Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERGI KE PASAR LUPA BAWA UANG
Pagi itu cuaca cerah, anginnya sepoi-sepoi bikin badan terasa segar. Di kantor nggak ada urusan mendesak, jadi suasana santai saja.
Tiba-tiba Rara teringat sesuatu. “Wah, kebetulan sekali hari ini pasar di ujung desa buka. Saya mau beli gula, kopi, dan sedikit sayuran buat keperluan dapur. Ada yang mau ikut nggak?”
“Wah, boleh juga! Saya juga butuh beli sabun dan minyak goreng yang sudah habis,” jawab Sari cepat.
Bima dan Ojak yang tadi cuma duduk melamun, langsung ikut semangat. “Kita ikut juga sekalian jalan-jalan. Lagian bosan juga kalau cuma duduk di sini terus.”
Tanpa banyak pikir panjang, mereka langsung berangkat. Jarak ke pasar itu nggak jauh, cuma sekitar 15 menit jalan kaki. Pas sampai di sana, suasananya sudah ramai. Ada yang jual sayur, lauk matang, sembako, sampai jajanan anak-anak. Aroma masakan dan bau rempah tercium ke mana-mana, bikin perut terasa lapar.
Masing-masing mulai berpisah sebentar cari barang yang dibutuhkan. Ojak berjalan ke arah penjual gorengan, matanya sudah berbinar melihat tumpukan pisang goreng dan bakwan yang masih panas.
“Bu, saya beli lima buah pisang goreng dan tiga bakwan ya!” serunya sambil mengusap perutnya yang mulai keroncongan.
Penjualnya mengambilkan pesanan, lalu membungkusnya rapi. “Ini ya, totalnya seribu lima ratus rupiah saja.”
Ojak langsung mengulurkan tangan ke saku celana, mau mengambil uangnya. Tapi tangannya meraba kosong. Dia coba saku yang satu lagi kosong juga. Dia cek saku di bagian belakang, bahkan sampai memeriksa saku baju, tapi nggak ada selembar uang pun yang dia temukan.
Wajahnya langsung berubah, jadi agak pucat dan bingung. Dia menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. “Waduh… sebentar ya Bu, saya cek dulu.”
Sementara itu, Bima juga sedang bertransaksi di toko sembako. Dia sudah menumpuk barang belanjaannya: sebungkus kopi, gula pasir, dan sebotol minyak goreng.
“Totalnya dua puluh ribu rupiah saja ya Nak,” kata pemilik toko.
Bima mengangguk, lalu merogoh sakunya. Begitu dia merasakan kosong, dia langsung tertegun. Dia cek lagi, berulang kali, tapi tetap nggak ada apa-apa. Dia baru sadar: tadi buru-buru berangkat, dia cuma bawa tas tapi lupa memasukkan uangnya ke dalamnya.
“Waduh… maaf ya Pak, saya lupa bawa uangnya. Tadi buru-buru keluar rumahnya,” katanya sambil muka terasa panas.
Pemilik toko hanya tersenyum maklum. “Nggak apa-apa, sering juga orang begitu. Nanti bawa lagi saja kalau sudah ingat.”
Belum selesai rasa malunya, dia menoleh ke arah Ojak dan melihat temannya itu juga sedang berdiri bengong sambil memegang kepala.
“Kamu kenapa Jak? Kok mukanya bingung begitu?” tanya Bima mendekat.
Ojak menoleh, suaranya pelan malu. “Saya lupa bawa uang juga Bim! Tadi buru-buru bangun, langsung jalan saja, nggak sempat ambil uang di meja.”
Bima ternganga, lalu tertawa kecil sambil menepuk dahinya sendiri. “Kita sama-sama bodoh rupanya! Saya juga lupa bawa uang, sudah ambil barang malah nggak bisa bayar.”
Mereka berdua berdiri di pinggir jalan, saling pandang sambil ketawa-ketiwi malu. Baru sebentar datang, tapi sudah nggak bisa beli apa-apa.
Belum lama kemudian, Sari dan Rara datang menghampiri sambil membawa barang belanjaan mereka. Melihat Bima dan Ojak cuma berdiri saja nggak bawa apa-apa, mereka bertanya heran.
“Lho, kalian berdua tadi bilang mau beli ini itu, kok sekarang nggak ada bawa barang apa pun?” tanya Rara.
Bima dan Ojak saling tatap, lalu menjawab bersamaan. “Kami lupa bawa uang!”
Sari dan Rara langsung menutup mulut sambil tertawa terbahak-bahak. “Masa sih? Pergi ke pasar kok nggak bawa uang? Itu namanya jalan-jalan doang bukan belanja!”
“Tadi buru-buru sekali, kepala cuma ingat mau ke pasar, tapi lupa kalau butuh alat tukarnya juga,” jawab Ojak sambil menggaruk lehernya.
“Sudah terlanjur lapar lihat gorengan, tapi nggak bisa dibeli. Rasanya lebih perih daripada nggak ketemu barangnya,” tambah Bima sambil menghela napas panjang.
Karena nggak ada uang, mereka cuma bisa jalan-jalan keliling pasar sambil melihat-lihat saja. Kalau ada yang dipandang, mereka cuma bisa menelan ludah.
“Wah, sayur bayamnya segar sekali, tapi nggak bisa dibawa pulang,” kata Ojak sambil melirik penjual sayur.
“Kopi yang wangi itu juga nggak bisa dibeli, padahal di rumah sudah habis,” timpal Bima.
Sari dan Rara kasihan juga melihat kelakuan mereka berdua. Akhirnya Sari mengeluarkan sedikit uang dari sakunya.
“Sudah, ini saya pinjamkan dulu. Nanti kalau sudah sampai kantor, kembalikan saja ya.”
“Wah, terima kasih banyak! Kalau nggak ada kalian, hari ini kita cuma bisa jadi penonton saja di pasar,” kata Bima dan Ojak bersemangat lagi.
Dengan pinjaman itu, mereka akhirnya bisa membeli barang yang dibutuhkan dan juga beli gorengan yang sudah lama diidamkan. Tapi rasanya tetap beda, karena mereka terus mengingat kejadian konyol tadi.
Di perjalanan pulang, mereka terus membahas hal itu sambil tertawa.
“Besok-besok kalau mau ke pasar, hal pertama yang dicek bukan baju atau tasnya, tapi uangnya dulu! Jangan sampai kejadian ini terulang lagi,” kata Bima sambil mengunyah gorengan.
“Betul juga. Tadi rasanya malu sekali, sudah ditunggu penjualnya, eh nggak bisa bayar. Rasanya mau masuk ke dalam tanah saja,” tambah Ojak sambil tersenyum malu.
Rara menimpali sambil bercanda, “Kalau begini terus, besok kalian bisa dijuluki ‘Anak Pasar Tanpa Uang’! Lucu sekali kelakuannya.”
“Nggak usah dijuluki juga sudah cukup malu kok. Tapi setidaknya hari ini dapat pelajaran: jangan terlalu terburu-buru sampai melupakan hal yang paling penting,” jawab Bima santai.
Begitulah hari itu berakhir. Belanjaannya dapat, tapi ceritanya lebih banyak lagi. Kejadian lupa bawa uang itu jadi bahan ledekan selama beberapa hari ke depan, dan setiap kali mau keluar rumah, Sari dan Rara selalu berteriak mengingatkan “Jangan lupa bawa uang ya!”