Deg.
Vina terhuyung ke belakang setelah mendengar perkataan Devan barusan.
Tadinya Vina datang berniat memberitahu Devan bahwa dirinya hamil, tapi siapa sangka Vina malah mendengar kabar menyakitkan tentang hubungan mereka.
Tanpa pikir panjang Vina langsung berlari keluar dari apartemen itu dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Vina pergi tanpa memberitahu Devan soal kehamilannya. Toh hubungan mereka tidak bisa lagi di perjuangkan, itu sebabnya Vina memutuskan untuk merawat sendiri bayi yang masih ada di dalam perutnya.
Vina memutuskan pulang ke kampung halamannya meninggalkan semua kenangan yang ada di kota itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delfi Sofya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Keesokan harinya di rumah sakit.
Pintu ruangan Santi terbuka, menampilkan wajah sahabat Santi yang tak lain adalah Rita.
“San, bagaimana keadaanmu?” Tanya Rita.
“Sudah lebih baik sekarang.” Jawab Santi.
“Semoga cepat sembuh tante.” Kali ini Tiara yang berbicara.
“Terima kasih gadis cantik.” Balas Santi melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
Tiara pun ikut tersenyum, tadi saat Tiara akan berangkat ke boutique tiba-tiba mamanya menyuruh Tiara untuk mengantarkan sang mama menjenguk sahabatnya.
Jadilah sekarang Tiara berada di tempat ini.
Santi dan Rita sibuk bercerita sedangkan Tiara hanya diam mendengarkan obrolan mereka.
“Dimana anak dan suamimu?” Tanya Rita saat melihat kamar itu kosong tanpa ada yang menjaga Santi.
“Iya. Sumai ku sedang ke rumah untuk mengambil beberapa keperluan ku, sementara Devan mungkin sudah berangkat ke kantor.” Jawab Santi.
“Aku sempat bertemu dengan anakmu di sebuah restaurant, sepertinya dia sedang membeli makanan. Anak mu itu sangat tampan, sopan lagi.” Puji Rita.
“Anak mu juga cantik. Masih muda tapi sudah punya usaha sendiri.” Balas Santi memuji.
“Tapi anak ku tidak sehebat putra mu. Hahaha…” Mereka tertawa bersama.
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Santi.
“Bagaimana kalau kita jodohkan saja anak kita. Kamu mau kan berbesan dengan ku?” Ucap Santi.
“Wah ide yang bagus. Aku setuju, anak ku pasti sangat beruntung memiliki suami seperti putra mu yang hebat itu.” Balas Rita kegirangan.
“Mama …” Ucap Tiara malu-malu.
Dalam hati pun Tiara membenarkan apa yang mamanya katakan tadi.
“Kamu mau kan nak?” Tanya Santi pada Tiara.
“Tiara mengikut saja tante.” Jawab Tiara dengan wajah yang sudah merah merona.
“Anak kamu setuju. Kalau begitu kita akan menikahkan mereka secepatnya, aku akan berbicara pada Devan sebentar. Aku yakin dia pasti mau.” Ucap Santi dengan tekad yang kuat.
Tiara akan jadi pasangan yang cocok untuk anak ku. Batin Santi.
“Aku tunggu kabar baik dari mu. Kita sudah tua, sudah waktunya melihat anak kita menikah dan menimang cucu.” Balas Santi.
“Ya. Aku memang sangat menginginkan cucu.” Sahut Santi dengan wajah yang berbinar-binar bila membicarakan soal cucu.
“Aku tidak sabar melihat anak kita menikah.” Lanjut Santi.
Calon besan itu lalu berbicara banyak hal, belum mendapat persetujuan Devan saja mereka sudah membayangkan konsep pernikahan anaknya.
***
Di tempat Vina.
Wanita itu tampak pucat dengan wajah lemasnya. Dari bangun pagi perutnya serasa penuh ingin dikeluarkan, saat dikeluarkan pun hanya cairan bening yang keluar.
“Ya ampun, sakit sekali.” Ucap Vina mengeluh.
Tadi ia sempat membuat teh hangat untuk meredakan mualnya tapi itu hanya sesaat saja.
Perutnya pun belum terisi dengan makanan sejak tadi.
Drt...Drt…Drt.
Tiba-tiba ponsel Vina berdering tanda seseorang tengah menghubunginya.
Dengan malas Vina meraih ponselnya yang tergeletak di samping tempat tidur.
“Hallo.” Sapa Vina dengan suara lemahnya.
“Sayang.” Terdengar suara berat seorang pria dari seberang sana.
“Hmm.” Sahut Vina.
“Kamu sakit?” Tanya Devan.
“Ya. Kepala ku pusing.” Keluh Vina.
“Kamu dimana? Di boutique? Aku akan kesana sekarang.” Ucap Devan dengan nada suara yang khawatir.
“Jangan! Aku di kost sekarang, aku juga sudah izin tidak masuk kerja untuk beberapa hari.” Jelas Vina mencegah Devan datang ke kantornya.
Huft. Terdengar helaan nafas dari seberang sana.
“Kamu sudah makan?” Tanya Devan dengan nada lembut.
“Emmm…” Ragu-ragu Vina menjawab.
“Pasti belum. Kalau tau sakit kenapa tidak makan sih?” Kesal Devan.
“Aku tadi mau makan tapi kepala ku pusing, jadi tidak bisa masak.” Jawab Vina. Suaranya terdengar bergetar.
“Kamu menangis?” Tanya Devan.
Vina memang sedang menangis sekarang. Entah mengapa mendengar Devan membentaknya tadi membuat hatinya sakit.
Tidak biasanya Vina seperti ini.
Hanya di bentak saja sudah menangis. Padahal tadi Devan tidak bermaksud untuk membentaknya, Devan hanya kesal saja tapi Vina mengganggap itu sebagai bentakan.
“Vina, Vina.” Panggil Devan dari seberang sana.
“Aku mau istirahat, aku tutup telponnya.” Sahut Vina sambil mematikan sambungan itu.
“Hikss…” Isak Vina dengan tersedu-sedu.
Perasaannya terlalu sensitive sekarang.
Sementara di kantor.
Devan menarik kasar rambutnya ke belakang. Kepalanya ikut pusing dengan tingkah Vina tadi.
“Vina kenapa sih. Tidak biasanya dia seperti itu.” Gumam Devan.
“Ckk. Wanita itu bukan makan tapi malah mau istirahat. Dia pikir istirahat tanpa makan bisa membuatnya sembuh apa.” Decak Devan kesal.
Devan lalu meraih ponselnya dan langsung membuka aplikasi G* F**d untuk memesankan makanan buat Vina.
Setelah selesai, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Beberapa menit berlalu.
Ting.
“Ada tukang G* F**d yang sedang menunggu mu di depan. Makanlah lalu istirahat, cepat sembuh ❤️” Bunyi pesan masuk yang dikirim oleh Devan.
Vina pun bergegas keluar dengan tenaganya yang masih lemah.
Ternyata benar ada mas-mas dengan jaket warna hijau yang berdiri di depan pagar kostnya.
“Nona Vina?” Tanya mas itu.
“Iya mas.” Jawab Vina.
“Ini pesanan Anda.” Ucap mas itu sambil menyodorkan bungkusan yang ada di tangannya.
Vina lalu meraihnya seraya mengucapkan kata terima kasih.
“Terima kasih mas. Ini sudah di bayar?” Tanya Vina lagi.
Siapa tau saja kan Devan hanya memesan tanpa membayarnya, meskipun itu mustahil.
“Sudah nona.” Sahut mas itu.
“Baiklah. Sekali lagi terima kasih pak.” Ucap Vina.
Setelah mas itu pergi, Vina lalu kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menikmati makanan yang sudah di pesankan Devan tadi.
Melihat makanan yang beragam di depannya membuat mood Vina kembali dari yang tadi sedih di bentak Devan sekarang senang karna di belikan makan.
Aneh bukan.
❤️
Jangan lupa like, komen dan vote ya🙏