NovelToon NovelToon
Mendadak Menjadi Mama Muda

Mendadak Menjadi Mama Muda

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:4.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Van Theglang Town

Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.

Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.

Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Bang Arya

Bang Arya dan Mbak Merry akhirnya jadi menikah setelah Bang Arya memastikan Ajeng akan menikah juga dengan Raka.

Dan untuk meyakinkan itu semua. Bang Arya minta pembuktian dulu sebelum Bang Arya akad nikah dengan Mbak Merry sehari sebelum akad dia meminta Raka dan keluarganya melamar dan langsung menentukan tanggal pernikahan.

Dan setelah berdiskusi panjang, akhirnya Ajeng akan menyusul menikah sebulan setelah bang Arya menikah. Dan selama sebulan sebelum pernikahannya itu Ajeng diminta tinggal bersama Bu Rika mengurus Gea agar lebih leluasa.

Di hari pernikahan Bang Arya. Ajeng melihat wajah abangnya itu terlihat sangat bahagia bersanding dengan wanita pujaannya Mbak Merry. Sudah lima tahun lebih berpacaran akhirnya mereka pun menikah. Ajeng turut berbahagia melihat abangnya itu mengikatkan janji suci di depan penghulu. Abangnya yang gagah nampak serasi dengan Mbak Merry di pelaminan.

"Maah...." Panggilan Gea membuat Ajeng sadar kalau dari tadi Gea menarik narik gaun kebayanya.

"Apa sayang?" tanya Ajeng berlutut agar dia bisa berbicara dengan Gea.

Gea kemudian menunjuk ke sebuah arah. Ajeng pun mengikuti telunjuk Gea. Dia melihat Raka dengan kursi rodanya sedang berusaha mengambil sesuatu di meja parasmanan. Sepertinya dia kesulitan mengambil makanan.

Ajeng pun menuntun Gea untuk menghampiri Raka. Kemudian membantunya mengambil sebuah piring yang sudah berisi dengan berbagai macam cemilan lalu menyodorkan piring itu kepadanya.

"Terimakasih." Raka tersenyum melihat Ajeng.

Ajeng hanya membalas senyuman itu dengan senyuman singkat, selanjutnya dia memasang muka juteknya.

"Harusnya kamu nggak usah datang kesini!"tukas Ajeng pedas.

"Maunya sih begitu, tapi mamah malah menyuruh ikut ke sini. Memangnya kamu nggak mau ketemu sama calon suami?"goda Raka membuat Ajeng cemberut.

"Calon suami apa, calon tukang nyusahin iya."

"Lho kok calon tukang nyusahin. Apa karena kondisi aku yang begini,"sahut Raka sambil membelok belokan kursi rodanya dekat Ajeng. Tak sadar kalau salah satu pegangan kursi roda itu membuat kesalahan. Membuat kebaya yang dipakai Ajeng robek di bagian pinggang sampai sampai pinggangnya Ajeng terlihat jelas.

"O-o,"gumam Raka melongo.

Sementara Ajeng berteriak mengumpat.

"Tuh kan, baru aja dibilangin. Ini buktinya kalau kamu bakal nyusahin aku,"seru Ajeng sambil menutup bagian pinggangnya yang terbuka.

"Ma-maaf, aku nggak sengaja!"Raka merasa bersalah sudah membuat robek gaun kebaya Ajeng.

Ajeng mencoba menutupi bagian yang terbuka itu memakai selendangnya. Tapi tetap saja itu tidak berhasil.

"Aduuh, gimana nih?"Ajeng berusaha menutupi lubang sobekan tadi dengan tangan.

Melihat itu Raka inisiatif membuka jasnya untuk Ajeng. Dan menyerahkannya.

"Apa ini?"tanya Ajeng.

"Pakai tanya, ini jas, lah,"jawab Raka kesal.

"Iya tahu itu jas, tapi buat apa, kalau kamu nyuruh aku pakai itu buat nutupin bolong ini nggal bakal ketutup, lah,"ketus Ajeng.

"Bawel amat sih, sini!"seru Raka menarik tangan Ajeng agar berpindah ke depannya. Kemudian tanpa menunggu reaksi Ajeng selanjutnya. Raka melingkarkan tangannya ke belakang pinggang Ajeng yang ramping itu. Tentu saja untuk membungkus pinggang Ajeng dengan jasnya kemudian mengikatnya di depan perut Ajeng. Alhasil dengan cara itu lubang kebaya itu tertutup dengan sempurna.

Ajeng merasakan ada desiran hangat ketika Raka tadi melingkarkan tangannya ke pinggang. Seakan-akan tadi Raka akan memeluknya. Ajeng merasa gugup dan ditambah jantungnya berdegup kencang saat Raka menatapnya dengan genit.

Raka kalau dilihat sedekat ini sungguh tampan. Alisnya tebal, hidungnya mancung dan wajahnya mulus serta bersih terawat. Untuk ukuran seorang laki laki, wajah Raka terlampau bersih kinclong. Ajeng jadi penasaran produk skincare apa yang dipakai laki laki itu.

"Oh ya, berapa lama lagi sih acara resepsi ini selesai?"tanya Raka membuyarkan lamunan Ajeng tentang skincare yang dipakai Raka.

"Sampe jam lima sore, ini baru jam tiga. Emangnya kenapa?".

"Aku mau fisiotheraphy nanti jam empat. Dan sudah buat janji dengan dokter fisioterapisnya, kamu antar dan temenin aku ya!"pinta Raka dengan memasang wajah memelas seperti wajah anak kucing yang lucu.

"Kenapa harus aku, kan kamu bisa minta anterin sama supir kamu,"tolak Ajeng sedikit kesal. Belum beres rasa kesalnya akan kebaya dia yang rusak. Raka malah memintanya menemani ke rumah sakit.

"Kan kamu calon istriku, dan aku ingin segera bisa normal berjalan lagi"jawab Raka sambil tersenyum menyebalkan.

"Ikh kamu belum jadi suamiku saja sudah nyusahin, apalagi nanti,"dengus Ajeng kesal. Dia belum siap menyerahkan masa mudanya yang begitu berharga dengan menjadi seorang istri yang harus melayani suami.

"Ini kan demi kebaikan dan kebahagiaan kamu juga,"jawab Raka disambung dengan berdehem.

Ajeng tak paham maksud Raka.

"Kebaikan, kebahagiaan apa maksudnya?"tanya Ajeng tak mengerti perkataan Raka. Bukankah dengan menikahi orang asing yang baru dikenal bukan hal yang membahagiakan. Bahkan dia tidak tahu karakter dan kebiasaan Raka. Bisa bisa dia akan mengalami perlakuan buruk dari Raka.

"Sini kupingmu, aku bisikkin!"suruh Raka pada Azmya yang kelihatan sudah sangat dongkol.

"Ogah."

"Buruan, kalau aku nggak bisikin, nanti kamu yang malu kalau sampai kedengaran orang lain,"paksa Raka.

Mau tidak mau Ajeng menurut. Kemudian membungkukkan badannya agar bisa mendekatkan telinganya agar Raka mudah berbisik padanya.

"Kalau aku cepat sembuh. Nanti pas kita nikah. Kita bisa langsung malam pertama. Nggak asyik dong kalau kita nikah, aku masih di kursi roda,"bisik Raka ke telinga Ajeng. Tentu saja hal itu membuat Ajeng malu dan wajahnya memerah dan panas. Apalagi setelah Raka mengatakan itu Ajeng langsung teringat dengan kejadian di kamar mandi tempo itu.

Ajeng menutup mulutnya dan melotot pada Raka. Entah kenapa saat ini Ajeng malah membayangkan Raka tanpa busana. Dan dia teringat kembali pernah melihat "pusaka" nya. Itu Membuat Ajeng memukul mukul pipinya dengan cukup keras agar dia berhenti membayangkan itu.

Raka tertawa melihat ekspresi wajah Ajeng yang seperti itu. Ajeng yang mendengar Raka malah tertawa merasa Raka sedang mengerjainya.

Tanpa bicara apapun karena malu Ajeng pun menarik tangan Gea agar bisa menjauh dari Raka. Dia ingin menghentikan bayangan Raka yang sedang menari nari sambil tertawa memperlihatkan "pusaka pedangnya" di bayangan otaknya.

"Jangan lupa, jam empat ya sayang!"teriak Raka pada Ajeng yang langsung kabur meninggalkannya.

"Dasar rese, kenapa gue bayangin itu terus,"umpat Ajeng kesal.

"Mah, Gea pengen es kim,"kata Gea.

"Oke, kita ke stan es krim yuuk!"Ajeng pun membawa Gea ke stan es krim di aula pernikahan itu yang disewa untuk resepsi pernikahan abangnya.

Ketika sedang asyik asyik makan es krim berdua dengan Gea. Suara seruan dari seseorang yang dia kenali.

"Ajeeeenng, heii."

Ajeng celingak celinguk mencari sumber suara. Ternyata dari arah jam tiga tergopoh gopoh Amel yang memakai balutan kebaya kuning dengan rok selutut yang senada warnanya. Tampak dia berjalan sambil menarik tangan Marko, kekasihnya yang menjadi partner kondangannya. Dia tampak gagah memakai batik dan celana formal berwarna hitam.

Ajeng menggapaikan tangannya agar Amel bisa duduk di tempat dia dan Gea sekarang.

Amel langsung cipika cipiki dengan Ajeng dan berbasa basi seputar kabar masing masing.

"Maafin gue ya Jeng, gue nggak sempat nengok loe di rumah sakit kemarin. Waktu itu gue harus pergi ke Surabaya seminggu nengok nenek gue yang sakit."

"Nggak apa apa kok, toh gue juga nggak kenapa napa,"jawab Ajeng pengertian.

"Maaah, habis eskimnya, Gea pengen yagi es kimnya mah,"kata Gea membuat mata Amel terperanjat karena mendengar kata "mamah".

"Jeng, ni anak siapa?Kok manggil loe mamah, jangan bilang waktu gue di Surabaya loe udah nikah sama duda anak satu,"cecar Amel yang baru sadar sejak kedatangannya dia tidak begitu mengacuhkan anak kecil di samping Ajeng.

"Ceritanya panjang, sebentar gue mau ambil es krim dulu!"jawab Ajeng sambil beranjak dari tempat duduknya.

Amel dan Marko hanya saling berpandangan. Kemudian langsung menatap tajam ke arah Gea yang polos. Tatapan mereka seperti seorang anggota densus 88 yang mencurigai *******. Sementara Gea malah cuek cuek saja kalau sedang dipelototi.

Ajeng pun kembali dengan mengambil se cup es krim untuk Gea. Amel dan Marko langsung mencecarnya dengan pertanyaan.

"Jadi bener loe kawin sama duda?".

"Duren (duda keren) bukan?"tanya Amel penasaran.

"Kapan kamu nikahnya, ko kita nggak tahu, dan kenapa nggak ngundang?".

Ajeng menghela napas panjang. Bingung juga dia harus mulai dari mana menjelaskannya. Belum sempat Ajeng menjawab pertanyaan mereka. Tiba-tiba Raka sudah berada di depan mereka dengan kursi rodanya.

"Maaf mengganggu acara obrolan kalian,"sela Raka membuat Amel dan Marko terdiam. Bahkan Amel seperti terkejut dan menepuk nepuk punggung Marko. Marko memberi kode kenapa Amel memukul mukul punggungnya seperti itu.

"Ajeng, ayo kita berangkat sekarang, sebelum jam empat kita harus segera ada di sana!"ungkap Raka.

"Ng-nganu, kamu ...." Amel tidak meneruskan perkataannya. Dan kelihatan sedang mengingat ingat sesuatu.

"Dia calon suami gue, Mel," sahut Ajeng membuat pengakuan.

"Apaaa...." Keduanya kompak kaget.

"Jeng, di-dia kan terkenal, kok-- bisa dia jadi calon suamimu?"tanya Amel sambil menarik narik lengan Ajeng.

"Terkenal apaan, perasaan dia bukan artis layar kaca atau layar lebar, atau apa dia artis Toktok,"timpal Ajeng tertawa.

"Aduuh, aku lupa lagi namanya, yang penting dia itu orang terkenal. Masa loe nggak tahu, dia kan sutradara Hollywood. Ah gue lupa loe kagak suka nonton, mana tahu,"sesal Amel.

Keributan mereka berdua hanya membuat Raka tersenyum geli.

"Perkenalkan, saya Raka Mahesa, calon suami Ajeng." Raka pun merasa harus memperkenalkan dirinya. Karena mendengar bisik bisik dua sahabat itu yang ribut.

"Tuh, bener kan Raka Mahesa!"seru Amel menepuk punggung Marko. Kali ini tepukannya lebih keras dari yang tadi, membuat Marko hampir saja terjatuh.

"Kamu kenal dia?" tanya Ajeng sedikit heran. Apa Raka seterkenal itu. Sampai sampai Amel terlihat antusias seperti itu.

"Iyalah, tanya aja Marko... dia aja tahu!"Amel masih belum percaya kalau ada sosok terkenal di dunia film berada di depannya.

Sementara Ajeng hanya bisa menatap wajah Raka yang sedikit malu malu. Apa benar dia seorang sutradara terkenal. Kok dia merasa kalau Raka tidak seperti seorang seniman film.

"Loe tahu nggak filmnya Fake Love yang masuk nominasi Oscar?" tanya Marko.

"Apa Fake Love, gue tahunya itu lagu BTS,"jawab Ajeng lugu. Kemudian menyanyikannya tanpa malu.

Fake love Fake love

I'm so sick but its fake love ....fake love.....

"Ah dasar loe bucin BTS, mana tahu film film, dia belum pernah masuk bioskop." Amel mencubit pelan pipi Ajeng saking gemasnya sekaligus heran dan aneh kenapa dia bisa tidak tahu tentang calon suaminya itu.

"Boleh minta tanda tangannya tidak?"tanya Marko.

"Boleh, tapi mungkin tidak sekarang. Karena aku harus pergi fisiotherapy dulu,"jawab Raka sopan.

"Oh iya, kenapa Bang Raka ini bisa di kursi roda?" tanya Amel malah mulai memanggilnya dengan sebutan abang.

"Kecelakaan yang kemarin itu,"jawab Raka.

"Oh yang kemarin sempat Ajeng tolongin bukan, kok di berita di TV tidak ada yang tahu ya kalau salah satu korbannya sutradara terkenal,"ucap Marko bertanya-tanya.

"Ya kalau tahu pasti gempar lah, bukan hanya jurnalis Indonesia aja nanti yang ngeliput, pasti yang dari luar negeri juga heboh,"timpal Amel.

"Maaf, nanti kapan kapan lagi kita sambung obrolannya,"Raka mulai merasa obrolan mereka akan panjang lebar kemana-mana. Sementara dia harus segera pergi ke dokter fisioterapis.

"Aku pamit dulu sama Bunda dan Bang Arya kalau mau nemenin kamu,"ucap Ajeng.

Amel dan Marko saling pandang. Merasa kecewa karena beberapa pertanyaan mereka belum di jawab Ajeng maupun Raka.

"Om Yaka, mau eskim gak, enak yoo!"tiba tiba Gea bersuara cadel menawarkan eskrim pada Raka.

Sejenak Amel dan Marko pun kembali terheran-heran. Kenapa anak kecil itu memanggil Raka dengan Om. Tapi ke Ajeng malah mamah. Mereka calon suami istri. Terus sebenarnya anak itu anak siapa. Begitu banyak pertanyaan yang mereka penasaran jawabannya.

Mungkin mereka akan tahu jika Ajeng bercerita apa sebenarnya yang terjadi padanya.

***Bersambung....

Buktikan kalau cerita ini membuat terkesan dengan menyentuh tombol jempol dan gambar hati. Dan jangan lupa komen!

Oh Ya, satu lagi sebelum Author tutup bab ini. Jangan lupa dukung karya author yang lainnya juga dengan judul, "Missing Guy****."

1
janah bibah
Kecewa
DianaCintaTiara
💯👍🏻
Sandrina
👍
Ruth Khoiriyah
muter2 kemana lagi ceritanya bokin sebel thor hidupmu begitu ya thor
Ruth Khoiriyah
seorang ibuk yg g jelas
Ruth Khoiriyah
kos mestiiii ada peganggu sih thor selalu selalu bikin jengkel aja
Mayang
kyknya ank kk raka deh???
Lj19
jangan mau jeng
Lj19
lebih baik raka jujur di awal, dari pada dengar dari orng lain jdi ajeng tidak tambah kecewa
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini
Lj19
moga saja pas ajeng pinsang, bayu gak manfaatin siatuasi, yang membuat konflik tmbah panas 😇
Margaretha Sukmawati
ajeng lo gampang di hasut.seharusnya lo sama raka saling terbuka dan saling menguatkan dlm rumah tangga. lo ajeng nek liat lo. gampang di hasut bayu
mudahlia
hahahah
Muniroh Mumun
nyesek jd Ajeng n Raka ....korban keegoisan klrg besar Raka, kasihan Ajeng tak ngerti apa" jg bukan gila harta .....tp kena imbasnya
Muniroh Mumun
khaaann ...jd Ajeng yg terkesan selingkuuuuh .....g rela aku ......😭😭😭😭😭
Muniroh Mumun
kasihan Ajeng thoor .....kebaikan hatinya ketulusannya di putar balik seperti ini ......sial kali nasibnya Ajeng .....semua org menilai dg harta
Ismu Srifah
ojok d tinggal ajeng ka
Ismu Srifah
suit banget raka lopeyu
Ismu Srifah
jahat juga bayu ternyala lbh licik, berarti rendy juga sama kayak bayu licik terhadap raka
Ismu Srifah
nenek yg gak tau kebahagiaan cucunya itu hanya ajeng seorang
Ismu Srifah
thor bawangnya terlalu banyak yaa..... sampek dada sesak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!