Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Pagar yang Jebol
"Jangan bawa mulut kotormu untuk menilai urusan akademisku, Erni!"
Suara Linda terdengar begitu tajam saat ia melangkah menuruni anak tangga koridor, menatap Erni yang masih berdiri di balik pagar besi dengan pandangan meremehkan. Wajah Linda tampak sedikit memerah, bukan hanya karena sindiran Erni, melainkan karena sisa debar jantungnya akibat cenckeraman leher dari Hino beberapa menit yang lalu masih terasa di dadanya.
Risa, mahasiswi berwajah polos yang memeluk map skripsinya di depan gerbang, menatap bingung ke arah Erni dan Linda secara bergantian. "Maaf, Bu Linda... saya terpaksa ke sini karena kata Bu Hina yang punya warung di depan, Ibu sedang mengambil cuti riset di rumah ini. Saya tidak bermaksud mengganggu."
Mendengar nama wanita hedon lokal itu disebut dari mulut mahasiswanya, Linda langsung mengepalkan tangan di samping paha. Sialan kau, Hina, umpat Linda dalam hati. Dosen berusia tiga puluh satu tahun itu merasa privasinya telah diinjak-injak oleh kelicikan ibu-ibu kampung yang dendam karena kertas risetnya dirobek tempo hari.
Erni membuka gembok gerbang bawah dengan bunyi dentang yang sengaja dikeras-keraskan, lalu menatap Risa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan seorang nyonya rumah yang terusik. "Sampaikan pada Bu Hina-mu yang terhormat itu, dek... kalau mau memata-matai rumah orang, suruh dia datang sendiri, jangan mengumpan anak kuliahan yang tidak tahu apa-apa seperti ini."
"Erni, tutup mulutmu dan masuk ke kamarmu!"
Langkah kaki Irmi yang anggun berbunyi cepat menuruni tangga. Janda kaya pemilik dua gerai minimarket itu sudah berdiri di koridor bawah dengan piyama sutranya, wajah cantiknya mengeras menatap Linda dan mahasiswi asing yang kini sudah berada di pekarangan rumah peninggalan mendiang suami pilotnya. Bagi Irmi, kedatangan orang kampus adalah ancaman terbesar yang bisa menghancurkan reputasi bisnis dan kehamilan dua bulannya jika sampai menyebar ke luar komplek.
Irmi menunjuk ke arah gerbang luar dengan jari telunjuknya yang dipenuhi cincin, menatap Linda dengan pandangan mengusir yang mutlak. "Aku tidak mau tahu, Linda. Sore ini juga, kemasi semua barang-barangmu dan pergi dari kontrakanku! Rumah ini dibangun oleh mendiang suamiku bukan untuk dijadikan tempat penampungan anak bimbinganmu atau tempat mengintai urusan ranjang orang lain!"
Linda tidak bergeser satu senti pun. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin seorang wanita berpendidikan tinggi yang tahu bahwa dia masih memegang kendali atas ketakutan dua wanita hamil di hadapannya. Ia meraba saku blusnya, memastikan ponsel pintarnya berada di posisi yang aman.
"Kau mengusirku, Irmi? Hanya karena seorang mahasiswi tingkat akhir datang membawa draf skripsi?" tanya Linda, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan. Linda melangkah mendekati Irmi, mengabaikan keberadaan Risa yang mulai gemetar ketakutan di dekat pagar. "Pikirkan kembali keputusanmu sebelum kau menyesal seumur hidup. Kontrak sewa kamarku di lantai atas masih tersisa enam bulan lagi secara hukum."
"Aku tidak peduli dengan hukum sewa! Aku bisa kembalikan uangmu dua kali lipat sekarang juga, Linda! Pergi dari sini!" seru Irmi, suaranya meninggi akibat luapan emosi yang tidak bisa ditahan lagi.
Linda condongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam manik mata Irmi dengan pandangan mengunci yang membuat nyali sang janda kaya mendadak surut. "Kembalikan saja uangnya, Irmi. Tapi bersamaan dengan langkah kakiku keluar dari gerbang ini, aku akan pastikan seluruh berkas audio rekaman digital yang merekam suara Hino dan Erni bertengkar semalam, serta detail rahasia kehamilan luar nikahmu bersama kepala tokomu sendiri, akan sampai ke meja ketua RT, dewan etik kampus, dan seluruh pelanggan minimarketmu sebelum matahari terbenam."
Wajah Irmi mendadak memucat seketika, bibirnya bergetar menahan rasa takut yang amat sangat. Ancaman digital dari Linda menghantam tepat pada titik terlemah harga dirinya sebagai penguasa modal di kampung ini.
Erni yang melihat Irmi mulai goyah, melangkah maju dan berdiri di samping bos toko tersebut, mencoba mempertahankan posisi tawar mereka sebagai penghuni bawah. "Kau mengancam kami dengan rekaman murahan itu, Bu Dosen? Kau pikir kami akan takut?"
Linda membalikkan badannya, menatap Erni dan Irmi secara bergantian dengan keangkuhan yang mutlak, sebelum pandangannya beralih pada Risa yang masih mematung di dekat gerbang luar.
"Aku tidak sedang mengancam, Erni. Aku hanya sedang mempertahankan hak sewa kamarku dari keputusan emosional kalian," ucap Linda, suaranya bergema di koridor bawah yang mendadak sunyi senyap. Ia kemudian menatap mahasiswinya dengan tatapan dingin yang tidak menerima bantahan. "Risa, bawa map skripsimu naik ke kamarku di lantai dua sekarang juga. Kita selesaikan bimbinganmu di atas, sebelum orang-orang bawah ini membuat otakmu ikut berpikiran rendah seperti mereka."