Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 011 : Kata Bocah Mati Itu di Dalam Cermin
Kendaraan besi yang mereka tumpangi kini mulai melaju perlahan. Rifki, Haikal, Aldi, Desta, serta Farah dan Ardin sudah duduk nyaman di dalam gerbong.
Setelah mencapai kesepakatan bersama di kafe tadi, Ardin akhirnya bersedia mengantar mereka menuju desa tempat tinggalnya. Sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka sekarang.
Wilayah itu masih sangat asri, dengan jumlah penduduk yang tidak sepadat di kota. Dalam tulisan ini, namanya tidak akan disebutkan. Desa itu terletak cukup jauh dari sebuah tempat yang dikenal sebagai desa terkutuk.
Desa yang sudah lama mati. Desa tempat tinggal Ardin dan desa terkutuk itu dipisahkan oleh hamparan belantara yang sangat luas.
Hanya ada jalan setapak yang menghubungkan keduanya. Namun, sejak peristiwa aneh terjadi bertahun-tahun silam, tak seorang pun berani lagi memasuki kawasan belantara itu.
Farah memejamkan matanya sejak tadi dan tak lama kemudian terlelap. Begitu pula dengan yang lain. Hanya Aldi yang masih terjaga. Sudah lima jam perjalanan mereka lalui di dalam kereta.
Langit di luar mulai berubah gelap. Suasana di dalam gerbong hanya diisi oleh suara samar obrolan penumpang lain, serta tawa riang anak-anak yang sesekali terdengar.
Sementara yang lain beristirahat, Aldi sibuk dengan kegiatannya sendiri. Dia kembali membaca artikel misterius yang ditemukan Haikal.
Di sampingnya duduk Haikal yang juga sudah memejamkan mata. Di seberang mereka, Rifki dan Desta pun terlelap pulas.
Hanya Aldi yang masih terjaga, meski matanya sesekali menyipit karena terasa perih. Dampak dari terlalu lama menatap cahaya layar tabletnya.
Di ujung lorong gerbong, di bagian belakang, sesosok makhluk berdiri diam. Sosok itu mengenakan gelang di kedua kakinya, dan matanya menatap lurus ke arah tempat Aldi duduk. Dia adalah sosok yang sama yang sempat mendatangi rumah Desta.
Sosok itu memiliki wajah yang gelap, dan kakinya sama sekali tidak menyentuh lantai. Tak seorang pun penumpang lain yang bisa melihat keberadaannya. Kecuali mereka yang peka terhadap alam sebelah.
Dengan senyum yang terukir lebar, sosok itu mulai bergerak mendekat. Selangkah demi selangkah, suara denting gelang kakinya terdengar semakin jelas.
Hanya Aldi yang tiba-tiba menghentikan jari-jarinya yang sejak tadi bergerak di atas layar tablet.
"Apa ini?" gumam Aldi pelan.
Bagaimana dia tidak merasa curiga? Hawa dingin yang menyertai kehadiran sosok itu semakin terasa, seolah menekan punggungnya dengan berat.
Cringgg...
Cringgg...
"Huh!" Aldi terkejut. Indra pendengarannya menangkap suara denting gelang kaki itu dengan sangat jelas, persis di belakangnya. Dia langsung berdiri tegak.
Sosok bergelang kaki itu berhenti bergerak. Kepalanya sedikit dimiringkan. Kulitnya yang tampak terbakar hitam memancarkan aura yang terasa mencekam.
Dia menatap Aldi lekat-lekat. Saat Aldi menoleh ke arahnya, sosok itu tersenyum lebar, lalu seketika lenyap begitu saja.
"Lagi-lagi teror ini! Aku benci dipermainkan seperti ini!" geram Aldi dengan perasaan muak.
Dia segera meraih tas kecilnya dan memutuskan berjalan menuju bagian belakang gerbong.
Tujuan utamanya adalah kamar mandi. Untungnya, saat itu tidak ada orang yang mengantre.
Aldi masuk ke dalam ruangan itu dan segera mengunci pintunya rapat-rapat. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di hadapannya kini.
Dia tahu, sesuatu bisa muncul melalui permukaan kaca ini. Teror yang selama ini mengikutinya memang sering datang dari dalam cermin, dan dia sangat yakin sosok tadi tidak benar-benar hilang begitu saja.
Keberadaannya masih terasa, seolah bersembunyi tepat di balik pantulan itu. Di sini Aldi membuang jauh-jauh rasa takutnya. Walaupun jantungnya kini berdebar.
Aldi menatap tajam ke arah cermin. Dia mengangkat telapak tangan kanannya, sorot matanya tak berkedip sedikit pun. Cermin di depannya seakan sedang menghipnotis dia sekarang.
"Aku tahu kamu ada di balik kaca ini! Kalau memang kau yang memanggil kami, kami sudah memutuskan untuk datang. Sekarang giliranmu memberi kami tanda dan jawaban. Jangan cuma memberi teka-teki atau teror yang bikin muak begini!" ujar Aldi kesal sekali rasanya.
Baru saja kata-kata itu selesai terucap, udara di dalam ruangan berubah dingin. Aura hitam pekat mulai muncul dari balik permukaan kaca, berputar seperti kabut asap yang gelap.
Syuthhhhh
Perlahan kabut itu menyatu, lalu terbentuklah wujud dari sosok anak kecil bergelang kaki yang tadi sempat menghilang.
Dia diam di tempat, senyum lebar masih terukir di wajahnya, lalu memiringkan kepala seolah sedang mengamati Aldi. Tak ada sepatah kata pun terucap dari sosok itu pada Aldi.
Alih-alih ketakutan, Aldi justru berdiri tegak di tempat. Dia tidak bergerak mundur sedikit pun.
Perlahan tangan kirinya merogoh saku, lalu mengeluarkan beberapa buah dadu. Dia mengangkatnya sedikit agar terlihat jelas.
Sosok itu memberi isyarat kecil dengan gerakan tangan, seolah mengerti maksudnya.
"Dadu ini ada hurufnya," kata Aldi tegas.
"Kalau kamu memang mau bicara, gerakkan saja dadunya. Aku akan lempar beberapa kali, nanti susun menjadi kalimat yang bisa aku baca!" tambah Aldi berkata padanya.
Sosok itu tetap diam. Tidak bersuara sedikit pun. Dia bahkan tidak melempar bahasa isyarat pada Aldi. Tak ingin membuang cukup lama waktunya. Aldi pun memulainya.
"Baiklah, aku mulai. Siapa kau sebenarnya?" tanya Aldi.
Dia mulai melempar dadu ke atas permukaan wastafel.
Pyarrrr
Lemparan pertama tidak ada yang aneh. Lemparan kedua pun sama. Baru pada lemparan ketiga, dadu itu berhenti berputar dan tersusun rapi, membentuk kata demi kata:
"Rahimnya.."
"Seharusnya..
"Kosong.."
"Aku.."
"Cuma...
"Korban.."
"Tapi.."
"Kenapa..."
"Harus..."
"Aku?"
Aldi mencatatnya. Disusun menjadi satu, kalimatnya berbunyi jelas:
... "Rahimnya seharusnya kosong! Aku hanya korban, tapi kenapa harus aku?"...
Dia mengerutkan kening, berpikir keras mencoba memahami maksudnya, tapi belum bisa menemukan hubungannya dengan apa yang mereka ketahui selama ini.
Sementara ini, fakta-fakta yang mereka temukan masih sedikit. Cukup susah rasanya mengaitkan pesan sosok ini dengan apa yang mereka tahu.
Saat dia kembali menatap ke arah cermin, tiba-tiba dia tersentak mundur hingga punggungnya membentur dinding.
Brukkk
"HAHHH!!" pekik Aldi tersentak.
Di belakang sosok anak kecil itu, muncul sesosok wujud raksasa hitam yang mengerikan. Sosok itu langsung mencengkeram tubuh anak kecil itu.
Sebelum mereka sepenuhnya menyatu dan lenyap, terdengar suara lirih yang bergema di telinga Aldi:
..."Ibuku dan aku tidak bersalah! Kamu harus mencari kami!"...
Sekejap kemudian semuanya hilang. Cermin kembali memantulkan wajah Aldi yang basah oleh keringat dingin.
"Sosok apa lagi itu? Banyak banget makhluk halus baru yang datang!" lirih Aldi. Tak ingin terlalu lama berada di sana.
Aldi memilih, memutar keran air, membasuh wajahnya untuk menenangkan diri. Setidaknya dia sudah mendapatkan petunjuk penting. Sesuatu yang pasti akan berguna begitu mereka sampai di desa nanti.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣