NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:876
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Jatuh Miskin dalam Semalam

Layar monitor di hadapan Riko seolah menjelma menjadi monster yang siap menelan seluruh sisa hidupnya. Jarinya yang gemetar masih tertahan di atas mouse, sementara sepasang matanya menatap nanar pada baris pengumuman hasil tender proyek pembangunan megaproyek Central District.

Nama perusahaannya, Pratama Corp, berada di urutan kedua. Tepat di bawah nama sebuah perusahaan yang selama tiga tahun terakhir ini menjadi duri dalam dagingnya: Rani Group.

Kalah. Dia kalah lagi. Dan kali ini, kekalahan itu bukan sekadar kehilangan gengsi, melainkan akhir dari segalanya.

Riko menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang terasa amat dingin. Ruang kerja CEO yang biasanya terasa megah dan berwibawa, malam ini terasa mencekam seperti sel tahanan. Perlahan, dia melepas kacamata berbingkai hitamnya, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut menyakitkan. Kepalanya serasa mau pecah. Proyek Central District adalah taruhan terakhirnya. Dia telah mempertaruhkan seluruh aset perusahaan, bahkan menjaminkan sertifikat gedung kantor ini dan rumah peninggalan orang tuanya ke bank demi mendapatkan modal segar untuk maju tender.

Dia mengira kalkulasinya sudah sempurna. Dia mengira proposalnya tidak tertandingi. Namun, Rani—wanita yang pernah berjalan beriringan dengannya di masa lalu—sekali lagi membuktikan bahwa dia masih berada satu langkah di atas perusahaan Riko. Wanita itu tahu persis bagaimana cara memotong jalur pergerakan perusahaan riko.

Kringgg!

Suara nyaring telepon genggam di atas meja kayu mahogani memecah keheningan yang mencekam. Riko tersentak. Nama yang tertera di layar membuat dadanya kian bergemuruh tak karuan. Pihak Bank XX.

Dengan tenggorokan yang terasa kering, Riko menggeser tombol hijau. "Halo, selamat malam."

"Selamat malam, Pak Riko Pratama," suara formal seorang wanita dari seberang talian terdengar tanpa riak emosi, namun sanggup mengirimkan sengatan dingin ke sekujur tubuh Riko. "Kami dari bagian penanganan aset bermasalah. Mengingat hasil pengumuman tender yang baru saja dirilis, dan fakta bahwa masa tenggang pembayaran kewajiban pokok serta bunga pinjaman Anda telah melewati batas tiga bulan... kami ingin mengonfirmasi bahwa prosedur penyitaan aset jaminan akan segera diproses."

Riko mengepalkan tangan kirinya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tolong berikan saya waktu dua minggu lagi. Saya sedang mengupayakan investor lain—"

"Maaf, Pak Riko. Berdasarkan analisis risiko terupdate, kapasitas likuiditas Pratama Corp sudah dinilai default (gagal bayar). Surat peringatan ketiga sudah Anda terima minggu lalu. Jika dalam waktu 1x24 jam tidak ada pelunasan sebesar 4,5 miliar rupiah, maka besok sore papan penyitaan akan dipasang di gedung kantor Anda, disusul kediaman pribadi Anda. Selamat malam."

Pip.

Sambungan diputus sepihak. Riko menurunkan ponselnya dengan tangan yang lunglai. Alat komunikasi itu nyaris merosot dari genggamannya jika dia tidak segera meletakkannya di meja.

Empat setengah miliar. Dalam waktu dua puluh empat jam.

Riko tertawa sumbang, sebuah tawa getir yang lahir dari keputusasaan yang teramat sangat. Ke mana dia harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu semalam? Menjual organ tubuhnya pun tidak akan cukup untuk menutupi angka fantastis tersebut. Pikirannya langsung melayang pada nasib tiga puluh karyawan yang menggantungkan hidup di perusahaannya. Bagaimana dia harus menatap mata mereka besok pagi saat papan sita berwarna merah itu tertancap di depan gerbang?

Gengsinya yang setinggi langit kini runtuh tak bersisa, berganti menjadi puing-puing kepasrahan yang menyesakkan dada. Di tengah kegelapan yang kian menghimpit, bayangan wajah Rani melintas di benaknya.

Rani. Wanita karier yang dingin, tegas, dan tak kenal ampun di dunia bisnis. Tiga tahun lalu, mereka memulai semuanya dari sebuah ruangan kontrakan sempit bermodal satu laptop berdua. Mereka adalah partner impian, saling melengkapi, hingga sebuah kesalahpahaman besar merobek kepercayaan di antara mereka. Riko memilih pergi dengan kemarahan yang membakar, bersumpah akan membangun kerajaannya sendiri dan menumbangkan Rani.

Namun lihatlah sekarang. Rani berdiri di puncak kejayaan, sementara dia merangkak di dasar jurang kehancuran. Apakah Rani sengaja mengambil proyek ini hanya untuk melihatnya hancur? Apakah ini bentuk balas dendam Rani karena Riko mencampakkannya dari kerja sama mereka dulu?

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu ruang kerjanya yang sunyi membuat Riko mengerutkan kening. Ini sudah jam delapan malam. Seluruh karyawannya sudah pulang sejak sore dengan wajah cemas. Siapa yang bertamu di jam seperti ini?

"Masuk," sahut Riko, berusaha tegap dan menyembunyikan getar keputusasaan dalam suaranya.

Pintu kayu jati itu terbuka. Namun, sosok yang melangkah masuk bukanlah satpam kantor atau petugas kebersihan. Seorang wanita muda dengan setelan blazer abu-abu formal dan rambut yang disanggul rapi berjalan masuk dengan langkah konfiden. Riko mengenali wajah itu. Dia adalah Gita, asisten pribadi kepercayaan Rani.

Gita berhenti tepat di depan meja Riko, lalu membungkuk hormat dengan profesionalisme yang kaku. "Selamat malam, Pak Riko Pratama."

Riko mengeras di kursinya. Kehadiran asisten Rani di tempat ini, di malam kekalahannya, terasa seperti sebuah ejekan yang nyata. "Ada keperluan apa sekretaris dari Rani Group datang ke kantor yang hampir disegel ini? Mau merayakan kemenangan bosmu?" sindir Riko tajam, matanya menatap Gita dengan kilat permusuhan yang kentara.

Gita tidak terpancing oleh sarkasme Riko. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Dia membuka tas jinjingnya, mengeluarkan sebuah amplop hitam tebal berlogo elegan, lalu meletakkannya dengan anggun di atas meja kerja Riko.

"Saya ke sini bukan untuk merayakan apa pun, Pak Riko. Saya diutus langsung oleh Ibu Rani untuk menyampaikan ini," ujar Gita tenang.

Riko menatap amplop hitam itu dengan dahi berkerut. "Apa ini? Surat ejekan tertulis?"

"Itu adalah surat undangan pertemuan privat," jawab Gita. "Ibu Rani meminta kehadiran Anda di ruangan pribadinya di lantai teratas gedung Rani Group, malam ini juga. Jam sembilan tepat."

Riko terkekeh sinis, menyandarkan tubuhnya kembali sembari bersedekap dada. "Katakan pada bosmu, aku tidak punya waktu untuk melayani kesombongannya. Kalau dia ingin melihatku jatuh miskin, katakan padanya untuk menunggu besok sore saat orang-bank memasang garis kuning di gedung ini."

Gita tidak bergerak satu senti pun. Dia menatap Riko lurus-lurus, lalu mengucapkan kalimat yang seketika membuat jantung Riko berhenti berdetak sesaat.

"Ibu Rani tahu persis tentang tenggat waktu 1x24 jam dari pihak bank terkait utang 4,5 miliar Anda, Pak Riko. Beliau juga tahu bahwa tidak ada satu pun institusi keuangan atau investor di kota ini yang bersedia menyuntikkan dana ke Pratama Corp dalam situasi sekarang. Ibu Rani mengatakan... jika Anda masih peduli dengan nasib karyawan Anda, dan jika Anda masih ingin menyelamatkan rumah peninggalan orang tua Anda, Anda akan datang."

Kata-kata Gita menghantam dada Riko seperti godam besar. Rahangnya mengatup rapat, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah sekaligus rasa malu yang luar biasa. Rani tahu segalanya. Rani memantau setiap jengkal kehancurannya seolah itu adalah tontonan yang menarik.

"Beliau menunggu Anda, Pak Riko. Hanya sampai jam sembilan malam ini. Lewat dari itu, penawaran ini hangus," tambah Gita, lalu kembali membungkuk hormat sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Riko dalam keheningan yang kian mencekam.

Pandangan Riko kini terkunci pada amplop hitam di atas mejanya. Warna hitamnya seolah mengejek harga dirinya yang tersisa. Pilihan yang dia miliki sekarang sangat ekstrem: mempertahankan gengsinya lalu membiarkan dirinya hancur total dan masuk penjara, atau merendahkan kepalanya di kaki wanita yang paling ingin dia kalahkan demi sebuah kesempatan bertahan hidup.

Riko memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan wajah ibunya yang sudah tiada, kenangan tentang bagaimana sang ayah membangun rumah keluarga mereka dengan peluh keringat, menari-nari di pelupuk matanya. Dia tidak boleh membiarkan rumah itu disita. Dia tidak boleh egois di saat nasib orang banyak berada di tangannya.

Dengan helaan napas berat yang sarat akan kekalahan, Riko membuka laci, mengambil kunci mobilnya, dan menyambar amplop hitam itu.

Malam ini, Riko tahu, dia tidak sedang pergi untuk menemui seorang mantan partner bisnis. Dia sedang berjalan menuju sang penguasa yang memegang tali nasibnya. Dengan langkah yang terasa berat bagai dirantai timah, Riko melangkah keluar dari kantornya, memantapkan hati untuk menghadapi apa pun penghinaan yang telah disiapkan Rani untuknya di atas sana.

...Pemeran utama ...

*Rani baskoro

*Riko Pratama

...Pemeran lainnya ...

*Baskoro(ayah rani). Hndra Wijaya*

**Siska baskoro (ibu rani). *Broto*

**Mira (bibi rani). *Haris*

**Dion (sepupu rani). *Aris(mantan kekasih rani*)

**Gita (sekretaris rani*).

Dan berapa pemeran pendukung lainnya

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!