NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 20: Salah Paham yang Menyelamatkan

Krieeek...

Suara derit engsel pintu kayu jati berukir yang sengaja didorong lebar memecah keheningan ruang kerja, terdengar bak dentuman meriam di telinga dua manusia yang berada di dalamnya.

Suara itu membuat Renard dan Arumi tersentak seketika, seolah baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan besar.

Arumi, secepat kilat, buru-buru menarik kedua tangannya dari bahu tegap Renard.

Ia mundur satu langkah dengan napas yang mendadak tertahan di tenggorokan.

Sementara itu, pria di kursi kebesaran tersebut langsung menegakkan punggungnya dengan gerakan kaku dan meremas pinggiran meja kerjanya. Raut wajah Renard memucat, menampilkan ekspresi panik yang luar biasa hebat.

Itu adalah ekspresi yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya kepada siapa pun di dunia ini.

Bahkan saat ia harus berdiri di depan jajaran direksi untuk menghadapi ancaman kebangkrutan yang mematikan di salah satu anak perusahaan terbesarnya tahun lalu, Renard Wijaya tetap tampil dengan wajah sedingin balok es dan tak tertembus.

Namun kali ini, pertahanannya runtuh total hanya karena suara engsel pintu.

Di ambang pintu yang kini terbuka lebar, Mama Sofia berdiri mematung.

Wanita paruh baya itu tampak menggendong si Oyen, anak kucing berbulu jingga yang mendengkur nyaman di pelukannya.

Matanya tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu koridor di belakangnya.

Namun, alih-alih menampilkan raut kemarahan atau kekecewaan, senyuman di bibirnya justru merekah begitu lebar. Saking lebarnya senyuman itu, guratan lelah dan pucat sisa-sisa penyakit di wajah senjanya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh pendar kebahagiaan yang murni.

"Mama?!" seru Renard, memecah kecanggungan yang mencekik.

Nada suaranya tanpa sadar sedikit meninggi dan bergetar karena gugup yang tak tertahankan.

Jantung Renard berdegup sangat kencang, menghantam tulang rusuknya bagaikan tabuhan genderang perang. Pikirannya berlari ke ratusan skenario terburuk.

Ia takut setengah mati.

Bagaimana jika ibunya yang memiliki kondisi jantung lemah itu sempat menangkap kata "kontrak" atau "investasi" yang baru saja mereka perdebatkan? Bagaimana jika rahasia besar yang selama ini ia tutupi rapat-rapat demi kesehatan sang ibu hancur berantakan di detik ini juga?

"Sejak... sejak kapan Mama berdiri di sana?" tanya Renard lagi, menelan ludahnya dengan susah payah, berusaha keras mencari sisa-sisa wibawanya yang berserakan.

Mama Sofia melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang bernuansa maskulin tersebut dengan langkah ringan.

Sembari berjalan, beliau menyeka setitik air mata haru yang jatuh di sudut matanya menggunakan sapu tangan sutra berenda miliknya. Beliau sama sekali mengabaikan pertanyaan putranya yang terdengar defensif.

Pandangan wanita itu langsung tertuju pada Arumi, menatap sang menantu dengan tatapan yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang yang membuncah.

"Mama tadinya ke atas hanya mau mengantar camilan kue talam hangat buatan Bi Sumi untuk kalian berdua," ujar Mama Sofia, suaranya sedikit bergetar halus karena luapan emosi yang tertahan.

"Tapi saat Mama mau mengetuk, Mama malah tidak sengaja melihat pemandangan yang begitu indah dari celah pintu. Maafkan Mama, ya, Sayang, kalau kehadiran Mama yang tiba-tiba ini sampai mengganggu momen intim kalian."

Mendengar kalimat itu, Renard buru-buru melirik Arumi.

Lewat ekor matanya, ia memberikan tatapan tajam yang menyiratkan kode kepanikan tingkat tinggi—sebuah sinyal bahaya tak kasatmata yang meminta Arumi untuk bersiaga.

"Mama... tidak mendengar sesuatu yang aneh dari obrolan kami, kan?" tanya Renard sangat hati-hati.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya diukur dan ditimbang, berusaha menyelidiki sejauh mana kebocoran rahasia mereka tanpa harus terdengar mencurigakan.

Mama Sofia terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar renyah dan lega. Sambil menunduk, beliau menurunkan si Oyen ke atas karpet tebal Persia di tengah ruangan, membiarkan bola bulu itu meregangkan tubuhnya.

"Mama memang tidak mendengar dengan jelas apa yang sebenarnya kalian perdebatkan di awal tadi, Renard. Pintu ruang kerjamu ini terbuat dari kayu jati yang terlalu tebal, dan suara kalian berdua sangat berbisik-bisik seperti orang yang sedang merencanakan sesuatu," jawab Mama Sofia dengan jujur dan polos.

Mendengar pengakuan itu, napas Renard yang sejak tadi terasa tersangkut dan tertahan di tenggorokan perlahan mulai berembus lega. Beban tak kasatmata berton-ton yang menindih dadanya seolah terangkat sebagian.

"Tapi..." lanjut Mama Sofia, menghentikan kelegaan putranya di udara.

"Mama sempat mendengar kalimat terakhir Arumi, tepat sebelum kenop pintu ini Mama putar dan Mama buka." Wanita itu tersenyum semakin lebar, menatap kedua insan di hadapannya bergantian.

"Arumi bilang... dia sudah jatuh cinta sejak lama padamu, Renard."

Deg.

Waktu di dalam ruang kerja itu seakan berhenti berdetak.

Wajah Renard yang semula memucat pasi bak selembar kertas putih karena panik, dalam hitungan detik langsung berubah warna.

Transisi itu terjadi begitu cepat; semburat merah padam menyala sempurna merambat tanpa ampun dari balik kerah leher kaus abu-abunya, menjalar naik menguasai rahangnya yang tegas, memenuhi seluruh pipinya, hingga ujung telinganya terasa panas terbakar.

Sang CEO raksasa yang terkenal bengis di meja negosiasi itu kini tak lebih dari seorang pria dewasa yang kehilangan akal sehatnya.

Ia menoleh kaku ke arah Arumi, menatap istrinya dengan tatapan salah tingkah yang sangat hebat. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun silabel yang mampu ia proyeksikan untuk membantah.

Arumi sendiri sebenarnya tidak kalah terkejut di tempatnya berdiri.

Kedua matanya sedikit membulat. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa bisikan lirihnya yang awalnya hanya bertujuan untuk menggoda dan membalas argumen keras kepala Renard, justru tertangkap secara akurat oleh radar sensitif sang ibu mertua.

Namun, keterkejutannya hanya berlangsung sesaat.

Saat ia melihat ke arah meja kerja dan mendapati Renard yang sudah mati kutu, membeku layaknya kepiting rebus yang baru diangkat dari panci, insting jahil dan cerdas Arumi kembali bangkit.

Otaknya berputar cepat untuk menyelamatkan situasi kritis ini agar skenario mereka tetap berjalan mulus di mata Mama Sofia.

"Ah... Mama," ucap Arumi dengan suara yang sengaja dilembutkan.

Ia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, membuat gerak-gerik kaku sembari memainkan ujung kaus katunnya dengan kedua tangan.

Ia berpura-pura sangat malu hingga tak sanggup menatap wajah ibu mertuanya. "Maafkan saya, Mama. Saya... saya sungguh lancang. Saya hanya terbawa suasana karena melihat Tuan Renard yang terlihat sangat lelah sepulang kerja hari ini. Saya tidak bermaksud mengumbar perasaan saya seperti itu..."

Melihat tingkah laku menantunya yang tampak begitu menggemaskan dan pemalu, hati Mama Sofia semakin meleleh.

Wanita itu berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka, lalu merangkul pundak Arumi dengan sangat erat dan hangat, memberikan tepukan sayang yang menenangkan.

"Astaga, kenapa kamu harus minta maaf untuk sesuatu yang sangat membahagiakan ini, Sayang?" ucap Mama Sofia dengan tulus.

"Mama justru sangat bahagia mendengarnya. Kamu tahu? Selama ini, bahkan saat ia masih kuliah, Mama selalu merasa cemas dan takut kalau Renard tidak akan pernah bisa dicintai dengan tulus oleh siapa pun di dunia ini. Sifatnya itu, lho, sangat kaku, sedingin es, dan keras kepala seperti kanebo kering yang belum dicelup air! Tapi hari ini, mendengar kamu mengaku dengan tulus menyayanginya... beban berat di pundak Mama selama bertahun-tahun rasanya hilang menguap semua."

Beliau kemudian melepaskan pelukannya pada Arumi dan menoleh tajam ke arah putra tunggalnya.

Mata lembutnya seketika berubah, melemparkan tatapan mendelik yang penuh dengan ancaman jenaka khas seorang ibu penguasa rumah tangga.

"Kamu juga dengar itu, kan, Renard Wijaya?!" tegur Mama Sofia tegas.

"Dengar sendiri perkataan istrimu, kan? Istrimu yang cantik, pintar, dan baik hati ini sudah rela menurunkan gengsinya yang tinggi hanya untuk jujur tentang perasaannya padamu. Jadi, mulai detik ini juga, berhentilah bersikap ketus, dingin, dan egois! Mulailah memperlakukannya dengan jauh lebih manis selayaknya suami yang normal. Awas ya, kalau sampai suatu hari nanti Mama melihat dengan mata kepala Mama sendiri kamu berani membuat Arumi bersedih atau menangis!"

Di balik meja kerjanya yang kokoh, Renard mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas meja.

Giginya terkatup rapat-rapat hingga rahangnya menegang, berusaha sekuat tenaga menahan gejolak malu, gengsi, dan kebingungan yang kini sudah mendidih sampai ke ubun-ubunnya.

Ia memalingkan wajahnya secara ekstrem ke arah layar laptop yang sudah gelap gulita, menolak keras untuk memperlihatkan sepasang mata elangnya yang kini ikut bergetar tak karuan karena salah tingkah yang tak berujung.

"I-iya, Mama. Aku... aku tahu. Mama tidak perlu menceramahiku," jawab Renard terpotong-potong.

Suara baritonnya terdengar sangat kaku, pendek, dan serak, berusaha mati-matian mempertahankan sisa-sisa wibawa dan otoritasnya yang kini sudah hancur lebur tak tersisa di depan kedua wanita yang sangat mendominasi kehidupannya tersebut.

"Sekarang... mengingat kondisimu, sebaiknya Mama segera kembali ke bawah untuk beristirahat. Ini sudah malam. Dan aku... aku masih harus menyelesaikan sisa dokumen audit yang tertunda ini."

"Selalu saja alasan pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan yang diutamakan," cibir Mama Sofia dengan nada manja sekaligus mencela sikap gila kerja putranya.

Beliau kemudian mengulurkan tangannya, menarik pergelangan tangan Arumi dengan lembut namun tak terbantahkan. "Yuk, Arumi, kita tinggalkan saja pria si kaku ini sendirian bertapa di dalam guanya. Daripada menemani orang yang tidak peka, lebih baik kita turun ke dapur membantu Bi Sumi membuat puding cokelat untuk pencuci mulut besok."

Arumi menurut dan mengangguk patuh pada tarikan ibu mertuanya.

Namun, tepat sebelum kakinya melangkah keluar dari ambang pintu ruang kerja tersebut, ia sengaja menghentikan langkahnya dan menyempatkan diri berbalik sejenak.

Ia menatap sosok tegap Renard yang masih duduk kaku membelakangi mereka. Dengan sengaja, Arumi memberikan sebuah senyuman—bukan senyuman malu-malu seperti tadi, melainkan senyuman kemenangan yang sangat manis dan penuh arti.

Sebuah tatapan tajam namun jenaka yang seolah sedang mengejek kepanikan sang miliarder, memberi tahu pria itu bahwa malam ini, argumen logika bisnisnya kembali ditaklukkan telak olehnya.

Begitu pintu ruang kerja kembali ditutup rapat dari luar dan bunyi klik terdengar mengunci kesunyian, Renard seketika kehilangan seluruh tenaganya.

Ia menyandarkan punggung lebarnya ke sandaran kursi kulit dengan sangat lemas, mengembuskan napas panjang yang sedari tadi menyumbat paru-parunya.

Pria itu mengangkat kedua tangannya yang terasa sedingin es, lalu menutupi wajahnya yang masih memerah dengan kedua telapak tangan.

Di dalam kesunyian ruangan kedap suara itu, ia bisa merasakan dengan jelas detak jantungnya yang bergemuruh luar biasa bising, memukul-mukul dinding dadanya tanpa henti seolah ingin melompat keluar.

Rahasia mengenai perjanjian kontrak pernikahan mereka di atas kertas bermeterai memang masih aman untuk malam ini.

Tidak ada satu pun klausul bisnis yang bocor ke telinga ibunya.

Namun, saat Renard duduk di sana dengan mata terpejam, ia tahu pasti ada sesuatu yang jauh, jauh lebih berbahaya dari sekadar kemarahan sang ibu yang kini sedang mengancam stabilitas dirinya dan seluruh kerajaan logikanya.

Sesuatu yang membuat pertahanannya runtuh adalah fakta mutlak bahwa di lubuk hatinya yang terdalam—yang tak berani ia akui secara lisan—ia sama sekali tidak merasa keberatan dengan kesalahpahaman yang baru saja dibuat oleh ibunya tentang perasaan cinta Arumi kepadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!