⚠️Ngapak Alert⚠️
Novel ini terdapat beberapa part percakapan bahasa derah, terlebih di part-part awal🙏jadi mohon bersabar bacanya ya😊kalau pusing, bagian itu silakan di skip aja👉
💐selamat membaca💐
Ayu Anindita, seorang gadis desa, yatim piatu, yang dibesarkan oleh sang Nenek. Mencoba mandiri demi bertahan hidup hingga rela kehilangan masa kecil dan remajanya. Hingga suatu hari, Ayu memutuskan merantau ke kota demi sang Nenek. Namun sayang, Ayu justru kehilangan saat-saat terakhirnya bersama neneknya.
"Kamu harus bahagia, Yu!" pesan Nenek.
"Selamat jalan, Mbah! Tenang di sana ya. Ayu di sini akan baik-baik saja," batin Yudi.
"Aku janji akan selalu melindungimu. Walaupun, kita sama-sama tahu, tidak ada cinta di antar kita," ucap Elang.
Akankah Ayu bahagia? Siapakah yang akan mewujudkan permintaan Nenek?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipecat
“Enak lu pacaran ampe malem gini baru pulang!” kata Novi sinis.
“A ... ,” kata-kata Yudi terhenti karena Ayu menarik tangannya tanda diam.
“Maaf, Bu. Tadi saya Cuma duduk-duduk ditaman. Sangkin senangnya curhat, jadi lupa waktu,” kata Ayu sambil pura-pura tersenyum.
“Ngapain lu masih disini? Pergi gih sono!” kata Novi yang mengusir Yudi.
Yudi geram namun hanya bisa mengepalkan tangannya. “Saya pamit dulu, Bu. Titip Ayu!” kata Yudi menyalami Bu Siska dan suami.
“Besok-besok, kalo mau main jangan kaya gini lagi ya,” kata Bu Siska.
Yudi hanya menganngguk. “Yu, aku pamit!” kata Yudi.
“Hati-hati, Yud!” kata Ayu.
Setelah Yudi keluar dari rumah,
“Maaf, Bu. Saya permisi mandi dulu,” kata Ayu.
“Ya sudah! Istirahat aja sekalian. Makan malam tadi udah pada makan oleh-oleh dari Bogor,” kata Bu Siska.
“Iya, Bu. trimakasih, permisi,” kata Ayu.
Ayu pergi kebelakang diikuti Novi.
“Heh Babu!” kata Novi sambil menghalangi Ayu.
“Kenapa lagi, Non?” tanya Ayu dengan nada lelah.
“Lu ga usah sok-sokan baik didepan orang tua gue ya. Dan satu lagi, kamu nggak usah ngrayu-ngrayu cowo gue lagi!” kata Novi.
“Berarti, Non tau dong kalo tadi siang itu memang yang salah pacar Non, bukan Yudi? Kenapa nggak lapor ke Ibu Non?” kata Ayu dengan nada sinis.
“Eh! Itu bukan urusan Lu ya! Kalo Lu urusin urusan gue, gue bikin lu keluar dari sini!” ancam Novi.
Novi pergi meninggalkan Ayu yang semakin geram dengan tingkahnya.
Setelah kejadian itu, hubungan Ayu dan Novi semakin buruk. Hampir setiap saat, kata-kata bernada sinis dan sarkastik keluar dari mulut Novi yang membuat Ayu jengah. Boby yang selalu membela Ayu jika dirinya ada di rumah.
Hingga pada malam itu,
Satu bulan kemudian, ada telepon masuk,
“Assalamualaikum!” sapa suara dari sebrang telepon.
“Waalaikumsalam!” jawab Ayu.
“Yu, si Mbah mu pengin ketemu, Yu. Ndang bali oh Yu! (Yu, nenek mu pengin ketemu Yu, cepet pulang Yu!)” kata suara itu.
“Si Mbah sakit, Bu Lik?” tanya Ayu kepada Bu Lik Parmi.
“Si Mbah sudah beberapa hari ini nggak mau makan, Yu. Terus-terusan manggil-manggil kamu,” kata Bu Lik.
“Ayu minta izin ke majikan Ayu dulu ya, Bu Lik. Insya Allah, besok Ayu pulang,” kata Ayu.
“Yo wes, Yu. Assalamualaikum!” kata Bu Lik.
“Waalaikumsalam!” jawab Ayu.
Sambungan telepon itu berakhir. Tanpa pikir panjang, Ayu segera menuju ruang keluarga di mana majikannya sedang berkumpul dengan keluarganya.
“Ibu, maaf mengganggu. Ada yang mau saya bicarakan, Bu,” kata Ayu.
“Kenapa lu? Mau minta cash bond?” kata Novi sinis.
“Nov, diem dulu!” kata Bu Siska. “Ada apa, Yu?” lanjutnya pada Ayu.
“Nenek saya di desa sedang sakit, Bu. Saya diminta pulang. Boleh tidak saya ijin pulang besok?” pinta Ayu.
“Kalau lusa bisa, Yu. Tapi, besok saya ketempatan arisan. Jadi saya butuh bantuan kamu, ” kata Bu Siska.
“Kalau malamnya boleh, Bu?” pinta Ayu lagi.
“Ya sudah boleh. Tapi beresin dulu sisa-sisa arisannya ya,” kata Bu Siska.
“Oh! Iya Bu, baik,” kata Ayu, ada sedikit rasa lega di dadanya kala dia akan pulang menemui Neneknya.
Dalam kebahagiaan Ayu yang akan bertemu sang Nenek, ada Novi yang sedang memikirkan rencana kotornya.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, di rumah hanya ada Ayu dan juga Novi. Suami Bu Siska ke kantor, Boby pergi ke sekolah dan Bu Siska belanja keperluan arisan. Hanya Novi yang sedang tidak ada kuliah pagi itu.
“Yu, lu tadi disuruh nyokap buat beresin kamar dia tuh!” kata Novi sambil menunjuk kamar Ibunya dengan dagunya.
“Iya, Non!” jawab Ayu pasrah.
Setelah beberapa saat, Ayu selesai membersihkan kamar Bu Siska dan melanjutkan aktivitas lainnya yang lumayan banyak karena akan menyambut tamu-tamu arisan Bu Siska.
Sore hari ketika arisan sudah selesai, Ayu juga sudah selesai beres-beres, hanya tinggal membuang sampah saja, tiba-tiba,
“AYU! AYU! DIMANA KAMU?” teriak Bu Siska.
“Iya Bu, maf saya habis buang sampah di depan,” jawab Ayu tergesa-gesa.
“Nov, geledah kamarnya,” perintah Bu Siska ke Novi.
“*Apa-apaan nih? Firasatku gak enak*,” batin Ayu.
“ Ma ... Ma ... maaf, Bu. Ibu lagi nyari apa ya?" Tanya Ayu.
“Ada maling dirumah ini!” sambil menatap Ayu tajam.
“Mah! Ini mah! Ketemu di bawah kasurnya si babu tengil ini, Mah!” Seru Novi.
“Bawa sini sayang, biar malingnya liat!” perintah Bu Siska.
“*A*da apa lagi ini?” batin Ayu.
“Nih ... ini, ngapain ini ada dikamar kamu?” tanya Bu Siska sambil menunjukkan gelang kesayangannya ke Ayu.
Tadi pagi sewaktu Ayu selesai membereskan kamar Bu Siska, Novi diam-diam mengambil gelang itu dan menaruhnya di bawah kasur Ayu.
Bu Siska yang kala itu ingin memakai gelang itu pada saat acara arisan pun emosi, ditambah kesaksian palsu Novi.
“Kurang baik apa saya sama kamu Ayu? Berani-beraninya kamu maling disini!” maki Bu Siska.
“Maaf bu, tapi itu bukan saya yang ambil, Bu?” kata Ayu mengiba.
“Tolong percaya sama saya!” tambahnya lagi.
“Jangan-jangan ini mau dibawa pulang ke kampung, Mah. 'Kan dia dari semalem ngebet banget pengin pulang!” kata Novi yang menambah emosi Mamahnya.
“Nggak gitu Bu, sumpah! Saya nggak tau apa-apa,” kata Ayu semakin putus asa.
“Mana ada sih maling ngaku. Maling ngaku ntar penjara penuh, Yu!” kata Novi sinis.
“Tapi ... ,” kata Ayu.
“Sudah! Sekarang juga kamu kemasi barang-barang kamu! Kamu pergi dari sini dan nggak usah datang lagi!” vonis Bu Siska pun jatuh.
Bu Siska dan Novi pergi meninggalkan Ayu yang masih mematung. Novi pun tersenyum menang melihat Ayu akhirnya dipecat. Boby yang sadar dengan hal itu langsung menghampiri Ibunya
“Mah! Mamah beneran mecat Kak Ayu Cuma gara-gara setingannya Kak Novi?” kata Boby.
“Eh! Anak kecil tau apa? Udah deh nggak usah belain maling!” jawab Novi ketus.
“Kalau mamah emang beneran mecat Kak Ayu, seenggaknya mamah kasihlan hak dia, Mah. Kak Ayu berhak dapat upah!” kata Boby.
“Udah untung nggak lapor polisi!” kata Novi.
“Nov, udah. Kamu jangan ngomporin Mamah kamu terus!” kata Pak Jaya, suami Bu Siska.
“Mah, kasihkan upahnya Ayu! Toh gelangnya juga nggak jadi ilang kan!” pinta Pak Jaya.
Bu Siska pergi ke kamar mengambil amplop coklat berisi upah Ayu bulan ini.
Karena masih diselimuti emosi, Bu Siska meminta Boby yang memberikan ke Ayu.
“Pak, Bu, Non dan Aden, saya mohon maaf kalau selama saya kerja disini, saya banyak salah. Terimakasih karena kalian udah baik sekali sama saya. Saya pamit,” kata Ayu sambil mencium punggung tangan Pak Jaya dan Bu Siska. Namun tangan Bu Siska ditarik kasar olehnya.
“Kak, ini upah Kakak bulan ini. Diterima ya, Kak,” kata Boby.
“Makasih ya, Den. Selama ini, Aden udah baik banget sama saya,” kata Ayu. “Saya pamit. Assalamualaikum!” seru Ayu.
“Waalaikumsalam!” kata Boby yang mengantar Ayu sampai depan.
lanjutin donk ceritanya,😘😘😘
adakah season 2 buat Adiba potrinya Elang dan Ayu.Dan klnjtan hub Yudi dn Bianca😀
Kutunggu deh thor💪
semoga kamu makin kreatif ya Thor.. ditungguin cerita lainya yg pasti sarat dgn pembelajaran hidup..😘😘🌹🌹❤️❤️
1 lg..jangan lupa ngopiiii....☕😁💪
lanjy Thor..💪😍