NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Tidak Tahu Diri

PLAK!

Suara tamparan keras terdengar nyaring, memecah keheningan ruangan. Tubuh Ferdi terhuyung ke samping karena kekuatan tamparan itu, pipinya seketika memerah dan terasa perih luar biasa. Ia menatap ayah mertuanya dengan mata terbelalak kaget dan takut. Ia belum pernah melihat Pak Edward semarah ini. Wajah pria tua itu tampak mengerikan, dipenuhi amarah dan kekecewaan yang mendalam.

"Kau tidak tahu diri!" bentak Pak Edward dengan suara gemetar karena marah, jarinya menunjuk tepat ke wajah Ferdi.

"Aku sudah memberimu segalanya! Aku sudah mengangkat mu dari nol, memberimu jabatan, kekayaan, dan nama besar! Aku percayakan putri kesayanganku padamu! Tapi apa yang kau lakukan? Kau mempermalukan kami di depan semua orang! Kau membiarkan Kiara hampir mati demi wanita lain? Wanita siapa itu, hah? Siapa wanita yang kau dahulukan itu?!"

"Ayah... tolong tenangkan diri... itu... itu hanya kesalahpahaman... itu refleks saja... aku tidak tahu ada Kiara juga disana..." Ferdi mencoba membela diri, tangannya menyentuh pipinya yang sakit, suaranya bergetar tak berdaya.

"Kesalahpahaman? Refleks?!" potong Pak Edward semakin marah, napasnya memburu. "Semua orang melihatnya, Ferdi! Semua orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tanggamu! Apa kau kira aku tuli? Apa kau kira aku bodoh? Selama ini aku diam, aku berpikir mungkin aku salah dengar desas-desus tentangmu... tapi tadi malam... kau membuktikan semuanya sendiri! Kau bukan suami yang baik, kau bukan pria yang pantas untuk anakku!"

Bu Silvia yang sejak tadi menahan tangis, kini ikut berbicara dengan suara parau, matanya menatap Ferdi dengan pandangan kecewa yang dalam.

"Kami sudah memperlakukanmu seperti anak sendiri, Ferdi... kami percaya padamu. Tapi lihat apa yang kau lakukan pada Kiara... lihat betapa hancurnya anak kami. Dia terbaring di sana, tidak sadarkan diri, sementara kau... kau sibuk dengan wanita lain."

Pertengkaran itu semakin memanas. Suara tinggi Pak Edward dan isak tangis Bu Silvia memenuhi ruangan. Baskara yang menyaksikan semuanya dari samping hanya diam, namun tangannya mengepal erat menahan amarah, berusaha menahan diri agar tidak ikut melabrak Ferdi saat itu juga.

Namun, tepat saat suasana sedang memuncak dan hampir berubah menjadi kekacauan, sebuah gerakan kecil di atas ranjang membuat semua orang serentak terdiam.

Tangan Kiara yang sedari tadi terbaring diam, bergerak perlahan. Jari-jarinya berkedut pelan. Kelopak matanya yang tertutup mulai bergerak, berusaha membuka diri melawan rasa berat yang menguasainya.

"Kiara..." bisik Bu Silvia, seketika melupakan kemarahannya pada Ferdi dan bergegas mendekati ranjang.

Pak Edward pun langsung berhenti berteriak. Amarahnya seketika hilang berganti menjadi kekhawatiran yang mendalam. Ia berjalan cepat mendekati sisi ranjang putrinya, diikuti oleh Baskara yang langsung bersandar ke depan, wajahnya penuh harap dan cemas. Ferdi pun terpaku di tempatnya, melupakan rasa sakit di pipinya, matanya tertuju penuh pada sosok istrinya.

Perlahan namun pasti, mata Kiara terbuka. Awalnya kabur, lalu perlahan menjadi jelas. Ia melihat wajah ibunya yang basah oleh air mata, wajah ayahnya yang tampak sangat khawatir, wajah Baskara yang lega luar biasa, dan di belakang sana, wajah Ferdi yang pucat dan penuh rasa bersalah.

Kiara mengerjap beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih terasa berat. Ia teringat semuanya. Air dingin, rasa sesak, dan pemandangan yang paling menyakitkan: suaminya yang memilih wanita lain.

"Ibu... Ayah..." suara Kiara terdengar sangat lemah dan parau, hampir tak terdengar.

"Sayang... anakku... kamu sudah sadar... syukurlah, syukurlah..." Bu Silvia langsung menggenggam tangan putrinya erat, mencium punggung tangan itu berulang kali sambil menangis haru. "Kamu tidak apa-apa kan, Nak? Ada yang sakit? Katakan pada Ibu, Nak..."

Pak Edward mengusap pelan rambut putrinya, matanya yang tegas kini berair menahan haru dan rasa bersalah. "Kiara... maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah yang membawamu ke pesta itu. Maafkan Ayah yang memilih orang yang salah untuk menjagamu. Kamu sudah bangun, Nak... Ayah ada di sini. Ibu ada di sini. Tidak ada siapa pun yang boleh menyakitimu lagi, mulai sekarang."

Kiara menatap wajah kedua orang tuanya bergantian, lalu pandangannya beralih melewati bahu ayahnya, menatap Ferdi yang berdiri jauh di belakang dengan wajah yang penuh rasa bersalah dan ketakutan. Di mata Kiara, tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi rasa sakit hati yang berlebihan. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang dingin dan tatapan tajam yang seolah sudah mengetahui segalanya.

Kiara menarik napas panjang, lalu menatap kembali orang tuanya dengan senyum tipis yang penuh makna.

"Aku baik-baik saja, Ayah... Ibu..." jawab Kiara pelan namun tegas.

"Jangan khawatir... aku sudah bangun. Dan kali ini... aku bangun bukan hanya dari pingsan... tapi aku bangun dari segala kebohongan yang selama ini membutakan mataku."

Kalimat itu menggantung di udara, penuh arti, dan membuat hati Ferdi mencelos jatuh ke dasar bumi. Ia tahu, sejak detik ini, segalanya benar-benar berubah. Wanita yang terbaring di hadapannya itu bukan lagi Kiara yang dulu polos dan lembut. Kiara yang baru bangun ini adalah wanita yang telah melihat kebenaran, wanita yang telah dikhianati, dan wanita yang siap untuk membalas semuanya.

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!