Kisah cinta segitiga antara Kakak, Adik dan teman se genk nya. Ditikung karena keadaan yang memaksa. Sanggupkah semua mempertahankan cinta sejatinya?.
laki-laki yang sangat high quality untuk dijadikan suami bertemu dengan wanita yang seusia adik bungsunya, dengan segala godaan yang menerpa, sanggupkah mereka bertahan?
Selamat membaca readers, semoga cerita sederhana ini bisa membawa kita lebih memahami apa yang terjadi disekitar kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaDM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
* Departure 6, Mengejar impian
Kesibukan mengurus ***** bengek perkuliahan membuat blue squad jarang komunikasi. Ditambah Zahra ga punya HP, lengkaplah sudah. Zahra bak ditelan bumi tak ada kabar berita.
Syaf nekat mencari rumah Zahra, dia berhasil memaksa Key buat kasih alamat. Begitu sampai depan rumah Zahra, Syaf kaget juga sama kondisi rumahnya Zahra. Disana Syaf bertemu bapak dan adiknya Zahra. Dari mulai berkenalan sampe pada akhirnya bercerita panjang lebar. Ketika Syaf asyik ngobrol sama keluarga Zahra, ga lama kemudian Zahra baru pulang kerja.
"Syaf...ngapain kesini?" tanya Zahra kaget karena akhirnya Syaf tau rumahnya.
"Boleh ga kita ngobrol di taman komplek depan.. besok gw berangkat ke Singapore" ucap Syaf.
Zahra minta ijin ke bapaknya terlebih dahulu, setelah mendapat ijin, mereka berjalan ke arah taman kompleks. Ada hal penting yang ingin Syaf bicarakan sama Zahra.
"Ra...sebenarnya udah lama gw mau ngomong ke Lo. Gw tuh...." Syaf menghentikan perkataannya.
"Mau ngomong apa sih?"tanya Zahra penasaran.
"Gw suka sama Lo" lanjut Syaf dengan satu tarikan nafas.
"Hahaha....lo becanda aja deh Syaf"jawab Zahra.
"Gw serius Ra.. Sejak awal gw tuh kaya ada sesuatu yang berbeda sama Lo, menaruh sebuah rasa yang gw jg bingung definisi innya, tapi setelah 3 tahun kita mengenal, Lo banyak mengubah gw menjadi orang yang baru, ga cupu kaya dulu, bisa lebih mudah bergaul dan bisa lebih dekat dan sayang ke keluarga" jelas Syaf dengan lancar, ada kelegaan dihatinya saat semua udah diutarakan.
"Come on Syaf.... Lo sama gw itu just best friend.. no more"kata Zahra.
"Ga bisa kita lebih dari itu?" tanya Syaf.
"Sorry Syaf, gw ga bisa...gw sadar siapa gw dan ga mau mikirin ini dulu, gw mau fokus cari kerja buat membantu perekonomian keluarga" papar Zahra.
"Ra...Gw emang sekarang ga bisa janjiin Lo apa-apa, tapi tunggu gw 4 tahun lagi, gw akan datang ke Lo. Gw akan wujudin cita-cita Lo jadi perawat..trust me"ucap Syaf penuh rasa memohon.
"Udahlah Syaf, jangan hidup di dunia mimpi .... wake up Syaf. Gw yakin Lo akan nemuin wanita yang layak buat jadi pendamping Lo kelak"jawab Zahra meyakinkan.
"Ga Ra, Lo yang terbaik buat gw" ujar Syaf rada mulai mellow.
"Nanti Lo juga akan lupa sama obrolan kita hari ini. Pergilah Syaf, raih mimpi Lo jadi seorang businessman yang sukses, bisa gantiin Papa Lo ngurus usahanya. Gw udah ga berani mimpi Syaf. Karena semua impian gw terbentur sama biaya. Makanya gw mau fokus cari uang, bukan buat wujudin mimpi gw, tapi biar Imam bisa sekolah tinggi dan Bapak ga perlu kerja keras lagi"jelas Zahra.
"Ra....gw udah bilang ke Mama tentang perasaan gw ke Lo, Mama mendukung kok langkah gw buat utarain perasaan ke Lo"papar Syaf.
Zahra meninggalkan Syaf yang masih duduk di bangku taman.
"Sorry Syaf, gw ga punya perasaan ke Lo selain persahabatan kita. Ga pernah mimpi juga naik level dari sahabat jadi kekasih, walaupun Lo itu cowo idola, tapi gw belum sanggup berkomitmen dalam kondisi kehidupan gw yang masih kaya gini" kata Zahra dalam hatinya. Jalannya pun dipercepat biar bisa segera sampe rumah.
Keesokan harinya, Mama Syaf datang ke rumahnya Zahra, meminta ijin ke bapaknya Zahra untuk diajak ke Bandara buat mengantar Syaf. Bapaknya Zahra mengijinkan.
Dalam mobil, menuju Bandara.
Papa dan Rafa duduk di kursi depan. Mama dan Zahra duduk di kursi tengah, sedangkan Syaf di kursi belakang.
"Ra...jadi kamu ga kuliah? " Tanya Mama.
"Ga Ma...mau kerja dulu" jawab Zahra.
"Mama tau kondisi kamu, Mama bangga sama pendirian dan pemikiran kamu yang dewasa. Mama do'akan yg terbaik kedepannya buat kamu Ra ... apapun itu, termasuk karier dan jodoh kelak" do'a Mama tulus.
"Aamiin ya rabbal'alamin. Makasih ya Ma" jawab Zahra sambil memeluk Mama.
"Ra... emang kamu udah kerja apa?" Tanya Rafa yang baru pertama kali lihat dan belum kenal sama Zahra.
"Kerja di bagian gudang salah satu mall Bang" Jawab Zahra dengan sopan.
"Wuihhh begitu tuh anak muda .. ga bergantung ke orang tua" puji Rafa.
"Ga juga Bang... Ra masih kok bergantung ke Bapak, kan baru juga mulai kerja, belum dapat gaji"jelas Zahra.
"Ra..besok bapaknya tolong datang ke proyek Papa yang di Parung ya .. nanti ketemu sama site manager perumahan yang baru Papa kerjain. Ada kerjaan listrik disana. Papa udah bilang kok ke managernya" ujar Papanya Syaf. Blue squad emang udah seperti anak juga, jadi ikut pula memanggil Papa.
"Iya Pa...kemarin Mama udah bilang dan udah kasih tau ke Bapak juga. Makasih ya Pa.." tutur Zahra.
"Ya Papa cuma bisa bantunya begitu aja" kata Papanya Syaf.
Sepanjang jalan hanya Syaf yang ga ikut berbincang. Mama terlihat bahagia bisa lama ngobrol sama Zahra, tampak seperti seorang Ibu yang bersenda gurau sama anak gadisnya.
"Ma.... kayanya sama Zahra deket banget, mau dijadiin calon mantu apa?" Gurau Rafa sambil tertawa.
Langsung Syaf yang ada di bangku belakang terbatuk-batuk.
"Kenapa Lo Bro...Bengek?" ledek Rafa sambil melihat kaca mobil bagian atas.
"Ya gapapa kalo ada salah satu anak Papa berjodoh sama Zahra, Papa ga masalah kok, toh Mama keliatannya udah cocok juga... ya kan Ma?" Tambah Papa.
"Ya..Mama mah boleh-boleh aja" jawab Mama antusias. Zahra cuma tersenyum kecut.
Papa memang merasa sejak Mama dekat sama Zahra banyak perubahan yang terlihat. Dari segi ibadah makin bagus bahkan sekarang udah memakai jilbab. Tapi yang lebih penting, Mama punya semangat menghadapi terapi pasca stroke setahun yang lalu, bahkan sekarang terindikasi ada auto imun.
"Ra...nanti biarpun Syaf kuliah diluar, kamu tetap ya main-main ke rumah Mama kalo sempat. Oh ya...ini Mama belikan HP buat kamu. Pakailah..Mama udah beliin nomernya juga" ujar Mama. sambil memberikan HP.
"Ga usah Ma...Zahra ga enak nerimanya" kata Zahra.
"Ra..inget ga kalo kamu sering nemenin Mama ke Rumah Sakit, masak bareng, shopping. Selama ini kamu ga pernah mau Mama kasih uang. Anggap aja ini sebagai pengganti waktu kamu yang tersita buat urusin Mama. Lagipula nanti kita jadi bisa lancar komunikasinya" jelas Mama.
"Ya Ra...terima ajalah, jadi kita semua bisa tetep kontekan sama blue squad" timpal Syaf dari belakang.
"Makasih ya Ma..Pa" ucap Zahra.
Tiba di Bandara, bawaan Syaf segera diturunkan, setelah itu Rafa mencari parkiran. Mereka menunggu sampe pesawat yang ditumpangi sama Syaf take off.
Setelah mengantar Zahra pulang, Papa, Mama dan Rafa melipir ke cafe.
"Ma..kalo diliat-liat Zahra tuh baik dan manis juga ya" ujar Rafa.
"Syaf tuh suka sama dia, jangan macem-macem deh, jatahnya Syaf"ancam Mama.
"Please deh Ma, dia bukan tipe Rafa, tapi kalo Bang Fawaz masih mungkin" jelas Rafa sambil menyeruput lemon squashnya.
"Fawaz.. Mama hopeless sama dia, umur udah 28 tahun, masih juga belum ada lagi yang dikenalin ke Mama Papa" ujar Mama.
"Sibuk kerja dia mah... kan sekarang udah jadi pilot dia, bukan copilot lagi. Terus kayanya kemarin kan dia sempat ikut buat nerbangin helikopter, nah sekarang dia nambah jadi instruktur" cerita Rafa.
"Itulah Fawaz, kalo udah impian, bakal dia kejar biar kata sampe langit" puji Papa.
"Ya emang dia kerjanya dilangit Pa" celetuk Rafa.
"Band kamu gimana Fa? udah rekaman?" tanya Papa.
"Lagi bikin lagu dulu Pa, selama ini baru kirim-kirim demo, udah ada sih yang jadwalin meeting. Do'akan aja ya" pinta Rafa.
"Pastilah Papa mendo'akan semua anak-anak biar mendapatkan apa yang diinginkannya" jawab Papa bijak.
"Fa... kamu tau ga Fawaz udah punya pacar apa belum?"tanya Mama penasaran.
"Tau deh Ma, kayanya belum ada. Liat aja kalo dia pulang kesini, ga ada kan yang dibawa ketemu kita. Selama ini ga pernah tuh cerita atau status medsosnya berbau wanita. Mungkin masih galon kali dari Sarah" duga Rafa.
"Galon?" tanya Papa.
"Gagal move on Pa, alias ga bisa ngelupain sang mantan" tegas Rafa.
"Ihhhh amit-amit deh, jangan sampe Mama dapat mantu kaya gitu" kata Mama yang sudah tau semua hal tentang kelakuan Sarah.
"Bukannya mantu idaman Mama tuh" ledek Rafa sambil ketawa. Mama hanya manyun tanda ga suka diledek kaya gitu.
wakilin Zahra ya Thor
lanjuut