NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Berkejaran dengan Maut

Nadia tidak membuang waktu satu detik pun. Informasi dari Adrian adalah alarm bahaya yang menyengat seluruh sarafnya. Jika Sita sampai lenyap, ia akan kehilangan satu-satunya saksi hidup yang bisa menyeret Paman Hendra ke hadapan hukum atas kasus percobaan pembunuhan.

Nadia langsung berbalik, berlari menuruni tangga mansion dengan cepat tanpa memedulikan gaun satin mahalnya yang sedikit menghambat pergerakan. Di lobi utama, kapten tim keamanan yang dikirim oleh Reynald—seorang pria berwajah tegas bernama Barra—seketika menegang melihat Nona Muda keluarga Latief itu berlari tergesa-gesa.

"Nona Chelsea? Ada masalah?" tanya Barra cekatan.

"Siapkan mobil dan tiga orang personel terbaikmu sekarang, Barra!" perintah Nadia, suaranya terdengar sangat tajam dan penuh otoritas. "Saksi kunci dalam kasus peracunanku sedang diculik oleh orang suruhan Hendra. Mereka membawanya ke gudang tua di pelabuhan barat. Kita harus memotong jalur mereka sebelum terlambat!"

Barra tidak banyak bertanya atau meragukan perintah tersebut. Sebagai bawahan setia Reynald yang terlatih, instingnya langsung mengenali situasi darurat. "Siap, Nona. Mobil siap dalam tiga puluh detik!"

Sembari berlari menuju mobil SUV hitam yang sudah menyala di pelataran, Nadia dengan cepat mengetik pesan singkat kepada Reynald. Dia tahu, memberi tahu Reynald adalah langkah paling aman jika situasi di lapangan berubah menjadi baku tembak.

Chelsea: Hendra mencoba melenyapkan Sita malam ini di gudang pelabuhan barat. Aku pergi bersama tim keamananmu untuk mencegat mereka.

Pesan terkirim. Nadia langsung masuk ke dalam mobil, duduk di samping Barra yang langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil SUV itu melesat membelah jalanan malam yang sepi, melaju dengan kecepatan tinggi menuju kawasan pelabuhan barat yang terkenal sebagai distrik gudang tua terabaikan.

Di dalam kabin mobil yang sunyi, ponsel Nadia bergetar hebat. Nama Reynald berkedip merah di layar. Nadia langsung mengangkatnya.

"Apa kamu gila, Chelsea?!" suara bariton Reynald terdengar menggelegar di seberang telepon, memancarkan kemarahan sekaligus kecemasan yang teramat sangat yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku baru saja meninggalkan rumahmu sepuluh menit lalu, dan sekarang kamu pergi ke pelabuhan barat? Tempat itu adalah sarang kriminal!"

"Aku tidak punya pilihan, Reynald!" balas Nadia, sengaja tidak memanggilnya dengan sebutan formal karena situasi yang mendesak. "Jika Sita mati, Hendra akan meloloskan diri dari kasus racun ini, dan aliansi kita tidak akan punya taji hukum untuk menjatuhkannya di rapat pemegang saham!"

"Tetap di dalam mobil dan biarkan Barra yang maju!" bentak Reynald berwibawa. "Aku sedang memutar balik mobilku sekarang dan menuju ke posisimu dengan pasukan tambahan. Jangan berani-berani turun sebelum aku tiba!"

Tut. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Reynald. Nadia mengembuskan napas panjang, menatap lurus ke arah jalanan pelabuhan yang mulai menggelap dan dipenuhi oleh kontainer-kontainer besi berkarat.

Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Barra melambat, mematikan lampu utama, dan menyelinap di antara bayangan gudang-gudang tua nomor 12. Di depan sebuah gudang dengan atap seng yang sudah berlubang, tampak sebuah mobil minibus hitam terparkir dengan pintu belakang yang terbuka.

Dua orang pria berbadan kekar tampak sedang menyeret seorang gadis yang menangis terisak dengan mulut dilakban. Gadis itu adalah Sita.

"Nona, tetap di sini. Biarkan kami yang membereskan mereka," bisik Barra sembari mencabut pistol taktis dari balik jas safarinya. Dua pengawal lainnya melakukan gerakan yang sama, menyelinap dari arah samping untuk mengepung musuh.

Nadia mengangguk, mengawasi dari balik kaca mobil yang gelap. Jantungnya berdegup kencang. Jiwanya yang dulu pernah tewas karena kekerasan membuat trauma masa lalu sempat terbersit, namun buru-buru ia tepis. Aku tidak akan membiarkan kematian terulang di depanku, batinnya tegas.

Di depan pintu gudang, salah satu pria suruhan Hendra mencengkeram rambut Sita, memaksa gadis itu berlutut di atas tanah berdebu sembari mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan kimia. Mereka ingin merekayasa kematian Sita sebagai bunuh diri akibat rasa bersalah.

"Jangan bergerak! Angkat tangan kalian!"

Suara Barra menggelegar, memecah keheningan pelabuhan. Tiga pengawal Reynald langsung mengunci pergerakan kedua pelaku dengan moncong senjata mereka.

Dua pria suruhan Hendra tersentak kaget. Mereka tidak mengira akan dihadang oleh pasukan elit yang terlatih. Bukannya menyerah, salah satu dari mereka justru mencoba menarik Sita untuk dijadikan sandera.

DOR!

Satu tembakan presisi dari Barra menghantam lengan pria tersebut hingga botol kimia di tangannya terlepas dan pecah di tanah. Pria itu berteriak kesakitan, terkapar memegangi tangannya yang bersimbah darah. Pria satunya lagi yang mencoba melawan dengan cepat dilumpuhkan oleh dua pengawal Reynald dengan bantingan jiu-jitsu yang telak ke tanah.

Melihat situasi sudah aman, Nadia langsung membuka pintu mobil dan berlari menghampiri Sita. Ia berlutut di atas tanah yang kotor, tidak memedulikan gaun indahnya ternoda debu pelabuhan. Dengan cepat, ia melepas lakban yang menyumbat mulut pelayan mudanya tersebut.

"Sita! Kamu tidak apa-apa?" tanya Nadia cemas.

Sita yang syok langsung menangis histeris, memeluk kaki Nadia dengan tubuh gemetar hebat. "N-Nona Muda... maafkan saya! Tuan Hendra... Tuan Hendra yang menyuruh saya memasukkan serbuk itu ke susu Anda! Dia mengancam akan membunuh ibuku di kampung jika saya menolak! Tolong selamatkan saya, Nona!"

Nadia mengulas senyuman tipis yang penuh kemenangan. Pengakuan itu akhirnya keluar secara sukarela dari mulut Sita. "Tenang, Sita. Kamu aman sekarang. Aku akan melindungimu dan ibumu."

Tepat pada saat itu, suara derit ban mobil yang mengerem dengan keras terdengar dari arah belakang. Beberapa mobil mewah hitam berhenti, dan sesosok pria berwajah dingin dengan langkah besar yang tergesa-gesa melangkah turun.

Reynald datang dengan aura yang begitu pekat dan menakutkan. Ia melangkah cepat menghampiri Nadia, langsung mencengkeram kedua pundak gadis itu dan memeriksanya dari atas ke bawah dengan pandangan yang dipenuhi kecemasan yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Kamu terluka? Ada yang sakit?" tanya Reynald, suaranya sedikit terengah-engah.

Nadia menatap mata elang Reynald yang tampak begitu panik, sebuah pemandangan langka dari seorang CEO berhati es. Nadia tersenyum manis, memperlihatkan ponselnya yang diam-diam telah merekam seluruh suara pengakuan Sita sejak tadi.

"Saya sama sekali tidak terluka, Tuan Reynald," ucap Nadia dengan kilat mata yang penuh kemenangan. "Dan lihat apa yang kita dapatkan malam ini... tiket emas untuk menjatuhkan Paman Hendra ke dalam penjara."

Reynald menatap rekaman di ponsel tersebut, lalu beralih menatap wajah Chelsea yang berlumuran sedikit debu namun tampak luar biasa bersinar di bawah pendar lampu pelabuhan. Perlahan, kekosongan di hati es Reynald mencair, digantikan oleh rasa kagum dan kepemilikan yang semakin absolut. Pria itu menarik Nadia ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh.

"Kamu benar-benar wanita yang gila, Chelsea," bisik Reynald di dekat telinganya, sebuah seringai tipis terukir di wajah tampannya. "Tapi aku menyukainya. Sekarang, mari kita hancurkan Hendra Latief sampai ke akar-akarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!