Nikah SMA
˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ
Taksa Liam. Ketua OSIS tampan, berkarisma. Namun dingin dan cuek, tak tersentuh.
Iva Kayra. Supel, cerewet, cenderung pemalas, dan bukan gadis populer.
Mereka harus menikah di usia muda demi memperluas wilayah kekuasaan kedua orang tuanya, di dalam dunia bisnis.
Bagaimana kisah pernikahan mereka? Dengan sifat yang bertolak belakang, akankah keduanya bahagia dengan pernikahan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Budayakan Like, Komen, serta, Vote jika sudah membaca!!!
Tubuh mungil itu terus menggigil kedinginan di atas ranjang UKS. Namun, walau begitu kedua matanya yang terpejam sejak tadi tak kunjung menandakan bahwa gadis itu akan sadar.
Taksa kembali dengan sebuah selimut yang ia pinjam dari penjaga sekolah tak lupa ia membawa pakaian ganti yang dibeli dari koprasi sekolah. Kali ini raut wajahnya nampak sekali jika ia khawatir pada kondisi Iva.
"Bagaimana?"
Sela dan keempat laki-laki yang menemani Iva di UKS menoleh, dengan kompak mereka menggeleng mendengar pertanyaan dari Taksa.
Langkah Taksa lunglai, ia berjalan mendekati tempat tidur gadis itu dan selimut yang tadi ia bawa telah diambil oleh Sela dan kini sudah membungkus tubuh Iva.
Lelaki itu duduk di dekat Iva, tangannya terulur mengusap kening gadis itu. Menyampirkan satu-persatu anak rambut yang menutupi wajah cantik yang kini telah berubah pucat pasi.
"Kay, ini aku. Bangunlah! Aku di sini bersamamu."
Ucapan Taksa menimbulkan banyak tanya di benak teman-temannya. Dari nada bicara Taksa yang lembut dan nama panggilan Iva menjadi Kayra, serta Taksa yang biasa menyebut dirinya sendiri dengan sebutan saya kini menjadi aku. Seolah mereka telah sangat dekat selama ini.
Beberapa detik setelah Taksa membangunkan Iva, gadis itu membuka matanya walau dengan cairan bening yang kembali membanjiri kedua bola matanya.
"Miko."
Iva bangun dan langsung memeluk tubuh Taksa. Lelaki itu bergeming, tak berniat membalas atau menolak pelukan itu. Bahkan ekspresi wajahnya kembali datar.
"Miko sudah pergi."
Iva merenggangkan pelukannya, ia menatap sendu mata lelaki yang kini tubuhnya sangat dekat dengannya itu.
"Ta-ksa."
Sedikit sudut bibir lelaki itu terangkat saat Iva menyebut namanya, ada rasa yang menghangatkan hatinya ketika Iva mengenalinya sebagai Taksa bukan Miko.
"Saya rasa kamu sudah sadar. Ayo kita pulang!" Taksa bangkit lebih dulu, ia menarik pelan tubuh Iva supaya mengikutinya.
Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Iva terpaksa mengikuti perintah Taksa. Ia juga sudah tidak tahan dengan pakaian basahnya itu.
"Sa, kamu yakin mau ngajak dia pulang sekarang?" tanya Ardhan seraya mencegat langkah Taksa. Jujur ia masih ragu jika Iva kuat berjalan sampai parkiran, mengingat parkiran letaknya sangat jauh dari UKS.
"Taksa, sepertinya Iva butuh dokter sekarang. Kenapa kamu malah mau membawanya pulang? Setidaknya kita bawa Iva dulu ke rumah sakit biar diperiksa," protes Sela, ia juga tidak terima melihat sikap semena-mena Taksa.
"Dia tidak butuh dokter," jawab Taksa tegas.
"Minggir," lanjutnya.
Terpaksa kelima orang yang tadi menghalangi jalannya itu minggir, membiarkan Taksa membawa Iva pulang.
Sesampainya di lapangan yang menuju parkiran. Langkah Iva terhenti, ketika hujan tiba-tiba kembali turun. Taksa ikut berhenti saat gadis yang sedari tadi ia pegang tangannya tak kunjung mengikuti langkah kakinya.
"Hujan? Miko, " gumam Iva kembali meracau seperti tadi.
"Miko sudah di surga dan kamu harus bahagia tanpa dia." Taksa mendengkus kasar setelah mengucapkan itu, dari ucapannya sepertinya ia tengah menahan sesuatu.
"Ayo!" Taksa kembali mengajak Iva meninggalkan tempat itu.
Taksa melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir. Pikirannya melayang pada kejadian tadi di lapangan, sudah sejak dua tahun lebih dia tidak melihat pemandangan itu dan hari ini ia kembali melihat sesuatu yang sejak lama ia benci.
Gadis itu, tetap sama rapuhnya seperti ketika ia melihat di sebuah pemakaman saat itu. Gadis yang saat ini tengah duduk di sampingnya dengan kedua mata terpejam.
Taksa memukul setang kemudi beberapa kali. Kesal, marah, dan menyesal telah menjadi satu. Semua karena satu orang. Orang yang sama, yang telah merenggut semua kebahagiaannya sejak dulu.
"Miko, kamu renggut semuanya dariku."