena, menggeleng kan kepala nya, tidak setuju.
"Lebih baik sekarat sambil melawan daripada mati konyol jadi penonton," jawab Arlon mantap.
Si penjaga hutan yang tadinya tampak begitu mengintimidasi tiba-tiba berhenti di tempat.
Ayunan kapak besarnya tertahan di udara, lalu dengan perlahan, pria itu menurunkan senjatanya, Elena pikir pria itu akan menyerang dengan tangan kosong, tapi di luar dugaan, dia berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Elena dan Arlon.
Deg
Elena tertegun, matanya mengerjap tidak percaya sambil tetap memasang posisi siaga dengan belatinya.
"D-dia kenapa, El? Apa dia mendadak sakit punggung?" bisik Arlon yang masih menyandarkan tubuhnya pada Elena, napasnya masih terasa panas dan memburu.
"Diam lah, Arlon, aku juga tidak tahu," jawab Elena pelan, jantungnya berdegup kencang karena bingung.
Elena melirik ke arah tangan Arlon yang masih menggenggam jemarinya erat.
"Mungkin kah karena darah Arlon," batin Elena.
Elena berpikir, mungkin aura Naga yang baru saja terpancar dari Arlon begitu kuat hingga membuat penjaga hutan ini ketakutan.
Darah naga adalah darah penguasa, wajar jika makhluk hutan tunduk padanya.
"Pergilah, wahai pembawa keseimbangan. Hutan ini tidak akan menghalangi langkah kalian lagi," ucap pria bertopeng itu, suara nya terdengar jauh lebih rendah dan penuh hormat, sangat berbeda dari nada mengancam tadi.
"Hah? Serius? Kita boleh lewat begitu saja?" tanya Arlon sangsi, dia mencoba berdiri tegak meski kepalanya masih sedikit pening.
"Jangan banyak tanya, mumpung dia berubah pikiran. Ayo jalan!" perintah Elena tegas, menarik tangan Arlon untuk segera melewati pria yang masih berlutut itu.
Begitu mereka melangkah melewati si penjaga hutan, burung-burung gagak yang tadi mengepung mereka langsung terbang menjauh dan menghilang di balik kabut, seolah-olah mereka baru saja mendapatkan perintah dari atasan yang sangat tinggi untuk mundur.
"El, aku hebat juga ya, ternyata darah naga ku se berpengaruh itu sampai raksasa tadi tunduk," ucap Arlon dengan nada bangga yang mulai kembali, meskipun wajahnya masih terlihat pucat.
"Jangan terlalu percaya diri, mungkin dia cuma kasihan melihat wajahmu yang sudah seperti mayat hidup," jawab Elena ketus, berusaha menutupi rasa herannya sendiri.
Elena merasakan telapak tangannya sendiri sedikit berdenyut hangat, sebuah sensasi yang aneh sejak dia menyentuh Arlon di hutan tadi.
Dia merasa seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang baru saja menyapa penjaga hutan itu, tapi dia segera menepis pikiran tersebut.
"Tapi jujur saja, rasanya aneh, El, saat aku memegang tanganmu tadi, aku merasa tenagaku berlipat ganda, tapi bukan rasa sakit yang kudapat, melainkan rasa tenang, dan hangat," gumam Arlon sambil menatap telapak tangan Elena yang digenggamnya.
"Sudah aku katakan, itu karena ramuan biru yang selalu kamu minum tadi masih bereaksi, ditambah energi naga mu yang mulai stabil. Tidak ada alasan lain," jawab Elena mencoba memberikan penjelasan logis yang menenangkan dirinya sendiri juga.
"Mungkin saja, tapi yang penting kita selamat dan bunganya aman, kan?" ucap Arlon tersenyum miring.
"Dan bonusnya, aku bisa pegangan tangan terus sama kamu," lanjut Arlon, mengeratkan genggaman tangan nya.
Elena mendengus, namun dia tidak melepaskan tangan Arlon.
"Cepat jalan! Kita hampir sampai di perbatasan luar hutan, kalau kita sudah melihat sungai, berarti kita sudah dekat dengan jalan tikus menuju paviliun," ucap Elena, terus berjalan.
"Iya, iya, Istriku yang galak, aku jadi tidak sabar melihat wajah Selena saat kita membawa Anggrek Api ini di depan Raja nanti," ucap Arlon dengan binar licik di matanya.
Mereka melanjutkan perjalanan di bawah rimbunnya pepohonan yang kini terasa lebih bersahabat.
Elena mempercepat langkahnya, menyeret Arlon yang mulai limbung.
Meskipun penjaga hutan tadi sudah tunduk, insting pembunuh Elena tetap berteriak bahwa mereka belum sepenuhnya aman sampai benar-benar keluar dari garis hutan ini.
Tanpa mereka sadari, pria bertopeng di belakang mereka masih terus menunduk sampai sosok keduanya benar-benar hilang dari pandangan, seolah dia baru saja melihat dua matahari yang menyatu di tengah hutan yang gelap
"El... pelan sedikit, kakiku rasanya mau copot," keluh Arlon sambil terengah-engah.
"Simpan protesmu buat nanti Pangeran, kita harus sampai ke paviliun sebelum matahari terbenam," jawab Elena tanpa menoleh, matanya terus waspada memantau dahan-dahan pohon di atas mereka.