Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Malam yang Mengubah Jarak
Malam di Bali tidak pernah benar-benar sunyi.
Suara ombak yang menghantam pantai terdengar samar dari kejauhan, angin hangat bergerak pelan melewati balkon hotel, dan cahaya kota di kejauhan berkelip seperti napas yang tidak pernah berhenti.
Namun di dalam kamar hotel itu…
terlalu sunyi.
Diara duduk di tepi ranjang.
Jarum jam sudah melewati tengah malam.
Jifan belum kembali.
Awalnya Diara menganggap itu hal biasa.
Mungkin Jifan masih di ruang kerja hotel.
Mungkin sedang menelepon Arkan.
Mungkin sedang membaca laporan proyek Villa Sagara.
Namun semakin lama waktu berjalan, rasa itu berubah.
Bukan khawatir yang dramatis.
Tapi resah yang diam.
Yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Diara mengambil ponselnya.
Ragu.
Beberapa detik hanya menatap layar.
Lalu ia mengetik pesan.
Diara: Mas, sudah selesai meetingnya?
Send.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tidak ada balasan.
Pesan itu hanya berubah status menjadi “dibaca”.
Diara mengerutkan sedikit alis.
Biasanya Jifan selalu membalas, meski singkat.
Ia menunggu lagi.
Namun tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya Diara berdiri.
Ia menarik cardigan tipis dan keluar kamar.
Lorong hotel itu panjang dan tenang.
Lampu-lampu redup di sepanjang koridor membuat suasana terasa lebih dingin dari biasanya.
Diara berjalan perlahan.
Langkahnya tidak pasti.
Ia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana mencari.
Di ujung lorong, ia melihat pintu kaca menuju area balkon hotel.
Angin laut masuk sedikit dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Diara mendekat.
Dan di situlah ia berhenti.
Suara.
Tertahan.
Seperti percakapan pelan.
Diara melangkah lebih dekat.
Dan saat ia mengintip keluar…
jantungnya langsung terasa jatuh.
Jifan berdiri tidak jauh dari tepi pantai hotel.
Cahaya lampu jalan membuat siluetnya terlihat jelas.
Namun bukan itu yang membuat Diara membeku.
Di dekat Jifan…
dua pria mabuk berdiri dengan gerakan tidak stabil.
Salah satunya mendekat terlalu dekat ke arah Diara.
“Cantik banget… sendirian malam-malam?” suara salah satu pria itu terdengar berat dan tidak jelas.
Diara langsung mundur satu langkah.
Tangannya refleks menggenggam tasnya erat.
“Maaf… saya mau lewat,” ucapnya cepat.
Namun pria itu justru maju lagi.
“Ah, jangan gitu dong…”
Diara mulai panik.
“Jangan dekat-dekat…”
Suaranya sedikit bergetar.
Dan di saat itu—
suara langkah cepat terdengar dari arah samping.
“Lepaskan.”
Suara itu dingin.
Tajam.
Sangat berbeda dari biasanya.
Jifan.
Ia muncul dalam hitungan detik.
Matanya langsung menajam saat melihat situasi di depan Diara.
Tidak ada ragu.
Tidak ada jeda.
Pria mabuk itu tertawa kecil.
“Wah, suaminya ya?”
Namun sebelum kalimat itu selesai—
pukulan pertama sudah melayang.
BRAK.
Satu orang langsung jatuh.
Yang satunya belum sempat bereaksi.
Jifan sudah menarik kerahnya.
Satu pukulan lagi.
Dan tubuh itu terdorong ke belakang.
Diara membeku.
“Mas…!”
Suaranya keluar panik.
Namun Jifan tidak berhenti sampai benar-benar yakin dua orang itu menjauh.
Matanya tajam.
Gerakannya cepat.
Terukur.
Tidak liar.
Tapi sangat tegas.
Dua pria itu akhirnya kabur sambil sempoyongan.
Suasana langsung hening.
Dan saat itu…
Diara akhirnya bergerak.
“Mas Jifan…”
Suaranya pecah.
Ia berlari kecil.
Dan tanpa berpikir lagi—
ia memeluk Jifan.
Tubuh Jifan langsung kaku.
Tidak bergerak.
Tidak bereaksi.
Seperti dunia berhenti sejenak.
Diara gemetar.
“aku takut…” suaranya pelan, hampir tidak terdengar.
Tangannya mencengkeram jas Jifan erat.
Beberapa detik.
Hening.
Lalu Jifan perlahan mengangkat tangannya.
Membalas pelukan itu.
Tidak kuat.
Tapi cukup untuk menahan Diara.
“Sudah,” suara Jifan pelan. “Sudah aman.”
Namun Diara masih gemetar.
Air mata mulai jatuh tanpa ia sadari.
“Mas dari mana saja…”
Suara itu penuh ketakutan yang tertahan lama.
Jifan diam.
Matanya menatap ke arah pantai.
Tapi tangannya tidak melepas Diara.
“Maaf,” jawabnya singkat.
Beberapa detik kemudian…
Jifan melepaskan pelukan itu perlahan.
Namun wajah Diara masih pucat.
“Ayo kembali ke kamar,” kata Jifan.
Nada suaranya kembali stabil.
Tapi lebih pelan dari biasanya.
Diara mengangguk kecil.
Langkahnya masih goyah sedikit.
Di dalam kamar hotel.
Suasana kembali tenang.
Tapi tidak sama.
Diara duduk di tepi ranjang.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Jifan berdiri di dekat pintu, mengamati sebentar.
Lalu menutup pintu.
Mengunci.
“Tidak apa-apa lagi,” ucapnya pelan.
Diara mengangguk, tapi matanya masih kosong.
Jifan berjalan mendekat.
“Minum dulu.”
Ia memberikan air.
Diara menerimanya dengan tangan sedikit bergetar.
Setelah beberapa menit, napas Diara mulai stabil.
Namun ia masih diam.
“Mas…” suara Diara pelan.
Jifan menoleh.
“Iya.”
“Mas tadi…” Diara ragu.
“Kenapa lama?”
Jifan tidak langsung menjawab.
Beberapa detik.
“Pekerjaan,” jawabnya singkat.
Diara menatapnya.
Namun ia tahu.
Itu bukan jawaban sebenarnya.
Tapi ia tidak memaksa.
Jifan berdiri.
“Tidur.”
Nada itu kembali tegas.
Namun Diara langsung menggeleng.
“Jangan…”
Suaranya kecil.
“Tadi aku… takut.”
Jifan terdiam.
Diara menunduk.
“Aku masih takut…”
Beberapa detik.
Jifan menghela napas pelan.
“Baik.”
Ia duduk di kursi dekat ranjang.
Tidak pergi.
Diara masih diam.
Namun perlahan, tubuhnya mulai tenang.
Beberapa menit kemudian…
Diara berbaring.
Namun tangannya masih sedikit menarik ujung selimut.
Jifan berdiri lagi.
“Aku tidur di kursi.”
“Jangan…” suara Diara langsung muncul.
Pelan.
Tapi jelas.
Jifan menoleh.
“Aku masih takut kalau sendirian.”
Hening.
Jifan tidak menjawab langsung.
Tapi akhirnya…
ia berjalan ke sisi ranjang.
“Kalau begitu tidur saja.”
“Di sini.”
Diara menatapnya.
Ragu.
Tapi akhirnya mengangguk kecil.
Mereka berbaring.
Jarak masih ada.
Namun tidak sejauh biasanya.
Beberapa menit hening.
“Mas…”
Diara pelan.
“Iya?”
“Terima kasih…”
Jifan tidak langsung menjawab.
Lalu pelan sekali:
“Tidak perlu.”
Namun tangannya sedikit bergeser…
lebih dekat ke arah Diara.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Diara tidak tidur dalam rasa takut.
Dan Jifan…
tidak tidur dalam ketenangan yang biasanya ia kenal.