Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : BAYANGAN MASA LALU YANG KEMBALI TERBUKA
...BAB 34...
...BAYANGAN MASA LALU YANG KEMBALI TERBUKA...
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah lebih dari satu tahun sejak akad suci yang menyatukan Alina dan Farhan. Rumah tangga mereka dipenuhi ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan. Hampir setiap hari mereka memulai pagi dengan salat Subuh berjamaah, membaca Al-Qur'an sebelum Farhan berangkat bekerja, lalu menutup malam dengan saling bercerita tentang hari yang telah mereka lalui.
Namun, ada satu hal yang mulai berubah. Beberapa bulan setelah menikah, Farhan meminta Alina untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
"Bukankah aku sudah pernah bilang?" ujar Farhan suatu malam sambil menggenggam jemari istrinya. "Kalau Allah sudah cukupkan nafkah dari suami, kau tidak perlu bekerja lagi. Aku ingin kamu di rumah saja."
Alina menatap suaminya lembut. "Aku sebenarnya lebih suka bekerja, Mas."
Farhan mengangguk pelan. "Aku tahu." Ia mengusap pipi Alina penuh kasih sayang.
"Tapi aku lebih tenang kalau kamu di rumah saja. Aku nggak ingin kejadian seperti Raka dulu terulang lagi."
Nama itu membuat suasana sesaat hening.
Farhan masih mengingat bagaimana dulu istrinya hampir kehilangan nyawa akibat ulah seorang psikopat yang begitu terobsesi kepadanya.
Sejak saat itu, rasa takut selalu tinggal di hati Farhan.
Ia sadar dirinya berubah. Sedikit demi sedikit ia menjadi suami yang lebih protektif. Bahkan... terkadang terlalu posesif.
"Dunia di luar sana nggak seindah yang kita lihat," ucap Farhan lirih. "Mas tahu masih banyak orang baik. Tapi Mas juga tahu... banyak orang yang iri, dengki, dan tega menjatuhkan orang lain." terangnya. "Aku cuma takut kehilangan kamu."
Alina tersenyum mendengar ungkapan suaminya. Pipinya bersemu merah.
Ia tahu semua itu lahir dari cinta. Bukan dari keinginan menguasai. Akhirnya ia memilih mengundurkan diri.
Hari-harinya kini dihabiskan di dalam rumah. Mengurus rumah tangga, memasak, belajar agama, mengikuti kajian daring, dan menunggu suaminya pulang.
Namun, setelah hampir setahun...
Rasa sepi mulai menghampiri.
Terlebih hingga saat ini Allah belum menitipkan buah hati kepada mereka.
Rumah yang biasanya terasa hangat, kadang berubah sunyi ketika Farhan berangkat ke kantor.
Suatu pagi...
Farhan selesai mengenakan jam tangannya.
"Sayang."
"Iya, Mas?"
"Hari ini kamu mau di rumah terus?"
Alina menggeleng.
"Aku pengen main ke rumah Papa sama Ibu, kangen banget sama mereka, Mas" rengek Alina tiba-tiba.
Farhan tersenyum. "Baiklah. Sekalian Mas antar sebelum ke kantor."
"Wah... makasih banget suamiku." Alina girang mengecup pipi suaminya singkat.
Farhan memeluk pinggang istrinya dan membalas mencium pipi istrinya lama. "Aku tahu kamu bosan di rumah sendirian, makanya itu, Mas ingin kamu tidak merasa tertekan di rumah terus."
Alina kembali tersenyum hatinya berbunga-bunga. "Nanti pulang kerja, Mas jemput aku lagi, kan?!"
"Insya Allah" jawab Farhan.
****
Rumah Pak Aditya kembali ramai. Saat kedatangan mereka. Bu Kirana langsung memeluk putri tirinya erat. Meluapkan rasa rindu. Setelah Alina menikah dan Dimas kembali ke tanah suci untuk menyelesaikan studynya. Serasa kehilangan sekali. Farhan pun pamit bekerja. Bu Kirana merangkul lengan Alina dan mengajaknya masuk ke rumah.
"Kamu agak kurusan."
Alina terkekeh. "Perasaan, Ibu selalu bilang begitu."
"Iya memang. Kenapa? Kalau ada sesuatu jangan terlalu dipikir, kalau merasa lagi capek, istirahatkan., ya" sarannya.
"Ya, mungkin karena Alina terlalu kangen sama Ibu dan Papa... Nahan rindu jadi kurusan deh ..." tawanya.
Pak Aditya ikut tertawa. Mereka mengobrol panjang lebar. Tentang kehidupan rumah tangga. Tentang Farhan. Tentang rencana masa depan. Sambil makan siang bersama. Hingga tanpa terasa waktu menunjukkan pukul dua siang.
"Kamu capek ya, Nak?"
"Iya, Bu, Alina mulai ngantuk." Menutup mulutnya yang hendak menguap.
"Tidurlah dulu di kamar lama. Nanti kalau adzan Ashar ibu bangunin..." titah Bu Kirana.
Alina mengangguk. Lalu Ia memasuki kamar yang dulu menemaninya tumbuh dewasa. Semuanya masih hampir sama.
Lemari putih. Meja belajar. Rak buku.
Dan aroma khas yang membawa banyak kenangan. Ia pun tertidur.
Menjelang sore...
Alina membuka matanya perlahan. Sinar matahari mulai masuk melalui jendela. Ia duduk di tepi ranjang. Tatapannya kemudian berhenti pada sebuah kardus tua di sudut lemari.
"Hmm..."
Dengan rasa penasaran ia menghampiri.
Saat dibuka... Ternyata berisi buku-buku bekas tulis dan pelajarannya di sekolah elit tempat ia belajar dulu sebelum sekolah di SMA Al-Azhar.
"Buku-buku ini masih ada?" Ia tersenyum kecil.
Satu per satu ia keluarkan.
"Kayaknya udah nggak kepakai."
"Apa aku kasih ke pemulung saja, biar bermanfaat."
Saat mengangkat tumpukan terakhir... Sebuah buku bersampul biru jatuh ke lantai.
Bruk.
Alina memungutnya.. Matanya membulat.
"Diari..."
Jantungnya berdegup pelan. Diari masa remajanya. Tangannya gemetar ketika membuka halaman pertama.
Tulisan-tulisan polos seorang gadis SMA memenuhi setiap lembar.
Ada mimpi.
Ada cita-cita.
Ada cerita persahabatan.
Hingga...
Dua lembar foto terjatuh dari sela-sela halaman.
Plak.
Alina membeku.
"Itu..."
Foto dirinya, yang masih belum berhijab. Rambut hitamnya bergelombang, dibiarkan tergerai panjang. Memakai rok sekolah di atas lutut.
Alina tersenyum miris. "Zaman jahiliah" sindirnya pada dirinya sendiri.
Lalu satu foto lagi, Alina disampingnya bersama seorang laki-laki yang duduk di atas motor gede sambil merangkul bahunya.
"Raka."
Napas Alina tercekat. "Ternyata masih ada..."
Ia benar-benar sudah lupa.
Saat keluarganya bangkrut belasan tahun lalu, mereka pindah rumah dengan tergesa-gesa.
Tak ada waktu memilah barang-barang lama. Semua dimasukkan begitu saja ke dalam kardus. Termasuk diari itu. Dan termasuk foto-foto yang seharusnya sudah lama ia buang.
Alina membalik halaman lain. Masih ada beberapa foto. Ada juga bunga kering yang dulu pernah diberikan Raka.
Semuanya membuat Alina merasa muak.
"Astaghfirullah..."
Tanpa berpikir panjang ia mengambil seluruh foto itu.
"Ini harus dimusnahkan."
Ia keluar kamar menuju dapur. Mencari korek api. Ia berniat membakar semuanya di halaman belakang. Tak ingin satu pun kenangan itu tersisa.
Baru saja membuka laci dapur...
Suara Farhan terdengar baru saja tiba di rumah Pak Aditya. Ia tersenyum ketika melihat pintu belakang rumah terbuka.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa, wa'alaikumussalam," jawab Alina yang sontak menoleh.
Wajahnya langsung pucat.
"Mas... kok sudah datang?"
"Pekerjaan selesai lebih cepat. Mas janji mau jemput istrinya, kan?"
Farhan melangkah mendekat. Namun senyumnya perlahan memudar.
Alina tampak gugup.
Kedua tangannya berada di belakang punggung, seolah menyembunyikan sesuatu.
Farhan mengernyit.
"Kamu sembunyikan apa?"
"Ngg... nggak ada." kilahnya.
"Sayang."
Alina menggeleng pelan.
"Bukan apa-apa."
"Kasih lihat."
"Nanti saja, Mas."
Sikap Alina yang semakin gelisah justru membuat rasa penasaran Farhan semakin besar.
Ia meraih lembut pergelangan tangan istrinya.
"Aku cuma mau lihat."
"Mas... jangan."
Namun dalam satu gerakan, Farhan berhasil mengambil benda yang disembunyikan Alina.
Beberapa lembar foto lama.
Senyumnya langsung menghilang.
Tatapannya membeku saat melihat foto pertama.
Di sana tampak Alina semasa SMA, belum berhijab, duduk di samping seorang pemuda yang sedang merangkul bahunya di atas motor gede.
Farhan mengenali wajah itu dalam sekejap.
Raka.
Raka muda.
Jantung Farhan seolah berhenti berdetak.
Tangannya perlahan membuka foto berikutnya.
Masih Raka.
Foto berikutnya lagi.
Masih bersama Raka.
Raut wajah Farhan berubah.
Bukan karena ia baru tahu siapa Raka.
Ia sudah tahu laki-laki itu adalah orang yang pernah menghancurkan hidup Alina, meneror mereka, bahkan hampir merenggut nyawa istrinya.
Yang membuat dadanya sesak adalah satu pikiran yang tiba-tiba muncul.
Kenapa foto-foto ini masih ada?
Kenapa Alina menyimpannya selama ini?
Farhan mengangkat pandangannya.
Tatapannya penuh luka.
"Kamu... masih simpan foto dia?"
Alina langsung menggeleng kuat.
"Nggak, Mas! Demi Allah bukan begitu."
"Lalu ini apa?"
"Sumpah... aku baru nemu hari ini."
Farhan mengangkat salah satu foto.
"Kalau baru ketemu, kenapa kamu sembunyikan dari Mas?"
Air mata Alina langsung jatuh.
"Aku takut Mas salah paham."
"Karena memang salah paham."
"Bukan!"
Alina buru-buru mendekat.
"Itu ada di dalam kardus buku-buku sekolahku. Aku bahkan lupa kalau diari itu masih ada."
"Keluargaku bangkrut waktu itu. Semua barang dimasukkan ke kardus tanpa sempat dipilah. Aku benar-benar lupa."
Farhan masih diam.
Rahangnya mengeras.
Alina melanjutkan dengan suara bergetar.
"Aku ke dapur bukan untuk menyimpannya."
"Aku cari korek api."
Farhan menatapnya.
"Mau apa?"
"Mau kubakar..."
"Aku jijik melihat semua itu."
"Aku nggak mau ada satu pun kenangan tentang Raka tersisa."
"Aku baru pegang lagi foto-foto itu hari ini."
"Aku bahkan belum sempat keluar ke halaman belakang."
Air mata Alina semakin deras.
"Tapi Mas keburu datang."
Farhan mengepalkan foto-foto itu.
Di satu sisi, ia ingin percaya kepada istrinya.
Namun di sisi lain, rasa cemburu dan takut kehilangan perlahan menguasai pikirannya.
Selama ini ia selalu dihantui bayangan Raka.
Kini, melihat foto-foto itu berada di tangan Alina, pikirannya dipenuhi prasangka yang bahkan ia sendiri benci.
"Mas..."
"Aku nggak pernah menyimpan dia di hatiku."
"Yang ada di hatiku cuma Mas."
"Tolong percayalah padaku."
Farhan memejamkan mata beberapa detik.
Ia menarik napas panjang, tetapi dadanya tetap terasa sesak.
Tanpa sepatah kata pun, ia menggenggam seluruh foto itu erat-erat, lalu melangkah menuju halaman belakang rumah.
"Mas... tunggu..."
Alina mengejarnya dengan langkah tergesa.
Ia takut.
Bukan takut dimarahi.
Melainkan takut suaminya benar-benar percaya bahwa dirinya masih menyimpan kenangan bersama lelaki yang paling ingin ia lupakan seumur hidup.
Sementara di hati Farhan, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, tumbuh rasa cemburu yang begitu menyakitkan—bukan kepada masa lalu Alina, tetapi kepada bayangan yang ia kira masih hidup di dalam hati perempuan yang paling ia cintai.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏